Kata Pengantar Yang Tak Dihentikan Waktu

Fauzan Sandiah *
rumahbacakomunitas.org

Saya termasuk orang yang beruntung karena memperoleh “edisi” pertama Buku Tidak Sekadar Mengantar (2017) yang disunting oleh Tri Agus Siswowiharjo saat menghadiri acara Tribute to GJA di Radiobuku, 5 Februari 2017. Buku yang hanya dicetak 10 ekslemplar itu tak dimaksudkan untuk dijual, karena digunakan untuk kepentingan rilisan. Buku Tidak Sekadar Mengantar (TSM) berisi kompilasi catatan-catatan pengantar yang dibuat oleh George Junus Aditjondro. “Bagi sebagian pembaca, kata pengantar yang ditulis oleh Mas George itu kadang lebih asik daripada isi buku yang diberi kata pengantar itu sendiri” kata Tri Agus di sela-sela peluncuran buku TSM.

Sebelum bercerita tentang TSM, ada baiknya saya mengungkap suatu penghormatan tertentu untuk almarhum George Junus Aditjondro (GJA) yang meninggal pada 10 Desember 2016 di Palu. Nama Geroge pertama kali saya dengar, sebagai seorang mahasiswa tahun pertama, berkaitan dengan buku kontroversialnya; Gurita Cikeas (2010). Terlepas dari sepak terjangnya yang panjang dari persoalan advokasi demokrasi dan lingkungan, buku Gurita Cikeas-lah yang membuat namanya diperbincangkan lagi secara luas. Nama George dikenal sebagai seorang aktivis cum ilmuwan sosial, lengkap dengan humor sarkastik terhadap rezim otoritarian. Tri Agus mengulang lagi apa yang ditulisnya sebagai bentuk penghormatan pada George, dengan memberi testimoni soal selera humor George, yang pernah berseloroh begini; “tentara itu kalau pergi perang bawa M16, begitu pulang perang bawa 16 M.” Humor sarkastik itu bahkan seringkali berujung serius. Pada bulan November 2011, George diusir dan disuruh minta maaf ke “masyarakat” Yogyakarta karena membuat banyolan soal akronim Keraton “Kera ditonton” (Tribun Jogja, 1 Desember 2011). Kus Antoro, berucap “Sialnya, George waktu itu emang kepleset.”

Saya tak pernah punya pengalaman bertemu langsung atau terlibat diskusi dengan George. Tapi orang semacam George mampu membangkitkan minat siapa saja yang tertarik berpikir kritis, dan begitu sensitif terhadap analisis ekonomi-politik. Pengalaman kerja-kerja jurnalistik dan advokasi yang dilakukannya sebelum pergi studi doktoral ke Cornel di bawah jaminan Benedict Anderson, menjadi bagian penting karya disertasinya tentang Kedungombo yang berjudul The Media as Development “Textbook” (1993). George adalah ilmuwan cum aktivis yang sangat produktif, dan cenderung perfeksionis dalam menulis dan mengajar. Karya disertasi George memperlihatkan bahwa media menjadi instrumen penting untuk membentuk asumsi-asumsi dasar mengenai pembangunan, manipulasi ingatan kolektif soal perlawanan, dan membuka jalan pembentukan imajinasi kedigdayaan dampak pembangunan bagi kesejahteraan manusia. Disertasi dan tulisannya mengenai kerja aktivisme jurnalis mempengaruhi minat orang terhadap peran pers sebagai alat komunikasi massa. Terutama karena George memperhatikan betul dampak-dampak sosial pembangunan yang sangat bergantung pada pers Nasional. Tentu saja, sekalipun hal itu mungkin berlaku relatif terhadap perkembangan media sosial dan fenomena masyarakat digital. Tetapi pertarungan di media massa selalu tampak ril mengingat tak semua komunitas masyarakat mampu mengakses berita digital tanpa sensor, ketidakmemadaian teknologi, tingginya biaya akses, dan variasi kelas konsumen media digital. Kebijakan sensor yang tidak pernah reda menjadi pertanda bahwa kebebasan masyarakat digital merupakan kesemuan.

Dari sisi karya-karyanya, ada banyak hal yang bisa diceritakan mengenai sosok George. Bagi peminat kajian-kajian ekologi kritis, sumbangan analitis George tak pelak lagi merupakan alat yang selalu berguna untuk menstimulasi pembacaan mengenai daya rusak kapitalisme. Bagi gerakan pembebasan, karya tulis George membantu perlawanan diskursus seputar topik nasionalisme, imperialisme, dan kekerasan kemanusiaan. Beberapa karya tulis George baik buku dan artikel; In the Shadow of Mount Ramelau: The impact of the occupation of East Timor (1994); Is Oil Thicker Than Blood?: A Study of Oil Companies’ Interests and Western Complicity in Indonesia’s Annexation of East Timor (1999); Guns, pamphlets and handie-talkies: How the military exploited local ethno-religious tensions in Maluku to preserve their political and economic privileges (dalam Wessel & Wimhofer, 2001); Pola-pola Gerakan Lingkungan: Refleksi untuk Menyelamatkan Lingkungan dari Ekspansi Modal (2003); Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa (2006). Karya-karya tulis George selalu didedikasikan bagi aktivisme. “Pak George selalu mengajarkan pentingnya keterkaitan antara intelektualisme dan gerakan” kata Kus Antoro, Pegiat Jogja Darurat Agraria mengenang gurunya itu.

