JURNALIS JAWA DALAM PARIKSIT GOENAWAN MUHAMAD

Sofiatun
http://esaisastrakita.blogspot.co.id

Sebuah sajak ditulis dengan berbagai alasan, terutama karena dengan sajak seseorang bisa mengungkapkan sesuatu yang ada dalam hati dan kepalanya sekaligus juga menyembunyikan sesuatu di dalamnya. Sajak adalah sesuatu yang ambigu, yang penuh simbol, yang dalam dirinya terdapat kehendak menyampaikan sesuatu sekaligus menyembunyikan sesuatu. Menulis sajak merupakan sebuah perjuangan yang berat sekaligus menyenangkan bagi penulisnya sebab di situ terjadi pergolakan, pertentangan, kerja keras intelektual, dan tentu saja bukan merupakan hal main-main.

Di dalam sajak akan ditemukan kemuraman, ketegangan yang terus-menerus, kegelisahan yang tak henti-henti, dan perjuangan yang sungguh berat. Menulis puisi dengan demikian bukanlah kerja sembarangan, bukanlah pekerjaan yang sederhana sebab menulis puisi adalah menciptakan “dunia”. Sebuah sajak adalah sebuah “dunia” tersendiri yang merupakan hasil kreativitas penyair dengan segala kekuatan dan kerja kerasnya yang tidak tanggung-tanggung.

Goenawan Mohamad (GM) merupakan orang Jawa yang masa kecil hingga awal dewasanya tinggal di kota kecil yang kental kejawaannya, ternyata tidak melupakan tanah budaya asalnya, bahkan demikian lekat dan terdapat jejak yang dalam pada karya-karyanya. Tidak saja dalam pilihan tema, tetapi yang terasa dan demikian menguasainya adalah nada sajak-sajaknya yang lembut menghanyutkan, seperti sebuah pupuh yang tidak mendayu atau merengek-rengek. Di satu sisi nadanya adalah keriuhan kota-kota yang ingar dan menusuk. Perpaduan antara kelambanan, kelembutan Jawa dengan keriuhan kota-kota besar adalah seperti yang terasa dalam sajak-sajak Goenawan Mohamad (GM). Kita bisa merasakan betapa kuat suasana Jawa yang tenang dan kelembutannya pada potongan sajak ini.

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi.
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari.
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba.
Kudengar angin mendesak ke arah kita
(Di Beranda Ini Angin tak Kedengaran Lagi: Goenawan Mohamad)

Tidak hanya suasana yang ditampilkan oleh GM dalam puisi-puisinya tapi tokoh-tokoh Jawa seperti Pariksit juga ia tulis dalam judul yang sama dengan nama tokohnya. Sajak Pariksit adalah sajak yang prosais, yang menceritakan kisah raja terakhir negeri Amarta Pariksit adalah seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata. Ia adalah raja Kerajaan Kuru dan cucu Arjuna, ayahnya adalah Abimanyu. Dalam kitab Adiparwa, akhir riwayatnya diceritakan bahwa Prabu Parikesit meninggal karena digigit Naga Taksaka yang bersembunyi di dalam buah jambu, sesuai dengan kutukan Brahmana Srenggi yang merasa sakit hati karena Prabu Parikesit telah mengalungkan bangkai ular hitam di leher ayahnya, Bagawan Samiti. Raja ini mati atas kutukan Crenggi melalui tangan Aswatama yang penuh dendam kepada pihak Pandawa karena ayahnya (Dorna) terbunuh oleh pihak Pandawa dalam peperangan dengan Kurawa.

PARIKSIT

Pariksit menunggu hari segera lewat.
Orang-orang pun menunggu batas waktu kutukan Crengi kepadanya berakhir,
hingga baginda bebas dari ancaman kebinasaan oleh Naga Taksaka. Saat
itu hari dekat senja. Raja muda yang disembunyikan di puncak menara itu
tengah tegak, merapatkan diri ke tingkap. Angin bangkit.

……….I
…….Dari rahim waktu, aku tahu kutukan bangkit
ke arah dadaku. Angin masih juga menimpa
dinding menara, penjara dari segala penjara:

ia yang lahir dari busur langit
dan jatuh berpusar ke arah tubuhku yang sendiri.

