Untuk yang Terhormat, Budaya: Sahabat Saya Dr Kamsol

Zuarman Ahmad *
riaupos.co

AKU, sepertinya harus melanggar pendapat dan petuah seorang kawan dan pernah menjadi murid saya yang sudah menjadi dosen, untuk tidak lagi merisaukan pembangunan seni dan budaya Melayu Riau tempat saya lahir dan dibesarkan ini.

Dalam Public Hearing Naskah Akademis dan Bahan Ranperda “Perkokoh Jati Diri dengan Pelestarian Budaya dan Nilai-nilai Tradisi Melayu, yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau dan Riau Pos, sahabat saya Dr Kamsol, ketika masih kuliah yang sama-sama main Band mengharapkan pikiran-pikiran tentang Ranperda ini untuk dikirimkan ke email-nya, namun maafkan saya sahabat, karena pikiran-pikiran saya dalam tulisan ini mungkin harus diketahui oleh publik (kalau saya dikatakan narsis, saya terima dengan sukacita), maka inilah pikiran saya.

Sahabatku! BUDAYA, dalam bahasa Arab disebut dengan Adab, berarti “himpunan kualitas-kualitas baik”. Al-Hujwiry mendefinisikan budaya (adab) menurut kaum sufi sebagai “hidup dengan kualitas-kualitas terpuji”, dan diterangkan lagi sebagai “bertindak dengan benar terhadap Tuhan – ketika di depan umum maupun ketika sendirian”.

Menilik pengertian yang ditakrifkan Al-Hujwiry ini, aku, sepertinya tak yakin lagi, tentang pembangunan kebudayaan kita (Riau), meskipun pemerintah Provinsi Riau mendirikan (istilah Fakhrunnas: menumbuhkan) Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Riau. Sikap skeptis yang dilontarkan oleh Fakhrunnas dalam tulisannya “Menimbang-nimbang Dinas Kebudayaan” (Riau Pos, Jumat, 13 November 2015), mungkin juga sikap para budayawan dan seniman Riau umumnya, atau kalau tidak mau paling kurang sikap saya yang juga skeptis. Bahwa, siapa calon “nakhoda” atau kepala dinas-nya, siapa pegawainya, bagaimana nomenklatur-nya, dan lain-lain dan lain-lain persoalannya.

Pertanyaan lain tentang dinas budaya yang akan didirikan oleh Provinsi Riau ini, yaitu, apa dan siapakah yang akan diurus oleh dinas kebudayaan ini? Apa jaminannya jika dinas kebudayaan ini dibuat maka seni dan budaya akan lebih baik dari sebelum dinas ini didirikan?

Sahabatku! Bahwa, yang diperlukan oleh budayawan, seniman, budaya dan seni itu hanyalah persoalan klasik yang sejak dari dahulu, yakni dana dan prasarana. Mari berkaca pada lembaga lain, misalnya Departemen Pemuda dan Olahraga dan dinas-dinasnya yang terakit di provinsi dan kabupaten kota. Pada lembaga ini juga terdapat dua pengelolaan, yakni kepemudaan dan keolahragaan.

Tapi, tengoklah, semuanya berjalan dengan harapan pemuda dan olahragawan, meskipun tidak sepenuhnya sempurna, karena harapan yang satu ini nampaknya di Indonesia berkaitkelindan dengan harapan yang lain, mungkin adab dalam pengertian Al-Wujwiry di atas. Kenapa harapan ini agak memenuhi impian pemuda dan olahragawan? Pertama, organisasi kepemudaan dan organisasi olahraga dan seluruh cabang-cabangnya secara resmi diatur dan sepenuhnya bernaung dalam Departemen Pemuda dan Olahraga beserta dinas-dinasnya. Kedua, sarana dan prasarana, seperti gedung-gedung kantor dan latihan tersedia dan disediakan, beserta pendanaan yang kontinyu.

Bagaimana dengan kebudayaan dan seni?

Kebudayaan, sebenarnya seperti halnya pemuda dan olahraga. Ketika dahulu budaya berada pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ada dua lembaga yang diurus bersamaan, yakni pendidikan dan budaya, tetapi pada bidang budaya tetaplah tidak memenuhi harapan budaya dan seni itu sebagaimana pemuda dan olahraga. Setelah berlalu masa ini, kemudian budaya berada pada Departemen Pariwisata dan Seni dan Budaya, tetapi nampaknya tidak jua memenuhi harapan seni, budaya, seniman dan budayawan, sebagai mana halnya pemuda dan olahraga. Sebenarnya di mana letak salahnya?

