RAJA KASA DAN RATU SOLIHA

Naskah Teater Karya: Rodli TL *

ANAK-ANAK BERMAIN MEMBERIKAN GAMBARAN SUASANA PERKAMPUNGAN YANG DAMAI. MEREKA BERMAIN TERBAGI MENJADI TIGA REGU. BERLOMBA MENGAMBIL JEPITAN JEMURAN. PERMAINAN TERUS BERLANGSUNG. SOLIHA DAN BEBERAPA TEMAN LAIN LALU BERNYANYI DAN BERJOGET (PUNYA BANYAK TEMAN).

OS : Soliha ayo cepat, sudah ditunggu, Paman!

SOLIHA MULAI MENAMPAKKAN RAUT WAJAHNYA YANG SEDIH. LALU SAKTI MENDEKATINYA.

SAKTI : Ada apa, Soliha?
SOLIHA : (Diam)
TEMAN 1 : Ya, kenapa, Soliha?
TEMAN 2 : Ya, Soliha Nampak sedih ya
TEMAN : Permainan kita tidak dilanjutkan dong, kalau begini
SAKTI : Ayolah bicarara, Soliha! Kamu pernah bilang kan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, susah senang harus kita tanggung bersama
TEMAN 1 : Ayolah Soliha, susah senang kita tanggung bersama
SOLIHA : Ayah dan ibu telah berpisah
BERSAMA : Oh ya?! Kenapa mereka berpisah?

SOLIHA MASIH DIAM. TEMAN-TEMAN RAMAI SALING BERTANYA.

SAKTI : Sssssst!
SEMUANYA DIAM
SAKTI : Maafkan kami, Soliha. Yang telah lancang menanyakan semua itu
SOLIHA : Tiadak apa-apa. Saya juga minta maaf kepada kalian semua. Sebab…(Diam)
TEMAN 2 : Sebab kenapa Soliha?
SOLIHA : Saya harus berpisah dengan kalian
BERSAMA : Berpisah?!
SOLIHA : Saya harus tinggal bersama nenek di kampong jauh sana.

SOLIHA MENYANYI (HATI SEDI HATI GUNDA TIDAK MAU BERPISAH) AKHIRNYA TEMAN SOLIHA IKUT MENYANYI DENGAN SEDIH DAN MENANGIS.

OS : Soliha, ayo cepat, sudah ditunggu, Paman!
SOLIHA : Maafkan saya. Selamat tinggal teman-teman

SOLIHA MASUK SEKOLAH SEBAGAI SISWA BARU. AWALNYA KELAS SANGAT RAMAI. MEREKA TIDAK MEMPERDULIKAN SOLIHA. AKHIRNYA SALAH SATU DIANTARA MEREKA ADA YANG TAHU. MEREKA MENDEKATI DAN MENGGODANYA.

KASA : (MENGANGKAT JARI KE MULUTNYA) Sssst! (MELAMBAIKAN TANGAN, MEMANGGIL UNTUK MENDEKATINYA) Cepat kemari! Ssst!

SEMUA ANAK MENGIKUTI BAHASA ISYARAT KASA YANG BERUSAHA MEMBENTAK SOLIHA YANG SEDANG ASYIK DUDUK SENDIRIAN.
SOLIHA TAHU APA YANG MAU DILAKUKAN DI BELAKANGNYA. KETIKA TEMAN-TEMANNYA MAU MEMBENTAKNYA SOLIHA PURA-PURA TIDAK TAHU DAN PINDAH TEMPAT DUDUK. KASA DAN TEMAN-TEMANNYA TERUS MENGIKUTINYA DARI BELAKANG. NAMUN PADA AKHIRNYA SOLIHA YANG MEMBENTAK TERLEBIH DAHULU.

