Segi Sosiologis Sastra NTT, Inilah Penjelasannya

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 17 Juli 2017

Secara umum disiplin ilmu sastra terdiri atas dua bidang kajian, yakni bidang kajian yang bersifat monodisiplin dan yang bersifat multidisiplin. Monodisiplin fokus pada satu bidang kajian, sebaliknya multidisiplin gabungan beberapa bidang kajian.

Bidang kajian monodisiplin terdiri atas teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Bidang kajian multidisiplin, sampai sejauh ini, terdiri atas sosiologi sastra, psikologi sastra, dan antropologi sastra. Pada jurusan atau program studi bahasa/sastra atau pendidikan bahasa/sastra Indonesia di perguruan tinggi Indonesia, enam bidang kajian sastra ini dibahas dalam mata kuliah sendiri-sendiri yang wajib diikuti para mahasiswa.

Salah satu bidang kajian yang bersifat multidisiplin adalah sosiologi sastra. Sosiologi sastra merupakan gabungan kajian sosiologi (ilmu sosial) dan kajian sastra (ilmu sastra). Kalau dirumuskan secara sederhana, sosiologi sastra adalah bidang kajian ilmu sastra yang dikaitkan dengan pengaruh lingkungan sosial kemasyarakatannya.

Menurut pakar multidisiplin sastra Nyoman Kutha Ratna (2009), dalam sosiologi sastra, kajian sastra harus dominan dibandingkan dengan sosiologi karena karya sastralah yang menjadi objek kajian.

Dibandingkan dengan sosiologi agama, sosiologi pendidikan, sosiologi politik, dan lain-lain, sosiologi sastra termasuk bidang kajian yang perkembangannya lamban. Bidang kajian sosiologi sastra baru dimulai pada akhir abad ke-18 yang ditandai terbitnya buku sosiologi sastra berjudul The Sociology of Art and Literature (1970) karya bersama Milton C. Albert, James H. Barnett, dan Mason Griff. Di Indonesia kajian sosiologi sastra diawali dengan terbitnya buku Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas (1978) karya Sapardi Djoko Damono.

Penulis buku sosiologi sastra yang lain adalah Jakob Sumardjo, Umar Junus, Maman S. Mahayana, dan Nyoman Kutha Ratna. Belakangan ini, Nyoman Kutha Ratna adalah ilmuwan multidisiplin sastra yang sangat produktif menerbitkan buku-buku berkaitan dengan kajian sosiologi sastra, antara lain berjudul Paradigma Sosiologi Sastra (2003), Sastra dan Cultural Studies (2006), Estetika Sastra dan Budaya (2007), Postkolonialisme Indonesia, Relevansi Sastra (2008), dan Antropologi Sastra (2011).

Kajian sosiologi sastra ini penting dilakukan bertolak dari dalil bahwa karya sastra diciptakan seorang pengarang (sastrawan) karena pengarang itu sendiri merupakan a salient being, yakni makhluk yang mengalami dan menjadi bagian dalam kehidupan empirik sosial kemasyarakatannya.

Dengan demikian, sastra dibentuk oleh masyarakatnya. Sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai-nilai dalam masyarakatnya. Dalil ini munculkan pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakat lingkungannya. Sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara karya sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya. Konsep dasar sosiologi sastra seperti ini sebetulnya sudah dikenal sejak zaman Plato (424-347) dan Aristoteles (384-322) dengan istilah mimesis yang membahas hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai cermin.

Dengan penjelasan singkat tentang sosiologi sastra di atas, maka kita dapat melihat relevansi dan pentingnya kajian sosiologi sastra dalam sastra NTT (Nusa Tenggara Timur). Sastra NTT yang dimaksudkan di sini adalah sastra Indonesia yang bertumbuh dan berkembang di Provinsi NTT dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkapannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa sastra NTT telah dirintis oleh orang-orang NTT yang berkiprah di panggung sastra, seperti Gerson Poyk, Dami N. Toda, Julius Sijaranamual, Umbu Landu Paranggi, John Dami Mukese, AGH Netti, Maria Matildis Banda, Mezra E Pellondou dan lain-lain.
***

Pada beberapa tahun terakhir ini sastra NTT menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Lewat buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (2012, halaman 29-34), saya mencatat kebangkitan sastra NTT terhitung sejak tahun 2011 dengan sejumlah indikator pada (1) penerbitan buku sastra karya para sastrawan NTT, (2) publikasi artikel opini sastra dan esai/kritik sastra dalam berbagai media cetak NTT, (3) publikasi cerpen dan puisi pada harian Pos Kupang.

