Sangkar Emas

Awalludin GD Mualif

Seorang bijak pernah dalam doanya senantiasa meminta kepada Sang Penguasa Alam agar ia tidak di takdirkan hidup disuatu masa yang memiliki arti penting. Sebab kita bukan orang bijak, Yang Maha Kuasa pun tidak mengindahkan kita dan kita pula hidup pada masa yang memiliki arti penting. Dalam segala aspek bidang, jaman kitalah yang mendorong kita untuk menjadikan dan mengenalkan arti masa yang penting ini. Bagi seorang kreatif saat ini paham akan fenomena ini. Saat waktunya mereka membuka suara, kritikan dan serangan akan menghantam, ketika mengambil sikap santun dan apatis, mereka dicela/dihina tanpa ampun.

Kata “seni” juga digunakan dalam metabolisme tubuh, yaitu aktivitas mengeluarkan cairan melalui saluran kemih, yakni air seni. Sudah barang tentu, pengertian kata “seni” dengan “air seni”, keduanya berbeda makna, tetapi dalam arti lain bisa jadi mempunyai kesamaan. Seniman demi menuntaskan hasrat dalam diri melalui karya menggapai kepuasaan, sedang orang yang kencing pun sama. Benang merah diantara kedua kata bermakna berbeda ini adalah: keduanya sama-sama melepaskan sebuah hasrat, dimana ketika dalam proses pembuangan/pelepasan ide karya bagi seniman dan gangguan saluran air kencing terjadi sumbatan-sumbatan bisa jadi ketidaknyamanan dan rasa sakit akan hadir memeluk.

Di tengah-tengah kahanan yang semakin kacau balau semacam ini, seorang kreatif tidak dapat berpangku tangan demi mengejar pantulan bayangan kebanggaannya. Sampai detik ini, berdiri diatas kaki keyakinan diri selalu tercatat dalam sejarah. Jika ada tidak ada persetujuan akan sebuah gagasan yang dilemparkanya pilihanya selalu diam atau mengkaburkannya dengan hal-hal lain. Jaman sudah beranjak bertambah semakin menua dan berdiam diri pun akan menimbulkan mara bahaya. Sebenarnya saat tidak menjatuhkan sebuah pilihan pun sesungguhnya dianggap telah memilih, dan dinilai atau dihormati sebagaimana halnya sikap lainya, maka para seniman akan mau tidak mau dipaksa atau terpaksa untuk berkarya. “Terpaksa atau “dipakasa” lebih bijak dibandingkan “melibatkan diri”. Seniman tak lagi menciptakan sebuah karya berdasarkan kontemplasi dan kedalaman perenungan yang terpancar melalui karyanya, tetapi lebih cenderung mirip melaksanakan sebuah kewajiban. Hampir sebagian besar seniman masa kini tampaknya lebih terikat pada teori tuan dimana ada budak yag selalu siap menerima perintah dari sang tuan. Mereka seolah-olah dipaksa pada sebuah kenyataan yang jauh dari alam imajinasi dan kata hati. Kalaupun tersisa alam-alam itu telah terkontaminasi sisa-sisa kotoran masa lalu. Sedang pemilik budak berlomba-lomba dengan sang tuan dengan kenyataan yang tersembunyi dari balik kegagahan yang tampil di panggung depan. Pemilik budak sudah sangat terlampau banyak dan mereka sulit untuk dikendalikan. Jaman seolah menghamparkan jalan penuh duri dan kita berada diperjalanan yang sakit. Seniman, seperti juga yang lainya harus terus berjalan tanpa perlu merasa sakit-dengan kata lain, terus hidup dan berkarya atau hilang ditelan jaman.

Jika kita semua mau jujur tentu saja fenomena seperti ini bukanlah hal mudah, dan kita mencoba untuk dapat memahami mengapa para seniman seringkali mencari dari masa-masa lalu yang penuh kenyamanan. Roda perubahan jaman tidak mengenal ampun ia menggilas apapun yang dilewatinya. Memang panggung sejarah bisa jadi berisikan laras panjang dan binatang buas. Yang pertama memimpikan kenyamanan kekal, yang kedua bersuka cita dengan daging, tulang dan bangkai sejarah. Para seniman lebih berada ditepi panggung. Bisa jadi mereka berdendang untuk menghibur diri, atau stidak-tidaknya menyemangati laras panjang dan membuat hewan buas kehilangan nafsu makan. Kini seniman berdiri dipanggung utama, namun genderang suara yang di gemakan sudah berbeda: tidak kuat dan lantang seperti sebelumnya.