SOLIHA : Haaaa! (TERTAWA MALU) Mau apa kalian! Mau membentak, kasihan de lo!!
KASA : Hai anak baru, berani-beraninya kamu meledek kami
TEMAN 1 : Hai anak baru, Jangan sembarangan bertingkah di kelas ini.
TEMAN 2 : Kamu harus minta ijin pada pimpinan kami
SOLIHA : Pimpinan?! Maksudnya Kepala Sekolah?! Ya sudah, dong
TEMAN 3 : Bukan Kepala Sekolah. Tapi pimpinan kami!
SOLIHA : Oh, Ketua Kelas
TEMAN 4 : Bukan hanya ketua kelas. Tapi bos bahkan raja kami
SOLIHA : Walah, hebat di sini ada bos, ada raja. Mana dia?
TEMAN 2 : Hai bos dan raja yang terhormat. Anak baru itu ingin berkenalan sama raja.
KASA : (DIAM DENGAN TATAPAN MATA YANG TAJAM DENGAN TANGAN BERSENDAKEP).

SOLIHA : Oh dia rajanya. (TERTAWA) Pakainya kok seperti itu. Mana mahkotannya. Wah tidak pernah nonton film ya. Raja itu harus pakai mahkota di kepalannya. Pakaiannya mewah berkelap-kelip berwarnah emas. Ia gagah layaknya seorang ksatria yang perkasa.
KASA : Hai anak baru. Jangan sembarangan kalau bicara. Kelas ini ada aturannya. Ada tata tertibnya
SOLIHA : Ya pasti dong. Semua sekolah dan kelas dimanapun pasti punya aturan. Ada jadwal piket dan lain sebagainya.
KASA : Lain ladang lain belalang. Lain kelas lain orang yang berkuasa
TEMAN 1 : Dan disini si Bos Raja kasa yang berkuasa.
KASA : Dan saya yang punya aturan
BERSAMA : Hidup Raja Kasa! Hidup Raja Kasa! Hidup Raja Kasa!
KASA : Masih tidak mau tunduk! Masih mau melawan!
SOLIHA : Siapa takut!

MEREKA SALING MENATAP MATA DAN MENDEKAT BERHADAPAN. TANGANNYA SALING MENDORONG. KASA TERJATUH. SEMUA TEMAN YANG TADIANYA DIAM LALU TERTAWA DAN MEMBERIKAN DUKUNGAN PADA SOLIHA
MEREKA BERTENGKAR DAN MENYANYI (JAGOAN).
BEL BERBUNYI. ADEGAN BERPINDAH TEMPAT DAN BERGANTI WAKTU.

TEMAN S 1: Soliha, hati-hati loh. Kasa itu sangat nakal
TEMAN S 2: Ya, Soliha. Bila kita mau mengikutinya, dia pasti terus mengganggu kita.
SOLIHA : Kasa itu seperti apa sih orangnya?
TEMAN S1: Yang jelas dia anaknya orang kaya. Apa yang ia inginkan pasti dituruti. Dia sangat dimanja oleh keluarganya. Begitu juga di sekolah, ia suka marah-marah bila ada teman yang tidak mau menuruti perintahnya.
TEMAN S 3: Bahkan yang sangat menyedihkan. Ia selalu memaksa kami untuk mengerjakan tugas atau PR. Sutau hari kami menolaknya. Ia marah dan membuang tas kami ke sungai.
SOLIHA : Kenapa kalian tidak lapor ke Guru atau ke orang tua kalian?
TEMAN S4: Kami tidak berani,
SOLIHA : Kenapa?
TEMAN S 2: Dia akan berbuat nekat.
SOLIHA : Senekat apapun harus kita lawan, dong. Bila kita biarkan, kasihan dia. Dia akan semakin menjadi anak yang nakal, dan kelak besar akan menjadi orang jahat.
TEMAN S 4: Kami tetap tidak berani
SOLIHA : Aneh?! Apa ia anak polisi, tentara, bejabat barangkali
TEMAN S 3: Dulu…
SOLIHA : Maksudnya?
TEMAN 3 : Sejak orang tuanya…
TEMAN 1 : Ssssst! Diam! Dia datang kemari.
SOLIHA : Bila ia menganggu kita lagi. kita harus melawannya. Kita tidak boleh takut pada kesemenah-menahan.
TEMAN S 1: Jangan, Soliha. Berbahaya!
TEMAN S 2: Ya, Soliha. Lebih baik kita meninggalkan tempat ini.
SOLIHA : Jangan takut. Semuanya pasti akan baik-baik saja

KASA DAN TEMAN-TEMAN SUDAH BERADA DI DEKAT SOLIHA DAN TEMAN-TEMAN. MEREKA SEAKAN MERENCANAKAN SESUATU.