Belakangan, pertumbuhan komunitas sastra di berbagai tempat dan lembaga pendidikan di NTT, menunjukkan adanya kegairahan bersastra yang cukup bagus di Provinsi NTT.

Dalam kaitan dengan perkembangan sastra NTT yang menggairahkan itu, maka menurut hemat saya, sudah tiba waktunya untuk melakukan kajian-kajian secara sosiologis sastra NTT. Mendorong dilakukannya kajian sosiologis sastra NTT inilah yang mau disasar dalam tulisan ini. Kajian sosiologis sastra NTT tentu bertolak dari tiga komponen utama kajian, yakni (1) kajian terhadap karya sastra (dengan berbagai genre-nya), (2) kajian terhadap pengarang sastra (sastrawan), dan (3) kajian terhadap pembaca sastra. Jadi, kajian sosiologi sastranya meliputi kajian karya sastra, pengarang sastra, dan pembaca sastra.

Pertama, kajian sosiologi sastra terhadap karya sastra. Yang perlu dikaji di sini, antara lain (1) berapa jumlah karya sastra NTT yang diterbitkan sejak awal mula dirintis sampai dengan saat ini, (2) berapa jumlah karya sastra NTT yang diterbitkan setiap tahun untuk masing-masing genre sastra, (3) berapa jumlah karya sastra yang laku terjual, (4) di mana saja penyebaran karya sastra NTT itu: dunia pendidikan, komunitas sastra, atau masyarakat umum, (5) apakah karya sastra NTT berfungsi dan berperan dalam dunia pendidikan, (6) apakah karya sastra NTT mempengaruhi kebijakan publik pemerintahan di NTT, (7) apakah karya sastra NTT mampu menjadi sarana diplomasi budaya NTT, (8) sejauh mana pengetahuan masyarakat dan para pelajar NTT terhadap karya sastra NTT dan sastrawan NTT. Dan masih banyak pertanyaan lain kalau dilanjutkan.

Kedua, kajian sosiologi sastra terhadap pengarang sastra. Yang perlu dikaji di sini, antara lain (1) berapa jumlah sastrawan NTT sejak awal mula dirintis sampai dengan saat ini, (2) siapa-siapa saja sastrawan NTT yang terdiri atas: penyair, novelis, cerpenis, dramawan, dan kritikus sastra, (3) apa saja latar belakang pendidikan dan pekerjaan para sastrawan NTT, (4) berapa jumlah pengarang laki-laki dan perempuan dalam sastra NTT, (5) apakah menulis karya sastra sebagai profesi atau sebagai hobi, (6) siapa saja sastrawan NTT yang dikenal di panggung sastra nasional Indonesia. Dan masih banyak pertanyaan yang lain.

Ketiga, kajian sosiologi sastra terhadap pembaca sastra. Yang perlu dikaji di sini, antara lain (1) kelompok masyarakat mana saja pembaca karya sastra NTT, (2) bagaimana penyebaran karya sastra di Provinsi NTT, (3) sejauh mana minat para siswa dan mahasiswa membaca karya sastra NTT, (4) seberapa banyak masyarakat NTT mengenal karya sastra dan sastrawan NTT, (5) apakah birokrasi pemerintahan di NTT membaca karya sastra, (6) pembaca karya sastra NTT lebih banyak perempuan atau pria, (7) apakah toko buku di NTT berperan dalam menyebarluaskan karya sastra NTT. Dan masih banyak pertanyaan yang lain.

Kepada siapa dan lembaga mana yang diharapkan melakukan kajian sosiologi sastra NTT? Harapan pertama dan utama tentu ditujukan kepada para akademisi di perguruan tinggi, baik para dosen maupun mahasiswa, baik perguruan tinggi di NTT maupun dari luar NTT, baik program studi bahasa dan sastra Indonesia maupun program studi sosiologi. *

*) Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende
http://kupang.tribunnews.com/2017/07/17/segi-sosiologis-sastra-ntt-inilah-penjelasannya?page=2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*