Upacara Boyongan

Tulus S *

Upacara boyongan adalah upacara pindah rumah. Hal ini masih banyak terlihat dalam masyarakat Jawa. Tidak terkecuali di sekitar wilayah Madiun. Tradisi ini diawali dengan mencari hari yang baik sesuai dengan pathokan (pedoman yang dianut) oleh masyarakat Jawa. Biasanya terkait dengan keberadaan naga tahun, naga sasi dan hari naas. Proses upacara boyongan dilihat sepentas seperti arak-arakan atau pawai. Di mana yang berjalan di depan sendiri adalah pini sepuh (biasanya seorang nenek) yang bertugas membawa sapu lidi untuk menyapu sepanjang perjalanan.

Makna dari menyapu jalanan dengan sapu lidi adalah mengajarkan persatuan untuk menyingkirkan segala halangan atau rintangan dimanapun berada. Di belakangnya sesorang yang membawa lampu sebagai penerangan. Penerangan yang berupa lampu minyak merupakan simbol petunjuk atau penjelasan (keterangan) tentang makna sessaji-sesaji yang berada di belakangnya. Lampu teplok (pandam kurung) sebuah sebuah pepadhang (penjelasan) tentang ajaran hidup. Ada ungkapan pandam pandom panduming dumadi (sebagai penjelasan petunjuk tentang kehidupan), yaitu menempatkan Tuhan seagai titik kriterium tertinggi sebagai pusat rasa berserah diri.

Kemudian diikuti calon kepala keluarga dengan memundak (membawa) cangkul, membawa sabit kadang juga membawa senjata tombak yang ujungnya diberi hiasan untaian segenggam padi. Sang istri bertugas membawa (menggendong) tikar dan bantal. Tikar dan bantal ini merupakan syarat penting yang tidak boleh tertinggal. Kedua barang tersebut melambangkan peralatan tidur, sehingga dengan membawa bantal dan guling berarti pindah tidur (tempat tinggal).

Disusul rombongan yang terdiri sanak saudara, kerabat, tetangga dan lain-lain yang membantu membawa sesaji selamatan dan peralatan rumah tangga, seperti; jambangan (semacam gentong tapi mulutnya lebar) berisi air, daringan kebak (semacam guci/genthong yang berisi beras ), peralatan dapur komplit, bahan-bahan makanan, ternak (biasanya ayam hidup) dan lain-lain. Makna dari simbol selamatan tersebut bisa dilihat pada buku saya “Makna Simbol Selamatan Kematian pada Masyarakat Jawa”.

Rombongan sesampai di tempat (rumah baru) yang dituju langsung menuju pintu masuk (harus sesuai arah dengan hari perhitungan boyongan). Sebelum masuk terjadi dialog antara pinisepuh (nenek yang membawa sapu) dengan penjaga rumah baru (biasanya seorang kakek atau pinisepuh). Adapun dialog tersebut kurang lebih sebagai berikut;

Nenek : “Kulanuwun …kulanuwun…kulanuwun “.
Kakek : “Inggih sinten niki ?’’
Nenek : “Kula tiyang ngumbara “

Kemudian sang kakek membukakan pintu

Kakek : “Panjenengan niki sejatosipun saking pundi lan badhe tindhak pundi ?’’
Nenek : “Kula niki saking Dusun Sumberwaras *. Menapa leres niki Dusun Ngadiluwih *.”
Kakek : “Lah inggih leres menika ingkang kawastanan Dusun Ngadiluwih. Gadhah tujuwan menapa nganti dumugi Dusun Ngadiluwih mriki ?’
Nenek : “Oh alah sanget keleresan menawi mekaten. Tebih saking Dusun Sumberwaras menawi kepareng kepengen ngengeraken anak kula wonten papan mriki .”
Kakek : “Oh ngaten, saged dipun tampi nanging wonten saratipun .”
Nenek : “Menapa Ki, tumbasanipun ?”
Kakek : “klasa bantal, piranti tetanen lan sandang pangan sakcekapipun mboten kantun .”
Nenek : “Inggih, menika sampun dipun cekapi sedayanipun .”
Kakek : “Menawi mekaten kula aturi mlebet !”

Terjemahan:
Nenek : “permisi….permisi…permisi “
Kakek : “Iya siapa ini ?”
Nenek : “Saya pengembara “

Kemudian kakek membukakan pintu .
Kakek : “Kalian ini sebenarnya darimana dan mau kemana ?”
Nenek : “Saya ini berasal dari Desa Sugihwaras. Apa benar ini Desa Ngadiluwih ?”
Kakek : “ Oh iya betul ini dinamakan Desa Ngadiluwuh. Mempunyai tujuan apa sampai datang ke Desa Ngadiluwih ini ?”
Nenek : “Oh alah kebetulan kalau begitu. Jauh dari Desa Sumberwaras berniat untuk mengabdikan anak saya di tempat ini .”
Kakek : “Dapat diterima tetapi ada syaratnya .”
Nenek : “Apa syaratnya Ki ?”
Kakek : “Tikar, bantal, peralatan pertanian dan sandang pangan secukupnya tidak ketinggalan .”
Nenek : “Iya ini sudah dicukupi semuanya .”
Kakek : “Baiklah kalau begitu dipersilahkan masuk !”