KASA : Soliha, besok kamu harus memberikan separoh dari uang sakumu!
SOLIHA : Kenapa tidak sekarang saja?
KASA : Apa masih punya?
SOLIHA : (TERTAWA) Soliha dilawan!
KASA : Ayo, ambil teman-teman!
TEMAN K1: Berapa, Raja?
KASA : Semuanya!
TEMAN K2: Kok semuanya? Separoh saja, Raja!
KASA : (MEMBENTAK) Semuanya!
SEMUA : Siap! Semua, Raja!

TEMAN-TEMAN KASA BERGERAK LAYAKNYA PASUKAN BARIS BERBARIS.

TEMAN K1: He, anak baru, berdasarkan laporan yang saya terima. Kamu punya uang banyak
SOLIHA : Masalah?!
TEMAN K2: Ya masalah, dong. Sebab sang Raja telah memerintahkan pada kami. Kamu harus membayar upeti pada dia
SOLIHA : Berapa?
SEMUA : Semua!
SOLIHA : Kok enak!
TEMAN K2: Kami akan memaksamu,
TEMAN K2: Kami akan merebut semua uang darimu!
SOLIHA : Coba saja kalau bisa!
KASA : Jangan berbelit-belit. Ambil paksa!
SEMUA : Siap, Raja!

TEMAN KASA TERUS BERUSAHA MEREBUT TAS SOLIHA. NAMUN SOLIHA TERUS BISA MENGHINDAR DAN MEMPERMAINKAN MEREKA. MEREKA SEPERTI BEBEK YANG KELAPARAN. BERUSAHA MEREBUT TAS SOLIHA.

TEMAN S1: Hati-hati, Soliha!
TEMAN S2: Awas, Soliha!
TEMAN S2: Lari saja, Soliha!

AKHIRNYA SOLIHA MELEMPAR TASNYA JAUH TINGGI. TEMAN-TEMAN KASA BERUSAHA DAN BERHASIL MENANGKAPNYA. DENGAN BANGGA MEREKA MENYERAHKAN TAS SOLIHA KE KASA.

TEMAN K1`: Raja, kami berhasil
TEMAN K2: Kami telah melaksanakan perintah raja dengan baik.
KASA : Kalian memang prajurit Raja Kasa yang tangguh.
SEMUA : Terimakasih, Siap, Raja!
KASA : Serahkan tas dan uang itu pada saya!
SEMUA : Siap, Raja!

TEMAN-TEMAN KASA MENYERAHKAN TAS TERSEBUT. KASA LALU MEMBUKANYA. IA SANGAT KAGET DAN LARI TUNGGANG LANGGANG. TEMAN KASA PENASARAN LALU IA MENCOBA MENGAMBIL TAS YANG DILEMPAR KASA, DAN MEMBUKANYA. MEREKA LIHAT BERSAMA-SAMA. SPONTAN TEMAN-TEMAN KASA KETAKUTAN DAN JUGA BERLARIAN.

SOLIHA : (TERTAWA) Begitu itu jagoan. (TERTAWA) Ternyata penakut! (TERTAWA) Seberani-beraninya manusia masih terselip rasa takut pada dirinya. Sekuat-kuatnya manusia pasti memiliki sisi lemah. Senakal-nakalnya anak masih punya keinginan besar menjadi orang baik.
TEMAN S1: Soliha, kenapa mereka semua takut?
TEMAN S2: Kamu hebat, Soliha. Bisa membuat mereka takut
TEMAN S3: Wah, jangan-jangan Soliha anak orang sakti, punya ilmu ajaib
SOLIHA : (MENGAMBIL SESUATU DALAM TASNYA) Tatap mata saya, tarik nafas dalam-dalam, terus kosentrasi. (SOLIHA MENGELUARKAN ULAR MAINAN DARI DALAM TASNYA).