…….Angin yang purba, yang
semakin purba: dingin dan asing.

…….Jauh di bawahku terpacak rakyatku
menunggu. Mereka yang menyelamatkan, dan juga
menyiksa diriku. Mereka yang mendoa, sementara
aku tiada berdoa. Mereka kini yang punya angin-angin
sendiri, hujan-hujan sendiri, dan duka cita yang
sendiri. Mereka yang tak tahu
kita tak bisa berbagi.

…….(Tapi siksa ini adalah siksa mereka, siksa
mereka yang kuwakili di atas kelemahan tangan-tanganku)
Kini kuhirup bau senja, bau kandil-kandil
dan pesta: pesta pembebasan, tapi juga serapah malu
akan kecut hatiku. Bau yang sunyi, teramat sunyi.

…….Seperti sunyi ini yang menyilangkan kakinya
menantang padaku.

……….II
…….Menara penjara, dan penyelamat jasadku.
Tinggi ia menghujat bumi, mendamik dada ke langit:

keangkuhan besar ke tengah maha alam yang besar.
Karenanya, langit yang sarat warna tiada lagi
tempatku. Dan bumi gemetar meninggalkanku
…….Kini telah kupilih, sebab keluarga dan
rakyat yang kukasih, keselamatan jasadku.

Kini telah kupilih, karena takutku, hari-hari
yang tak memerdekakan hatiku.

…….Dan telah kuhindari Maut, mautku sendiri.
…….Barisan burung-burung yang kian jauh
seakan-akan menyingkirkan diri dari kotaku yang
sepi. Kota yang berbatas gurun, berbatas rimba serta
rumah-rumah pertapa. Kota yang melenguhkan hidup
bila musim pun rekah, dan yang juga melenguhkan hidup
bila tahun-tahun mengatupkan pintu-pintunya.

…….Aku telah lama bernafas dari kandungannya.
…….Telah lama.

Aswatama, mengapa tak kau bunuh dulu
bayi itu? Mengapa kau lepaskan aku?

……….III
…….Maka segeralah senja ini penuh dan
titik mentari terakhir jatuh. Dan kutuk itu datang,
membinasakan dan melebur daku jadi abu.

…….Bukan kegelisahan dahsyat yang hendakkan
semua itu. Bukan siksa menunggu yang menyuruhku.

Tapi kurindukan kemenangan-kemenangan, kemenangan
yang mengalahkan kecut hatiku.

…….Karena memang kutakutkan selamat tinggal
yang kekal. Seperti bila dari tingkap ini
kuhembuskan nafasku dan tak kembali
tanpa burung-burung, tanpa redup sore di pohon-pohon
tanpa musim, tanpa warna, yang menyusup
kulit tubuhku. Juga tanpa laut, yang
jauh menyimak matahari, rimba dan hewan-hewan meriah.

…….Seperti bila langit dan titik-titik bintang
yang halus pun raib bersama harummu, perempuan
dalam telanjang dini hari
…….Pada akhirnya kita
tak senantiasa bersama. Ajal
memisah kita masing-masing tinggal.

……….IV
…….Wahai, adalah dia? (Berderak tingkap tiba-tiba:
tapi angin yang kian dingin yang menguap padaku – angin
dan angin senantiasa.)

…….Jika saja aku selamat, saudaraku, ketika nanti
saat itu lalu, akan masih saja kudukung kiamat dalam
diriku. Pohon-pohon menyambutku, hewan-hewan akan lagi
kuburu: tapi sepi akan tumpah ke nadi-nadiku. Karena
aku telah dibebaskan, tapi juga tak dibebaskan.

…….Dan tak kukenal wajahku kembali.
…….Di ruang ini, kunobatkan ketakutanku. Di menara ini
kuikat hidup-hidup kehadiranku: begitu sunyi, terenggut
dari alam dan nasibku sendiri.

Maka, Taksaka, leburlah aku dalam seribu api!
Dan mati.

……….V
…….Demi matiku, kutunjukkan padamu segala
Yang tak sia-sia ini.

