Wawancara dengan Kusprihyanto Namma “MENYEMAI SAWAH KEBUDAYAAN”
Dimuat Djoernal Sastra Boemipoetra, edisi Oktober-Desember 2009

Sekitar tahun 1994-1997 nama Kusprihyanto Namma sempat melesat pesat menjadi bintang sastra, mengambil perhatian peminat kesusastraan Indonesia. Kus yang merupakan tokoh Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP) kemudian tenggelam bagai di telan bumi. Kini Kus mengajar ana-anak di MAN Ngawi. Dari pagi sampai jam 13.00 kegiatan intra. Selebihnya kegiatan ekstra. Sampai sekarang Kus masih berada di pinggiran dan terus bergiat di kesenian. Inilah hasil obrolan Gito Waluyo (Gito) dengan kusprihyanto Namma (Kus) tentang pandangannya dari masalah agama, pendidikan sastra, sampai perkembangan sastra Indonesia.

Gito: Maaf mengganggu. Dari pulang beraktifitas ya?

Kus: Ah, Anda tidak sedang mengganggu saya. Hidup kita senantiasa berada dalam ketersalingan. Ya saling butuh, saling nasehat, saling tolong, saling todong, hahaha. Yeah, Seperti yang Anda lihat sendiri. Saya mengajar anak-anak di MAN Ngawi. Pagi sampai jam 13.30 kegiatan intra. Selebihnya kegiatan ekstra. Saya membina teater. Tapi tidak seperti teater-teater pada umumnya. Kegiatan kami lebih condong ke kegiatan agama. Misalnya khataman Al-Qur’an. Majlis taklim. Saya memang menyukai seni. Tapi saya lebih menyukai akhlak yang indah. Nabi kita luar biasa keindahan akhlaknya. Anak-anak yang berada di sekitaran saya cenderung memperbanyak sunah. Mulai sholatnya, puasanya, zakatnya. Agama itu lebih indah dari seni.

Gito: Pada sekitar tahun 1994 – 1997 nama mas Kus sempat melesat pesat mengambil perhatian peminat kesusastraan Indonesia. Tapi setelah itu kok lenyap bagai ditelan bumi. Bisa diceritakan

Kus: Allah yang mengatur semuanya. Yang pasti cita-cita saya sudah dipenuhi Allah. Itu harus saya akui. Di tengah gegap gempita Revitalisasi Sastra Pedalaman, akhlak saya semakin busuk. Mendadak saya dihadapkan pada SK Pegawai Negeri yang harus saya taati. Demi istri dan orang tua saya tentunya. Saya pun jadi guru di pedesaan. Di sebuah MTsN desa. Di sana saya benar-benar tertampar. Masyarakatnya religius. Agama menjadi titik gerak kehidupan mereka. Terus anak-anak seusai SMP itu, begitu pinternya ngaji. Padahal saya Alif saja tak tahu bentuknya. Saya malu, Kus yang katanya pembela RSP itu, ternyata tak punya nilai apa-apa di hadapan Allah. Sejak itu saya belajar membaca Al-Qur’an dengan metode Iqra. Usia saya sudah 32 tahun. Aduh, susah sekali. Tidak bisa-bisa. Sampai kemudian Allah memberi hidayah. Bapak ngajak saya menghadiri Sema’an Al-Qur’an Jantiko Mantab. Pada saat doa Khotmil Qur’an ada kekhususan yang pada diri saya. Alhamdulillah paginya saya bisa ngaji mulai juz pertama. Saya nangis sedu-sedan. Tak pernah mimpi bisa ngaji. Sejak itu saya semakin tak mau tahu dengan sastra. Saya fokus berburu ilmu agama. Tentunya berguru pada kyai dan khafidz Jantiko Mantab. Diri ini rasanya semakin kecil, semakin kecil. Semakin tak berdaya apa-apa.

Gito: Jadi Anda lenyap untuk menekuni masalah agama. Apakah tidak eman-eman dengan nama yang telah anda bangun?

