Nusa Puisi, Antologi Puisi Penyair NTT 2016

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 28 Juni 2017

Dalam catatan dan koleksi buku saya, buku antologi puisi yang berjudul Nusa Puisi (2016) yang diulas dalam tulisan ini, merupakan buku antologi puisi keempat dalam sastra NTT. Buku antologi ini menghimpun cukup banyak puisi karya para penyair NTT. Dilihat dari segi banyaknya penyair NTT dan banyaknya puisi yang terhimpun dalam empat buku antologi yang ada, keempat buku antologi ini bisa dinilai sebagai buku antologi representasi karya para penyair NTT yang berkiprah di panggung sastra.

Tiga buku antologi puisi penyair NTT yang terbit lebih dahulu adalah Senja di Kota Kupang (2013), Ratapan Laut Sawu (2014), dan Nyanyian Sasando (2015). Buku antologi pertama dan ketiga diterbitkan Kantor Bahasa NTT, buku antologi kedua diterbitkan Penerbit Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan Editor Yoseph Yapi Taum.

Buku antologi pertama Senja di Kota Kupang (2013) tebal buku 219 halaman. Buku ini menghimpun 104 judul puisi karya 33 penyair NTT. Tidak ada nama editor dalam buku ini. Memang ada Kata Pengantar dari M. Luthfi Baihaqi, tetapi bukan sebagai editor, tetapi sebagai Kepala Kantor Bahasa NTT. Rupanya proses penerbitan buku antologi ini terburu-buru, belum ditangani secara profesional. Buku ini diluncurkan pada Temu 1 Sastrawan NTT yang berlangsung di Taman Budaya Kupang pada 30-31 Agustus 2013. Sebagian besar penyair yang karyanya ada dalam buku ini hadir pada Temu 1 Sastrawan NTT tersebut.

Buku antologi kedua Ratapan Laut Sawu (2014) diterbitkan Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dengan Editor Yoseph Yapi Taum, tebal 308 halaman. Buku ini memuat 261 judul pusi karya 43 penyair NTT. Di samping menyusun Kata Pengantar, Yapi Taum juga menyusun Prolog, di samping Paul Budi Kleden yang menyusun Epilog buku.

Buku antologi ketiga Nyanyian Sasando (2015) tebal buku 207 halaman. Buku ini memuat 153 judul puisi karya 32 penyair NTT. Buku ini disusun dalam rangka Temu 2 Sastrawan NTT di Universitas Flores, Ende, pada 8-10 Oktober 2015, dan diluncurkan dalam pertemuan tersebut. Editor buku adalah Yoseph Yapi Taum dan Maria Matildis Banda, yang juga menjadi kurator puisi untuk buku antologi puisi ini. Yoseph Yapi Taum menulis Prolog, Maria Matildis Banda menulis Epilog buku.

Buku antologi keempat Nusa Puisi (2016) yang akan diulas ini, diterbitkan Penerbit Kandil Semesta Bekasi, dengan tebal 209 halaman. Penginisiatif penerbitan sekaligus Editor buku adalah Julia Daniel Kotan. Prolog disusun Paul Budi Kleden, Dosen Filsafat STFK Ledalero (halaman 15-25), Epilog disusun Alexander Aur, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan (halaman 147-171), dan Catatan Kurator disusun penyair Indonesia Dhenok Kristianti (halaman 27-33). Sebanyak 20 orang tokoh yang memberikan endorsemen terhadap penerbitan buku antologi ini, berasal dari beragam profesi dan minat: penyair, seniman, pengamat, kritikus sastra, wartawan, mahasiswa, dan dosen.

Buku antologi Nusa Puisi ini memuat 75 judul puisi karya 58 penyair, yang dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama berjudul Puisi Persembahan (halaman 35-48) berisi 11 judul puisi karya 8 penyair panitia. Bagian kedua berjudul Puisi 50 Penyair Terpilih (halaman 49-146) berisi 64 judul puisi karya 50 penyair NTT. Dibandingkan dengan tiga buku antologi puisi penyair NTT yang terbit sebelumnya, antologi puisi Nusa Puisi ini diterbitkan atas kepedulian dan rasa cinta berbagai pihak yang bukan asli orang NTT. Ulasan terhadap puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini telah dilakukan dengan baik oleh Paul Budi Kleden dalam Prolognya, Alexander Aur dalam Epilognya, dan oleh Dhenok Kristianti dalam Catatan Kuratornya. Dalam tulisan ini saya mengulas hal lain tentang buku yang beredar luas ini.