SEMUA : (MENJERIT PANJANG KETAKUTAN)
SOLIHA : (TERTAWA) He, lihat dulu dengan baik baru takut. Belum tahu yang sebenarnyak kok sudah takut. Tidak masuk akal.
TEMAN S4: Soliha, jangan. Saya takut ular!
TEMAN S1: Ya, Soliha. Buang ular itu!
SOLIHA : Ini bukan ular sungguhan. Ini ular-ularan
SEMUA : Ular-ularan?!
SOLIHA : Ular mainan!
SEMUA : Ular mainan?! Hidup Soliha! Hidup Soliha! Hidup Soliha!

MEREKA BERGEMBIRA LAYAKNYA ANAK-ANAK TELAH MEMENANGKAN SUATU PERLOMBAAN.

TEMAN S1: Hai teman-teman. Bagaimana kalau Soliha kita jadikan pemimpin kita?
SEMUA : Pemimpin?!

DIAM-DIAM SOLIHA PERGI

TEMAN S1: Ya, Pemimpin kita. Setuju kan?
TEMAN S2: Saya setuju. Selama ini kan kita tidak punya pemimpin. Dia harus kita angkat jadi pempin kita. Setuju!
TEMAN 3 : Baik tidak itu ya?! Saya takut kalau nanti kita punya pimpinan, kita akan menjadi kelompok yang suka minta-minta, bahkan memaksa teman kita untuk melakukan sesuatu. Suka berbuat jahil pada teman. Saya takut.
TEMAN S4: Ya, teman-teman. Seperti yang sudah-sudah itu lo. Teman-teman yang berkelompok sukanya memeras. Memaksa mengerjakan PR.
TEMAN 3 : Ya, kadang-kadang pura-pura menawarkan bantuan, tapi tidak iklas. Ujung-ujungnya dia minta balas budi. Itu kan tidak baik. Itu dosa kata agama. Saya takut
TEMAN 1 : Begini teman, kita berkelompok dalam rangka untuk melakukan kebaikan. Bukan untuk melakukan kejahatan.
TEMAN S2: Bahkan kelompok kita untuk mengingatkan kepada kelompok-kelompok yang seringkali berbuat tidak baik.
TEMAN S1: Bagaimana, setuju?
SEMUA : Setuju!
TEMAN 3 : Ya, saya setuju kalau untuk kebaikan
TEMAN S4: Berjanji ya, untuk kebaikan.
TEMAN 1 : Kalau begitu. Kita angkat teman baru kita menjadi pimpinan kita
TEMAN 2 : Teman baru itu menjadi Ratu kita
TEMAN S3: Dia adalah
TEMAN S4: Ratu Soliha!

MEREKA BERSORAK GEMBIRA. NAMUN SOLIHA SUDAH TIDAK BERADA DENGAN SOLIHA. DIA MENGHILANG.

