SASTRA(WAN) GENERASI FACEBOOK

Maman S. Mahayana *
Kompas 22 Apr 2017

Fenomena baru dalam sastra—terutama puisi— Indonesia kini sedang terjadi: lahirnya sastra(wan) generasi Facebook. Keberadaan dan peranan media sosial macam FB–juga Whatsapp—membuka jalan lempang bagi kelahiran mereka. Sebagai ”aliran” FB, kita dapat mencermati adanya kecenderungan karakteristik yang sama pada karya mereka. Sebagian besar, instan, ahistori, narsistik, tanpa seleksi, tanpa kritik (yang baik). Continue reading “SASTRA(WAN) GENERASI FACEBOOK”

Nalar Kritis Nurel Javissyarqi

Adzka Haniina Al Barri
lpmalmillah.com

“Kritik itu semacam ‘saudara tidak muhrim,’ boleh dinikahi dan ketika sudah nikah, masih dapat membatalkan wudhunya. Jikalau kritik dari ‘sesama muhrim,’ dapat disebut nepotisme, bukan ‘kritik’ (karena tak boleh dinikahi), atau pujiannya tidak mempengaruhi nilai. Kritik yang berhasil, sekali sentuh di mana pun akan membatalkan seluruh tubuh bidang yang dikritisi.” (Nurel Javissyarqi, 2011). Continue reading “Nalar Kritis Nurel Javissyarqi”

Perempuan dan Sastra

Dessy Wahyuni
riaupos.co

PEMBAHASAN mengenai perempuan sebagai makhluk sosial tidak kunjung surut. Berbagai hal tentang perempuan itu dapat dikupas. Pembicaraan mengenai perempuan sangat menarik, baik bagi kaum laki-laki maupun bagi kaum perempuan. Daya tarik perempuan banyak menghiasi berbagai ruang dalam kehidupan, baik dalam ruang hukum, sosial, politik, ekonomi, seni, budaya, maupun sastra. Continue reading “Perempuan dan Sastra”