Musa Ismail
Riau Pos, 7 Okt 2012

SECARA leskikal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘’hantu’’ diartikan sebagai roh jahat yang dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu (2005:387). Ketika disebutkan kata ‘’hantu’’, tentu saja mencuat suasana mistis, menakutkan, atau mengerikan. Karena merupakan roh jahat, hantu bersifat mengganggu atau ‘menggoda’ manusia untuk berbuat sesuatu yang jahat. Agaknya, bisalah disamakan sebutan hantu dengan setan. Bagi anak-anak, kata hantu seringkali mereka gunakan, juga orang tua sebagai kata ‘keramat’ untuk menakut-nakuti anak-anak mereka. Tersebab terdapat di tempat-tempat tertentu, maka ada hantu air, hantu angin, hantu api, hantu gunung, hantu rimba dan sebagainya. Lantas, dalam imajinasi Hang Kafrawi, muncul pula hantu dapur dan hantu duit.

‘’Hantu Dapur’’ dan ‘’Hantu Duit’’ merupakan dua cerpen Hang Kafrawi yang terbit berbeda. ‘’Hantu Dapur’’ merupakan cerpen kedua yang termuat dalam kumpulan cerpen Hantu Dapur (Tanjungpinang: CV Milas Grafika, tidak ada tahun penerbitan). Sedangkan ‘’Hantu Duit’’ merupakan cerpen yang diterbitkan Harian Riau Pos, Ahad, 26 Agustus 2012. Secara leksikal, hantu dapur dapat diartikan roh jahat yang selalu berada di dapur. Hantu Duit merupakan roh jahat yang suka dengan harta/kekayaan/duit. Tentu pula kedua judul cerpen ini tidak bisa diterjemahkan hanya secara leksikal. Hang Kafrawi yang juga dikenal sebagai penulis skenario serta sutradara film dan drama komedi ini sepertinya memberikan satire yang beramanat ganda dalam cerpen hantu-hantunya itu.

Cerpen ‘’Hantu Dapur’’

Hang Kafrawi mengambil latar waktu malam hari. Adik Taufik Ikram Jamil ini mengumpamakan hantu dapur seperti manusia. Tokoh Hantu Kecil merupakan penderita kelaparan karena terlahir dari keluarga hantu yang miskin. Tokoh ini bisa pula diibaratkan masyarakat miskin, orang kecil, yang hidup serba susah. Sementara itu, kata dapur dapat diterjemahkan sebagai wadah kesejahteraan atau kekurangsejahteraan. Karena itu, Hantu Dapur bisa juga kita terjemahkan makhluk (apapun bendanya) yang hidup dalam kesejahteraan, tidak atau kurang sejahtera. Ada pergulatan hukum dalam cerpen ini. Karena dianggap mempermalukan kaum hantu, Hantu Kecil diusulkan agar dihukum. Di sinilah muncul satire melalui amanat Hantu Tua. Sindiran yang dimunculkan Hang Kafrawi melalui konflik kemiskinan yang dialami oleh tokoh Hantu Kecil. Cerpen ini melakonkan konflik-dramatik antarhantu yang berpusat pada kaum lemah.

‘’Kalian jangan meniru perbuatan manusia yang hanya mampu menjatuhkan hukum kepada yang lemah! Kita ini kaum hantu yang memiliki hati nurani yang memunculkan kasih sayang sesama hantu, sehingga tidak terjadi pertumpahan darah sesama kita! Dalam undang-undang kita jelas menyatakan bahwa kita berkewajiban melindungi hantu dapur yang lemah seperti kita melindungi diri kita sendiri. Dan kita tidak dibenarkan menghakimi hantu dapur lemah tanpa usul periksa…’’ (h. 22).

Paragraf di atas berkekuatan mempermalukan manusia. Ada beberapa sindiran yang ingin disampaikan Kafrawi. Pertama, hukum kita selalu tidak melindungi kaum lemah atau masyarakat kecil. Kedua, bahwa hati nurani kita sudah semakin memudarkan kasih sayang sesama manusia. Ketiga, putusan hukuman harus dilakukan dengan usul periksa. Keempat, pada paragraf yang lain terkandung sindiran bahwa telah terjadi krisis kepemimpinan yang adil dalam kehidupan ini. Sindiran ini diperkuat pada akhir (ending) cerpen, yaitu semua hantu, termasuk Hantu Tua (simbol kepemimpinan) lari meninggalkan Hantu Kecil (simbol masyarakat miskin, lemah, kecil) yang terus berteriak kelaparan.