Kus: Nama apa? Saya tak punya nama apa-apa. Itu pemberian Allah. Dan ketika Allah memberi yang lebih baik lagi, tentu saya harus lebih bersyukur. Kita jangan mengukur seseorang dengan pandangan dunia. Ada kehidupan lain yang lebih kekal. Itu yang harus kita buru. Dunia ini penuh tipu daya. Siapa yang tertipu, ia akan jadi budaknya. Siapa yang sadar, ia akan mengendalikan agar tidak terseret pada arusnya. Itu intinya. Sampai saat ini, saya masih belum juga mengerti. Guru-guru saya yang rata-rata penghafal Al-Qur’an itu SD saja tak tamat. Tapi ketika bicara mengenai ilmu arsitektur mereka nyambung. Bicara ekonomi, politik, hukum, pendidikan: mereka nyambung. Bahkan bicara mengenai ilmu kedokteran mereka juga nyambung. Darimana mereka tahu. Padahal televisi tak pernah lihat. Koran tak pernah baca. Yang jelas hati yang disucikan Allah, akan tahu semua hal meski tanpa belajar. Ini kesimpulan dari ketakmengertian saya. Seperti Kangjeng Nabi, kita disuruh belajar sampai negeri Cina. Padahal secara phisik, Beliau belum pernah sampai ke negeri itu. Itu sisi diam dari kehidupan beragama yang tenang. Sementara pada dunia sastra?

Gito: Ya, bagaimana menurut Anda sastra kita?

Kus: Sejarah kesusastraan Indonesia saja sudah penuh tipu daya. Rekayasa. Coba lihat Balai Pustaka. Angkatan itu, ditumbuhkan penjajah yang ingin balas budi. Dia beri kesempatan berkarya tapi diatur ini-itu. Yang tidak sesuai dengan selera disisihkan. Yang dekat dengan kekuasaan mendapat jalan. Dan ternyata, keburukan tersebut terus berlanjut sampai sekarang. Siapa dekat siapa. Dia yang mendapat jalan. Kenapa RSP seperti angin lalu. Karena saya memang tak dekat siapa-siapa. Tak dikenal oleh siapa-siapa kecuali teman-teman daerah. Yang terus berkarya, untuk membangun diri agar mencapai pencerahan rohani. Sastra yang kami kira mampu memberi penyadaran terhadap kehidupan, telah bergeser menjadi bagaimana menjadi terkenal, bagaimana memenangkan lomba, bagaimana dimuat Koran dan dapat honor, bagaimana bisa diundang sana diundang sini, bagaimana bisa menjadikannya mata pencarian, bagaimana berkuasa. Lalu semua jalan ditempuh. Dari yang paling halus sampai yang paling kasar. Amati siapa yang sedang berkuasa sekarang. Dialah yang menentukan siapa yang akan diangkat atau ditenggelamkan. Ini sifat narsis media. Celakanya rel sastra kita tumbuh di situ. Tidak di padang yang luas terhampar. Semua mempunyai kesempatan menjadi rumput atau bunga.

Gito: Meski anda kecewa dengan sastra kita, tapi Anda tetap terlibat dalam sastra kita kan. Terbukti Anda aktif sekali menyelenggarakan acara sastra?

Kus: Ini bukan kekecewaan. Saya hanya menyampaikan fakta. Ketika RSP dulu, kita juga menyampaikan fakta-fakta. Cuma waktu itu masih muda. Sangat enteng berkata-kata. Tapi, setelah bergerak tua, kita merasa tak perlu banyak berkata. Itu urusan yang muda. Bila yang tua tak segera memberi tempat bagi yang muda, ia akan malu dengan sendirinya. Memang, saya masih sering membuat acara sastra. Tapi ini ada kaitannya dengan tugas saya sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia. Saya mesti berkompetisi dengan guru lain dalam memikat siswa. Sudah bukan rahasia, pelajaran bahasa Indonesia termasuk pelajaran yang diremehkan siswa. Tidak diminati. Pola mengajar dan pelajarannya itu-itu saja. Tapi, alhamdulillah, di tangan saya bahasa Indonesia bisa menjadi pelajaran yang lebih menakutkan dari matematika. Tapi juga lebih menyenangkan daripada olah raga atau seni budaya. Caranya: kita jadi menakutkan apabila kita bangun kedisiplinan pada diri sendiri. Tidak terlambat masuk kelas. Selalu masuk sekolah. Jarang meninggalkan kelas. Berikan hukuman mental bagi yang melakukan kesalahan. Berikan soal-soal. Dengan ini pelajaran bahasa Indonesia menjadi berwibawa. Tapi sangat ditunggu semua siswa, karena dengan pola teater, siswa saja ajak berburu capung di sawah. Mencari kodok. Melukis bunga. Baca puisi di pematang sawah. Main drama di terminal. Macam-macam. Sehingga siswa merasa jam pelajaran terlalu cepat berganti, dan tak mau disi pelajaran lain. Membuat puisi, cerpen, drama. Menampilkannya. Mengkritiknya. Siswa bebas bicara. Bahkan menyindir-nyidir saya sebagai gurunya. Saya membuat pengajaran: tak ada siswa tak ada guru. Semuanya jadi subjek yang belajar. Itu tak cuma berhenti di sekolah. Anak-anak melanjutkan kegembiraan pelajaran sampai di rumah saya. Dan bahkan mereka tidur di rumah. Saya rasa jarang ada guru seperti itu. Anehnya, bila anak-anak pamit tidur di rumah saya, orang tuanya dengan senang hati memberi ijin. Karena bersama saya akan dibina akhlak agamanya. Anehkan?!