Akankah seni menjadi hilang dengan kewajiban berkarya serupa itu. kebebasan, misalnya, terasa sangat nampak nyata pada karya-karya The Beatles. Akan begitu mudah dimegerti mengapa karya-karya seni sekarang seolah tampak monoton dan tidak bertahan lama. Jika kita amati secara sederhana tampak jelas sepertinya sekarang ini lebih banyak jurnalis dari pada pengarang kreatif, pelukis pop daripada potret dirinya Afanndi, novel-novel iklan dan cerita roman picisan lebih melimpah dibandingkan karya setaraf Triloginya Pramodya Ananta Toer. Sudah barang tentu orang akan meratapi masa lalu. Hal yang sangat manusiawai. Pengalaman yang mendebarkan dalam sejarah perjalanan manusia adalah nasib yang tak pasti. Nasib kadang serupa papasan ditangah jalan, tanpa direncanakan. Setiap orang mempunyai pertimbangan sediri-sendiri dan terkadang akal sehat seringkali menjadi lumpuh, tak berdaya seperti tidak berdayannya tokoh “Aku” dalam cerpen Relung Telinga Kurnia, yang mengolah selingkuh tak sampai. Juga Ihsan, tokoh cerpen Iwan Kelana dalam “Mobil Impian” yang sepanjang hidupnya berjuang untu memiliki mobil, tetapi begitu mobil terbeli, Ibunya pun mati. Sehingga Ihsan hanya bisa merintih, “Ibu, akhirnya aku berhasil mengajakmu naik mobil impian kita, walaupun sekarang ibu telah tiada…”

Seperti itulah nasib seniman dan atau pelaku bidang liyan, sebuah tikungan yang tak diketahui ujungnya. Karena hanya satu nasiblah yang telah memilih, kita tak bisa menghindar. Kita mengikuti alur nasib itu. “Perkaraku mengikuti alurnya,” bisik Mersault, tokoh Albert Camus dalam novel Orang Asing. Alur nasib itu juga yang membuat Kamalludin Armada berjalan ke kuburnya sendiri. Dalam cerpen Malam Kelabu, Martin Aleida mengisahkan Armada yang melangkah berbunga-bunga, ke kampung gadis pujaanya-mereka hendak menikah. Tapi “Malang tak dapat ditolak, untung pun kamu tetap mati,” Kata Agus Noor dalam cerpennya Pesan Seorang Pembunuh. Dan malanglah yang datang pada Armada: kekasih dan keluarganya tumpas, karena ber-ayah PKI. Kamalludin merasa dihempaskan, direnggut dari harapaya. Ya, nasib meliuk dari kedua tanganya. Lalu sikap yang manakah yang bisa kita jadikan alternatif bagi sebuah keberlangsungan, menyesuaikan diri pada jaman? Sebab demikianlah yang dituntut oleh jaman, dan dengan lapang dada serta penuh ketenangan bahwa periode seniman sebagai jenius, sudah lewat. Saat sekarang, bisa “jadi” berkarya berarti berkarya dalam bahaya. Setiap Pengenalan adalah tindakan dan setiap tindakan memaksa orang untukk berhadapan dengan gairah jaman yang tak mengenal ampun. Oleh karenanya pertanyaannya, bukan lagi apa tindakan demikian seni atau tidak? Dan dapat lahir pertanyaan bagi semua orang yang tidak bisa hidup tanpa seni dan maknanya bisa jadi, bagaimana mungkin banyaknya aturan dan bertaburanya ideologi (juga agama) kebebasan mencipta bisa terwujud?

Dalam kontek ini tidak hanya cukup mempertanyakan bahwa seni terancam oleh sebuah kekuasaan suatu Negara. Jika memang demikian, soalnya jadi sederhana: seniman harus berontak atau menyerah. Tetapi permasalahanya lebih komplek dan berat, apalagi jika disadari pertarungan itu ada dan terjadi dalam diri seniman itu sendiri. Kebencian pada seni seperti yang terjadi pada tahun 1966 “Pengadilan seniman” di kota Bandung atau yang terdapat di masyarakat kita tentang, dan atau kurang memahaminya mereka pada sebuha karya seni serta senimannya. Pertanyaan terhadap seni oleh seniman memiliki banyak sebab. Tetapi hanya yang paling penting yang seyogyannya menjadi bahan pertimbangan, yakni perasaan berdusta dan mengobral kata-kata tanpa makna/arti, yang ada pada seniman masa kini bila tidak mengabaikan kemalangan sejarah. Berbagai cara yang ditempuh oleh massa berserta keadaan buruknya seolah menjadi ciri jaman ini. Dan ketika menjadi lebih sadar hal itu bukanlah karena kasta (keningratan) kita, entah artistik atau tidak, menjadi lebih baik-bukan, bukan itu-namun karena massa sudah mempunyai sudut pandang tesendiri, mejadi rem, “hakim” serta penginggat supaya orang tidak lalai akan hal itu.