Desa Sumberwaras bisa diganti dengan ; Sumberagung, Sugihwaras, Karangtentrem dan lain-lain (yang bermakna kebaikan). Sedangkan Desa Ngadiluwih bisa diganti dengan : Sidomulya, Gemah Harjo dan lain-lain (yang bermakna cita-cita luhur, harapan baik, kelebihan)

Kemudian semua rombongan masuk ke dalam rumah. Selanjutnya diadakan upacara selamatan. Kebiasaan di desa para tetangga pada datang membantu dan membawa sumbangan. Kemudian diteruskan tirakatan. Adapun sesaji selamatan beruipa rasulan (ambengan yang terdiri dari nasi uduk, ayam ingkung beserta lauk pauknya).

Bulan-bulan Jawa yang dianggap baik untuk digunakan menjalankan upacara boyongan adalah; Sapar, Mulud, Ruwah, Pasa dan Besar, sedangkan Rejeb bersifat cukup. Sedangkan hari-hari serta waktu (pukul) yang baik digunakan untuk boyongan adalah sebagai berikut;

Selasa Pon jam 06.00 – 07.00
Rabu Pon jam 13.00 – 14.00
Kamis Legi jam 13.00 – 14.00
Kamis Pahing jam 13.00 – 14.00
Sabtu Kliwon jam 23.00 – 24.00
Sabtu Legi jam 23.00 – 24.00
Minggu Kliwon jam 01.00 – 08.00

Namun di dalam perhitungan Jawa masih dikaitkan dengan wukon. Adapun wuku yang harus dihindari untuk segala hajatan adalah wukon jelma.

Wukon lokal was Wuku
Satu Rabu Mandasiya Medangkungan Wugu Landhep Warigagung
Iwak Selasa Julung Pujud Maktal Wayang Wukir Julung Wangi
Manuk Senin Pahang Wuye Kulawu Kurantil Sungsang
Wuku Minggu, Sabtu Kuru Welut Manahil Dukut Tolu Galungan
Godhong Jumat Marakeh Prang Bakat Watu Gunung Gumbreg Kuningan
Jelma Kamis Tambir Bala Sinta Warigalit Langkir

Di dalam upacara boyongan dalam masyarakat Jawa sangat diperhitungkan tentang arah keluar dan masuknya dari/ke dalam rumah. Kepercayaan masyarakat untuk menghindari naga tahun yang bisa membawa celaka atau kesialan. Adapun arah perjalanan yang harus dihindari adalah sebagai berikut;

Bulan / Hari/ Naga Tahun / Naga Sasi / Jati Ngarang / Naga Dina / Naga Pasaran / Ri,Jal Dina / Tempuking Naga

Sapar Selasa Pon Utara Barat Timur Barat Barat Timur –
Rabu Pon Utara Barat Timur Barat Daya Barat Tenggara –
Kamis Legi Utara Barat Timur Tenggara Timur Utara –
Kamis Pahing Utara Barat Timur Tenggara Selatan Utara –
Sabtu Kliwon Utara Barat Timur Timur Laut Tengah Barat Laut –
Sabtu Legi Utara Barat Timur Timur Laut Timur Barat Laut –
Minggu Kliwon Utara Barat Timur Selatan Tengah Selatan –
Selasa Pon Timur Utara Timur Barat Barat Timur Timur
Rabu Pon Timur Utara Timur Barat Daya Barat Tenggara Timur

Mulud Kamis Legi Timur Utara Timur Tenggara Timur Utara Timur
Kamis Pahing Timur Utara Timur Tenggara Selatan Utara Timur
Sabtu Kliwon Timur Utara Timur Timur Laut Tengah Barat Laut Timur
Sabtu Legi Timur Utara Timur Timur Laut Timur Barat Laut Timur
Minggu Kliwon Timur Utara Timur Selatan Tengah Selatan Timur

Ruwah Selasa Pon Selatan Timur Barat Barat Barat Timur –
Rabu Pon Selatan Timur Barat Barat Daya Barat Tenggara _
Kamis Legi Selatan Timur Barat Tenggara Timur Utara _
Kamis Pahing Selatan Timur Barat Tenggara Selatan Utara
Sabtu Kliwon Selatan Timur Barat Timur Laut Tengah Barat Laut _
Sabtu Legi Selatan Timur Barat Timur Laut Timur Barat Laut –
Minggu Kliwon Selatan Timur Barat Selatan Tengah Selatan –

Pasa Selasa Pon Barat Selatan Barat Barat Barat Timur Barat
Rabu Pon Barat Selatan Barat Barat Daya Barat Tenggara Barat
Kamis Legi Barat Selatan Barat Tenggara Timur Utara Barat
Kamis Pahing Barat Selatan Barat Tenggara Selatan Utara Barat
Sabtu Kliwon Barat Selatan Barat Timur Laut Tengah Barat Laut Barat
Sabtu Legi Barat Selatan Barat Timur Laut Timur Barat Laut Barat
Minggu Kliwon Barat Selatan Barat Selatan Tengah Selatan Barat