Gito: Ternyata Anda pribadi yang cukup rumit?!

Kus : Rumit gimana? Saya biasa-biasa saja. Cita-cita saya memang jadi seniman. Dan itu telah dikabulkan Allah. Kalau kemudian saya juga guru yang punya pengertian agama sedikit sekali, apa salahnya bila ketiganya saya padukan dalam mangkok yang sama. Sebagai seniman saya tak memandang miskin-kaya, bodoh-pintar, tua-muda. Sebagai guru saya harus mengajar. Sebagai muslim, sudah seharusnya saya sampaikan firman Allah walau cuma satu ayat. Klop kan? Rumah saya memang jadi sanggar. Kita sering pentas. Hampir tiap bulan ada: baca puisi, teater, musik. Denyut kesusastraan di Ngawi berada dari sanggar ngisor pring itu. Tapi lihatlah, agenda sastra yang dikoordinasi oleh Dinas Pendidikan tak pernah sekali pun melibatkan saya. Horison melibatkan sekolah di Ngawi untuk acaranya pun, saya tak disinggungnya. Bahkan diundang pun tidak. Hebat. Di Ngawi yang begitu sering saya bikin acara sastra, ternyata tak sekali pun saya dilirik untuk dijadi mitra dialog. Alhamdulillah. Ini memang takdir saya.

Gito: Apa Anda tak suka lobby dan anti birokrasi?

Kus: Lobby memang tak pernah saya lakukan. Saya malu pada Allah apabila saya harus berjalan di bawah atap penguasa. Rejeki saya sudah dijamin Allah. Seperti burung yang pagi hari keluar sarang dengan perut kosong, nanti pulang ke sarang dengan perut yang kenyang. Subhanallah. Allah maha kaya. Soal birokrasi, setiap pentas, saya telah melewati tahapan-tahapan untuk perijinan. Jadi tak ada masalah. Apabila dalam kehidupan ini saya ini cuma kuku, bukan mata atau kepala, insyaAllah saya ikhlas menerima. Saya menyukurinya. Teman-teman bingung sertifikasi guru. Saya tenang-tenang saja. Jodoh, rejeki, mati kan sudah diatur Illahi kita kok bingung sendiri.

Gito: Tentang pendidikan bagaimana Anda memberikan evaluasi

Kus: Pendidikan kita makin hari makin kacau. Ada BOS tapi prakteknya membuat bos-bos baru. Bukan kesejahteraan siswa. Tetap saja banyak pungutan. Apalagi yang RSBI. Wah, bikin orang tua pusing itu. Sertifikasi guru, malah menunjukkan betapa banyaknya guru yang melakukan kecurangan. Tidak jujur. UAN, tanyakan saja pada murid-murid sekolah itu, apakah yang guru ajarkan pada mereka. Kini dibuka SMK-SMK lebar-lebar. Slogannya hebat. Sekolah siap kerja. Tapi prakteknya, sekolah hanya menyiapkan tenaga buruh yang murah harganya. Kontrak setahun-duatahun selesai. Murid tidak diajari jadi cendekia. Tapi cukup jadi buruh/pekerja. Guru pun diambil secara serampangan. Tidak melewati pendidikan guru yang mapan. Seharusnya SPG, SGA, SGO dihidupkan lagi. Kelas mereka kan juga SMK. Kenapa SMK melulu pada industri. Sungguh ini menjadi keprihatinan yang paling dalam. Ketika di SLTA anak-anak ini luar biasa nakalnya. Tak bisa diatur. Dan sangat buruk agamanya. Celakanya, ia ternyata masuk Perguruan Tinggi Agama Islam dengan mengambil jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam). Iseng-iseng saya test kemampuan agamanya, mungkin ada perubahan. Ternyata malah lebih buruk lagi. Ada lagi, ketika di SLTA sudah mengenal free sex, terus kuliah di jurusan keguruan, dan hobby tak dihentikan. Dan mereka itulah yang besok akan menjadi guru. Bagaimana nasib negeri ini kelak? Bila moralitas gurunya tak terjaga?

