Bahasa Indonesia sebagai Cermin?

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 20 Feb 2012

Suatu hari pada jam mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, kami berdiskusi tentang penerjemahan. Saya memberikan tugas kepada para mahasiswa untuk memahami dan menerjemahkan teks berita di sebuah harian Indonesia yang bukan saja mengandung kesalahan tata bahasa, tapi ditulis demikian kacau alias mengabaikan logika kalimat. Setelah 10 menit, para mahasiswa begitu putus asa dan menyatakan mogok.

“Pak, teks ini tak dapat kami terima. Sajikan dong teks yang ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau tidak ada, kami mohon kuliah ini digunakan untuk membahas tema lain. Bukankah telah lama Bapak berjanji menyampaikan renungan Bapak tentang perkembangan bangsa Indonesia?“

Merasa bersalah telah memilih teks yang tak bermutu–padahal memang itulah yang saya peroleh dari kebanyakan harian di Indonesia–saya menjawab: “Indonesia adalah bangsa muda yang telah mencapai kemajuan yang mengagumkan. Negara-bangsa RI, yang terdiri atas ratusan suku bangsa, sudah mencapai kesatuan yang kukuh dalam suasana demokratis, dan semakin berhasil mewujudkan prinsip keadilan, termasuk keadilan sosial. Bahkan dalam hal pendidikan dan teknologi….“

“Maaf, Pak,“ tegur sebuah suara, “mungkin lebih menarik bila Bapak kaitkan dengan bahasa. Misalnya, sejauh mana bahasa Indonesia jadi cermin perkembangan atau perubahan budaya Indonesia!”

“Baik,” jawab saya santai. “Tapi apa maksud Anda dengan ‘bahasa sebagai cermin’?”

“Begini, Pak, misalnya penyerapan kosakata asing yang terjadi pada abad lampau. Apa kira-kira kesimpulan Bapak jika mengamati kata serapan seperti politik, demokrasi, presiden, parlemen, konstitusi, republik, legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Apakah telah terjadi westernisasi bahasa Indonesia? Apakah itu seiring dengan westernisasi pemikiran. Soalnya, kata-kata tadi bukan kata sembarangan, kata-kata itu menyangkut dasar-dasar kenegaraan.“

“Westernisasi pemikiran? Jangan gegabah menyimpulkan. Itu cuma dampak penjajahan, juga di bidang bahasa. Bahasa Belanda ikut menjajah hingga kata-kata tadi, yang sebenarnya berasal dari bahasa Latin atau Yunani, ditanam paksa di tubuh bahasa Indonesia. Jangan lupa, itu cuma kata, tak berarti bangsa Indonesia kurang mandiri dalam menemukan konsep dan jati diri!”

“Saya setuju, Pak!” kedengaran suara mendukung. “Bapak betul. Itu hanya istilah. Orang Jerman dulu juga dipaksa menyerap kata-kata Latin atau Yunani, termasuk kata demokrasi. Hal ini tidak berarti orang Jerman langsung demokratis. Tak jarang, kata cuma baju, cuma topeng. Contoh sebaliknya tentu ada, misalnya kata serapan yang populer di Indonesia: korupsi.“

Wah, saya senang punya mahasiswa sepandai itu. Apalagi muncul suara dukungan berikutnya: “Saya juga setuju, Pak! Khususnya apa yang Bapak sebut jati diri dan kemandirian itu. Sebab, setelah westernisasi kosakata, bahasa Indonesia mulai haus akan kata serapan dari bahasa lain, khususnya bahasa Jawa yang feodal itu. Sehingga ada istilah seperti tut wuri handayani, prinsip mulia yang dulu suka diterapkan ABRI. Ada juga bina graha, tempat mukim seorang presiden yang berpedoman pada aja kagetan atau mikul dhuwur mendhem jero. Ketika presiden itu mengundurkan diri–resminya: berhenti–istilah yang dipakai adalah lengser keprabon alias turun takhta, seolah-olah ia seorang raja. Barangkali ia memang lebih seperti seorang raja daripada presiden. Tapi, ya, kalau begitu, bahasa juga cermin sesuatu….”

“Iya,” saya mencoba bersikap arif, “segala sesuatu selalu mungkin. Apakah ada komentar atau tambahan dari yang lain?“

“Saya, Pak! Andai bahasa itu cermin, apa yang kira-kira dapat disimpulkan dari gejala terbaru bahasa Indonesia, yakni makin banyaknya kata serapan Arab?”

“Penggunaan dan penyerapan kosakata Arab wajar saja,” jawab saya. “Bahasa Arab adalah bahasa Al-Quran. Wajar kalau muslim di Indonesia berkiblat pada bahasa itu. Telah ratusan tahun itu terjadi. Sama seperti umat Katolik yang tetap menghargai bahasa Latin sebagai bahasa sakral.“

“Tapi, Pak, arabisasi bahasa Indonesia yang terjadi itu bukan pada istilah teologi, melainkan pada pembicaraan sehari-hari, misalnya sapaan afwan atau ukhti. Bahkan kata ibu mulai diganti dengan umi!” demikian sang mahasiswa kembali bertanya.

“Lho, bagus kan! Daripada mummy, lebih menarik umi,“ saya mencoba bergurau untuk melunakkan suasana. Percuma, serangan semakin jadi:

“Pak, saya kira rekan mahasiswa berhak diberi jawaban serius. Apa Bapak ragu akan peranan bahasa sebagai cermin? Apa Bapak tak merasa perlu memikirkan kemungkinan bahwa arabisasi kosakata bahasa Indonesia adalah penanda zaman, cermin arabisasi budaya Indonesia? Andai itu yang terjadi, adakah pengaruhnya pada toleransi orang Indonesia dalam beragama? Apa itu akan diganti oleh dogmatisme ala (Saudi-)Arab?”

Ngawur kan, pertanyaan begitu. Tak sudi kujawab! Tiba-tiba lonceng berbunyi, jam kuliah sudah selesai. Alhamdulillah!

*) Kepala Program Studi Bahasa Indonesia, Universitas Bonn; Pemimpin Redaksi Orientierungen, dan redaktur Jurnal Sajak
https://rubrikbahasa.wordpress.com/2012/02/20/bahasa-indonesia-sebagai-cermin/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*