Tahun 2017 dan Bayang-bayang Kebudayaan

Jumari HS
http://riaupos.co

FILSAFAT menempatkan kebudayaan pada aras metafisis yang merujuk pada penempatan nilai sebagai aspek formal intrinsik . ia tidak bicara tentang bagaimana kebudayaan menjadi norma bagi tingkah laku (learned behaviour) sehingga membentuk way of life (suatu hal menjadi obyek studi sosio antropolgi), atau bagaimana kebudayaan dibentuk oleh representasi kuasa pengetahuan (satu hal yang menjadi obyek cultural studies).

Berbicara filasafat kebudayaan kita lebih berhasrat mengali kebudayaan secara antologis agar inti jiwa atau hakekat kebudayaan implemnetasinya dapat dibedakan dalam prakteknya di masyarakat. Mengingat filasofis kebudayaan itu sangat penting keberadayaannya dalam membangun kehidupan yang manusiawi. Prespektif ini, merujuk pada inti kebudayaan yang sesungguhnya, yakni manusia dapat memanusiakan dirinya.

Ada keprihatinan, tentang eksistensi alam yang disumsikan sebagai causa formalis yang sangat rentan membentuk budi pekerti manusia. Hal itu bisa dikatakan distortif atau melahirkan keterbalikan-keterbalikan dari akal budi yang realisasinya hanya menghasilkan karya-karya yang menyimpang atau membuat bermacam ketimpangan dalam berpikir yang fragmatis terhadap darinya sendiri. Sebagai zat jasmani-rohani, manusia memiliki tugas penting memelihara kesempurnaannya dalam proses perwujudan budi social dan fisikal. Manusia harus mampu mengembangkan tertib budi pekerti dalam usahanya menertibkan alam dan lingkungannya : sapientis est ordinare. Bukan merencanakan tata tertib dan peraturan-peraturannya sendiri lalu mengusahakannya pada bidang-bidang tertentu saja. Melainkan mereka harus dapat berupaya dan terus mau belajar dan belajar ( pengkajian ), melalui studies simbolisme, teori dari sumber referensi pengalaman hidup untuk diimplementasikan.

De Varitare mengatakan “ Nihil potest ardinari in aliquem finem, nisi prae-exist in ipso quaedam propotio ad finem “ bahwa tak ada yang dapat diarahkan pada satu tujuan kalau di dalam dirinya tidak terdapat suatu keselarasan dengan tujuan yang diyakininya.

Di sinilah, aspek formal kebudayaan terletak dalam karya budi yang mentransformasikan data, fakta,situasi dan kejadian yang dilihatnya, menjadi sebuah nilai bagi manusia itu. Sebab makna filosofi dari kebudayaan sendiri bisa didifinisikan sebuah proses penciptaan, penertiban dan pengolahan nilai-nilai insani yang mutlak menjadi penilaian valorisasi yang dapat termanifastasikan dalam keyakinan dan pengertian yang dapat teraktualisasikan melalui seni, kekuasaan, demokrasi, maupun politik.

Jadi menjaga martabat kebudayaan, kompleksitasnya sangat pelik dan butuh pengasahan “ rasa “ sebagai ruhnya yang bisa memberdayakan budi perkerti manusia untuk capaian kesempurnaannya sebagai pengembaraan, atau kalau kita mau mengutip relevansi rumusan Dewan Perancang Negara (1961 ) “ a set of material, intellectual and moral value and conditions which make it possible and even easy for the human and community to expand and develop harmoniously. “ lebih menandaskan, bahwa kebudayaan itu merupakan relevansi penyempurnaan rasa, karsa, cipta dan karya manusia.

Demikian juga, potensi kebudayaan akan senantiasa meletakkan diri manusia dalam kehidupannya yang berbudi atau bisa disebut : entendement, vernunft yang merupakan inti subtansial bagi hidup manusia untuk memperoleh kembali kelahirannya. Sebab nilai-nilai kekayaan yang kita dapatkan itu selalu beragam, dan tugas manusia harus kreatif, evaluatif, intropeksi, rendah hati, jujur dan akuntabel yang harus dijaga selama hidupnya. Kita yakin, jika semua dapat diimplementasikan dengan baik dan sesuai harapan “ revolusi mental “ bukanlah hal yang sulit diwujudkan. Memang realitasnya, bukanlah pekerjaan mudah. Akan tetapi, kita harus optimis dengan merujuk esensi kebudayaan yang dapat dijadikan sebuah system nilai untuk diantroplogikan melalui pedekatan (interpretivisme ) simbolik.

Berbicara kebudayaan sesungguhnya tidak lepas dari prilaku dan budi pekerti, dan manusia sebagai pelakunya harus mampu memberdayakan infra-struktur berdasarkan seni atau rasa sebagai prinsip dialegtika yang mengintikan sebuah kepekaan atau humanisme sosial. Ditinjau dari divinisi kebudayaan obyektif, diakui atau tidak, selama ini kita telah kehilangan ruang simbolik yang sering membuat produk-produk peradaban salah kaprah dan krusial. Banyak kepentingan, ketamakan, arogansi bahkan ketakadilan yang senantiasa mencundangi nafas kebudayaan.

Jangan harap, jika kebudayaan itu hanya sekedar jargon atau lipstick, kita pasti sulit menghadapi segala perubahan yang serba kompleks dan penuh tantangan ini dapat terpecahkan. Sebab melalui kebudayaanlah, revolusi mental secara proses suatu saat pasti akan terwujud dengan sendiri. Kita sudah memasuki tahun baru 2017 jadikanlah momen penting bagi perenungan diri kita dalam berintropeksi menjadi manusia yang berbudaya, maksudnya yang salah bisa dibenahi, yang bengkok bisa diluruskan, dan yang dendam secepatnya dipadamkan. Bukankah hidup itu tidak ada yang abadi? Kecuali orang-orang yang tulus dan jujur menancapkan sejarah budi pekertinyanya untuk orang lain dan Tuhan. Selamat tahun baru 2017.

*) Jumari HS, lahir di Kudus 1965, adalah sastrawan dan budayawan tinggal di Kudus, Jawa tengah.
http://riaupos.co/3200-spesial-tahun-2017-dan-bayang-bayang-kebudayaan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*