Gito: Anda pernah menulis esay tentang itu?

Kus: Sekarang saya malas menulis. Sejak menghilang dari kancah sastra Indonesia, saya jarang nulis. Juga esay saya jelek. Sungguh saya terlahir bukan sebagai sastrawan. Saya dibesarkan di lingkungan teater. Kelompok Peron FKIP-UNS Surakarta adalah tinggalan saya yang masih eksis di kampus UNS. Di samping Magnit yang saya pimpin sendiri sampai sekarang. Peron sudah berusia 22 tahun. Kalau setiap tahun mengeluarkan alumni 20 orang yang paham teater, maka sudah 440 orang yang terbentuk dari komunitas itu. Dan rata-rata, alumni Peron selalu punya teater sekolah (karena mereka rata-rata guru). Bisa dibayangkan betapa besarnya mereka. Inilah model saya. Bekerja untuk kepentingan kesenian tapi terlupakan. Namun, baik mereka yang di Peron maupun Magnit, menempatkan diri ini di hatinya. Alhamdulillah. Ini sangat menggembirakan hati saya. Di saat lebaran, tak terhitung anggota Magnit Ngawi datang untuk silaturahmi. Sungguh menggembirakan. InsyaAllah saya akan terus bekerja. Menyemai sawah kebudayaan. Membiarkan tumbuh. Panen pasti tiba.

Gito: Anda betul-betul prototype wong ndesa. Tapi bagaimana sejarahnya Anda kok tiba-tiba bergabung dengan Boemiputra. Banyak kalangan yang menyatakan Anda dimanfaatkan lho?

Kus: Dimanfaatkan siapa? Wowok? Saut? Mereka adalah pribadi-pribadi mandiri yang luar biasa tekunnya bekerja untuk sastra. Wowok di sastra buruh dan Komunitas Sastra Indonesia, sedang Saut di internet. Mereka pendekar-pendekar semua. Tanpa saya, boemiputra sudah jalan. Cuma memang, Wowok pernah berjuang bersama saya ketika menggelindingkan perlunya Angkatan Sastra Terbaru. Angkatan 2000. Alhamdulillah lewat tangan Korie Layun Rampan lahirlah angkatan yang kita gadhang-gadhang itu. Paling tidak itu untuk menandai sebuah masa. Dari itulah Wowok mengajak saya lagi. Mulanya saya tidak mau. Tapi Wowok adalah pejuang yang tak pernah menyerah, ia meyakinkan saya. Dan akhirnya saya ngikut saja. Walau sempat kaget. Lho kok boemiputra seperti ini? Saya terus meminta perubahan. Kesantunan adalah harga yang tak bisa ditawar. Yeah, kita terus diskusi. Diskusi. Sehingga format terakhirnya seperti sekarang ini. Bagi saya boemiputra merupakan kutub tersendiri. Dan seperti takdir saya mungkin, selalu berada di pinggiran. Tak dihitung. Diremehkan. Tapi kadang diakui sebagai sebuah kebenaran. Waktu kan tidak berhenti. Waktu terus bergerak. Menilai boemiputra tidak sekarang tapi nanti.

Gito: Bagaimana pendapat Anda tentang tulisan di boemiputra seperti corat-coret di kakus.

Kus: Pernyataan itu terlontar ketika BP baru terbit sekali-duakali. Pernyataan itu dimuat berdampingan di Jurnal Nasional. Wawancaranya dan esai saya. Tak apa. Beliau semoga tak salah menilai. Dengan lapang dada saya terima dengan ucapan terima kasih. Sebagai muslim kita diajarkan bila ditempeleng muka kanan kenapa tak pula diberikan yang kiri? Islam agama yang suka damai. Ajaran-ajarannya fantastis. Perilaku Nabi membuat kita menangis. Kualitas seseorang itu terlihat dari perbuatan dan ucapannya. Kehalusan bahasanya. Kalau ucapannya seperti itu, ya kita tahu sendiri bagaimana kualitasnya.

Alamat e-mail: kusprihyanto_namma@yahoo.co.id
https://www.facebook.com/notes/abdul-malik/wawancara-kusprihyanto-namma-djoernal-sastra-boemipoetra/418305706838/

Categories: Canting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*