Ketika tiada pernah kubunuh diriku, dan tiada pernah
kuingkari. Dan siksa yang telah diwakilkan padaku,
kudekapkan pada Maut: dan segalanya pun terurai,
seperti musim bunga.

…….Dan di sana kulihat, juga kau lihat:
jentera-jentera yang berbisik ke laut,
berbisik, seperti burung-burung yang mencecah
dan degup demi degup darah
Lalu terasa: di ruang abadi ini
kita akan selalu pergi
dalam nafas panas
yang santai.

Dan setiap kali malam pun tumbuh, juga pagi, siang
dan senja,
dan setiap kali demikian baka, tapi demikian fana
seperti bulan tumbuh
dan cemara
menggigil dingin ke udara.

1963

Sumber: Sajak-sajak Lengkap Goenawan Mohamad 1961-2001, Metafor Publishing, Jakarta, Agustus 2001.

Tokoh mitologi jawa, Raja Pariksit dalam versi cerita yang diciptakan Goenawan, berjudul Pariksit akhirnya berani membuat pilihan yang baik dan benar. Dia terancam kutukan: akan dibunuh sebelum matahari terbenam oleh Naga Taksaka atas pesan seorang Raja Crenggi yang dihinakannya. Pariksit menyembunyikan diri di atas menara, yang diamankan seoptimal mungkin.

……..II
Menara penjara, dan penyelamat jasadku.
Tinggi ia menghujat bumi, mendamik dada ke langit:

keangkuhan besar ke tengah maha alam yang besar.

karenanya, langit yang sarat warna tiada lagi
tempatku. Dan bumi gemetar meninggalkanku
Di sana dia menunggu sendirian, sama sekali terasing dari sesama manusia.

GM menggambarkan kesunyian yang dirasakan Pariksit dibagian I dan IV

I
………….
Kini kuhirup bau senja, bau kandil-kandil
dan pesta: pesta pembebasan, tapi juga serapah malu
akan kecut hatiku. Bau yang sunyi, teramat sunyi.

seperti sunyi ini yang menyilangkan kakinya
menantang padaku.

IV
“… begitu sunyi, terenggut dari alam dan nasibku sendiri”
Tampaknya dia menganggap persembunyiannya berhasil dari kutukan kematiannya.
dan telah kuhindari maut, mautku sendiri.

Tetapi akhirnya Pariksit sadar bahwa pembebasan dari maut yang dicarinya bukan pembebasan yang sungguh-sungguh yang dinobatkan dalam menara itu tidak lain hanya ketakutannya, ketakutan akan: “selamat tinggal yang kekal” yang juga diungkapkan dalam kata-kata lain seperti: “angin yang purba, yang semakin purba: dingin dan asing”

Pada akhirnya dia menyerah “Pada akhirnya kita tak senantiasa bersama, Ajal memisahkan kita masing-masing tinggal” lalu dia menyeru “Maka, Taksaka, leburlah aku dalam seribu api!/ Dan mati.” Sebab maut bagi manusia wajar bahkan “Demi matiku, kutunjukkan padamu segala yang tak sia-sia ini {…} dan segalanya pun terurai, seperti musim bunga”. Dengan penerimaan maut sebagai sesuatu yang wajar manusia dapat menerima lingkaran eksistensi:

Dan setiap kali malam pun tumbuh, juga pagi, siang
dan senja,
dan setiap kali demikian baka, tapi demikian fana
seperti bulan tumbuh
dan cemara
menggigil dingin ke udara

Tidak hanya dalam Pariksit kita bisa menemukan betapa kentalnya kejawaan GM. GM merupakan orang Jawa yang memiliki intelektualitas tinggi tidak memberikan peran kepada tokoh puisinya sebagaimana pada umumnya ia melihat dari kacamata lain yang membuat pembaca merasakan sisi lain dari cerita yang sebelumnya telah didengar tentang tokoh-tokoh jawa. Intelektualitas yang dimiliki GM tidak hanya sebatas pada pemilihan cara pandang tapi juga pada setiap lariknya yang dapat dirasakan sebagai perenungan mendalam tentang bagaimana mengatur pola pikir yang baik. Jika dalam cerita kebanyakan raja Pariksit mati begitu saja setelah digigit naga Taksaka di sini GM memberikan arti lain sebelum hal itu terjadi. GM mengungkapkan kondisi batin Pariksit saat ia menunggu kutukan akan dirinya berakhir bahwa penghindaran akan kematian sebenarnya adalah hal yang sia-sia, jika memang nanti ia bebas dari kutukan kematian itu yang terjadi sebenarnya adalah penundaan saat kematian itu terjadi.

