Globalisasi dan Konsekuensi Kulturalnya

Yoshica Indah Putri
http://yoshica-indah-putri-fisip14.web.unair.ac.id

Globalisasi dipercaya dapat mendukung proses terciptanya kosmopolitanisme, hal ini disebabkan oleh adanya pertukaran ide dan budaya akibat dunia yang menjadi semakin kecil karena adanya produk-produk globalisasi seperti teknologi informasi serta komunikasi yang mengaburkan batas-batas ruang dan waktu yang dahulunya sulit terjangkau oleh karena itu interaksi antara satu peradaban dengan peradaban lain menjadi semakin intens. Namun dengan semakin derasnya arus pertukaran ide dan budaya karena globalisasi tersebut secara tidak langsung telah mengancam nasionalisme karena proses pertukaran ide dan perubahan sosial di seluruh dunia telah memisahkan orang-orang dari identitas lokal mereka serta melemahkan peranan negara bangsa sebagai sumber identitas. Perubahan-perubahan sosial budaya ini seolah memperlihatkan adanya konsekuensi kultural akibat derasnya arus globalisasi. Konsekuensi kulturan dari adanya globalisasi ini dijelaskan oleh Robert Holton (2000) ke dalam tiga tesis yaitu homogenisasi, polarisasi, dan hibridisasi. Tesis pertama menjelaskan tentang terjadinya homogenisasi kultural dimana terindentifikasinya standarisasi budaya global yang merujuk pada Westernisasi atau Amerikanisasi. Dalam hal ini beberapa ahli ekonomi dan strategi bisnis mengatakan bahwa kultur global mengikuti ekonomi global yang sedang berkembang, terbukti dari munculnya perusahaan-perusahaan multinasional seperti Coca-Cola dan McDonald yang menjamur dimana-mana dan menggeser produk lokal (Holton, 2000).

Menjamurnya keberadaan perusahaan multinasional tersebut tidak terlepas dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang mendorong mudahnya perusahaan tersebut untuk memasarkan produk-produk mereka ke dalam pasar global. Terlebi lagi kaum elit dari seluruh dunia mulai terintegrasi dalam hal ekonomi, edukasi, dan politik yang condong dengan kebudayaan Barat (Holton, 2000). Tesis kedua berbicara mengenai adanya polarisasi yang diidentifikasi dengan adanya pertarungan antara negara Barat dan non-Barat akibat adanya globalisasi. Pertarungan kultural ini di analogikan oleh Benjamin Barber (dalam Holton, 2000) sebagai Jihad vs McWorld yang merujuk pada perbedaan pandangan dari kedua terma tersebut mengenai penyatuan budaya. McWorld menginginkan adanya penyatuan budaya melalui konsumsi produk komodifikasi kultural, sedangkan Jihad cenderung fundamentalis dan tidak menginginkan adanya perubahan serta mendukung adanya pembebasan moral dari nilai-nilai kapitalisme dengan mengatasnamakan keadilan. Tesis ketiga disebut sebagai hibridisasi yang mengatakan bahwa terjadi pertukaran interkultural dan kerjasama elemen kultural dari kebudayaan berbeda yang disebabkan oleh migrasi, tenaga kerja lintas batas, dan kolonialisasi (Holton, 2000). Menambahi pernyataan Holton (2000) mengenai hibridisasi, Homi Babha (dalam Day & Foulcher, 2008) menggambarkan hibridisasi sebagai sebuah hasil dari pertukaran budaya serta pemikiran yang terjadi pada masa penjajahan dan kemudian pertukaran ini akan menciptakan kondisi dimana suatu budaya akan meminjam nilai-nilai dari budaya lain yang lebih dominan.

Meninjau lebih lanjut, tesis yang dikemukakan oleh Holton (2000) ini mendapat banyak pertentangan dari berbagai pihak karena terlalu melebih-lebihkan kekuatan budaya Barat. Salah satu kritik yang dilancarkan kepada tesis-tesis tersebut adalah seperti yang dikemukakan oleh Wallerstein (dalam Sherman, 2004) mengenai kapitalisme sebagai produk dari Barat telah membagi dunia menjadi tiga kelas yakni core, semi-periphery, dan periphery. Negara core terdiri dari negara-negara maju yang memiliki means of production, ekonomi kuat, stabilitas politik dan keamanan yang tinggi sehingga dapat mengatur tatanan dunia. Contoh, Amerika Serikat. Negara semi-periphery terdiri dari negara-negara berkembang yang bertugas menghubungkan negara core dengan negara periphery dalam aktifitas ekonomi. Contoh, Korea Selatan. Terakhir adalah negara periphery terdiri dari negara semi berkembang dan negara tertinggal yang dalam aktifitas ekonomi selalu di eksploitasi karena memiliki sumberdaya berlimpah namun tidak memiliki alat untuk memproduksinya. Dalam kegiatan ekonomi, interaksi antara ketiga kelas negara ini cenderung eksploitatif karena negara core selalu mendominasi dan mengerdilkan negara periphery dan semi-periphery. Sehingga mau tidak mau negara dengan kelas rendah akan selalu bergantung pada negara core. Namun sebenarnya negara core juga membutuhkan negara periphery dan semi-periphery sebagai sumber kemakmuran bagi negaranya (Wallerstein dalam Sherman, 2004).

