Melepaskan Ketakutan Shakespeare dari Puisi Misterius Turky

Ilham Q. Moehiddin *
tabloidsastra.wordpress.com

You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains. You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines. You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows. This is why I am afraid; You say that you love me too. (I Am Afraid, William Shakespeare).

PUISI di atas itu sedang terpolemik. Paling tidak, di kalangan para penggemar William Shakespeare, tokoh sastra masyhur dari Britania pada pertengahan abad ke-17. Apabila di Eropa dan beberapa tempat lain, puisi ini cukup menyita ruang debat, agaknya tak demikian ceritanya di Indonesia.

Pertama kali melihat puisi I Am Afraid diterakan atas nama William Shakespeare adalah ketika saya sedang berselancar di internet. Banyak sekali domain pribadi atau kelompok di dunia maya itu yang mendaulat puisi I Am Afraid sebagai milik Shakespeare.

Kendati puisi I Am Afraid terlanjur terpolemik dengan gilang-gemilang, pada dasarnya, apa yang disangkakan itu tak memiliki pijakan yang solid. Terlalu banyak fakta yang dapat membuat para pecinta Shakespeare terlunta-lunta perasaannya, jika mereka akhirnya tahu bahwa puisi I Am Afraid bukan karya Shakespeare. Kendati pula, tak sedikit dari mereka yang menghendaki adanya fakta yang bisa membuktikannya.

Sebagai awalnya, mari kita simak sebuah puisi berbahasa Turky berjudul Korkuyorum di bawah ini:
Ya?muru seviyorum diyorsun, ya?mur ya??nca ?emsiyeni aç?yorsun. Güne?i seviyorum diyorsun, güne? aç?nca gölgeye kaç?yorsun. Rüzgar? seviyorum diyorsun, rüzgar ç?k?nca pencereni kapat?yorsun. ??te,bunun için korkuyorum; Beni de sevdi?ini söylüyorsun. (Korkuyorum, anonim)

Puisi Korkuyorum ini, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maka akan terbaca identik sama sekali dengan puisi I Am Afraid yang tampil lebih dulu di permulaan telisik ini. Entah bagaimana musababnya sehingga ada tera nama Shakespeare pada puisi I Am Afraid. Sejak kapan kejadian ini bermula?

Saya akan mentransliterasi I Am Afraid dan Korkuyorum ke dalam bahasa Indonesia, berikut:
“Kau bilang bahwa kau mencintai hujan, tetapi kau buka payungmu saat hujan. Kau bilang bahwa kau mencintai matahari, tapi kau temukan bayanganmu saat matahari bersinar. Kau bilang bahwa kau mencintai angin, tetapi kau tutup jendelamu ketika angin bertiup. Itulah mengapa aku takut, saat kau bilang bahwa kau mencintaiku juga.” (Aku Takut ~ transliterasi Ilham Q. Moehiddin).

Beberapa Rujukan

Hadirnya sebuah puisi yang didaulat sebagai milik Shakespeare, kemudian ditemukan pula puisi berlarik serupa dalam bahasa berbeda tanpa tera pengkarya, lalu publik memperdebatkannya sebagaimana “satu bukanlah entitas lainnya” atau “satu sama lain tak bersinggungan”, adalah sebuah fenomena unik. Tentu saja, ini akan menarik jika ditelusuri dalam sebuah telisik literasi.

Berbekal metode sama yang telah saya gunakan untuk menelisik keaslian karya Sapardi Djoko Damono, maka hal yang sama saya tempuh untuk mengetahui bagaimana posisi puisi yang sengkarut diributkan itu.

Pertanyaan-pertanyaan awal kemudian bermunculan; sejak kapan puisi ini hadir di tengah publik? Siapa yang menerakan nama Shakespeare sebagai pemilik puisi? Rujukan apa yang tepat untuk mengidentifikasi pemilik sesungguhnya puisi ini? Bagaimana latar belakang bahasa, waktu, dan berbagai fakta lain yang bisa dijadikan patokan untuk keperluan mengidentifikasinya?

