Puisi Alam: Membangun Mitos Baru (Bagian Kedua)

Maman S. Mahayana
http://riaupos.co

KESADARAN penyair bahwa ia menempatkan puisi sebagai fakta, sebagai realitas, menuntutnya pada pemahaman, bahwa ia mesti berjuang membangun puisinya tidak sebatas mengangkat puisi alam atau mantra sebagaimana adanya, tidak juga sekadar menawarkan bentuk tranformasi atau usaha melakukan revitalisasi. Dheni Kurnia menyadari benar pada kekuatan puisinya sebagai suara zamannya. Ia menawarkan puisi dengan mantra dan kekuatan puisi alam lesap ke dalam tubuh puisinya. Oleh karena itu, penghadiran suasana magis lewat repetisi dan kesamaan bunyi, berlaku ketika puisi itu menuntutnya demikian. Oleh karena itu juga, kita masih merasakan adanya bentuk puisi yang lazim atau bentuk lain dari sebuah puisi modern yang inspirasinya melayang jauh ke masa lalu.

Perhatikan puisi berikut ini:

MA’RIPAT

Hu
Alam, langit dan maya
Hu
Alam, karibam kus ripat maripat
Hu
Alam, bujang talang keritang
Kayalah!

Dengan kunyit kuning
Dengan sirih dan sadah
Dengan bubuk tempala halus
Dengan seratus empat puluh
Dengan mengoles setiap sudut
Dengan air bening dan nama ruh
Dengan keyakinan sembilan kali
Dengan mantra bukit tujuh puluh
Berkat lailahaillallah

Jadilah!

Airmolek, 90/12/16

Dheni Kurnia tampaknya menyadari benar pengalamannya yang kaya tentang mantra. Maka puisi itu pun dia kembangkan sebagai mantra atau mantra yang diolah menjadi puisi. Dengan begitu puisi—mantra atau mantra—puisi pada hakikatnya tidak berbeda, sebab penyair sejak awal memang menempatkan puisinya sebagai realitas. Dalam hal ini, tidak ada lagi jarak antara mantra yang sakral atau gaib dengan puisi yang profan dan real berada di sekeliling kita.

Sebagai teks, sebagiannya atau seluruhnya dapat dipahami atau tidak, tidaklah terlalu penting benar. Sebab, penyair memang hendak mengangkat mantra sebagai realitas, betapapun hakikatnya tidak lain adalah puisi. Meskipun begitu, ketika ia dihadirkan sebagai peristiwa, maka suasana magis sangat mungkin akan hadir begitu saja, lantaran pengulangan bunyi—apalagi jika diucapkan deras dan kencang—akan mengundang gema dan kegaiban. Repetisi yang muncul di awal, tengah atau akhir setiap larik adalah salah satu cara untuk menghadirkannya.

Puisi “Talang Perindu” juga tetap dengan mempertahankan pola repetisi. Yang menarik dari puisi ini adalah adanya hiponimi bambu. Dan proses kelahiran setiap bagian dari bambu itu selalu terjadi pada waktu dan suasana yang berbeda. Kita –lewat puisi itu—berhadapan dengan peristiwa alam yang memantul menjadi cermin kehidupan. Ada makna simbolik dalam proses kelahiran setiap bagian bambu itu yang mengingatkan kita pada bentuk bidal yang lebih arkaik.

Puisi yang cenderung mengungkapkan semacam biografi bambu ini menegaskan kedekatan penyair dengan alam. Repetisi dalam puisi itu tak lagi menyerupai mantra, tetapi lebih dekat pada puisi alam, sebagaimana leluhur kita menempatkan alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupannya sehari-hari. Bambu menjadi kisah besar tentang kehidupan manusia yang punya harapan. Maka bercerminlah pada bambu, maka manusia akan menemukan hakikat hidup yang punya harapan menatap masa depan. Puisi ini menjadi semacam mitos tentang dunia manusia yang menyatu dengan alam. Sebuah puisi yang sungguh unik dan khas, dan karena itu menjadi menarik tidak sekadar sebagai puisi an sich, melainkan sebagai penciptaan mitos baru.