TEMAN S1: Kemana Soliha? Dia menghilang!
SEMUA : Menghilang?!
TEMAN S2: Jangan-jangan…
TEMAN S3: Jangan-jangan apa?
TEMAN S2: Saya kawatir
TEMAN S3: Kawatir bagaimana?
TEMAN S2: Dia diculik
SEMUA : Diculik?!
TEMAN S3: Diculik siapa?
TEMAN S4: Jangan-jangan mereka yang melakukannya
TEMAN S3: Mereka siapa?
TEMAN S4: Raja Kasa dan teman-temannya
TEMAN S1: Kita harus segera bertindak.
TEMAN S3: Saya tidak berani
TEMAN S1: Ingat, pesan pimpinan kita. Ratu Soliha bilang, bahwa kita harus berani karena benar. Kasihan mereka bila kita biarkan menjadi anak-anak nakal, kelak besar mereka akan menjadi orang jahat. Mereka harus kita ingatkan
TEMAN S4: Tapi Soliha belum kita lantik menjadi pimpinan kita
TEMAN S1: Kita sudah bersepakat bahwa ia kita angkat menjadi pimpinan sekaligus Ratu kita.
TEMAN S4: Tapi kesepakatan itu belum sempat kita sampaikan kepadanya
TEMAN S1: Makanya kita harus segera menemukannya
TEMAN S3: Saya takut pada mereka, Raja Kasa dan teman-temannya. Apalagi Ratu Soliha tidak sedang bersama kita
TEMAN S1: (MEMBENTAK) Kita harus berani karena benar. Jangan menjadi orang pengecut untuk melakukan kebenaran. Ayo cepat kita temukan Ratu SOLIHA. Siapapun yang melakukan kejahatan harus kita ingatkan. Kejahatan adalah kerugian yang paling besar bagi pelakunya. Jangan bengong, ayo bergerak, menyebar!

TEMAN-TEMAN SOLIHA BERGERAK TANPA MENIMNULKAN SUARA APAPUN. IA BERLARI, KADANG MENGENDAP-ENDAP.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN SOLIHA MUNCUL. IA NAMPAK SENDIRIAN.

SOLIHA : Saya disini! Tidak baik berburuk sangka pada orang lain. Tidak ada yang menculik Soliha. Saya tahu apa yang telah kalian bicarakan. Soliha bukan pimpinan kalian apalagi Ratu kalian. Soliha bukan anak orang kaya yang bisa mentraktir kalian. Soliha bukan boss.

SATU PERSATU TEMAN SOLIHA BERMUNCULAN

TEMAN S1: Soliha. Jangan salah. Kami memintamu menjadi pemimpin bukan karena kamu kaya, juga bukan karena kamu anak pejabat. Tapi karena kamu orang yang tegas menolak keburukan. Kamu juga orang yang berani untuk mengajak kebaikan
TEMAN S2: Ya Soliha. Agama sangat melarang mengangkat pemimpin karena dia mentraktir kita. Agama menganjurkan memilih pimpinan yang betul-betul mau sengsara untuk ketenangan dan kebahagiaan yang dipimpinnya.

TIBA-TIBA MUNCUL KASA DAN TEMAN-TEMANNYA.

KASA : Aku dengar kalian mau bentuk kelompok untuk menyaingi kelompok kami. Aku dengar SOLIHA diangkat menjadi pemimpinnya. Aku dengar kau Soliha dipanggil Ratu (TERTAWA)
TEMAN S1: Betul apa yang kamu katakan
TEMAN S2: Tapi kelompok kami tidak untuk berbuat jahil, apalagi untuk memeras teman-teman
TEMAN S3: Kelompok kami adalah kelompok bermain bersama, belajar bersama.
TEMAN S4: Kelompok kami, kelompok mengajak pada hal yang baik-baik.
TEMAN K1: Raja Kasa, mereka mulai berani. Pasti mereka dihasut oleh anak baru itu
TEMAN K2: Raja Kasa, kita harus melakukan sesuatu
TEMAN K3: Ya Raja, bila kita biarkan mereka pasti berbahaya
SOLIHA : Kami tidak akan membahayakan siapapun.
KASA : Maksud kamu?
SOLIHA : Kami tidak akan melakukan seperti yang kamu lakukan. Kami yakin, kenakalan itu tidak hanya merugikan orang lain. Tapi yang paling berbahaya adalah bagi para pelakunya.
KASA : Jangan menyindir!
SOLIHA : Tidak, kami hanya mengingatkan.
KASA : Kami tidak gila, kami tidak perlu diingatkan
SOLIHA : Tapi kalian lebih berbahaya daripada orang gila.
KASA : (TERTAWA) Hai teman-teman. Dia bilang. Kelompok kita adalah kelompok yang membahayakan. (TERTAWA)
SOLIHA : Namun sudah tidak ada yang takut pada kalian.
TEMAN K1: Raja Kasa! Sepertinya dia menantang kita. Dia tidak takut lagi Raja Boss.
KASA : Betul, kalian mau menantang kami.
SOLIHA : Bukan untuk bertengkar. Namun untuk bermain
KASA : Maksud kamu?
SOLIHA : Ayo kita bertanding dan bersaing dalam permainan.
KASA : Siapa takut! Siap teman!
SEMUA : Siap, Raja!
SOLIHA : Bagaimana?! Are you ready?!
SEMUA : Of course, Ready my queen!