Karena karya-karya William Shakespeare sejak awal dikaryakan dalam bahasa Inggris, maka tentunya kita perlu kembali ke bentuk I Am Afraid. Saya perlu melakukan ekstraksi kata yang digunakan, untuk mengetahui sedekat apa gaya bahasa Shakespeare (di era Victorian) perbandingannya dengan bahasa Inggris pada puisi I Am Afraid ini.

Sejujurnya, ekstraksi ini memiliki kelemahan, yakni; tak ada variabel yang mudah dirujuk, apakah ada karya Shakespeare yang bergaya bahasa Victorian yang telah ditransliterasi ke dalam bahasa Turky? Atau, apakah puisi ini tak mengalami pengubahan tata bahasa, yang sejatinya tetap pada gaya menulis Shakespeare, dan bukan pada bentuk bahasa Inggris modern yang digunakan sekarang?

Guna mengatasi kelemahan itu, saya harus memisahkan sejumlah kata induk (atau, gabungan kata) pembentuk badan puisi I Am Afraid –yang saya anggap kecil kemungkinannya mengalami pengubahan–dari kumpulan kata yang umum digunakan sehari-hari saat ini. Cara ini ternyata cukup membantu untuk melihat kedekatan kata-kata itu dengan teks Shakespeare yang sedang kita periksa, khususnya untuk sejumlah kata yang kerap digunakan semenjak pertengahan abad ke-17. Maka kita dapati beberapa kata utama pembentuk badan puisi:

rain, umbrella, sun, shadow-spot, sun-shines, wind, windows, blows, afraid.
(hujan, payung, matahari, titik-bayangan, sinar-matahari, angin, jendela, bertiup, takut).

Berdasarkan kata utama (termasuk gabungan kata) yang kerap digunakan dalam membentuk karya Shakespeare, maka kata-kata umum harus dibuang sementara. Sebab dalam pemeriksaan selanjutnya, kata-kata umum itu akan digunakan sebagai alat untuk memeriksa, tak saja, hanya puisi, tapi juga sejumlah naskah teater. Kita tetap fokus pada puisi Shakespeare, walau tentu saja tak boleh abai pada sejumlah karyanya yang lain. Tetap ada kemungkinan bahwa teks yang kini menjadi puisi I Am Afraid itu, telah dicomot dari salah satu naskah teater/sandiwara miliknya, dan bukan berasal dari 6 (enam) kompilasi puisinya.
***

Berdasarkan karateristik penulisan dan bahasa di zaman di mana Shakespeare hidup dan berkarya, beberapa kata utama dalam puisi I Am Afraid mulai memperlihatkan posisinya.

William Shakespeare, lahir, tinggal, dan wafat di Stratford-upon-Avon, Warwickshire, Inggris, pada rentang tahun 1564 sampai 1616 (termasuk rentang waktu berkarya; pertama menulis pada 1585 dan berhenti pada 1611). Di rentang waktu kreatifnya itu, Shakespeare telah menghasilkan 43 karya, yang tersusun dalam 37 naskah sandiwara (12 tragedi; 16 komedi; 10 sejarah), dan 6 kompilasi puisi (terdiri dari 154 soneta, 2 naratif, dan puisi umum).

Pada zamannya, Shakespeare belajar bahasa Latin, yang didaulat sebagai bahasa umum kaum terpelajar. Ia juga belajar bahasa lain di beberapa sekolah. Saat itu, semua dokumen penting negara, gereja, dan perdagangan, ditulis menggunakan bahasa Latin. Di sekolah-sekolah itu Shakespeare mempelajari karya para penulis dan filsuf Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Berlatar belakang keluarga pengusaha, Shakespeare adalah salah satu warga yang mampu membeli buku-buku dalam berbagai bahasa (Italia, Perancis, Asia Minor, dan Afrika Utara) yang nantinya akan sangat penting dalam proses kreatifnya.