TALANG PERINDU

Di panasnya cahaya tumbuhlah
betung
Di dinginnya embun lahirlah buluh
Di gelapnya dinihari terciptalah bilah
Di tingginya tebing kuatlah aur

Di diri bilah mengkajilah buluh
Di dalam buluh terpujilah bilah
Dari rebung membesarlah betung
Betung bertuah menjimat rebung

Tegar tebing membesar aur
Melengkung aur dibentuk tebing
Sakti tebing berjurai aur
Aur dan tebing melahirkan talang

Talang aku talang berhajat
Hajat aku karena talang
Talang perindu mengasih kau!

Airmolek, 20/1115

Demikianlah, puisi-puisi Dheni Kurnia dalam antologi ini pada akhirnya menegaskan bahwa penyair yang merasa menjadi bagian dari masyarakat Talang Mamak, terkesan hendak tampil sebagai ‘juru bicara’ tradisi kebudayaan masyarakat itu. Puisi-puisinya seperti merefleksikan pengalaman pribadinya sebagai individu, mewartakan pengalaman batin dan pengalaman spiritualnya sebagai pengalaman bersama yang mungkin pada suatu hari kelak, akan menjadi pengalaman kita juga.

Dalam konteks perpuisian Indonesia, puisi-puisi Dheni Kurni betul-betul lepas dari mainstream perpuisian kita yang cenderung berkutat pada problem aku lirik yang dikepung kehidupan masyarakat sekitarnya. Puisi-puisi Dheni Kurnia tegas hendak mengembalikan puisi alam yang lebih arkaik, sebagaimana yang dibangun para leluhur kita, tetapi sekaligus juga coba mengangkatnya sebagai bagian dari kehidupan kontemporer sebagai sebuah kenyataan kini. Dengan demikian, kredonya: “puisi sebagai realitas” dapat dimaknai, bahwa bangsa ini memang hidup dalam dua dunia: masa lalu yang jejaknya masih bertebaran di sana-sini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita, dan masa kini yang memerlukan mitos baru untuk meraih harapan masa depan.

Antologi puisi Olang 2 karya Dheni Kurnia ini ibarat mitos baru bagi masyarakat kita kini yang ke belakang, jejaknya masih dapat ditelusuri, dan ke depan, perlu membangun harapan yang tidak lagi semata-mata bertumpu pada kemajuan dunia modern, melainkan juga pada kearifan lokal dalam memperlakukan alam sebagai cermin kehidupan. Maka, puisi sebagai realitas, mesti dimaknai sebagai pesan untuk menghadapi realitas dunia modern kini, dan realitas masa lalu leluhur kita yang menyimpan kearifan dalam memperlakukan alam.
***

Keseluruhannya, antologi puisi Olang 2 (Pekanbaru: Palagan Press, 2016, xxiii + 265 halaman) karya Dheni Kurnia ini menghimpun 153 puisi yang disusun ke dalam tiga bagian berdasarkan tarikh perjalanan kepenyairannya, yaitu 2006—2016 (memuat 46 puisi), 1995—2005 (21 puisi), dan 1984—1994 (86 puisi). Pembagian itu boleh jadi dimaksudkan sebagai pembabakan belaka. Mungkin juga untuk menegaskan perjalanan kepenyairannya.

Dengan asumsi itu, kita melihat, bagian periode 1984—1994, sebagai masa awal kepenyairannya, ia masih sangat dekat dengan pusat kebudayaan masyarakat yang melahirkan dan membesarkannya. Kita dapat menganalogikan pembabakan periode kepenyairannya Dheni Kurnia dengan teori gelombang. Ketika sebuah kerikil dilemparkan ke tengah kolam yang tenang, gelombang besar akan terjadi melingkari plung-nya kerikil. Lalu, gelombang air itu semakin jauh dari pusat plung, semakin lemah pula gerak gelombangnya. Jadi, periode awal kepenyairan Dheni Kurnia, masih tampak sangat kental mitos mantra, elang, dan Talang Mamak.

Pada periode kedua (1995—2005), keterbetotan Dheni Kurnia pada ibu budayanya, tidak lagi sekencang periode pertama. Ada usaha untuk melesapkan keterbetotannya pada pengalaman empiris berhadapan dengan masyarakat dunia. Dan ia menemukan dunia lain, aura lain manakala ia masuk dalam lingkaran religiusitas. Ia menemukan roh yang menakjubkan sesuai dengan keyakinan keimanannya. Dengan kesadaran itulah, memancar semacam pertobatan, lahir hasrat untuk membangun semangat baru dengan jiwa yang telah diguyur aur religiusitas. Periksa saja puisi-puisinya yang bertajuk “Selepas Kelam.” (hlm. 144—149).