MEREKA MENGADAKAN KOMPETISI PERMAINAN BEREGU. PADA AKHIRNYA LAWAN SOLIHA KALAH DAN MARAH-MARAH. SOLIHA LANGSUNG SAJA MENGELUARKAN ULAR MAINAN DARI DALAM TASNYA. MEREKA SANGAT KETAKUTAN. NAMUN SUDAH TIDAK KUAT LAGI BERLARI.

KASA : Nenek! Tolong, nenek! Dia menakutiku dengan ular! Nenek, anak itu nenek! Nenek, ular itu nenek! Nenek, takut!
SOLIHA : Kenapa memanggil nenekmu! Panggil saja semua! Ibu, bapak, papa mama, papi mami. Ayo panggil semua (TERTAWA) Ternyata si jagoan yang suka memeras teman-temannya ini anak mama! (TERTAWA)
SEMUA : Anak mama?! (TERTAWA)

SOLIHA MENYANYI DENGAN EJEKAAN BAHWA TEMANNYA ADALAH (ANAK MAMI).

KASA : (MENANGIS) Mama, papa! Dimana kalian?! Mama, papa, pulanglah.
TEMAN S1: Soliha. Kasihan dia. Orang Tua Kasa sebenarnya kaya. Tapi semenjek orang tuanya bertengkar dan berpisah, Kasa tidak pernah bertemu lagi.
SOLIHA : Maksudnya bercerai?
SEMUA : Ya, bercerai!
TEMAN S2: Sejak itu. Kasa tidak pernah bertemu lagi dengan orang tuanya.
TEMAN S3: Ia kurang kasih sayang.
TEMAN S4: Akibatnya ia selalu memaksa teman-temannya untuk memperhatikannya, mengikuti perintahnya.
TEMAN S1: Ketika masih berkumpul dengan orang tuanya. Kasa sangat dimanja. Apa yang ia minta selalu dituruti. Orang tua Kasa punya segalanya waktu itu. Tapi kini…

SOLIHA MENJAUH DARI TEMANNYA. MATANYA MULAI BERKACA-KACA. IA MERASAKAN APA YANG DIRASAKAN TEMAN BARUNYA ITU, KASA. SOLIHA MERASA PUNYA NASIB SAMA.

SOLIHA : (MENYANYI) Oh, ibu air matamu/ Ku ingin bersimpuh padamu/ Nyanyikan dongeng belaianmu/ Surga di telapak kakimu.

SEMUANYA BERNYANYI DENGAN NYANYIAN YANG SAMA.

SOLIHA : Temanku Kasa. Jangan bersedih. Nasibku juga sama seperti nasibmu. Ayah dan ibuku telah berpisah. mereka juga meninggalkanku. Mereka pergi jauh. Makanya saya pergi kemari. Ikut nenek. Jangan bersedih teman. Hidup ini di tangan kita. Kita pasti berhasil kalau semuanya kita jalani dengan semangat. Jangan terlalu diingat masa lalu yang pahit itu. Ayo berdirilah. Kita harus semangat. Hari depan harus kita songsong lebih baik. Lihat teman-teman itu. Kita masih punya mereka. Mereka menunggu kita untuk tertawa bersama.