Ia membaca The Golden Ass (Apuleius–sebuah kisah kuno dari Afrika Utara) yang dianggap memberikan inspirasi bagi Shakespeare ketika menulis A Midsummer Night’s Dream. Bahkan cerita Romeo and Juliet, Shakespeare diketahui telah meminjam cerita itu dari seorang penulis Inggris lain yang mengaku mendapatkan kisah itu dari seorang Perancis yang menterjemahkan karya Luigi da Porta, seorang penulis Italia pada abad ke-16. Banyak kisah yang ia baca, di kemudian hari menjadi pondasi bagi karya-karya agungnya.

Kita perlu menemukan sejauh mana Shakespeare terpengaruh oleh karya-karya yang dibacanya untuk melihat kecenderungan bahasa yang ia digunakan saat menulis. Latar belakang masyarakat dan negara di mana ia hidup, patut pula mendapat tempat untuk kita cermati.

Zaman Renaisance–zaman di mana Shakesperae hidup, sepenuhnya diperintah Ratu Elizabeth I yang berkuasa atas Inggris dan Irlandia. Zaman di mana Ratu Elizabeth I memerintah dikenal sebagai zaman damai, sebab tak pernah ada peperangan saat itu. Diplomasi Ratu Elizabeth I membuat posisi Perancis dan Spanyol seimbang di antara Inggris. Kota London begitu padat, ramai, dan penuh peluang. Saat itu, perdagangan berkembang pesat, sehingga gedung-gedung teater dibangun di London, untuk menampung animo besar masyarakat London terhadap seni pertunjukan. Masa damai itu sudah terjadi pada akhir abad ke-15 hingga abad ke-17 di Eropa. Renaisance yang melanda Eropa menjamin bangkitnya kembali pembelajaran klasik, khususnya kebangkitan minat terhadap seni, musik, dan arsitektur.

Kemampuan berbahasa Shakespeare menjadikannya begitu dikagumi kalangan kerajaan. Bahkan Ratu Elizabeth I sangat menyukai karya-karyanya. Ia dianggap mampu membawa bahasa Inggris pada tingkatan tertentu dengan kemampuannya menemukan banyak kosa-kata baru. Shakespeare sangat populer dan kaya. Shakespeare dan para pelaku seni lainnya di London dikenali dengan sebutan “orang-orang raja”, karena kalangan raja kerap datang menonton pertunjukan mereka di gedung Teater Blackfriars–kebiasaan yang dimulai sejak pemerintahan Ratu Elizabeth I sampai Raja James I.

Perihal kemampuan Shakespeare menemukan kosa-kata baru itu, tercatat 1.700 kata baru yang dibuatnya (yang bahkan hingga kini masih digunakan), antara lain: deafening, hush, hurry, downstairs, gloomy, lonely, embrace, dawn.

Ejaan yang digunakan Shakespeare pada zamannya, tentu saja berbeda dari ejaan zaman sekarang. Orang Inggris terbiasa mengeja kata seperti yang tertulis. Jika mereka menulis me dan ingin memberikan penekanan pada kata tersebut, maka kata itu akan dituliskan sebagai mee atau meee (seolah sedang berteriak). Perbedaan pengucapan dan penulisan kata Inggris modern dengan kata Inggris pada zaman Renaisance, adalah alat yang baik untuk mengidentifikasi puisi I Am Afraid yang disengketakan itu.

Contoh lain. Pada beberapa teks karya teater Shakespeare sering kita temukan kata stayed yang dieja stay’d. Kata tersebut akan diucapkan sebagai satu suku kata: steid–sebagaimana ejaan kata Inggris modern–bukan dua suku kata:stei-ed, sebagaimana dalam adab menulis dan pengucapan ala Shakespeare.