Pada periode ketiga (2006—2016) lahir sudah dunia baru yang dibangun oleh kekayaan pengalaman batinnya. Maka, warna-warni puisinya lebih beragam, lebih kaya, dan lebih reflektif. Meskipun demikian, mantra, elang, dan Talang Mamak yang telah melahirkan, membentuk dan membesarkannya, tetap nemplok sebagai panggilan kebudayaan tanah leluhur. Lalu, disadari pula, ada aura baru yang kini ikut mencengkeramnya: kesadaran religius, keberimanan pada perkara keimanan, dan pengalaman hidup kini yang menggoncangkan keduanya. Dalam konteks itulah, ia mesti tegas bersikap. Maka, dapat kita pahami, jika ia menyebutkan puisinya sebagai realitas. Dalam hal ini, kita dapat menempatkannya sebagai isyarat, bahwa yang dimaksud realitas di sana tidak lain adalah pengalaman empiris penyair ketika penghormatan pada ibu budaya dan keberimananya berada dalam kepungan kebudayaan masyarakat yang lebih berbagai.

Gelombang pada pusat kebudayaan leluhur, memang semakin menjauh. Tetapi, kesadaran baru menuntutnya untuk menengok kembali kebudayaan tanah leluhur. Itulah yang terjadi pada puisi-puisi Dheni Kurnia periode ketiga: 2006—2016.
***

Perlu dicamkan, kebudayaan masyarakat itu punya jiwa, punya roh. Maka roh kebudayaan itu, tanpa atau dengan kesadarannya sebagai penyair, menggayuti dan mencolot begitu saja, lesap dalam tubuh puisi-puisinya. Oleh karena itu, puisi-puisi Dheni Kurnia juga seperti merefleksikan keyakinan spiritualnya yang menjelma laksana elan baru, spirit baru tentang mantra, elang, dan Talang Mamak yang melahirkannya. Dengan begitu, ia mesti menerima kenyataan, bahwa kini ia berhadapan dengan fakta sosial yang kerap menggoncangkan pengalaman masa lalunya. Meskipun demikian, ia juga tidak dapat begitu saja mengabaikan roh mantra dan simbol elang yang seolah-olah terus merayap mengikuti perjalanan hidupnya. Jadilah batas realitas masa lalu dan masa kini berkelindan saling menerkam-mencengkeram. Panggilan roh kebudayaan masa lalu dan realitas yang dihadapinya kini mewujud bukan sebagai hibrida, melainkan sebagai elan penyair dalam kehidupan berkebudayaan.

Mantra yang sejak sekian lama meresap ke dalam denyut batinnya, merayapi aliran darahnya, dan bertahta dalam benaknya itu, tiba-tiba seperti diterjang fakta sosial yang kini menuntutnya mesti bertindak rasional. Lalu, olang—elang, yang telah begitu kuat mendekam-mengeram dalam ingatan masa lalunya, tiada henti, terus saja melayang-layang tak mudah dienyahkan. Ia hidup bergentayangan sebagai representasi panggilan sosio-kultural yang telah membentuk dan membesarkannya. Di situlah, puisi-puisi Dheni Kurnia seperti menggambarkan ketidakberdayaannya melepaskan mantra dan elang menjadi simbol ingatan yang tak pernah punah dan tak akan lekang diterjang zaman, dan sekaligus sebagai penghormatan pada leluhur masyarakatnya: Talang Mamak.

Periksalah puisi-puisinya periode 2006—2016. Perjalanan dan pengelanaannya di belahan dunia mana pun, kerap dibayang-bayangi sang olang. Maka, ketakjubannya pada Menara Eiffel, justru malah menghadirkan pengagungan pada sang elang yang terbang melebihi ketinggian menara itu (“Elang di Pucuk Eiffel”), seperti dikatakannya: Ketinggian eiffel tak ada artinya bagi elang/ hanya serengkuh detik dia ada di puncaknya/Eiffel bagi elang hanya sebuah mainan// Atau, seekor burung bagiku hanyalah elang… elang adalah jelmaan talang mamak. Dengan demikian, bagi Dheni Kurnia, persoalan apa pun yang dihadapinya yang kemudian diangkatnya menjadi tema puisi-puisinya, tidak dapat begitu saja meninggalkan mantra, elang, dan Talang Mamak, yang hadir sebagai representasi kultur leluhur.

