Gaya Bahasa Puisi Afrizal Malna dan James Tate: Sebuah Analisis Bandingan

Ratih Dewi
nyanyianbahasa.wordpress.com

1. Pendahuluan
Sastra bandingan (comparative literature) dalam banyak rumusan atau definisi, umumnya menekankan perbandingan dua karya atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda . Jost dalam membagi-bagi pendekatan dalam sastra bandingan menjadi empat bidang, yakni 1.pengaruh dan analogi, 2. gerakan dan kecenderungan, 3. genre dan bentuk, dan 4. motif, tipe, dan tema . Akan tetapi, dari segi apa pun memandang masalahnya, bisa saja lebih menciut lagi kajiannya, yakni meneliti kemiripan dalam bahasa atau struktur.

Gaya bahasa yang digunakan oleh setiap penulis atau penutur bahasa berbeda-beda. Gaya bahasa merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis . Pada umumnya, perbedaan ini merupakan ciri khas tertentu bagi seorang penulis atau penutur. Sebagai contoh, dalam sebuah puisi, gaya penulisan menekankan unsur yang berkaitan dengan fungsi dalam teks itu sendiri. Gaya bahasa sebuah teks puisi ditentukan oleh maksud ataupun tujuan si penulis yang membuat puisi tersebut. Selain itu, unsur kebiasaan seorang penulis serta unsur kedaerahan juga dapat mempengaruhi gaya bahasa seorang penulis puisi. Dalam kesempatan kali ini, penulis akan membahas kemiripan gaya bahasa puisi-puisi Afrizal Malna dengan James Tate.

Afrizal Malna yang dilahirkan di Jakarta, 7 Juni 1957 merupakan penyair dan esais yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam sastra Indonesia. Sudah banyak karyanya yang diterbitkan, antara lain antologi puisi Abad yang Berlari (1984), Yang Berdiam dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Kalung dari Teman (1999), dan Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2002). Kegelisahan dalam pencarian jati diri Malna banyak dituangkan dalam Abad yang Berlari, sedangkan dalam Yang Berdiam dalam Mikropon, ia semakin kokoh memantapkan diri dengan meluaskan tema puisinya pada tema sosial politik. Pandangan dan pemikirannya tentang realitas sosial—seringkali dari kacamata filsafat—mewarnai puisinya dalam karya-karya selanjutnya, terlebih pada karya terbarunya, yaitu Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing.

Adapun James Tate lahir pada tahun 1943 di Kansas City, Amerika. Tahun 1967 ia menjadi juara pertama dalam Yale Younger Poets Competition dan menerbitkan antologi puisi pertamanya berjudul The Lost Pilot. Kemunculan Tate di akhir ’60-an bersamaan dengan merebaknya paham postmodernisme di Amerika, terutama yang berkenaan dengan manifesto dalam pop art (seni pop) yang mempertanyakan hakikat seni tinggi dan seni rendah . Oleh karena itu, tren yang berkembang ketika itu, neo surealisme, absurd, dan dadaisme, mempengaruhi karya-karya Tate—seorang penyair muda yang liar, imajinatif, dan intuitif untuk membebaskan bahasa dari sistem ketatabahasaan konvensional. Sejak 1970, Tate menjadi dosen sastra di Universitas Massachusetts di Amhert.

2. Gaya Bahasa dalam Puisi Malna dan Tate

Sebelum membahas gaya bahasa dalam puisi Malna dan Tate, berikut ini adalah dua contoh puisi tiap-tiap penyair.

Restoran dari Bahasa Asing

Aku dengar batu dilemparkan ke ruang tamu. Paru-paru penuh sapi, mencari jalan raya dan megapon. Tak ada orang sikat gigi malam itu, atau menyisir rambut, seperti dugaanmu penuh batu dari masa lalu. Mulutku penuh lendir, virus stadium lima, menyusun biografimu dari sepatu. Seperti pikiranmu yang mencari tanah air selalu: penuh serdadu, kapal dagang, dan anti-biotika.

Ah, ada tamu yang lain, bikin restoran dari bahasa asing. Mereka saling menggosok sepatu di tiang listrik. Padahal aku telah jadi dirimu juga, ikut bernyanyi pula lagu-l;agu sendu, dengan baju sertaus ribu. Mengenakan juga gaya hidup Ani, di antara Sri dan Ayu: Fajar yang tenggeleam dalam tubuhmu. Di situ aku dengar bahasa tak henti-henti jadi orang asing, penuh lemari, kursi, gas dan minyak.

Aduh, udara penuh cemburu, tali sepatu, kaos kaki, obrolan tiga ribu perak. Tetapi aku dengar kepalamu berevolusi jadi jamur, jadi batu, jadi kamar mandi di malam hari. Ah, koran pagi, terasa jadi tiang listrik di situ, untuk pernytaan politik, tiga ribu perak.