Cerpen ‘’Hantu Duit’’

Konflik yang disuguhkan dalam cerpen ini terjadi antara kaum hantu dengan salah seorang tokoh manusia bernama Atah Roy. Tokoh manusia berkarakter ini hidup di negara Indonesia. Cibiran dan keanehan dari tokoh ketua Hantu Duit muncul ketika mendengar orang Indonesia tidak menyukai duit. Padahal, di negara inilah, tugas Hantu Duit selalui memperoleh penghargaan tertinggi karena selalu berhasil mengelabui orang Indonesia dengan pundi-pundi duit (kekayaan harta). Dalam kenyataan hidup, inilah yang kita saksikan di jajaran elit politik negara ini. Kasus suap atau korupsi masih terus merajalela. Keheranan ketua Hantu Duit kian menjadi ketika beberapa anak buahnya merasa tak sanggup lagi merayu Atah Roy dengan berbagai cara. Di sinilah, Hang Kafrawi ingin menegaskan bahwa masih ada manusia Indonesia yang berhati emas.

‘’Atah Roy itu di kampungnya terkenal sebagai tokoh yang jujur, Pak. Apapun yang dikatakan Atah Roy, orang kampung pasti mengikutinya. Dia juga terkenal taat beribadah, tak pernah berbuat kesalahan yang merugikan orang kampung, Pak. Pokoknya Atah Roy itu seperti dewa, tambah anak buah berprestasi itu lagi.’’

Karakter tokoh Atah Roy yang dilukiskan Hang Kafrawi dalam cerpen ini merupakan watak mulia manusia Indonesia yang idealis. Karena sulit menundukkan tokoh ini, akhirnya ketua Hantu Duit langsung turun tangan melalui lelaki tampan berdasi. Lelaki tampan berdasi tersebut menemui Atah Roy dengan duit sekoper. Dari dalam koper itulah ketua Hantu Duit melancarkan pujuk-rayunya agar Atah Roy menerima suap untuk menjual tanah kelahirannya. ‘’Aku tak mau menggadai tanah ini, bawak balik duit kalian ini!’’ ujar Atah Roy tegas. Mendengar ketegasan karakter Atah Roy, ketua Hantu Duit pun menyerah dan menghilang. Meskipun Hang Kafrawi memenangkan tokoh Atah Roy dalam cerpen ini, tetapi di akhir kisah Kafrawi menutupinya dengan kesangsian. ‘’Masih adakah manusia seperti ini? Ah, mati aku,’’ suara Ketua Hantu Duit terdengar lirih.

Dalam Dunia Melayu Dunia Islam dan termaktub dalam Alquran, setan (hantu) merupakan musuh manusia yang paling nyata. Semua permasalahan yang mencuat di dunia ini dikarenakan invansi setan. Hanya manusia yang beriman, bertakwa, beramal saleh dan meyakini keagungan Allah SWT yang akan berhasil melawan musuh nyata itu. Pesan utama inilah yang ingin disampaikan Hang Kafrawi dalam Hantu Duit. Di samping itu, jelas sekali bahwa si penulis bermaksud memberikan gambaran realitas yang terjadi dalam kehidupan kita terkini. Bahwa pada saat ini, tampaknya duit semakin berkuasa. Nyaris semua sendi kehidupan manusia diatur dengan benda berharga itu. Namun demikian, melalui tokoh Atah Roy, Hang Kafrawi sepertinya beramanat bahwa tidak semua kekayaan bisa membeli kemiskinan. Masih ada marwah dan keteguhan prinsip hidup yang mulia di atas kekayaan yang dimiliki.

Kisah hantu dalam karya sastra bukanlah merupakan persoalan baru. Sejak zaman Yunani, karya sastra yang memerankan hantu sebagai tokohnya selalu dibumbui kesan-kesan horor. Namun, dalam kisah hantu yang diimajinasikan oleh Hang Kafrawi, kita tidak akan memperoleh kesan yang menakutkan itu. Justru Kafrawi menghadirkan kesan dramatik komedi-sindiran melalui tokoh-tokoh hantunya. Gerakan-gerakan dramatik komedi-sindiran sangat nyata ketika kita membaca secara intensif kedua cerpen hantu tersebut. Jika kita kaitkan dengan karakter Hang Kafrawi (mungkin ini sangat subjektif), kesan jenaka itu akan sangat jelas kita rasakan. Beberapa karya filmnya pun, bergaya komedi. Komedi dalam cerpennya ini bukanlah banyolan atau tong kosong. Namun, ‘hantu-hantu’ tersebut memberikan pesan dan kesan yang ambigu dalam memaknai kehidupan sehari-hari yang lebih luas. Inilah komedi-sindiran terhadap manusia dari Hang Kafrawi melalui tokoh-tokoh dunia gaibnya. Semoga lebih banyak terlahir ‘hantu-hantu’ lain sehingga memberikan corak berbeda dalam sastra kita.

*) Musa Ismail, guru SMAN 3 Bengkalis dan bermastautin di Bengkalis. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi dan esai terbit di berbagai media massa, salah satunya Riau Pos.

http://cabiklunik.blogspot.co.id/2012/10/komedi-sindiran-hantu-hantu-hang-kafrawi.html

Categories: Esai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*