Bahasa Inggris modern masih kerap menggunakan motode penulisan zaman dulu, tapi menggunakan ejaan baru. Seperti kata knight, dahulu dieja seperti tulisannya: k-ni-gh-t, dengan 4 suku kata. Dalam budaya oral zaman Shakespeare, penulis sangat peka terhadap detail intonasi, nada suara, dan bunyi yang timbul dalam percakapan, sehingga bahasa Inggris lisan dan tulisan yang digunakan pada zaman Renaisance lebih kaya daripada bahasa Inggris modern.

Itulah mengapa, kata-kata dalam karya Shakespeare masih bertahan, bahkan hampir 400 tahun setelah wafatnya. Kata-kata Shakespeare dianggap paling puitis yang pernah ditulis, bahkan ketika dituliskan dalam pengaruh bahasa Inggris modern. Itu tak terbantahkan. Seperti, penggunaan pound of flesh (ditemukan dalam Merchant Venesia) dan green-eyed monster (ditemukan dalam Othello) adalah beberapa yang cukup terkenal. Tetapi, apakah Anda tahu bahwa Shakespeare adalah yang pertama kali menggunakan kata sifat misplaced (ditemukan dalam King Lear), neighbouring (ditemukan dalamHenry IV, Part 1), obscenely (ditemukan dalam Love’s Labour’s Lost), atau out of work (ditemukan dalam Henry V)?

Belakangan, para ahli bahasa menyebut bahwa derajat bahasa Inggris yang ada sekarang telah turun drastis, sehingga tentunya akan sangat menarik ketika menyimak perbandingan bahasa Inggris modern dengan bahasa Inggris yang digunakan Shakespeare pada masanya. Tata bahasa, tanda baca, dan ejaan sekarang lebih standar tinimbang di abad ke-16 dan ke-17. Namun demikian, harus diakui, bahwa bahasa Inggris modern justru menjadi penerang untuk karya-karya sang “Bard of Avon” itu.

Kita menggunakan konkordansi (membandingkan kata yang ada sekarang dengan kata terdahulu) untuk menemukan relatifitas kata yang digunakan Shakespeare dalam karya-karyanya, sehubungan dengan puisi I Am Afraid. Anda akan melihat betapa banyaknya kata (dalam karya Shakespeare) yang tumpang tindih saat karyanya disadur ke dalam bahasa Inggris modern. Semisal:

Alas, poor. Yorick! I knew him, Horatio; a fellow of infinite jest, of most excellent fancy; he hath borne me on his back a thousand times; and now, how abhorred in my imagination it is! My gorge rises at it. Here hung those lips that I have kissed I know not how oft. Where be your gibes now?

Konkordansi sangat terbantu dengan ketersediaan teks-teks Shakespeare dalam The Complete Works of William Shakespeare (1916, Oxford Dictionaries) yang melimpah dan mudah diperoleh. Termasuk memudahkan mengetahui kata berunsur Bard’s words yang tak berasal dari lemma dan daftar nama semua karakter dalam karyanya.

Menuju Kesimpulan

Setelah melihat kecenderungan menulis dan berbahasa zaman Renaisance–termasuk kemampuan Shakespeare menciptakan kosa-kata baru–disejajarkan dengan teks pada puisi I Am Afraid, maka kata-kata utama yang sudah ada, diekstrak lagi, sehingga tinggal dua kata (atau, gabungan kata) saja: umbrella, shadow-spot.
Perihal kata umbrella ini sungguh menarik disimak. Konkordansi yang dilakukan, tak satupun menemukan kata umbrelladalam karya-karya Shakespeare, kecuali sejumlah kata yang mendekati lemma tersebut: umbra, umber’d, dan umber.

Shakespeare lebih suka menggunakan umbra (bahasa Latin) untuk menyebut payung, sebab pada saat itu kata umbrellabelum dikenal. Kata umbrella baru dikenal pada karya tulis pada tahun 1617–tepat setahun setelah Shakespeare wafat pada tahun 1616.

