JURNALIS JAWA DALAM PARIKSIT GOENAWAN MUHAMAD

Sofiatun
http://esaisastrakita.blogspot.co.id

Sebuah sajak ditulis dengan berbagai alasan, terutama karena dengan sajak seseorang bisa mengungkapkan sesuatu yang ada dalam hati dan kepalanya sekaligus juga menyembunyikan sesuatu di dalamnya. Sajak adalah sesuatu yang ambigu, yang penuh simbol, yang dalam dirinya terdapat kehendak menyampaikan sesuatu sekaligus menyembunyikan sesuatu. Menulis sajak merupakan sebuah perjuangan yang berat sekaligus menyenangkan bagi penulisnya sebab di situ terjadi pergolakan, pertentangan, kerja keras intelektual, dan tentu saja bukan merupakan hal main-main. Baca selengkapnya “JURNALIS JAWA DALAM PARIKSIT GOENAWAN MUHAMAD”

Menerabas dengan Belenggu

Beni Setia
Riau Pos, 7 Agu 2016

PADA ”Mencari dan Menemukan Diri” (Kata Pengantar di Ladang Pembantaian, Lamongan: Pagan Press, 2015), Eko Darmoko mencatat: Samuel Beckett, penulis puisi, cerpen, novel, dan esai bosan dengan eksistensi kebebasan menulis, ketiadaan acuan yang menyebabkan leluasa menulis apa saja di dalam genre yang disukai. Ia sedang kehilangan gairah menulis, karena itu mencari tantangan dengan menulis naskah drama–tulisan yang dibatasi kepastian karakter, dialog tajam, fokus serta kuat menghadirkan inti konflik dari cerita, dan situasi pembatas dari kemungkinan pementasan. Baca selengkapnya “Menerabas dengan Belenggu”

Nilai Moral Individu dalam Cerpen Blokeng Karya Ahmad Tohari

Evi Dana Setia Ningrum
esaisastrakita.blogspot.co.id

Nilai-nilai karya sastra adalah suatu nilai atau pesan atau aspek yang disisipkan oleh pengarang di dalam karya sastra. Pesan ini adalah pesan tersirat dalam cerita yang sengaja penulis sampaikan pada pembaca dengan cara membaca dan memahami isi cerita tersebut. Nilai yang terkandung dalam sebuah cerita selalu memiliki maksud dan amanat yang ingin penulis sampaikan kepada pembaca yang dikemas dengan menampilkan tokoh dan karakter serta alur yang menjadikan jalan cerita tersebut memiliki arah yang jelas. Baca selengkapnya “Nilai Moral Individu dalam Cerpen Blokeng Karya Ahmad Tohari”

“Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan” Karya Ahmad Tohari

Maryani
yaniaccount.blogspot.co.id

Cerpen “Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan” merupakan sebuah gambaran cerpen yang menarik sekali untuk dibaca dan dinikmati oleh pencinta karya sastra. Karena, setelah membaca cerpen ini kita sebagai pembaca merasakan adanya sebuah proses kreatif dalam penulisannya, dan terasa pula adanya keunikan pengarang dalam mengolah karyanya. Baca selengkapnya ““Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan” Karya Ahmad Tohari”

RT 03 RW 22, Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana”

Kuntowijoyo
cerpenkompas.wordpress.com

Ada tragic sense of life, ada comic sense of life. Mereka yang menganggap hidup sebagai tragedi, memandang dunia serba suram, diwakili oleh teman saya Nurhasan. Dia yang tinggi akan melonjok sedikit dan mencapai langit-langit kamar tamu rumah bertingkat yang kami banggakan, “Lha betul to, Perumnas itu ya begini. Tinggi setidaknya empat meter supaya ruangan sejuk.” Mengenai genteng dikatakannya, “Kok dari asbes. Baca selengkapnya “RT 03 RW 22, Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana””

Nilai-Nilai Edukatif dalam Cerita Khayal Yung Dolah

Riki Utomi *
Riau Pos, 4 Jun 2017

KITA setidaknya sepakat dengan usaha yang bertujuan kepada nilai-nilai didikan yang mana hal tersebut dapat membentuk pola tingkah laku manusia menjadi beradab. Hal itu menjadikan pribadi menusia dapat mengerti siapa dia sebenarnya; yaitu manusia seutuhnya yang dapat dididik dan jelas-jelas berbeda dengan makhluk yang lain. Baca selengkapnya “Nilai-Nilai Edukatif dalam Cerita Khayal Yung Dolah”

Merenangi Bait-Bait Kitab Suci dalam “Lelaki Pembawa Mushaf”

Bambang Kariyawan Ys *
Riau Pos, 1 Jul 2017

Karya yang ikhlas akan melahirkan kejujuran.
Itulah petikan kalimat motivasi dari penulis novel perempuan Riau, Nafiah Al Ma’rab dengan nama asli Sugiarti dalam acara bedah novelnya. Novel ini merupakan novel kedua yang ditulis setelah Jodohku dalam Proposal, dan kini hadir Lelaki Pembawa Mushaf (LPM) (Tim Medina Creative Imprint of Tiga Serangka, Solo: 2016, 208 h). Riau sebagai provinsi literasi dalam pelaksanaannya masih harus berjuang keras menjaga serta merawat julukan itu. Baca selengkapnya “Merenangi Bait-Bait Kitab Suci dalam “Lelaki Pembawa Mushaf””