Udara penuh hair spray, virus terluka. Aiih, mari, jangan sombong. Kepalamu penuih batu, menghuni ruang tamu tak terjaga. (1991)

The Wheelchair Butterfly

O Sleepy City of reeling wheelchairs
Where a mouse can commit suicide if he can

Concentrate long enough
On the history book of rodents
In this underground town

Of electrical wheelchairs!
The girl who is always pregnant and bruised
Like a pear

Rides her many-stickered bicycle
Backward up the staircase
Of the abandoned trolleybarn.

Yesterday was warm. Today a butterfly froze
In midair; and was plucked like a grape
By a child who swore he could take care

Of it. O confident city where
The seeds of poppies pass carfare.

Where the ordinary hernots in a human’s heart
May slumber and snore, where bifocals bulge

In an orange garage of daydreams,
We wait in our loose attics for a new season

As if for an ice-cream truck.
An indian pony crosses the plains.

Whispering Sanskrit prayers to a crater of fleas.
Honeysuckle says: I thought I could swim.

The Mayor is urinating on the wrong side
Of the street! A dandelion sends off sparks:
Beware your hair is locked!

Beware the trumpet wants a glass of water!
Beware a velvet tabernacle!
Beware the warden of light has married
An old piece of string!

Jam Kerja Telepon

Ini bicara dengan Merlin. Saya Merlin. Tetapi Merlin tak ada di mana-mana. Merlin sedang jadi bintang. Merlin sedang jadi bintang. Saya ciptakan orang-orang dari obat tidur. Tetapi suaramu parau, Merlin. Saya menelanjangi diri sendiri, seperti menelanjangi dunia yang minta saya jadi Merlin.

Tetapi Merlin tak ada dimana-mana, seperti dunia tak ada di mana-mana, seperti orang tak ada di mana-mana. Merlin telah jadi pamflet dari keinginan jadi manusia. Tolong sambungkan saya dengan dunia mana pun, Merlin. Saya Merlin. Tetapi Merlin tak ada di mana-mana, Tidur. Kau menangis, Merlin. Saya menyaksikan orang-orang lahir dari telepon. Mereka memaksa saya jadi Merlin. Mereka memaksa saya jadi merlin. Dan saya meneguknya dalam putaran: Pil!

Saya mencium bau busuk dari telepon. Saya kehilangan kontak. Saya tercekik. Saya bukan Merlin. Merlin telah jadi ibu, Merlin telah jadi ibu, dalam TV-TV merah kuning hijau biru dan sepi. (1986)

Breathing

I hear something coming,
Something like a motor-cycle,
Something horrible with pistons awry,
With camshafts about to fill the air
With redhot razot-y shrapnel.
At the window, I see nothing.
Correction: I see two girls.

Playing tennis, they have no
Voices, only the muted thump
Of the ball kissing the racket,
The souns of a snowball
Hitting a snowman, the sound

Of a snowman’s head rolling
Into a river, a snowman with
An alarm clock for a heart
Deep inside him. Listen:
Someone is bearthing.

Someone has a problem
Breathing. Someone is blowing
Somoke through a straw.
Someone has stopped breathing.
Amazing. Someone broke
His wrist this morning,
Broke it into powder.
He did it intentionally.
He had an accident

While breathing.
He was exhaling
When his wrist broke.
Actually

It’s a woman breathing.
She’s not even thinking
About it. Shes’s thinking
About something else.

Setelah membaca keempat puisi di atas, ada beberapa keunikan dalam pengeksplorasian bahasa dari kedua penyair, Malna dan Tate, yaitu 1. penggunaan simbolisasi yang tidak umum, 2. permainan logika, 3. pengalihan fungsi kata dalam kalimat, 4. pembentukan personifikasi kebendaan, dan 5. penggunaan sinestesia yang khas.

3. Malna dan Tate: Puisi Konkret Bertema Absurd
Para pengamat sastra, seringkali mengkategorikan jenis puisi Malna dan Tate ini sebagai salah satu contoh dari puisi konkret. Pada hakikatnya, sesuatu yang disebut ‘konkret’ dalam karya sastra merupakan pemahaman yang berbeda, sesuatu yang nyata, dan terkadang tidak dapat dituliskan. Benson dan Connly dalam Encyclopedia of Post-Colonial Literatures in English mendefinisikan puisi konkret sebagai puisi yang mementingkan bentuk grafis dari huruf, kata, atau simbol daripada makna kata dalam ketentuan konvensional . Kemunculan puisi konkret yang marak tahun ’60-an terinspirasi dari gerakan Dadaisme dan Surealisme.

