Gerson Poyk, Sastrawan NTT Pemetik Awan

Irwan J Kurniawan
mediaindonesia.com 26 Feb 2017

“BETA mau pentaskan legenda Raja Rote dan Puteri Timor. Tapi, di era sakarang, Beta lia (lihat) sudah sulit dapa (dapat) sponsor ee untuk pementasan di luar Pulau Jawa nah. NTT punya banyak seniman dan sastrawan hebat toh!”

Perbincangan singkat itu terjadi di medio 2015 saat saya dan Gerson Poyk ditemani ‘manajernya’, Fanny Jonathans, baru saja menghadiri sebuah acara diskusi sastra di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Setelah berjalan kaki dari depan Galeri Cipta III, yang ada di kompleks TIM, ke depan gapura utama, saya memesan sebuah taksi yang sedang di parkir jalanan. Selang semenit, Opa Gerson, begitu sapaan akrab saya baginya, pun menyambar pintu taksi berwarna kuning.

Sopit tancap gas. Ia dan Fanny pun bergegas menuju ke Depok, di mana mereka tinggal sehari-harinya. Percakapan itu tanpa disadari menjadi kenangan terakhir saya melihat sang dedengkot tersebut. Kala itu, ia masih tegar dan bugar.

Kini, dua tahun berselang, saya tidak pernah bertatap muka dan berdiskusi dengan Opa Gerson. Pasalnya, saya sedang menempuh pendidikan di Moskwa, Rusia. Saya hanya tahu kabar sang maestro melalui postingan di media sosial milik akun pribadi Fanny, yang juga anak perempuan sekaligus cerpenis andal.

“Bapakku Gerson Poyk Telah Tiada…,” tulis Fanny di dinding facebook-nya, Jumat, 24 Februari 2017. Saya membacanya saat hendak sarapan pagi (waktu setempat). Saya kembali membaca sekali lagi secara teliti. Segelas kopi timor dan roti keju memang jadi kebiasaan pagi bagi saya di tanah rantau ini. Saya terdiam sejenak. Membiarkan sarapan dingin di atas meja makan.

Pikiran pun membawa saya pada medio 2013 saat saya bertandang ke rumah Opa Gerson di Depok. Di bawah rerindangan pepohonan nangka, pepaya, dan pisang, kami bercerita dan berdiskusi tentang sastra. Saat itu, saya hendak meminta sebuah cerpen untuk kebutuhan publikasi di rubrik cerpen Media Indonesia.

Tak berapa lama, Fanny muncul dari depan pagar. Ia nampak membawa kue. Itu sudah jadi kebiasaannya. Opa Gerson pun nampak senang. Seraya menurunkan kaca matanya, ia sembari menyambut Fanny. “Hoe, lu su datang lai ko? Mari sini su, anak sayang ee,” kata Opa Gerson, santai, siang itu.

Penikmat daun ubi jalar itu, meski sudah tinggal di pinggiran Ibu Kota, namun ia tidak melupakan bahasa Melayu Kupang. Kami selalu berbicara dengan kebiasaan bahasa pasaran itu setiap kesempatan berjumpa. Ya, memang masih bahasa Indonesia, namun dialek dan eksen ada kalanya beda-beda tipis.

Penggunaan bahasa Melayu Kupang memang saya gunakan agar terasa lebih dekat dengan Opa Gerson. Ini juga saya lakukan saat ngopi bareng penyair Umbu Landu Paranggi di Denpasar, Bali, dua tahun silam. Bahasa sebagaimana pernah diutarakan pesastra Remy Sylado ada dua jenis, yakni bahasa sosiologis (informal) dan presidensial (formal).

Pertemuan berikut dengan Opa Gerson adalah meminta testimoni. Saat itu, saya hendak meluncurkan buku kumpulan puisi saya berjudul Rontaan Masehi (2013). Atas bantuan Fanny pula, akhirnya Opa Gerson mengiyakan sekaligus menyanggupi untuk jadi penceloteh pada saat hari peluncuran 20 September 2013 di TIM.

Sosok Opa Gerson yang kharismatik dan analitik memberikan sebuah kebanggaan tersendiri. Bagi saya yang juga mengguluti dunia kepenyairan dan kesusastraan, mengenal sosok Opa Gerson secara dekat adalah anugerah. Ia adalah sastrawan produktif yang mulai menulis sejak 1950, sedang saya adalah generasi baru yang mulai menulis pada 2000.

Inilah kehebatan Opa Gerson dalam mengingat tradisi leluhur. Ia adalah tokoh besar sastra NTT yang telah meraih segenggam penghargaan, seperti penerima Sastra ASEAN, Sea Write Award pada 1989. Ia juga pada 1970-1971, menerima beasiswa untuk mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa, Amerika Serikat.

Itu hanya sebagian kecil penghargaan dan prestasi yang saya sebutkan di tulisan ini. Namun, yang terpenting adalah kontribusi besar ia bagi dunia kepengarangan di Indonesia, dan NTT khususnya. Ini membuat lelaki kelahiran Namodele, Rote, 16 Juni 1931 telah berjasa penting bagi bangsa dan negara lewat kejelian memainkan pena emasnya lewat cerpen dan roman.

Saya terkenang akan sebuah karya Opa Gerson berjudul Matias Akankari (1975). Isinya menarik tentang seorang anak kampung yang datang ke kota besar. Itu memang salah satu karya terbaik yang pernah saya baca.

Opa Gerson adalah mantan guru, mantan wartawan Sinar Harapan, dan mantan petualang. Salah satu novel terkenalnya adalah Cumbuan Sabana (1979) sempat mau difilmkan Asrul Sani. Namun, tidak kesampaian.

Dari lantai 12 sebuah gedung bertingkat di Moskow. Rusia, saya menatap ke luar jendela. Langit putih, udara bertuba, dan pepohonan telanjang kedinginan diselimuti salju. Hati ini dingin pula dirajam angin tak bertuan dan awan tanpa matahari.

Absurditas kehidupan memang harus kita lakoni. Hidup memang harus berjalan sesuai musim yang terus berganti. Selamat jalan Be’a, sapaan kecil Opa Gerson. Sang sastrawan pelopor sastra modern NTT kini sudah lebih dahulu memetik awan di lengkung langit. OL-2

http://www.mediaindonesia.com/news/read/94025/gerson-poyk-sastrawan-ntt-pemetik-awan-1/2017-02-26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*