Perihal Esai Sastra di Indonesia

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 27 Sep 2017

Dalam sejarah sastra Indonesia, tulisan jenis esai sastra dan kritik sastra hampir tidak bisa dibedakan. Kedua jenis karangan pendek yang berisi analisis terhadap karya sastra itu mulai dikenal dalam sastra Indonesia lewat media massa cetak. Media cetak awal yang terbit tahun 1930-an yang memperkenalkan tulisan jenis esai dan kritik sastra adalah majalah Pandji Poestaka (bagian dari Balai Pustaka yang dikelola kolonial Belanda) dan majalah Poedjangga Baroe (yang dikelola tokoh-tokoh sastra pribumi, dimotori Sutan Takdir Alisjabhana atau STA). Tokoh-tokoh sastra yang berjasa memperkenalkan kedua jenis karangan ini, selain STA, adalah Armijn Pane, Sanusi Pane, dan Amir Hamzah.

Dalam karangan para tokoh sastra ini, antara esai sastra dan kritik sastra tidak dirumuskan perbedaannya secara jelas, meskipun disadari ada perbedaan antara keduanya, betapapun kecil perbedaan itu. Esai sastra dan kritik sastra secara umum sepertinya diperlakukan atau dianggap sama. Itu terlihat pada tulisan-tulisan kritikus sastra legendaris Indonesia H.B. Jassin yang dimuat di berbagai media massa cetak tahun 1950-an sampai tahun 1960-an, yang kemudian terhimpun dalam buku Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei jilid I-IV (Gunung Agung, Jakarta, 1954, 1955, 1962, 1967).

Hal yang sama terjadi juga pada buku telaah sastra terbitan terbaru dalam sastra Indonesia modern berjudul Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam: Sepilihan Esai dan Kritik Sastra Klasik Indonesia (2017) Editor Maman S. Mahayan, terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Dalam kedua buku yang disebutkan di atas, antara tulisan jenis esai sastra dan kritik sastra diperlakukan sama atau dianggap sama.

Apa itu esai sastra? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2001, halaman 308), “esai” diartikan sebagai karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandangan pribadi penulisnya. Dengan demikian, maka esai sastra berarti sebuah karangan prosa yang membahas karya sastra secara sepintas lalu dari sudut pandangan pribadi penulis esai tesebut.

Dalam buku Tifa Penyair dan Daerahnya (1983, halaman 92-94), kritikus sastra H.B. Jassin merumuskan pengertian esai sastra sebagai karangan yang membicarakan soal-soal manusia dan hidup, dijiwai oleh subjektivitas pengarang, dalam mencari arti hidup dan penjelmaannya. Yang dibahas dalam esai itu beragam soal, tidak tersusun secara metodis, tetapi dipetik dengan merdeka dari sana-sini di jalan penghidupan. Dalam esai bisa dikemukakan hikmah hidup, tanggapan-tanggapan, pikiran-pikiran, renungan-renungan, komentar-komentar atas kejadian-kejadian, kutipan-kutipan atau ucapan orang, anekdot-anekdot, filsafat hidup, tetapi semuanya itu dengan cara subjektif, menurut pikiran dan perasaan penulisnya sendiri.

Dalam esainya yang berjudul “Esai tentang Esai” dalam buku Sejumlah Masalah Sastra (Editor Satyagraha Hoerip, 1982, halaman 15-19), Arief Budiman menggambarkan dengan cukup hati-hati sosok tulisan yang disebut esai sastra. Dijelaskannya, yang utama pada tulisan esai bukanlah pada pokok persoalannya, tetapi pada cara pengarang mengemukakan persoalannya. Esai adalah sebuah karya tulis pribadi yang telah puas dalam dan dengan dirinya sendiri. Seorang penulis esai menulis sesuai dengan apa yang hidup dalam dirinya, perasaan dan pikirannya. Maka, seorang esais adalah orang yang terpikat. Orang yang jatuh cinta pada persoalan yang bersifat pribadi manusiawi. Menulis sebuah esai seakan-akan bercerita kepada dan untuk diri-sendiri, seakan-akan merenungkan keindahan percintaannya.

Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya Glosarium: 1.250 Entri Kajian Sastra, Seni, dan Sosial Budaya (2013, halaman 120) menjelaskan bahwa esai sastra pada umumnya dikaitkan dengan kritik sastra. Berbeda dengan kritik sastra yang memberikan penilaian secara teoretis, mendalam, dan dilakukan melalui berbagai segi, esai sastra pada dasarnya lebih terbatas pada pemahaman awal, permukaan, bahkan juga mengandung semacam persuasi untuk mempengaruhi pembaca.

Sejak Zaman Yunani

Dijelaskannya pula oleh Kutha Ratna bahwa esai sastra sudah dikenal sejak zaman Yunani. Pada akhir abad ke-16, baru esai sastra diberi ciri-ciri yang bersifat standar seperti yang dilakukan oleh Montaigne dan Francis Bacon. Pada akhir abad ke-19, dengan digunakannya majalah, bentuk esai sastra menjadi lebih populer. Menurut Kutha Ratna, di Indonesia, antara esai sastra dan kritik sastra hampir diperlakukan sama.

M.H. Abrams dalam buku Glossary of Literary Terms (1981) membedakan jenis esai formal dan esai personal. Esai formal lebih mengarah ke tinjauan keilmuan yang sistematis dengan sedikit pertimbangan teori dan metode, sedangkan esai personal lebih bersifat apresiatif dengan menggunakan gaya bahasa yang lentur dan fleksibel, gampang dimengerti masyarakat umum. Esai formal penyajiannya mirip dengan gaya penyajian kritik sastra.

Bagaimana kedudukan esai sastra dengan kritik sastra dalam sastra Indonesia modern pada saat ini? Pada saat ini esai dan kritik sastra dipahami sebagai dua jenis karangan pendek populer yang berisi analisis/kajian terhadap karya-karya sastra yang dipublikasikan lewat media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Masyarakat umum banyak terbantu atau menjadi tertarik membaca karya-karya sastra yang dipublikasikan berbagai media massa setelah membaca tulisan esai dan kritik sastra yang ditulis para esais dan kritikus sastra.

Teknik penyajian esai sastra dan kritik sastra hampir sama, yakni dengan melakukan deskripsi, interpretasi, dan analisis. Yang membedakan esai sastra dari kritik sastra adalah kritik sastra berlanjut pada penilaian baik buruknya karya sastra yang dianalisnya dengan memberikan pertimbangan mengenai isi dan bentuknya. Penilaian dilakukan kritik sastra setelah melewati tahapan deskripsi, interpretasi, dan analisis. Jadi, perbedaannya, kritik sastra berujung dan berpuncak pada penilaian terhadap karya sastra, esai sastra tidak.

Esai sastra bergerak dalam aktivitas deskripsi, interpretasi, dan analisis. Esai sastra bisa menonjolkan deskripsi atau interpretasi atau analisis atas objek karya sastra yang ditelaah sesuai dengan minat subjektif penulisnya. Yang tidak ada pada tulisan esai sastra adalah evaluasi atau penilaian baik atau buruk atas suatu karya sastra yang dihadapinya. Jadi, sekali lagi, esai sastra tidak sampai pada tahapan penilaian. Esai sastra bergerak dalam tataran deskripsi atau interpretasi atau analisis. Esai sastra lebih bersifat apresiatif, sedangkan kritik sastra, di samping bersifat apresiatif juga bersifat evaluatif, yakni memberi penilaian.

Objek yang dianalisis dalam esai sastra adalah karya-karya sastra kreatif (imajinatif), seperti puisi, cerpen, novel, naskah dama atau pementasan drama. Di samping itu, karya-karya sastra non-imajinatif yang berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra, juga menjadi objek yang dianalisis dalam esai sastra. Tujuan esai sastra untuk memberikan pandangan singkat berdasarkan perspektif penulisnya yang bersifat subjektif. Tentu saja masalah yang diangkat dalam esai sastra yang menarik perhatian penulisnya. Yang utama dalam esai sastra adalah cara pengarang mengemukakan persoalannya, bukan pada objek persoalannya.

*) Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende
http://yohanessehandi.blogspot.co.id/2017/09/perihal-esai-sastra-di-indonesia.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*