Pinurbo Memeluk Agama

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 2 Mei 2016

Manusia religius lazimnya memiliki kecenderungan untuk bisa sedekat mungkin dengan Tuhan, terutama ketika menjalankan ritual berdoa. Hal itu wajar. Sebab, dalam pendekatan ilmu bahasa, antara Tuhan dan manusia sebagai ciptaan-Nya memang sangat dekat. Keduanya berasal dari satu akar kata dalam bahasa Arab yang sama, yakni khalaqa. Dari khalaqa berkembang kata Khaliq (pencipta). Dalam ejaan Indonesia ditulis “Khalik” dengan huruf “K” menggunakan huruf kapital karena merupakan sebutan untuk Tuhan. Di depan kata “Khalik” biasanya didahului dengan kata “Sang”. Dari khalaqa juga lahir kata “makhluk” (ciptaan/yang diciptakan).

Bicara tentang Tuhan kita tidak bisa menafikan agama. Sebab, agama merupakan ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa… (KBBI, Pusat Bahasa, Edisi Keempat, halaman 15). Boleh dibilang, agama adalah media utama untuk mendekati Tuhan. Dengan begitu, orang yang tidak bertuhan alias ateis pasti ia tidak punya agama. Sembahyang merupakan salah satu aktivitas peribadatan kepada Tuhan. Konon, istilah “sembahyang” merupakan ikhtiar dari Wali Songo untuk mengenalkan salat kepada masyarakat yang ketika itu masih mayoritas beragama Hindu. Semacam akulturasi istilah. Esensinya toh tetap sama. Sembahyang = menyembah Hyang (Tuhan). Kata “menyembah” menunjukkan kedekatan antara subyek dan predikat. Bukan hanya dekat secara jarak, tapi juga dekat secara psikologi dan emosi.

Agama tidak mau kalah. Untuk menunjukkan kedekatan dengan para penganutnya, dipakailah istilah “pemeluk”. Maka lahirlah istilah pemeluk agama Islam, pemeluk agama Kristen, pemeluk agama Buddha, dan seterusnya. “Pemeluk” berarti orang yang memeluk. “Memeluk” dalam KBBI diartikan sebagai aktivitas “meraih seseorang ke dalam dekapan kedua tangan yang dilingkarkan, mendekap (halaman 1043). Betapa tidak ada jarak lagi antara yang memeluk dan yang dipeluk. Jadi memeluk agama ternyata tidak sekadar menganut dan mengikutinya. Lebih dari itu: selalu mendekapnya erat-erat.

Maka tidak mengherankan jika komunikasi antara agama dan pemeluknya ataupun antara hamba dan Tuhan memang berlangsung sangat hangat dan akrab. Seperti yang digambarkan penyair Joko Pinurbo lewat puisinya, “Pemeluk Agama”.

Dalam doaku yang khusyuk
Tuhan bertanya kepadaku,
hanbaNya yang serius ini,
“Halo, kamu seorang pemeluk agama?”
“Sungguh saya pemeluk teguh, Tuhan.”
“Lho, Teguh si tukang bakso itu”
hidupnya lebih oke dari kamu,
gak perlu kamu peluk-peluk.
Benar kamu pemeluk agama?”
“Sungguh, saya pemeluk agama, Tuhan.”
“Tapi Aku lihat kamu gak pernah
memeluk. Kamu malah menyegel,
membakar, merusak, menjual
agama. Teguh si tukang bakso itu
malah sudah pandai memeluk.
Benar kamu seorang pemeluk?”
“Sungguh, saya belum memeluk, Tuhan.”
Tuhan memelukku dan berkata,
“Doamu tak akan cukup. Pergilah
dan wartakanlah pelukanKu.
Agama sedang kedinginan dan kesepian.
Dia merindukan pelukanmu.”

Pinurbo adalah pemeluk agama. Wajar jika dia dekat dan akrab dengan Tuhan. Saking akrabnya, dialognya dengan Tuhan tidak hanya gayeng, tapi juga penuh guyonan.

Selain “pemeluk agama”, kosakata lain yang menggambarkan kedekatan manusia dengan Tuhan bisa dijumpai saat prosesi doa. Kata yang lazim dipakai tatkala berdoa adalah “memanjatkan”: mari kita bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa…. Para pemimpin doa lebih nyaman menggunakan kata “memanjatkan” daripada kata “dibacakan” atau “diucapkan” atau “dilafalkan”. Padahal deretan kata yang disebut terakhir itu lebih pas disambung dengan kata doa. Bahkan, agar terasa lebih syahdu, bisa dipakai kata “dikumandangkan”. Ternyata deretan kata itu kurang menunjukkan kedekatan dengan Tuhan. Sangat beda dengan kata “panjat”.

Setinggi-tingginya sesuatu yang dipanjat pasti tetap bisa dijangkau. Jaraknya juga terukur. Misalnya pohon dan bangunan. Begitu juga dengan doa yang dipanjatkan hamba pasti akan sampai kepada Tuhan.

Keyakinan tentang Tuhan ada di atas dan bisa dijangkau ternyata sudah berkembang sejak zaman Nabi Musa. Salah satunya tokoh masyhur Fir’aun. “Dan berkata Fir’aun: Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (Al-Quran surah 28, ayat 38)

Fir’aun percaya bahwa Tuhan Musa bertakhta di atas. Dia pun minta dibuatkan bangunan yang tinggi. Lalu dia panjat bangunan itu untuk melihat Tuhannya Musa. Akankah kita berbuat sekonyol Fir’aun. Tentu saja tidak. Kita tidak perlu susah-susah memanjat bangunan. Cukup doa saja yang kita panjatkan.

* Wartawan Jawa Pos, penyair
https://rubrikbahasa.wordpress.com/2016/05/02/pinurbo-memeluk-agama/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*