Tetapi, ada baiknya kita tetap melakukan konkordansi untuk menemukan kecocokan ketiga kata itu pada karya-karya Shakespeare, untuk melihat kemungkinan rujukan kata umbrella pada puisi I Am Afraid dimaksudkan Shakespeare sebagai kata yang bermaksud lain (apabila dilekatkan pada induk kalimat). Perhatikan hasil konkordansi berikut:

Konkordansi kata umbra hanya digunakan satu kali, pada naskah Love’s Labour’s Lost [IV, 2], baris 1.240 untuk karakterHolofernes.

…Fauste, precor gelida quando pecus omne sub umbra
Ruminat,–and so forth. Ah, good old Mantuan! I
may speak of thee as the traveller doth of Venice;
Venetia, Venetia,
Chi non ti vede non ti pretia.

Sedang konkordansi untuk kata umber’d hanya terdapat pada satu bagian dalam naskah Henry V [IV, 0], baris 1.788, untuk karakter Chorus.

Fire answers fire, and through their paly flames
Each battle sees the other’s umber’d face;
Steed threatens steed, in high and boastful neighs
Piercing the night’s dull ear, and from the tents
The armourers, accomplishing the knights,
With busy hammers closing rivets up,

Kemudian, konkordansi untuk kata umber ditemukan satu kali, pada naskah As You Like It [I, 3], baris 518, untuk karakter Celia.

I’ll put myself in poor and mean attire, And with a kind of umber smirch my face; The like do you; so shall we pass along, And never stir assailants.

Kecurigaan sempat terbetik, perihal kemungkinan kata umbrella muncul pada salah satu bagian Soneta 136, atau Soneta 138. Kecurigaan ini dipicu oleh numerik pada link puisi Korkuyorum, di situs Turkish Language Class. Tetapi, kecurigaan tersebut tak terbukti. Numerik pada link puisi Korkuyorum tak korelatif dengan angka-angka pada soneta Shakespeare.

Hal menarik lainnya adalah penggunaan gabungan kata: shadow spot. Menurut ahli bahasa Inggris, gabungan dua kata ini tak tepat dan rancu, kendati pun jika dikatakan sebagai bentuk bahasa Inggris modern. Gabungan kata yang tepat adalah:shadow of spot. Artinya, jika pun Shakespeare harus menggunakan sebuah kata untuk membangun defenisi yang sama terhadap bagian lain dari puisi I Am Afraid, maka Shakespeare akan cenderung menuliskannya: tis, thou, dan lainnya yang lebih bergaya victorian.

Demikian banyaknya anomali yang ada dalam puisi I Am Afraid ketika dirujuk sebagai salah satu puisi Shakespeare, membuktikan bahwa puisi itu bukanlah milik William Shakespeare.

Pada telisik ini, sempat ditemukan sebuah puisi Turky berjudul Korkuyorum yang ditulis oleh Yusuf Ozer. Sayangnya, teks puisinya tak sama dengan puisi Korkuyorum yang sedang dipolemikkan itu.

Maka, dapatlah dikatakan bahwa puisi Korkuyorum adalah puisi yang berdiri sendiri, tak terkait dengan nama besar siapapun, termasuk Shakespeare. Puisi Korkuyorum adalah puisi yang sejatinya sejak awal memang dibuat dalam bahasa Turky dan kemudian diterjemahan ke bahasa Inggris dengan judul I Am Afraid. Perihal siapa yang memasang nama Shakespeare pada puisi itu akan menjadi misteri tersendiri.

Saya membangun kecurigaan pada pemilik situs Turkish Language Class (Free Online Turkish Language Resource), di mana awalnya puisi Korkuyorum (berikut terjemahannya berjudul I Am Afraid) itu ditemukan. Situs ini mulai beroperasi pada Jumat 1 Oktober 2004.

Dari data internet yang berhasil saya dilacak pada situs tersebut, puisi Korkuyorum (dan terjemahan), telah diposting olehAdmin, pada Selasa, 23 November 2004. Administrator situs ini ada tiga orang: Admin (dengan nama asli Fatih Akgul, berlokasi di Amerika Serikat, pria, dan sudah memposting 158 puisi, termasuk Korkuyorum/I Am Afraid); Catwomen(perempuan, tak bisa dilacak nama aslinya); dan Elisabeth (perempuan, dengan nama asli Elisabeth).

