Afrika

Mahbub Djunaidi
Tempo, 23 Maret 1985

Hakikatnya sih perbuatan mesum. Tapi karena orang Inggris bukan orang sembarangan, melainkan gentleman, maka dia lebih suka menyebutnya white’s man burden. Orang Prancis yang lebih puitis menyebutnya mission civilatrice, dan orang Jerman penyebaran kultur. Sedangkan orang Italia, yang biasanya suka hingar-bingar, kali ini tak menyuguhkan istilah apa-apa; Cuma mengumbar altruisme agresinya dengan jalan merampas Somalia, menggaet Tripoli, menginjak-injak Ethiopia dan Eritrea, serta melahap apa saja yang tampak di atas buminya.

Buat orang Afrika sendiri macam-macam sebutan itu tak banyak beda satu sama lain. Toh maksudnya serupa: Membagi-bagi kampung halaman mereka seperti memotong kue talam, mengangkut kekayaan benua raksasa itu ke Eropa, memecut punggung penduduk hingga tak kuasa menjerit. Pokoknya kolonialisme dalam makna yang paling tulen. Sivilisasi ataupun kultur yang ditawarkan Barat kepada Afrika tak lain dari perbudakan sistematis, lewat dukungan bank dan lembaga-lembaga penyelidikan ilmiah. Misalnya, tak lain dari sejarawan Honataux yang menampilkan rumus ajaib bahwa Madagaskar secara historis menjadi bagian dari Prancis, sehingga Ratu Hova tiba-tiba menjumpai negerinya yang 1.000 mil lebih luas dari negeri Prancis sendiri menjadi daerah lindungan pemerintah Paris.

Belenggu yang melilit leher ini mesti dipatahkan, cepat atau lambat. Hutan belantara supaya bisa menyanyi lagi lewat gesekan daun dan dahan. “Masalah utama abad XX adalah bagaimana corak hubungan kulit berwarna dengan kulit putih, baik di Asia, Afrika, maupun di pulau-pulau sekitarnya,” kata William du Bois di kongres pertama gerakan Pan Afrika tahun 1900 di London. Kepalan tinju segera diacungkan oleh anak-anak jajahan yang bertubuh gempal dan bergigi seputih bulu belibis: Kwame Nkrumah, Nnandi Azikiwe, Isaka Seme, Jomo Kenyatta, Tom Mboya, Yulius Nyerere, Modeiba Keita, Sekou Toure. Campur aduk antara rasa kesadaran ras blackism, paham nasionalisme modern, semboyan “Afrika untuk bangsa Afrika”, bermuarakan ke suatu tekad jua adanya: kemerdekaan.

Penyair Aime Cesaire, yang merasa kikuk dengan politik, dan memilih Paris sebagai markas besar perjuangan kulturalnya melawan kolonialisme, segera berkencan dengan Petar Guberina dari Yugoslavia dan mengajaknya berleha-leha di panta Dalmatian. Dan lewat kumpulan syairnya Cahier d’Un Retour Au Pays Natale, yang tak lebih dari 70 halaman, bermulalah suatu gerakan sastra baru yang bernafaskan perlawanan aliran negritude yang penuh ratapan derita dan sumpah serapahh. Akibat berikutnya sudah bisa diduga: Peradaban Eropa yang katanya menjulang tinggi itu di mata mereka amatlah nista, tak lebih dari seonggok jerami.

Mula-mula mereka membunuh bapakku, tulis Penyair Diop, semata-mata karena bapakku punya harga diri. Setelah itu mereka perkosa bundaku semata-mata karena bundaku cantik jelita. Kemudian orang kulit putih yang penuh bulu itu nmenjemur abangku hingga kering kerontang di bawah terik mentari khatulistiwa, semata-mata karena abangku gagah perkasa, tangannya merah oleh aliran darah yang hitam. Dan sesudah beres semua itu, menjeritlah mereka persis ke lubang kupingku: Hai bocah gudik, ambil kursi dan serbet serta segelas bir kemari!

Dengus napas Politikus Kwame Nkrumah dari Ghana ataupun tulisan penuh geram Penyair Leopold Senghor dari Senegal, semua mendapat tanggapan semestinya di Konferensi Asia-Afrika, Bandung, 1955. Kolonialisme mesti didorong naik ke tiang gantungan hari itu juga. Di Priangan tambur ditabuh oleh tangan-tangan yang dengan sengaja ditugasi membawa misi sejarah. Satu demi satu negeri-negeri Afrika peroleh kemerdekaan, bukan karena belas kasihan, melainkan berkat terjangan tak kenal ampun. Mulai dari pantai utara yang terbasuh riak Laut Tengah, padang pasir Nubia yang terpanggang sepanjang tahun, padang rumput yang membentang mulai Cape Verde hingga tepi-tepi Sungai Nil, daerah curahan hujan khatulistiwa yang berhutan lebat sorga para binatang, hingga belahan selatan tempat dataran tinggi gandeng-bergandeng dengan prairie – bendera-bendera nasional berkibar di tiang-tiangnya.

Hanya tiga tahun sesudah itu berlangsung Konferensi Negara-negara Afrika Merdeka di Accra tahun 1958, di Addis Ababa tahun 1960. Para hadirin menjunjung sepuluh jari Piagam PBB, Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia, dan Deklarasi Bandung. Penyair Leopold Senghor sendiri sudah jadi presiden Senegal. Ia masih memuja Afrika seperti sediakala. “Gadismu nan hitam menusuk hati, bagai sang petir menusuk rajawali.” Dan tak lama lagi bulan April tiba. Sudah 30 tahun umur Konferensi Asia-Afrika. Banyak mereka yang sudah tiada, tapi semangat Bandung terasa sepanjang masa, seperti udara.

http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.co.id/2012/06/afrika.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*