Karya-karya George selalu dimaksudkan untuk transformasi sosial. Max Lane, penulis buku Unfinished Nation (2008) mengenang George sebagai sosok yang banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan dan nasib manusia di negara-negara dunia ketiga. “George itu seorang internasionalis” tambah Lane. George secara terbuka tak menutup-nutupi simpatinya terhadap gerakan-gerakan perlawanan dalam setiap tulisannya. Simpati itu bahkan tak pernah berhenti di atas kertas, atau dalam seminar dan konferensi, tetapi juga dalam pengertian yang sebenarnya. Kepeduliaannya termanifestasi secara bolak-balik dan saling bekelindan antara kerja intelektual dan kerja lapangan. Tak ada batas, tak ada pemisah. Hal ini selalu membuat George berbeda, dan berkesan. Gerakan pembebasan Timor Leste mengenangnya secara mendalam. Seorang mahasiswa Timor Leste di Indonesia berujar, “Pak George punya nama perang di Timor Leste yaitu Kamarada Railakan. Railakan itu artinya halilintar. Semua orang Timor Leste menghormati Pak George. Saya menganggap Pak George itu sebagai orangtua sendiri.”

Bukan Sekadar Kata Pengantar

Buku Tidak Sekadar Mengantar (TSM) edisi rilisan yang saya peroleh dengan harga seratus ribu rupiah itu berjumlah 406 halaman. Sketsa wajah George Junus Aditjondro pada halaman sampul dibuat oleh Andre Tanama. Pemilihan judul Tidak Sekadar Mengantar menurut Tri Agus Siswowihardjo melalui beberapa pertimbangan. Pertama, menurutnya George selalu tak sekadar menulis kata pengantar. George selalu memperlihatkan bahwa dirinya seorang pengantar yang baik dan memadai. Misalnya saat George memberi kata pengantar untuk buku Limbah Pers di Danau Toba (2001)—tak tanggung-tanggung dengan gaya khasnya menyajikan data—George menulis, “Namun pabrik ini sendiri [PT Indorayon Utama] ini sendiri hanyalah salah satu anak perusahaan dan kelompok konglomerat Raja Garuda Mas, yang saham sebagian anggota kelompoknya tumpang tindih dengan kelompok Salim milik keluarga Liem Sioe Liong dan Soeharto, kelompok Tirtamas milik Hashim Djojohadikusumo dan Titiek Prabowo, serta kelompok Marisan Nusantara mili ketua DPP Golkar dan ketua DPR-RI, Djandji Akbar Zahiruddin Tanjung (Akbar Tanjung) dan saudara-saudaranya” (hlm. 96).

Pembaca buku akan senyum-senyum membaca tulisan George. Dan sadar betapa beresikonya posisi seorang pemberi kata pengantar. Posisi yang dia ambil sendiri dengan senang hati. George tak peduli dengan resiko apapun yang mungkin dia terima.

Tulisan-tulisan kata pengantar yang dibuat oleh George tak pernah kehilangan konteksnya. Banyak orang mungkin menyangka dengan memindahkan kata pengantar yang dibuat George ke dalam satu buku utuh sendiri akan membuat tulisan-tulisannya kehilangan konteks. Bagi saya itu tidak terjadi. Tulisan-tulisan George hidup dengan merespon apa yang dimantik oleh topik tertentu yang hendak dibahas. Tapi tak memberi syarat absolut soal relasi niscaya antara apa yang ditulis oleh George (kata pengantar) dengan buku yang diberi kata pengantar. Kita akan sadar itu ketika tak menemui sedikitpun kesulitan berarti untuk memahami apa yang hendak disampaikan George melalui setiap tulisan-tulisan yang terhimpun di dalam Tidak Sekadar Mengantar.

Sebagai pembaca, saya tak harus repot-repot membayangkan sebuah buku terlebih dahulu. Membayangkan buku macam apakah yang diberi pengantar oleh George supaya gagasan pokok kata pengantarnya dapat dipahami. Mungkin George sadar bahwa tulisan sebaiknya selalu punya daya universal yang tak akan dibatasi oleh hal-hal bawaan semacam konteks. George tahu cara mematerialkan pokok-pokok gagasan tulisannya supaya tak harus repot dengan konteks. Saya menduga pengalaman-pengalaman ril-nya sudah sedemikian utuh sehingga membentuk karakter tulisan yang sangat kuat dan dekat dengan apa yang menjadi masalah kemanusiaan modern. Ciri khas tulisan yang tak dihentikan oleh waktu. Ciri tulisan yang akan menemui terus pembaca-pembaca barunya.

Vale, Adios, George!

*) Fauzan Sandiah, Mahasiswa Pasca sarjana UIN Sunan Kali Jaga. Sehari hari sebagai kurator di Rumah Baca Komunitas dengan gelar Sunan Kalibedog. Mantranya yang paling menggetarkan adalah “membaca, menulis, dan menanam”. Itu sudah cukup perkenalannya.
http://www.rumahbacakomunitas.org/kata-pengantar-yang-tak-dihentikan-waktu/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*