Buku ini terbit atas inisiatif penyair Julia Daniel Kotan (nama aslinya Julia Utami) dan kawan-kawan penyair lain dari luar NTT dengan menyediakan panggung bagi generasi muda NTT yang berkiprah di panggung sastra. Julia Daniel Kotan sendiri adalah penyair Indonesia kelahiran Lampung, Sumatera, yang jatuh cinta pada NTT lewat suaminya Daniel Kotan berasal dari Lembata, NTT, tinggal di Jakarta. Robi Akbar yang juga berasal dari Lampung ikut mendorong Julia merencanakan penerbitan ini. Dua orang kurator, yakni penyair Joko Pinurbo (Jokpin) dan Dhenok Kristianti adalah bukan orang NTT. Bersama Alexander Aur (asal NTT tinggal di Jakarta), ketiga kurator ini menyeleksi 500-an judul puisi yang dikirim oleh 102 orang penyair muda NTT. Mereka yang peduli dan jatuh cinta kepada NTT ini menyediakan panggung sastra kepada 58 penyair NTT dengan menerbitkan buku antologi ini.

Di samping membidani kelahiran buku antologi ini, Julia Daniel Kotan juga menulis puisi indah sekaligus menggelitik sebagai puisi persembahan awal buku antologi ini. Julia yang sering dijuluki sebagai penyair kereta menulis puisi berjudul “Flores” dengan diksi dan metafora yang mengena. Inilah puisi “Flores” (halaman 37) karya Julia: //Hutan harum bunga tanah itu/ Pernah kuseduh dari bau nafas/ Tertampung pada bibir lelakiku// Tak kukenal tanah itu/ Selain semak halus tubuh lelakiku/ Pada bulan purnama malam pertama// Aku membayangkan langit cerah/ Dengan pecah cahaya di sela dahan hutan/ Menyulut rinduku pada rindang anganku// Bunga-bunga harum hasrat/ Bawa hayalku ke sana memetiknya/ Cangkul birahiku sepanjang nafas// Terbentang antara aku dan lelakiku//.

Robi Akbar teman Julia dari Lampung juga menulis puisi indah berjudul “Sabu” (halaman 47). Robi Akbar menulis puisi dengan diksi, metafora, rima dan irama yang sempurna. Jiwa dan raga Robi Akbar bahkan rela “ditanam” di tanah tandus Sabu dan berharap tumbuh dengan sabar sebagai pohon lontar. Mari kita nikmati puisi Robi Akbar yang mempesona ini: //bawa aku ke sabu/ biar pasang laut mengurungku/ biar terjebak aku disengat tuak/ dan ombak akhir tahun yang galak// sabu/ di tanah tandusmu/ ingin kurasakan debar pulau/ hingga berkalikali aku sakau// sabu/ biar kujadikan rusukku/ perempuanmu yang coklat pekat/ tapi tak kenal kata khianat// jika mati aku di sabu/ tanam ragaku di tanah tandusmu/ biar cahaya jiwaku berdenyar/ dan tumbuh dengan sabar sebagai lontar//.

Buku antologi Nusa Puisi ini juga mencerminkan regenerasi penyair NTT, dari generasi ketiga ke generasi keempat. Saya pernah membagi periodisasi sastra NTT berdasarkan tahun kelahiran para sastrawan menjadi beberapa generasi, yakni Sastrawan NTT Lapis Pertama (lahir 1931-1950), Sastrawan NTT Lapis Kedua (lahir 1951-1970), Sastrawan NTT Lapis Ketiga (lahir 1971-1990), dan Sastrawan NTT Lapis Keempat (lahir 1991-2010). Dalam buku Nusa Puisi ini, ada 31 penyair NTT yang masuk generasi Sastawan NTT Lapis Ketiga dan 23 penyair NTT yang masuk generasi Sastrawan NTT Lapis Keempat. Ini menunjukkan sudah terjadi regenerasi penyair NTT secara alami, dari generasi Sastrawan NTT Lapis Ketiga ke generasi Sastrawan NTT Lapis Keempat. *

*) Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende.
http://yohanessehandi.blogspot.co.id/2017/06/nusa-puisi-antologi-puisi-penyair-ntt.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*