Masih banyak alasan lainya, beberapa diantaranya masih bisa diabaikan, tidak begitu penting dan bergantung pada senimannya sendiri. Tetapi perlu digaris bawahi, apapun alasanya semua bermuara pada satu titik; mencegah penciptaan karya bebas dengan mengabaikan prinsip-prnsip dasarnya, yakni kepercayaan diri sang pencipta. “Kepatuhan seseorang pada kejeniusanya adalah keyakinan yang paling murni” kata emerson. Dan seorang penulis Amerika menulis “Sepanjang manusia setia pada dirinya sendiri, semua akan patuh kepadanya-pemerintah, masyarakat, matahari, bulan, dan bintang” lalu dimanakah optomisme hebat ini sekarang? Sudah punahkah? Tidak sedikit seniman malu terhadap dirinya dan kemampuannya, bagaimana jika diajuka pertanyaan pada dirinya sendiri: apakah seni itu kemewahan yang terselubung?

Jawaban sederhana yang mungkin bisa dijadikan sebuah refleksi adalah: pada suat masa seni memang kemewahan terselubung, ia berdiri gagah di dinding-dinding indah para hartawan, menggema di ruang kedap suara penuh dengan aroma parfum berkelas. Bisa saja mereka berbicara tentang masalah sosial, sambil ditemani segelas anggur sementara para budak masih berkeluh keringat, telinganya mendengar tetapi hanya sebatas dari kejahuan. Sebagaian lainya bertarung demi sesuap nasi hingga memenuhi ruang penjara, sementara transaksi jutaan, hingga milliar rupiah berlangsung penuh tawa di ruang berbeda. Apakah dihadapan banyak penderitaan, seni hendak tetap bersikap mewah. Itu sama saja dengan omomg kosong.

Lalu apa yang harus disuarakan oleh seni? Jika seni menyesuaikan diri dengan mayoritas keinginan masyarakat, ia hanya akan menjadi reaksi tanpa arti. Jika seni membabi buta saja dan menolak keinginan masyarakat, senimanya hanya mengutamakan mimpi, ia hanya jadi penentang segala sesuatu. Dengan sebab beginilah kita hanya akan memiliki “kumpulan penghibur dan ahli bahasa resmi”. Keduanya menyingkirkan seni ke suatu tempat yang asing dari yang terasing (kenyataan hidup).

Masyarakat kita saat ini menuhankan Uang sebagai sebagai lambang yang abstrak dari kekayaan, bukankah hal yang seperti ini bisa dikatakan sebagai masyarakat yang mengubah benda menjadi isyarat dan tanda belaka. Jika kelompok pemilik modal telah mengukur kekayaannya dengan luasan tanah dan tumpukan rupiah melimpah, ini sama halnya seorang bodoh berkotbah di hamparan semesta. Masyarakat yang dibangun dengan model seperti ini hanyalah masyarakat jasmaniyah semata yang menganggap kebenaran diukur dari sesuatu yang nampak dengan mata kepala. Jadi bukanlah sesuatu yang mengherankan apabila pola semacam ini melahirkan sebuah aturan-aturan formal sebagai keyakinannya mencari Tuhan dan memilih kata-kata “kebebasan” dalam sekat dan atau penjara-penjara di gedung lembaga penghasil harta kekayaannya. Kata-kata kebebasan dijadikan landasan untuk menindas dan berlaku sewenang-wenang untuk membenarkan tindakannya. Hal ini berakibat masyarakat yang membutuhkan seni sebagai alat kebebasan hanya menjadikannya alat hiburan saja. Bukankah ini menghawatirkan? Masyarakat mapan hanya menyibukan dirinya dengan kesulitan finansial dan sentimental, sedang disisi lain masyarakat menengah terkantung-kantung mengikuti arusnya dan masyarakat bawah hanya dijadikan penonton yang sewaktu-waktu bersorak-ria dan bertepuk sebelah tangan.

