Matroni Muserang: Dari Madura ke Majelis Sastra Asia Tenggara

F. Moses *
JP Radar Madura, 26 Jul 2017

MADURA selalu menawarkan nama baru dalam kontes panggung kesusastraan Indonesia. Nama-nama penyair muda dari Madura tak pernah absen dari media-media yang setiap minggu memuat karya-karya sastra, cerpen, esai, dan terutama puisi. Di pulau yang dikenal dengan karapan sapinya ini: menjadi penyair seakan menjadi cita-cita hidup setelah naik haji, demikian seorang kawan dalam sebuah pertemuan berseloroh.

Satu diantara sekian ratus penyair kelahiran Madura adalah Matroni Muserang. Penyair yang lahir dan besar di daerah perbukitan, Banjar Barat, Gapura, Sumenep, yang warna tanahnya cokelat kemerahan dan gersang ini terpilih dalam menjadi salah satu peserta bengkel Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera): Puisi, yang akan diselenggarakan pada tanggal 7-13 Agustus 2017 di puncak Bogor, Jawa Barat.

Matroni Muserang, penyair muda yang juga bergiat di Kompolan Tera’ Bulan, sebuah perkumpulan yang melibatkan masyarakat pedesaan dari berbagai lapisan ini, di samping menulis puisi, esai, dan cerpen, juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan gerakan literasi.

Karya-karya Matroni Muserang, penyair yang pernah menempuh studinya di Yogyakarta, dan berguru kepada sastrawan dan budayawan Zainal Arifin Thoha ini sudah banyak diterbitkan dalam belbagai antologi bersama. Di antaranya: Puisi Menolak Lupa, Madzhab Kutub, Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan, Suluk Mataram 50 Penyair Membaca Jogja, Menyirat Cinta Haqiqi, Rinai Rindu untuk Kasihmu Muhammad, Satu Kata Istimewa, Sinopsis Pertemuan. Sauk Seloko, Solusional 1, Dialog Taneyan Lanjang, Bunga Rampai, Sebab Cinta, Di Pangkuan Yogya, dan Terpenjara di Negeri Sendiri.

Kemudian, Indonesia di Titik 13, Lintang Panjer Wengi di Langit Yogya, Gemuruh Ingatan, Dari Negeri Poci 5, Negeri langit, Puisi Menolak Terorisme, Parangtritis. Penganten, 175 Penyair Dari Negeri Poci 6, Negeri Laut. NUN, Memandang Bekasi, Antologi Puisi Penyair Nusantara, Ketam Ladam Rumah Ingatan, Kumpulan Syair-Syair KeIndonesiaan, Gelombang Puisi Maritim, Dari Negeri Poci 7, Negeri Awan.

Puis-Puisi Matroni Muserang juga terhimpun dalam kumpulan sajak penyair ASEAN-1. Puisi penyair yang kini menjadi pengajar di STKIP PGRI Sumenep, ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Puisi nyang sudah diterjemahkan itu terhimpun dalam buku Flows Into The Sink, Into The Gutter.
***

Mastera Indonesia yang dibidangi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa selainkan meloloskan Matroni Muserang sebagai wakil dari Jawa Timur, juga meloloskan sembilan peserta lainnya dari sembilan provinsi di Indonesia. Di antaranya dari Aceh, Papua, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Bangka Belitung, Jawa Barat, dan Jakarta.

Program Penulisan Sastra Mastera dilaksanakan setiap tahun secara bergantian: penulisan puisi, cerpen, novel, esai, dan drama. Pelaksananya adalah Mastera Indonesia, dengan peserta dan instruktur dari negara-negara anggota Mastera: Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. (*)

*) Salah satu kurator Mastera 2017.
https://www.jawapos.com/radarmadura/read/2017/07/26/3636/matroni-muserang-dari-madura-ke-majelis-sastra-asia-tenggara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*