…….Jika saja aku selamat, saudaraku, ketika nanti
saat itu lalu, akan masih saja kudukung kiamat dalam
diriku. Pohon-pohon menyambutku, hewan-hewan akan lagi
kuburu: tapi sepi akan tumpah ke nadi-nadiku. Karena
aku telah dibebaskan, tapi juga tak dibebaskan.
…….Dan tak kukenal wajahku kembali.

Dalam transformasinya, Goenawan seperti berposisi sebagai seorang jurnalis yang memberikan sebuah realitas kepada pembacanya. Namun realitas yang ada dalam sajak Goenawan adalah realitas yang telah mengalami pendalaman, dalam arti dia telah memilih salah satu sudut pandang tertentu yang lebih menukik ke sasaran tema yang dikehendakinya. Di sini, berita sudah menjadi tidak sekedar berita yang hanya mengabarkan permukaan tetapi lebih mengajak ke sebuah perenungan yang dalam tentang sebuah nasib yang tidak bisa ditolak kehadirannya. Meskipun dalam kapasitas raja sekalipun, Pariksit yang penuh pengawalan ketat prajurit dan rakyatnya, jika nasib telah menggariskan dirinya harus mati maka pembunuh itu bisa lolos dari pengawalan dengan leluasa dan mencabut nyawa sang raja.

Dalam sajak Pariksit Goenawan mengungkapkan pandangannya tentang raja yang tak pernah berdoa padahal rakyatnya berdoa mati-matian juga tentang rakyat yang sebenarnya selalu sendiri dan tak dipengaruhi oleh kekuatan pembimbingan raja.

Mereka yang mendoa, sementara aku tiada berdoa.
Mereka yang kini mempunyai angin-angin sendiri, hujan-hujan sendiri, dan duka cita yang sendiri. Mereka tak tahu kita tak bisa berbagi.

Kisah Pariksit tidak sekedar sebuah cerita yang mengungkapkan matinya raja terakhir kaum Pandawa, tetapi Goenawan berhasil mengungkapkan sisi lain yang jauh dan dalam, yang menukik ke dasar kalbu kemanusiaan tentang nasib yang ketika tidak terjadi hari ini maka akan terjadi dihari berikutnya, bukan pasrah yang ia maksudkan tapi keberanian dalam menghadapinya. GM mengungkapkannya lewat seruan yang diwakilkan Pariksit

…….Demi matiku, kutunjukkan padamu segala
Yang tak sia-sia ini.
Ketika tiada pernah kubunuh diriku, dan tiada pernah
kuingkari. Dan siksa yang telah diwakilkan padaku,
kudekapkan pada Maut: dan segalanya pun terurai,
seperti musim bunga.

Hampir semua sajak Goenawan adalah perpaduan antara faktual dan fiksional, sejarah dan dongeng, berita dan kedalaman. Dalam kapasitasnya sebagai jurnalis, intelektual, dan penyair. Dengan demikian sajak-sajak Goenawan adalah sebuah ungkapan intelektual yang mempunyai keberpihakan pada sesuatu yang dilindas dan ditindas kekuasaan. Sajak-sajak Goenawan merupakan bebunyian yang betul-betul mempunyai makna yang dalam, sehingga bukan saja berita yang didapat pembaca tetapi juga sebuah sentuhan terhadap kalbu yang ujung-ujungnya melahirkan pula semacam keikutsertaan pembaca terhadap derita atau realitas yang dikabarkan sajak-sajak itu.

http://esaisastrakita.blogspot.co.id/2013/04/jurnalis-jawa-dalam-pariksit-goenawan.html

Leave a Reply