Cermatilah puisinya yang berjudul “Elang di Pucuk Eiffel” (hlm. 4) dan bandingkanlah dengan salah satu puisinya periode 1984—1994 yang judulnya diawali dengan “Qodam Elang” (hlm. 153—204). Betapa simbol sang elang mengeram dan melekat dalam jiwa-pikirannya. Ia menyatu, membentangkan spirit, menggelontorkan harapan yang bersumber dan berpijak pada masa lalu, pada simbolisasi elang, pada roh kebudayaan tanah leluhur.

QODAM ELANG

Bissmillah, kata pertama
Arrahman, membuka sekat
Arrahim, melindung kasih
Dari elang terbang tinggi,
lahirlah qodam
Dari elang menyifat badan,
suluklah qodam
Dari elang membuka hati,
bangunlah qodam
Dari elang menetak jantung,
jadilah qodam
Di tubuh elang bermukim qodam
Di qodam elang, menyifat tubuh

Pekanbaru, 90.12/16

Berikut ini saya kutip dua bait terakhir puisinya yang berjudul “Elang di Pucuk Eiffel”.

Di bukit tiga puluh rebung
menjadi menu utama
Tapi bagi alain ducasse, chef
ducasse, rebung dicampur nira
Airnya menyatu dengan warna anggur
Alunan tradisi talang mamak,
rentak bulian diubah ulang
Menjadi irama gypsi dan alunan
lembut eidith piaf
Sambil memandang kota paris
di ketinggian, rentak menyentak
Membuat kaki terpaku berlama-lama

Bagi elang, eiffil bukanlah apa-apa
Tak setinggi terbang ke arasy
Tak sebanding dengan desir angin
di belilas
Lembut seumpama simfoni,
orkestra arus di air molek
Tapi ketika elang di pucuk eiffil
Dia melihat tuhan tak adil
untuk negerinya
Elang pulang dengan tanda tanya!

Paris, 20.12/16

Kiranya jelas, bagaimana posisi elang dan kehadirannya dalam puisi-puisi Dheni Kurnia. Ia menempatkannya sebagai akar dan sumber yang menggerakkan cara berpikir dan bersikap dalam memandang kehidupan kini. Ia tidak berkhianat pada tradisi, tidak melupa dan mendelete peran leluhur sebagai penyair alam. Ia justru menghidupkannya kembali, menghadirkan model transformasi, menjelma elan spiritualitas, yang lalu mencelat begitu saja, nemplok-melekat dalam larik-larik puisinya. Dengan demikian, Dheni Kurnia telah secara sadar ‘belajar’ pada kepenyairan leluhur yang memperlakukan alam dan kehidupan dunia gaib sebagai perilaku dalam membangun kebudayaan. Itulah sikap kepenyairannya.

Semangatnya sejalan dengan sikap Seniman Gelanggang, sebagaimana yang tersurat pada Surat Kepercayaan Gelanggang, “… tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan suara-suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. …” yang bagi sastrawan Angkatan 70-an, seperti yang dirumuskan Abdul Hadi WM, “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber.” Disadari atau tidak, Dheni Kurnia telah mengejawantahkannya dalam puisi-puisi yang disebutnya: “Mantra Puisi”!

Tema menjadi tidak penting lagi bagi Dheni Kurnia. Sebab, fenomena apa pun yang dihadapinya atau persoalan apa pun yang diangkatnya, mantra, elang, dan Talang Mamak, lindap dan lesap dalam puisi-puisinya. Maka, ingatan pada peristiwa budaya masa lalu, pada para leluhurnya sebagai penyair alam, disikapi Dheni Kurnia sebagai usahanya menjelmakan mitos baru. Sebuah sikap kepenyairan yang tegas tak hendak berkhianat pada ibu-budayanya.***

Bojonggede, 18 Juni 2016
http://riaupos.co/3129-spesial-puisi-alam-membangun-mitos-baru-(bagian-kedua).html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*