Letak salahnya. Kalau kita bertanya kepada departemen ini atau kepada dinas yang mengurus budaya dan seni yang terdapat di dalam dinas itu, kira-kira pertanyaan harus diajukan seperti ini: Apakah yang diurus oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (ketika seni dan budaya masih bergabung) atau apakah yang diurus oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (ketika seni dan budaya bergabung dahulu dan sekarang)? Karena itu, wahai Sahabatku, saya berani bertaruh bahwa dinas ini tidak dapat menjawab pertanyaan ini sesuai dengan analogi tentang Dinas Pemuda dan Olahraga yang telah diuraikan di atas. Tetapi kalau jawabannya untuk sekedar menjawab pastilah dapat.

Kalau begitu halnya, apakah jika Dinas Kebudayaan yang akan didirikan itu akan memenuhi harapan seni, budaya, seniman dan budayawan? Jika dinas ini tidak tahu apa yang diurusnya, seperti yang sudah-sudah, saya juga dapat memastikan dinas ini juga tidak akan berjalan dan dapat memenuhi harapan seni, budaya, seniman dan budayawan itu. Namun, barangkali, Dinas Kebudayaan yang akan didirikan ini hanya dapat memenuhi harapan segelintir orang atau segelintir lembaga kebudayaan, sebagaimana yang dirisaukan oleh Fakhrunnas MA Jabbar – bahwa, kesan tertutup dan tidak menyeluruh pada kajian penelitian tentang budaya Melayu Riau, kesan pilih-kasih (tebang-pilih) dan kronisme dan pertimbangan subyektif pada helat kebudayaan dan pengiriman duta kebudayaan pada perorangan seniman dan budayaan dan sanggar-sanggar seni dan bukan pada pertimbangan obyektif.

Di sisi yang lain lagi, ketidakmengertian, kelebaian, kehangkongan, dan sifat narsis yang dimiliki oleh pegawai-pegawai di dinas yang menuangi dan menaungi kebudayaan dan seni ini juga menjadi kendala tidak sinkroninasi-nya dan tidak berkembangnya pembangunan kebudayaan dan seni Melayu Riau kita di sini. Seniman dan budayawan mungkin tidak mengerti adiministrasi, tetapi seniman dan budayawan sangat-sangat mengerti tentang seni dan budaya yang digeluti dan digaulinya sehari-hari itu. Tengoklah, tentang bahasa Melayu saja kita di Riau ini sudah terkotak-kotak; menurut Melayu pesisir bahasa yang dipakainyalah bahasa Melayu itu, tetapi Melayu darat dan Melayu pedalaman mungkin saja dapat mengatakan bahwa bahasa Melayu itu asal-usulnya dari mereka.

Para intelektual yang mengaku hebat itu bahkan tidak tahu apa itu bahasa dan apa itu dialek atau loghat. Bahwa bahasa Melayu dengan loghat atau dialeknya masing-masing itu sudah menjadi bahasa pemersatu dan lingua-franca, dan menjadilah bahasa yang dipakai di Indonesia, Malaysia (terutama Melaka) Singapura, yang berasal dari bahasa Melayu itu. Sekarang apakah hendak menjadikan satu dialek atau loghat untuk menjadi acuan bahasa Melayu di Riau dan meniadakan dialek dan loghat yang beragam lainnya? Sementara bahasa Melayu itu sudah dipakai oleh kawasan di nusantara ini.

Sahabatku. Mungkin ini sajalah dahulu pikiran-pikiran sahabatmu ini yang mungkin berguna atau mungkin juga tidak berguna, yang tidak sempat dan cukup waktu untuk berdiskusi dalam Public Hearing Naskah Akademis bahan Ranperda itu.

Sahabatku. Bahwa, budaya dan seni adalah pikiran-pikiran yang lahir dari rasa (zawq), dan yang menilai serta memikirkannya juga dengan jiwa tempat rasa (zawq) itu berada, kepala dinas dan pegawai-pegawainya juga harus bekerja dengan jiwa dan rasa (zawq), karena mereka itu akan mengurus hal yang berhubungan dengan jiwa dan rasa (zawq), yakni seni, budaya, seniman, dan budayawan, dan bukan hewan.
***

*) Zuarman Ahmad, pemusik, composer, arranger, pensyarah/ pengajar musik Akademi Kesenian melayu Riau (AKMR), penikmat sastra, penulis cerita-pendek, redaktur Majalah Budaya Sagang, penerima Anugerah Seniman Pemangku Tradisi Prestasi Seni/Musik 2005, Penerima Anugerah Sagang 2009, dan penikmat ajaran suluk (sufi).
http://riaupos.co/2743-spesial-untuk-yang-terhormat,-budaya-sahabat-saya-dr-kamsol-.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*