Dengan demikian tidak mengherankan juga jika para pencipta seni di Indonesia pada era 1900 memilih sikap tanpa tanggung jawab, sebab sikap itu akan membuatnya terbuang dan dikucilkan dari lingkunganya bahkan oleh Negara seperti halnya Pram, Ws. Rendra, Muchtar Lubis, Sapardi DJoko Darmono dll. Akibatnya lahirlah UUD Pornografi dan Pronoaksi. Atas hal inilah bisa jadi salah satu faktor penyebab seni yang tercipta dari seniman adalah semu belaka bagi masyarakat yang tersekat-sekat dan lebih memilih individualistik. Akibat darinya seni yang berkualitas tinggi/bermutu dapat dinikmati orang. Sementara karya-karya yang mengenyangkan perut pemilik modal yang terus menyuapi industri dari apa yang telah dirancangnya justru semakin diminati khalayak banyak.seolah-olah seni tercerabut dari akarnya. Dalam sebuah perjumpaan di sebuah ruang diskusi ST Sunardi mengungkapkan kegelisaahanya, “apakah kita semua berani untuk kembali mengkoreksi kalau yang seniman ternyata bukan seniman dan yang bukan seniman ternyata seorang seniman” secara perlahan seorang seniman, bahkan yang sudah ternama akan terasing, atau paling banter dikenal oleh masyarakat umum melalui media-media, baik massa ataupun eletronik yang bisa dapat dipastikan akan sangat menyederhanakan gagasan sang seniman sebagai bumbu penikmat bagi para pembaca dan pendengarnya. Seniman dengan karyanya semakin dijauhkan dari apa yang telah ia idekan. Sebab jutaan penonton, pembaca atau pendengar mengenalnya karena memiliki istri lebih dari satu dan atau seorang seniman tersebut membangun rumah besar dan beritindak diluar seni dengan dan atau mengatasnakaman karya seninya seolah inilah konsep dikenalnya seniman. Bukan dari karya-karya yang dihasilkanya. Dan ia dituntut untuk mengikuti apa kata media yang tidak hanya jadi konsumsi seluruh lapisan masyarakat tetapi telah jadi suatu kebenaran bagi sebagian besar masyarakat. Apakah pernah terlintas, sebenarnya alam pikiran masyarakat, saraf-saraf otak yang bekerja dan dalam hati rakyat sangat bergantung pada apa yang dilihatnya setiap hari. Jika diatas langit ada lauhul Mahfudz di bumi ada media massa. Oleh karenanya seniman bisa menyerahkan dirinya pada pada para pemilik media tersebut.

Kerinduan akan sosok seniman yang mampu melahirkan karya besar dan mampu memberikan sebuah peran penting pada kehidupan bermasyarakat mungkin hanya tinggal sebuah angan-angan yang terbang ke atas awan dan dengan satu kali sapuhan angin terhempas entah, sejarah mencatat mahakarya seniman Nusantara yang tidak hanya lahir dari sebuah perenungan, daya cipta, kreativitas dan imajinasi tinggi tapi juga mempunyai nilai bagi kehidupan. Wayang misal: yang sudah ada sejak abad ke 15 misal, yang memadukan bentuk seni rupa, seni sastra dan seni pertunjukan. Kolaborasi dalam satu bentuk sajian yang menggugah keasadaran bagi masyarakat. Hanya ingin mengatakan apa yang disampaikan ST. Sunardi dalam sebuah ruang diskusi bertemakan “Seni sebagai Peristiwa” seniman: berangkat dari kekosongan menuju kepenuhan (emptiness) dan menjadi sumber inspirasi bagi siapapun penikmatnya tidak mengambarkan dan atau “kesakitan” dalam proses hingga turun dalam bentuk karya. Masih akan menjadi pertanyaan tentang ke-senimanannya jika karya-karyanya melahirkan kesakitan. Semakin terbangun dinding tinggi diantara seniman dengan masyarakat dalam sekat-sekat yang dihadirkan tanpa atau disadari oleh pelaku dunia kreativ. Jika kita menengok ke catatan sejarah yang ada karya seni yang dihasilkan oleh seniman mampu berbaur dengan masyarakat umum dengan cara-cara berbeda dan interaksi dalam bentuk estetis.

Lalu abu-abu dunia seni bertumpuh pada yang mana? “kepalsuan” telah menjelma menjadi ide seniman atas tuntutan keadaan yang semakin tak terkendali atau masih tersisa sebuah kejujuran darinya? Sejatinya hanya seniman yang mengetahui karyanya, sedang lainya hanya mampu menjangkau dalam persepsi sesuai batas kemampuan masing-masing. Seperti halnya film. Apa yang disajikan bukanlah kebenaran sesungguhnya. Ia hanya refleksi dari ide yang hanya mewakili sebagian kenyataan yang coba untuk dihidangkan. Sedang film sesungguhnya adalah dunia berserta isinya dengan camera tersebar dimana-mana dengan sutradara Sang Maha Seni.
***

June 21, 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*