Panggil Aku Drupadi

Jihan Fauziah *

Perkenalkan, namaku Drupadi. Ibuku yang memberi nama. Wanita itu, begitu mengidolakan sosok perempuan yang tangguh dengan lima suami.

“Aku tak setuju poligami, tapi aku suka keberanian Drupadi untuk poliandri. Maka, kuberi nama anakku Drupadi,” begitu Ibu menegaskan.

Aku gadis jawa, jangan tanya agamaku karena aku meyakini semua agama itu baik. Silahkan jika kalian tak setuju, aku percaya Tuhan tapi perbedaan membuatku runtuh.

Aku mewakili ibuku atas sakit hatinya masa lalu. Tentang kebijakan poligami yang dilakukan Ayahku. Sebagai anak seorang Pendeta, Ibuku percaya bahwa setia sehidup semati pada satu orang adalah hukum Tuhan yang tertuliskan.

Ayahku meninggal ketika usiaku tiga tahun. Ibuku baru tahu, dia isteri kedua, lima jam setelah aku lahir. Sedatail itu Ibuku mengamati gerak waktu. Perempuan itu datang untuk mengucapkan selamat pada Ibuku.

“Seketika hati ibu hancur, tapi apa daya ketika nasi sudah menjadi bubur, hanya kamu kebahagiaan yang Ibu punya kala itu,” ceritanya pada satu waktu.

Ibu mengenal Ayah sebagai lelaki miskin yang begitu cerdas dalam bertutur. Waktu itu, Ayah bekerja sebagai pelatih driver mobil dan seminggu sekali melatih Ibu sampai mahir. Ibu tak mau pelatih yang lain kecuali Ayah.

Ayah orang yang menarik, cerdas, dan juga pandai bermain gitar. Ibu terkesima dibuatnya. Ayah memberanikan diri untuk melamar setelah Ibu bersedia masuk Islam. Kakek menentang keras perkawinan Ayah Ibu. Mereka menikah tanpa restu pendeta itu.

Ibuku tak kalah cerdas dengan Ayah. Sebagai pelatih piano yang belajar sampai ke Jerman, Ibu terkesima pada permainan gitar Ayah yang tak pernah mengenyam pendidikan musik secara formal. Cinta mereka mengalir begitu saja. Pikir Ibu ini adalah cerita cintanya yang terindah.

Sosok ideal menemani disampingnya kala luka dan bahagia. Siapa sangka, kebahagiaan itu seketika sirna. Ayah meminta ijin isteri tuanya agar tinggal bersama. Bagaimana bisa itu bisa disembunyikan begitu rapi? 30 bulan usia pernikahan mereka. 14 bulan usia pernikahan Ayah dan Ibu.

Ibu marah. Tangisnya pecah sambil memelukku lembut sebagai tumpuan harap yang tak surut. Ibu bilang, namaku Drupadi sebenarnya tak berharap aku akan melakukan poliandri seperti dalam kisah Mahabarata yang begitu melegenda. Ibu ingin aku menjadi berani sebagai wanita.

“Pada kenyataannya, tak ada seorangpun Pandhawa yang mampu menolong Drupadi kala Kurawa menjadikan perempuan itu pesta semalamnya, kamu harus bisa kuat berdiri, anakku,” aku masih ingat nasihat Ibu.

Aku tidak akan pernah lupa kisah Drupadi melawan suratannya. Kainnya yang tak habis, melindunginya dari nafsu bejat Dursana. Kemana Arjuna, Bima, Yudhistira, Nakula dan Sadewa?

Kau simak cerita mereka? Pandhawa kalah dalam petarungan dadu. Yudhistira mempetaruhkan semua adikknya bahkan dirinya sendiri sudah tidak ada harganya. Masih bisa mengajukan Drupadi sebagai bahan taruhannya?

Namaku Drupadi, aku tak ingin menjadi bola dalam permainan lelaki. Mana yang benar mana yang salah, wanita juga harus punya tempat yang semestinya. Tiada kata bijaksana ketika kesemuanya hanya penuh duga.

Kini aku beranjak dewasa. Pesan Ibu terahir sebelum meninggalkan dunia, “Aku harus berani berdiri di kaki sendiri, pria yang datang padaku suatu hari nanti, tak patut menjadi tempat bergantung dan jangan sampai kau jadi alas yang bisa diinjak kapan saja. Jadilah Drupadi, Drupadi yang kuat dan teguh dengan keyakinannya berdiri,”

Katanya dalam surat itu, aku akan tahu sosok Drupadi yang sesungguhnya. Kulewati jalanan aspal yang meliukan fantamorgana. Bus kota dan truk-truk besar saling bersalip. Kuputar musik-musik Dave Coz favorit Ibu untuk menemani perjalananku.

Empat jam sudah aku mengambang di jalan. Masuk di Kabupaten Madiun, mencari desa Sukorejo untuk menemukan Pak Aman. Aku tak mengerti kenapa separuh harta kepemmilikan Ibu harus dibagi dengan lelaki itu.

Rumah joglo bercat putih itu begitu asri dengan pohon mangga yang lebat begitu rimbun membuat sejuk rumah itu. Setelah bertanya pada banyak orang, aku yakin rumah Pak Aman disini.

Kuketuk pintu berhalahan, Pak Aman keluar dengan mengendong balita tiga tahunan.

“Saya Drupadi, putri dari Ibu Srikandi, ingin bertemu Pak Aman, untuk menyampaikan surat dari Ibu yang dibuat sebelum meninggal,” kataku menjelaskan di awal.

Mata Pak Aman berbinar. Menatapku dengan penuh tegang. Diturunkan anak keci yang dikendongnya. Spontan aku dipeluknya tanpa kusempat menghindar. Bau asamnya menyusup ke hidungku.

“Drupadi,” serunya sambil menggoyang-goyangkan lenganku.

Aku hanya menunduk heran. Setengah takut. Akhirnya kuputuskan untuk tersenyum kecut.

“Kau tampak dewasa. Ibumu sudah lama meninggalnya?”

“Tiga minggu lalu,” lidahku kelu.

“Dia tak pernah cerita tentangku?”

Aku menggeleng ragu.

“Aku Ayahmu, Ayah tirimu. Bocah ini, ini keponakanmu. Cucu Ibumu. Sudah lama kutunggu Ibumu disini. Adakah warisan yang ditinggalkannya untuk anak-anaknya disini?”

Aku, tak tau harus berkata apa.
***
_____________________
*) Jihan Fauziah, mantan wartawan Tempo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*