Menurut Benson dan Connloy, puisi konkret seringkali tidak dapat dibaca dan esensinya berada pada penampakan wujudnya di atas kertas, bukan dari kata-kata atau susunan unit tipografi (seperti huruf atau simbol) yang membentuknya . Nyoman Tusthi Eddy, juga mengartikan puisi konkret sebagai puisi yang lebih menonjolkan bentuk visualnya dibandingkan ungkapan verbalnya . Menurutnya, tipografi atau tatanan bentuk dalam puisi konkret diatur dengan cermat sehingga menarik untuk dilihat.

Sebaliknya, jika kita melihat lagi puisi-puisi Malna dan Tate, di atas kertas tidak ada tipografi atau susunan huruf, kata, dan simbol yang menonjolkan visualisasi. Namun demikian, tipografi dan visualisasi itu terbayang di benak kita, misalnya ketika kita membaca “mulutku penuh lendir, virus stadium lima…” atau “in an orange garage of daydreams…”. Oleh karena itu, pemahaman tentang puisi konkret harus lebih diperluas lagi, tak sekadar tipografi atau visualisasi di atas kertas, tetapi juga dalam pikiran pembaca.

Di samping hakikatnya sebagai puisi konkret, ada kesan keabsurdan dalam puisi-puisi Malna dan Tate. Menurut Esslin, karya-karya absurd mencoba menggambarkan perihal kehidupan dunia sebagai tempat yang tidak terpahami . Dari masalah ini, kemudian muncul hal-hal yang tidak masuk akal, menentang konvensi, keluar dari harmoni, tidak konsisten, dan lain sebagainya.

Sementara itu, untuk memahami puisi Malna dan Tate, pembaca harus belajar melihat puisi-puisi tersebut berdasarkan objeknya—teks itu sendiri—bukan refleksi atau representasi atas sesuatu yang lain. Bahasa memang bersifat referensial, tetapi Malna dan Tate mendesak pembaca untuk memutarbalikkan anggapan tentang referensialitas. Ketika kita membaca, sebagai contoh dalam puisi Tate, “sleepy city of reeling wheelchairs”, kita mengerti bahwa kota yang dimaksud bukanlah definisi kota yang kita pahami, tetapi bentuk metafora baru—ada semacam reinterpretasi di dalamnya.

Contoh lain dalam puisi Malna, “paru-paru penuh sapi, mencari jalan raya dan megapon”, sekilas tampak tidak masuk akal dan apabila kita bersikeras untuk mencari hubungan antar kata dalam kalimat itu, kita akan merasa frustasi. Akan tetapi, rasa frustasi itulah yang membuat puisi-puisi itu menjadi lebih ‘bermakna’ dengan penggunaan bahasa imajinatif, yang melepaskan kita dari ‘kententuan-ketentuan konvensional’ tentang bahasa dan makna.

Hal-hal yang terjadi saat kita membaca puisi-puisi kedua penyair itu seringkali terasa absurd dan konkret. Ketika membaca puisi, biasanya kita akan membayangkan dan merasakan sesuatu yang jelas, entah kebahagiaan entah kemuraman. Namun, puisi Malna dan Tate menghadirkan sesuatu yang lain—kebingungan dan keanehan, terkadang kesia-siaan.

Hal ini mengingatkan kita pada tema keabsurdan dalam prosa dan drama karya Putu Wijaya atau Waiting for Godot karya Samuel Beckett. Puisi adalah ungkapan rasa spontanitas dari penulisnya, sehingga dapat mengejutkan pembacanya karena merasakan hal yang sama dengan penulisnya. Itulah yang terjadi ketika kita membaca karya-karya Malna dan Tate.

Daftar Pustaka

Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar dalam Memahami Bahasa Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
Aveling, Harry, terj. Wikan Satriati. 2003. Rahasia Membutuhkan Kata. Magelang: Indonesiatera.
Benson, Eugene, L.W. Conolly. 1994. Encyclopedia of Post-Colonial Literatures in English. London & New York: Routledge.
Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa.
Eddy, Nyoman Tusthi. 1991. Kamus Istilah Sastra Indonesia. Ende: Nusa Indah.
Friebert, Stuart, David Young. 1989. The Longman Anthology of Contemporary American Poetry. New York & London: Longman.
Kostelanetz, Richard, ed. 1964. Contemporary Literature. New York: Avon Books.
Mahayana, Maman S. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia. Jakarta: Bening.
Malna, Afrizal. 1990. Kumpulan Puisi: Yang Berdiam dalam Mikropon. Jakarta: Medan Sastra Indonesia.
——————. 1995. Kumpulan Puisi: Arsitektur Hujan. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
https://nyanyianbahasa.wordpress.com/2009/08/11/gaya-bahasa-puisi-afrizal-malna-dan-james-tate-sebuah-analisis-bandingan/

Leave a Reply