Jadi, saya keras menduga bahwa puisi Korkuyorum itu adalah puisi jiplakan atau terjemahan bahasa Turky yang dilakukan oleh Fatih Akgul. Puisi itu kemudian diposting olehnya dengan kredit unknow, untuk menyulitkan orang melacak jejak data pengkaryanya, jika dia berniat melepas puisi I Am Afraid bertera nama Shakespeare ke berbagai situs, dengan tujuan hendak memancing “keributan”.

Logikanya, para Admin biasanya tak akan asal mempublikasikan sebuah produk literasi ke domain dunia maya tanpa tahu siapa pemilik karya tersebut, kecuali hendak diakuinya sebagai miliknya. Itu yang umum terjadi. Anehnya, Admin Turkish Language Class telah mempublikasi karya tersebut tanpa nama pengkarya (berkredit unknow) tapi lupa menghapus data penerjemah. Sungguh ceroboh!

Bukti paling otentik, menarik, dan orisinil perihal puisi I Am Afraid, saya temukan menyebut nama Qyazzirah Syeikh Ariffin, seorang penyair dari Jeddah, Uni Emirat Arab. Wanita kelahiran 1 Oktober 1984 ini, selain menulis, juga berpraktek pengacara kasus pidana di pengadilan Jeddah. Qyazzirah menyukai olahraga Polo dan menunggang kuda.

Qyazzirah menulis I Am Afraid dan tiga puisi lain yang memiliki kesamaan dalam penulisan dan cara pengungkapan, yakni Black Locks, Light after Darkness, dan Roses of Medina.
Lihatlah gaya ungkap dalam puisi Roses of Madina, yang mirip dengan I Am Afraid :

Whenever I commemorate you, all else fades from my mind,
Your phantasm treads on the hills of my mind,
Although a mirage, it assuages my affliction.

I wish your love pervade each second of my life,
And I could soar like spirits and circumambulate your aurora,
And find some way to ooze into your heart.

I avow it is too late to attain your blissful presence,
My heart will ceaselessly be lamenting still,
Forever anticipating you with the freshest hopes.

As my heart flutters as a dove, hankering for you,
I beg you to grant me a plume of yours,
So that I could flag after you forever.

Oh Rose, that turns scorching desert into Eden,
Come and lapse flow into my soul with your enchanting rays of colours,
It is high time your smiles shone on the apples of my eyes.

Let me be a slave, in the quest for you,
Sprinkle embers on my soul, let me burn like furnace,
And be relieved from this rancorous dream elapsing without you.

I count the days I have been severed from you,
That coil about my soul like a gloomy dolor,
Let me see your face before the auspicious twilight unfolds.

Let me see my dusk turn into dawn at my last gasp,
And my heart filled with the newest colour of your horizon,
Lutes would be resounding then, and flutes would be heard.

Oh Muhammad SAW

(Roses of Medina, Qyazzirah Syeikh Ariffin)

Dengan demikian, bahwa puisi I Am Afraid adalah karya penyair Jeddah, Qyazzirah Syeikh Ariffin, bukan puisi karya William Shakespeare, bukan lagu karya Bob Marley, atau bahkan kutipan naskah drama Oscar Wilde. Demikian. (*)

“Who can control his fate?” –Othello (William Shakespeare)

*) Ilham Q. Moehiddin. Menulis puisi, cerpen, esai. Esai dan telisik literasi dan dipublikasikan di sejumlah media. Pendiri dan bergiat pada The Indonesian Freedom Writers. Novelnya “Garis Merah di Rijswijk” masuk sebagai 10 besar Lomba Novel Republika 2011. Ia kini tinggal di Kendari.
https://tabloidsastra.wordpress.com/2014/12/22/melepaskan-ketakutan-shakespeare-dari-puisi-misterius-turky/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *