KONSEPSI SASTRA DAN GERAKAN LITERASI KITA

Raudal Tanjung Banua
arsipsastranusantara.com

Karya sastra memiliki peluang menjadi rujukan peristiwa sosial melalui penggalan atau kutipan yang dianggap konseptual. Bukan hanya judul, juga bagian isi yang “enak dikutip” menyerupai kata mutiara, metafor, kiasan, dan narasi-narasi inspiratif. Lebih dari itu, muatan karya secara keseluruhan sangat menentukan “keabadian”-nya di tengah publik. Tentu saja karya yang kuat secara estetik jadi garansi dalam ­proses dialektika semacam ini. Bahkan tak jarang konsepsi estetis pengarang mampu mewakili semangat orang banyak. Semua itu mengental jadi konsepsi bersama, berupa kebijakan (wisdom) dan semangat zaman (zetgezet).

Ungkapan “zaman edan” Ronggowarsito tetap aktual lantaran berhasil merumuskan situasi zaman. “Gurindam Dua Belas” Raja Ali Haji jadi rujukan masyarakat Melayu, misalnya tentang bahasa,”Jika hendak mengenal orang berbangsa/Lihat kepada budi bahasa.” Begitu pula Bula Malino karya La Ode Muhammad Idrus Qaimuddin, pastilah jadi rujukan masyarakat Wolio, misalnya dalam hakikat kematian:“Matemo itu intaaka aalimu/ toku-tokuno paimia saalihi” (Mati dinanti orang alim/ Ditunggu setiap orang saleh.”

Ungkapan “tak satu jalan ke Roma” Idrus, merupakan bentuk optimisme dalam mewujudkan gagasan atau cita-cita. Judul cerpen “Robohnya Surau Kami” A.A. Navis analog dengan berbagai “keruntuhan” institusi sosial, bukan hanya sebatas surau. Bisa lumbung padi, sekolah, koperasi dan pasar rakyat. Maka judul tersebut bisa dilekatkan pada fenomena lain: menjadi “Robohnya Lumbung Kami” ketika menggambarkan hancurnya sistem pengelolaan pangan lokal, “Robohnya Sekolah Kami” sebagai potret buram pendidikan, dan seterusnya.

Ungkapan “adil sejak dalam pikiran” Pramoedya Ananta Toer menjadi spirit bersama yang tak lekang. Judul novel N.H. Dini, “Langit dan Bumi Sahabat Kami,” niscaya menyertai ingatan kita tiap kali berhadapan dengan soal lingkungan. “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” dari Seno Gumira Ajidarma, betapa pun terkesan ringan dan mainmain, sebenarnya ­merepresentasikan sensor rezim, baik politik maupun moral.

Dari Motinggo Busye ada “Malam Jahanam” dan “Dosa Kita Semua”. Selain judul yang menyentak, muatan karya bersangkutan sangat kompleks. Bayangkan, dalam satumalam terjadi anomali peristiwa yang menyingkap borok Mat Kontan, Paijah, Utay dan Sulaiman, sekaligus mencerminkan rentannya relasi sosial kita. Semua pihak ikut mendorong terjadinya chaos. Hal sama terjadi dalam novel “Dosa Kita Semua” yang bisa diaplikasikan pada sejumlah peristiwa. Kasus tewasnya Angelina di Denpasar, misalnya, merupakan “dosa kita semua”, sebab semua pihak (sekolah, lingkungan, keluarga, negara) seolah absen dalam dunia anak.

Cerpen “Derabat” Budi Darma menampilkan model relasi sosial yang memendam potensi kekerasan. Derabat merupakan pertarungan dua tokoh yang saling berkarakter buruk (antagonis). Hal yang sekarang kian relevan. Lihatlah dunia politik kita hingarbingar, sulit menilai siapa benar sebab semua pihak atau kelompok memiliki karakter Derabatnya sendiri.

Jagad Puisi

Dari jagad puisi, ada banyak konsepsi yang bisa dipetik. Ambil misal karya Chairil Anwar. Puisinya penuh ungkapan segar dengan persfektif unik. “Aku mau hidup 1000 tahun lagi,” “sekali berarti sudah itu mati”, “semua harus dicatet, semua dapat tempat”, “aku suka kepada mereka yang berani hidup”, “nasib adalah kesunyian masing-masing” atau “hidup hanyalah menunda kekalahan” sebagai variasi urip mampir ngombe (hidup cuma mampir minum).