Dalam kritik tersebut Wallerstein (dalam Sherman, 2004) menjelaskan pula bahwa pergerakan kapitalisme global tidak sejalan dengan pemikiran sayap kiri yang menjunjung tinggi adanya revolusi nasional untuk mencapai perubahan, sehingga revolusi ini merupakan anti tesis dari tesis yang dikemukakan oleh Holton karena saat tesis yang terlalu melebih-lebihkan kekuatan Barat tesebut dikemukakan, marxisme sedang gencar-gencarnya merambah negara dunia ketiga dan mendorong negara-negara tesebut untuk membangun tatanan ekonomi sosialis daripada kapitalis (Sherman, 2004). Meninjau lebih lanjut, dari segi budaya, Appadurai (1990) mengatakan bahwa globalisasi itu paradoks, disatu sisi telah memunculkan tekanan antara homogenisasi yang identik dengan Amerikanisasi dengan heterogenisasi yang dijelaskan dengan munculnya gerakan-gerakan indigenisasi untuk menentan homogenisasi akibat adanya rasa takut kehilangan nilai-nilai budaya lokal karena globalisasi. Di sisi lain globalisasi memberikan kemudahan arus migrasi dan pertukaran informasi serta mendukung adanya kesadaran-kesadaran untuk menguatkan nasionalisme negara-bangsa (Appadurai, 1990). Selain Appadurai (1990), Sakai (2005) turut memberikan pendapat bahwa dampak negatif yang dibawa oleh globalisasi kepada nasionalisme akan memunculkan rasa solidaritas nasional untuk menentang dampak buruk tersebut terhadap nilai-nilai dasar negara mereka, kemudian Sakai (2005) mengidentifikasi bahwa modernisasi di Asia merupakan negasi dari Barat dan sejarah masa lalu yang kemudian digunakan untuk memberikan perlawanan kepada peradaban Barat.

Berdasarkan pemaparan diatas penulis menarik kesimpulan bahwa konsekuensi dari adanya globalisasi telah membawa peradaban dunia kepada homogenisasi, polarisasi, dan hibridisasi kultural secara global seperti yang dikemukakan oleh Robert Hilton (2000). Hal ini merujuk saat berakhirnya Perang Dingin kondisi dunia berada pada keadaan homogenisasi dimana budaya Barat menjadi standarisasi dan model yang baik untuk sebuah peradaban. Lebih lanjut, meskipun keadaan unipolar tidak terjadi paska Perang Dingin dan cenderung mengarah pada keadaan yang multipolar menyebabkan terjadinya polarisasi yang identik dengan terjadinya pertentangan antara peradaban Barat dan non-Barat karena perbedaan cara pandang secara kultural. Konsekuensi dari globalisasi selanjutnya adalah hibridisasi yang identik dengan terjadinya pertukaran interkultural dan kerjasama elemen kultural dari kebudayaan berbeda yang disebabkan oleh globalisasi yang mendukung adanya pertukaran ide dan nilai-nilai kebudayaan. Meskipun demikian, globalisasi mendukung pula menguatnya nasionalisme suatu negara-bangsa yang disebabkan oleh rasa takut akan kehilangan identitas lokal karena mereka menganggap bahwa identitas merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat negara-bangsa yang dapat dicapai melalui rasa saling menguatkan nasionalisme.

Referensi:
Appadurai, Arjun. 1990. “Disjuncture and Difference in the Global Cultural Economy”, dalam Theory Culture Society. Nottingham: Nottingham Trent University Press.
Day, Tony dan Keith Foulcher. 2008. “Bahasan Kolonial dalam Sastra Indonesia Modern Catatan Pendahuluan” dalam Sastra Indonesia Modern Kritik Postkolonial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Holton, Robert. 2000. “Globalization’s Cultural Consequences” dalam Annals of the American Academy of Political and Social Science. New York: Sage Publications, Inc.
Sakai, Naoki. 2005. “Civilization Difference and Criticism: On the Complicity of Globalization and Cultural Nationalism” dalam Modern Chinese Literature and Culture. Beijing: Foreign Language Publications.
Sherman, Steven. 2004. “Culture and the Global Emancipatory Project” dalam Review. Albany: Research Foundation of SUNY.

http://yoshica-indah-putri-fisip14.web.unair.ac.id/artikel_detail-160882-Studi%20Hubungan%20Kultur%20Dunia-Globalisasi%20dan%20Konsekuensi%20Kulturalnya.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*