MEREKA LALU SALING MEMINTA MAAF DAN MENYANYI (SETIAP MANUSIA PUNYA SALAH DAN SALING MEMAAFKAN).

TEMAN K1: Hidup Raja Kasa!
SEMUA : Hidup Raja Kasa!
TEMAN S1: Hidup Ratu Soliha!
SEMUA : Hidup Ratu Soliha!
TEMAN K1 S1: (BERSAMA) Long life Raja Kasa dan Ratu Soliha!
SEMUA : Long life! Long life! Long life! Long life Raja Kasa dan Ratu Soliha!

TAMAT
Lamongan, 23 Februari 2003, Jawa Timur.

*) Rodli TL, seorang dramawan Jawa Timur yang telah menulis puluhan naskah drama sekaligus menyutradarainya. Ia lahir di Lamongan pada tanggal 17 Juni 1976. Sejak lulus dari Teater Tiang di Universitas Jember tahun 2004, ia mendirikan sanggar anak Sang_BALA, Kelompok Belajar Bermain Drama yang sampai sekarang memiliki ratusan anak asuh yang terus-menerus berlatih di sanggar yang berdiri kokoh, serta memiliki tempat pertunjukan permanen di kampung halamannya, Candi Tunggal, Kalitengah, Lamongan. Ia juga dosen CCU, Creative Writing, Sastra dan Film di Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Di tahun 2008, mendapatkan penghargaan dari Mendiknas sebagai pengajar kreatif di bidang seni pertunjukan anak pada Festival Seni Internasional. Tahun 2010, karyanya kembali menjadi yang terbaik di Festival Seni Internasional tersebut.
Puluhan naskah drama yang telah ditulisnya; ‘Mulut’ 2000, ‘Tarian Tanah’ produksi 2001, ‘Eksekusi Suatu Hari Kemudian’ 2002, ‘Ketinggalan Kereta’ 2003, ‘Adam Hawa,’ produksi 2004, ‘Si Lita’ 2004, ‘Ubah Bintang’ 2005, ‘Kibar Bendera Sarto’ 2006. Novel ‘Dazedlove’ diterbitkan Pustaka Ilalang 2005, ‘Hah’ 2007, ‘Kapak Berhala’ diterbitkan PUstaka puJAngga 2008, ‘Mimpi Buruk Penari’ 2007, ‘Bunglon dan Kupu-Kupu’ 2005, ‘Past Game’ Festival Seni Internasional 2008 PPPPTK Seni Budaya Yogyakarta, ‘Ibu Bumi,’ diproduksi Teater Nafas Kata 2009, ‘Kesetiaan Sang Istri,’ produksi Teater Roda dan DISBUDPAR JATIM 2009, ‘Perempuan Bunga Kamboja’ 2009, ‘Roh Jahat’ 2009, ‘Membunuh Hayalan’ produksi Teater Kotak Hitam 2010, ‘Dewi Sri’ karya pertunjukan terbaik Festival Seni Internasional PPPPTK Seni Budaya Jogjakarta 2010, ‘Wasiat Gelap’ 2010, ‘Anoman Kecil’ 2012, ‘Manusia Kardus’ 2012, ‘Orang Asing’ 2012, ‘Kadet Suwoko,’ Sutradara Terbaik Lomba Teater Bulan Bahasa UM 2011, ‘Prahara Amitunon’ 2013, ‘Kupatan,’ pertunjukan terbaik II Drakolah Jawa Timur 2014, ‘Nyanggring’ 2013, Novel Pertunjukan ‘Anak Kalap’ 2013, ‘Raja Kasa’ 2013, ‘Klebon Grasak’ 2014, ‘Situ Bagendit’ 2014, ‘Ada Yang Menangis Sepanjang Hari’ 2014, ‘Dhaeng Sekara’ 2014, ‘Iblis Menangis’ 2014. Puluhan naskah drama tersebut telah menjadi bagian penting perkembangan dunia teater di Lamongan sampai ke panggung Internasioanal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*