Narasi Sufisme dan Estetika Lokal

Shofiyatuz Zahroh *
http://www.riaupos.co

Kisah tentang sufisme menjadi semacam virus dan anti klimaks. Perjalanan kesufian dari waktu-kewaktu ter-remajakan oleh intuisi yang memiliki akselerasi tinggi untuk mencapai dimensi rasa paling hakiki. Pesona sufisme mejadi semacam kegandrungan tersendiri kemudian bagi para ulama yang penyair, untuk menggemburkan narasi sufisme itu dalam sebuah ulasan singkat atau pun cerita pendek, sebagai langkah plastis untuk mentransvaluasi nilai transendensi yang tidak terjebak pada mistisisme dan absurdisme yang mengada-ada.

Salah satu ulama yang penyair dan mengkonstruk narasi sufisme di dalam karyanya adalah, Gus Mus. Kita mengenal Gus Mus sebagai salah satu pencerita yang lugas, ia menulis cerpen dengan struktur narasi yang lazim dimengerti oleh pembaca. Tokoh yang dibangun oleh Gus Mus di dalam cerpennya sangat dekat dengan keseharian Gus Mus sendiri, demikian pula juga dengan setting cerita yang dikonstruk di dalam cerpennya, sering dan bahkan sangat kompleks dengan nilai-nilai kepesantrenan, sebagaimana dia tinggal dan banyak menghabiskan waktu.

Mari kita ingat kembali salah satu cerpen Gus Mus yang bernuansa sufistik, Gus Jakfar. Cerpen Gus Mus ini pada waktu itu sangat menghentak, dan sempat menghipnotis media untuk kemudian karya-karya Gus Mus menjadi semacam incaran tersendiri untuk mengisi kolom sastra. Pada cerpen itu kita dapat menemukan nilai-nilai religiusitas yang menjelma sebagai narasi sufisme. Dalam cerpen itu Gus Mus mampu menjelmakan kisah kesufian itu dalam narasi yang memaksa empati pembaca. Oleh karena Gus Mus mampu mengintimkan antara realitas dan imajinasi dengan begitu liat, pembaca tidak terjerembab di dalam problematika irasionalisme, meskipun kisah tentang kesufian terkadang sedikit menyeret pembaca pada makna yang irasional.

Di hadapan karya Gus Mus-Gus Jakfar-ada semacam candu di dalam diri yang berwajah kritik ekspektatif. Kritik ekspektasi itu sendiri merupakan suatu fragmentasi dari implikasi narasi sufisme yang dibangun Gus Mus di dalam cerpennya, menggugah kesadaran akan transendensi. Wajar kemudian jika pembaca merasa kurang dan ingin melanjutkan lagi narasi yang lain yang bernuansa sufime. Selain karena estetika yang dibangun Gus Mus di dalam cerpennya tidak sekadar membaurkan akan tetapi bahkan menyatukan antra yang realis dan yang imajinatif. Kesaktian karya Gus Mus juga karena berdiri di atas realitas dan kebenaran yang tidak disadari sebelumnya oleh para pembaca.

Realitas atau kebenaran yang tidak disadari dalam kacamata fenomenologi Husserl, disebut sebagai realitas prareflektif yang masih belum terabstraksi, dan tidak tersentuh oleh apapun yang berwarna dekoratif. Husserl dalam kajian ini, menyuguhkan kompleksitas dan berjubel kerumitan untuk membuat pembaca mengerti dan menyadari realitas dan kebenaran yang murni itu. Akan tetapi di tangan Gus Mus, realitas dan kebenaran yang sebelumnya tidak disadari oleh siapapun, menjadi gurih dan renyah di hadapan para pembaca.

Hal ini menunjukkan betapa kesaktian bahasa sastrawi menampung dan mengolah bahasa dengan metafor yang sederhana, akan tetapi tidak berarti bahwa yang filosfis kalah mandraguna dari yang metaforis, sebab antara yang metaforis dan yang filosofis juga sama-sama dapat mengungkapkan realitas. Dua entitas yang berbeda ini terbukti sama dapat menyampaikan realitas pada cerpen Gus Mus yang tidak hanya tunduk pada metafor untuk mengkonstruk narasi sufismenya, akan tetapi juga sarat akan nilai-niali filosofis yang membuat karya itu menjadi demikian kompleks dan terasa purna.

Bahasa dan Intertekstualitas

Pesona karya Gus Mus yang banyak menyuguhkan nilai-nilai sufistik tidak hanya membuat tertarik media untuk memublikasikannya, akan tetapi karya Gus Mus juga banyak menyita perhatian banyak kalangan termasuk para budayawan sendiri. Ada yang mencoba menyandingkan karya Gus Mus-Gus Jakfar-dengan estetika lokal. Salah satu budayawan yang tercabik kesadarannya akan transendensi, dan mewujudkan empatinya sebagai pembaca dengan mencoba menarik karya Gus Mus pada ranah makna dan estetika.

S Prasetyo Utomo dalam salah satu Koran nasional pada tahun 2006 juga berusaha mengorek karya Gus Mus, Gus Jakfar. Waktu itu, S Prasetyo Utomo menyandingkan nilai-nilai sufistik dengan estetika lokal. Bagi S Prasetyo Utomo karya Gus Mus sedikit kehilangan tajinya karena idiom-idiom yang dikonstruk dengan setting budaya lokal Jawa, dan budaya pesantren. Sehingga bagi S Prasetyo Utomo nilai-nilai lokal yang coba diselipkan di dalam karya Gus Mus-Gus Jakfar-menjadi batu sandungan bagi karya Gus Mus sendiri untuk menyampaikan nilai-nilai sufistik kepada pembaca, karena baginya karya yang coba dibangun di atas kearifan-kearifan lokal memerlukan penjelasan-penjelasan atau catatan kaki, sehingga karya macam itu bagi S Prasetyo Utomo tidak bisa dimaknai dalam pemahaman estetika pembaca yang berasal dari kultur luar Jawa dan bukan berasal dari lingkungan pesantren.

Sah-sah saja bagi S Prasetyo Utomo sebagai pembaca untuk menanggapi karya Gus Mus, paling tidak minimal ia telah menunjukkan sikap empatinya sebagai pembaca. Akan tetapi pada dasarnya karya sastra-termasuk cerpen-dan nilai-nilai sufisme itu tidak terikat oleh dimensi ruang-waktu akan tersampaikan makna dan kekuatan estetiknya. Karya Gus Mus yang bernuansa pesantren dan kuat akan kultur lokalitasnya merupakan sebentuk realitas intertekstualitas. Artinya, Gus Mus dalam konteks ini hanya mentransmisikan narasi-narasi sufisme yang berkembang di negeri pasir yang kuat akan nilai-nilai kulturnya, kepada ruang lain yang juga kuat akan nilai kulturnya, sebab tidak mungkin narasi sufisme berkembang di dalam ruang yang tidak memiliki budaya, hal itu sah-sah saja dan persoalan itu adalah persoalan kodrati yang tidak mengurangi citarasa estetiknya.

Terlepas dari hal itu semua, karya sastra macam ini menjadi sangat menarik untuk dikonsumsi di tengah dunia industri sastra kita yang sedang disergap dan terjebak pada narasi yang mengalir dari kalangan selebriti dengan obsesi perselingkuhan, seks, kosmopolitan, penuh fantasi dari dunia yang tidak dikenal dan menyiratkan realitas artifisial semata-mata.***

*) Shofiyatuz Zahroh, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS)UIN-Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
http://www.riaupos.co/2804-spesial-narasi-sufisme-dan-estetika-lokal.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*