Besar Selasa Pon Utara Barat Utara Barat Barat Timur Utara
Rabu Pon Utara Barat Utara Barat Daya Barat Tenggara Utara
Kamis Legi Utara Barat Utara Tenggara Timur Utara Utara
Kamis Pahing Utara Barat Utara Tenggara Selatan Utara Utara
Sabtu Kliwon Utara Barat Utara Timur Laut Tengah Barat Daya Utara
Sabtu Legi Utara Barat Utara Timur Laut Timur Barat Laut Utara
Minggu Kliwon Utara Barat Utara Selatan Tengah Selatan Utara

Rajab Selasa Pon Selatan Timur Barat Barat Barat Timur –
Rabu Pon Selatan Timur Barat Barat Daya Barat Tenggara –
Kamis Legi Selatan Timur Barat Tenggara Timur Utara –
Kamis Pahing Selatan Timur Barat Tenggara Selatan Utara –
Sabtu Kliwon Selatan Timur Barat Timur Laut Tengah Barat Laut –
Sabtu Legi Selatan Timur Barat Timur Laut Timur Barat Laut –
Minggu Kliwon Selatan Timur Barat Selatan Tengah Selatan –
______________________________
*) Tulus S atau Tulus Setiyadi, S.T.P. adalah alumni Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Kegemarannya mempelajari budaya dan sastra ditekuni sudah sejak lama. Banyak bergabung dibeberapa sanggar kebudayaan, kesenian dan kesusastraan. Sering mengisi acara sastra ataupun budaya, baik di televisi, radio, paguyuban/sanggar, perguruan Budaya Jawa di Hotel Lorin Solo, kongres Bahasa Jawa di Hotel Marriot Surabaya dan Hotel Garuda Jogjakarta, serta seminar ataupun sarasehan. Pernah menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa. Karya-karyanya dalam bentuk buku sudah puluhan judul dan beredar di masyarakat, baik di Indonesia maupun luar negeri. Juga belasan karya antologi bersama. Paguyuban/sanggar yang diikutinya antara lain; Pesaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani), Paguyuban Retna Dumilah (bidang kebudayaan), Paguyuban Pamarsudi Kasusastran Jawi Sedyatama, Sanggar Sastra Triwidha, Sembilan Mutiara (buku dan kesusastraan), Majelis Sastra Madiun, dll. Adapun buku-buku karyanya sebagai berikut; Bangsa Pemuja Iblis (antologi puisi), Surat Kerinduan, (antologi puisi), Sangkrah (antologi geguritan lan cerkak), Sang Guru (antologi cerkak), Kidung sukma Asmara (antologi geguritan), Daya Katresnan (antologi geguritan), Kawruh Urip Luhur Ngabekti (antologi geguritan), Serat Cipta Rasa (antologi geguritan mawa aksara Jawa). Narakisma mbedhah jagade kasusastran (antologi geguritan). Dongeng Kancil Kanggo Bocah (dongeng), Puspa Tunjung Taruna (esai), Pendekatan Nilai-Nilai Filosofi Dalam Karya Sastra Jawa (esai), Kembar Mayang (esai), Nilai-Nilai Luhur Budaya Jawa- Sumber Kearifan Lokal (esai), Ki ageng Sela Dan Ajarannya; Pendidikan Nilai Moral Dan Pembentukan Karakter (esai); Semar; Sebuah simbolisasi, Filosofi Dan Mistik Kejawen (esai). Makna Simbol Selamatan Kematian pada masyarakat Jawa (esai). Menelusuri Jejak Tradisi Membangun Jatidiri (esai). Uran-uran katresnan (novel). Keladuk Manis ing Salumahe Sambilata (novel). Juminem…dodolan tempe? (novel). Udan ing wanci ketiga (novel). Ledhek saka Ereng-erenge Gunung Wilis (novel), Gogroke Reroncen Kembang Garing (novel), Rumpile Jurang Katresnan (novel). Klelep ing Samodra Rasa (novel). Langit Mendhung Sajroning Pangangen (novel). Bersama Pak Tulus Ayo Belajar (motivasi). Aris (kumpulan cerkak). Sedangkan antologi bersama lainnya, seperti dibawah ini’; Antologi bersama; antologi Mangkubumen Sembilan Enam, Bulan Tuhan, Pelacur, Epifani Serpihan Duka Bangsa, Kemilau Mutiara Januari, Merangkai Damai, Pengembaraan Burung, Bunga Putra Bangsa, Indonesia di Titik 13 dll. Juga antologi cerkak mengeti HUT ke-35 Sanggar Triwida “Ngrembuyung”. Antologi cerpen “Negeri Kertas”. Antologi Geguritan Dinas kebudayaan Prov,DIY, Antologi geguritan “Sakwise Ismet lan Suparta Brata” Balai Bahasa Jatim, Antologi geguritan “Gebyar Kasusastran” Balai Bahasa Jatim. Antologi geguritan “Sor bumi sor kukusan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*