Hartojo Andangdjaja melalui sajak “Rakyat” berhasil merumuskan posisi rakyat secara tegas,“Rakyat ialah kita. Beragam suara di langit tanah tercinta!” Kemudian Rendra seolah menyahut, “Rakyat adalah sumber ilmu,” tulisnya dalam puisi yang tertera di Universitas Syiah Kuala Aceh. Konsepsi lain dari Rendra: “Bencana dan keberuntungan sama saja”, dan “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”.

“Hanya satu kata: lawan!” tulis Thukul dalam sajaknya yang menantang rezim. Kesumpekan rezim ini pula yang dirumuskan Afrizal Malna sebagai “mitos-mitos kecemasan”. Lalu “Cintalah yang membuat diri untuk betah sesekali bertahan,” tulis Umbu Landu Paranggi dalam puisi “Melodia”, seolah mengembalikan konsepsi cinta ke tengah hidup yang sumpek.

Konsepsi tak mesti berupa kutipan kata atau kalimat puitis, namun ada kalanya keseluruhan puisi, seperti puisi “Ibu” D. Zawawi Imron. Sosok ibu akan membayang begitu kita ingat sajak lawas Zawawi itu. Puisi “Aku Ingin” Sapardi Djoko Damono juga menjadi konsepsi puitik yang sering dikutip dalam undangan pernikahan,”Aku ingin mencintaimu dengan sederhana …”

Begitu pun tentang kematian. “Kematian Makin Akrab” Subagio bukan hanya soal “selaput gagasan yang gampang diseberangi”, namun keseluruhan sajak itu telah menjadi lambang kedekatan kita dengan maut. Sama halnya dengan cara pandang Subagio terhadap manusia modern yang teralienasi dalam “Manusia Pertama di Angkasa Luar”. Tulisnya,”Beri aku satu kata puisi daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji.”

Sajak Leon Agusta yang menyebut “Padang Kota tercinta” menjadi semboyan kota Padang hingga sekarang, sebagaimana “jam-jam mati” Iman Budhi Santosa tentang kota Yogya niscaya sangat menggelitik untuk direnungkan.

Perlu Pendekatan

Spirit sastra yang menginspirasi di atas, disadari atau tidak telah menjadi konsepsi-konsepsi kecil dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, gerakan literasi yang kini semarak dari Sabang sampai Merauke, perlu merawat spirit itu, sebagaimana merawat memori kolektif. Berbagai upaya dapat dilakukan.

Misalnya, dalam pameran buku perlu dihadirkan kutipan-kutipan menarik dari karya para pengarang. Tak hanya menyangkut proses kreatif, juga ungkapan dan pandangan sosial pengarang yang mewakili pengunjung berbagai latar belakang. Kutipan tersebut bisa dibuat di dinding lokasi pameran, atau di gerbang masingmasing stand, lengkap dengan skets/ foto pengarang. Bisa pula ditindaklanjuti melalui mural, kaos, aksesoris, cendera mata dan lain-lain.

Gerakan Literasi saatnya pula mendorong pemerintah menginisiasi ruang-ruang publik dengan konsepsi sastrawi. Baik dengan mencuplik sebuah karya melalui mural atau semboyan kantor, maupun mentransformasikan nilainya. Misal membuat “Taman Kunang-Kunang” berdasarkan “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” Umar Kayam. Menyusuri jalur rempah seperti dalam “Arus Balik” Pramoedya, dan seterusnya.

Untuk Sultra, bisa mengagendakan wisata budaya ke tempat-tempat yang ditulis dalam puisi Iwan Konawe dan Syaifuddin Gani, atau menapaktilasi sejarah Buton seperti dalam sajak-sajak Irianto Ibrahim. Untuk mewujudkannya bisa berkolaborasi dengan disiplin seni lain, seperti seni rupa, arsitektur, sejarah dan lain-lain.

Hanya dengan demikian karya sastra tidak terasing dari masyarakatnya, masyarakat pun tak terpisah dari karya sastra bangsanya. Berbagai konsepsi sastrawi dapat terus digali dan dimanifestasikan dalam relasi sosial kita. Ini tantangan menarik bagi Gerakan Literasi terkini.[]

http://www.arsipsastranusantara.com/2017/09/esai-raudal-tanjung-banua.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*