Hari Sastra Nasional Dilihat Secara Sosiologis

Jakob Sumardjo
Pikiran Rakyat, 6 Jan 2001

Kesusastraan adalah masalah nilai, yaitu nilai estetika. Dan apa yang disebut “sastra” itu berbeda-beda untuk tiap orang, tiap kelompok dan tiap masyarakat. Karya sastra yang dibaca oleh seorang mahasiswa Fakultas Sastra, berbeda dengan sastra yang dibaca oleh seorang penjaga kios rokok. Kalau penjaga kios itu disodori bacaan mahasiswa, kemungkinan besar dia akan mengatakan, bahwa itu bukan bacaannya. Begitu pula mahasiswa sastra itu tentu akan menilai apa yang dibaca penjaga kios itu sebagai bukan “sastra”. Apa yang disebut kesusastraan itu adalah sesuatu yang mengandung nilai-nilai yang diharapkan atau dibutuhkan oleh seseorang. Nilai-nilai apa yang dicari dalam sebuah “karya sastra” oleh seorang mahasiswa sastra, berbeda dengan nilai-nilai yang dicari oleh seorang penjaga kos rokok, berbeda dengan nilai-nilai yang dicari oleh seorang sekretaris perusahaan, berbeda dengan seorang petani yang malam harinya menonton dalang jemblung.

Lantas, apakah yang kita maksud dengan Hari Sastra ini? Apakah kita akan merayakan pesta sastra bagi semua golongan sosial itu, atau apakah kita hanya akan merayakannya untuk golongan mahasiswa sastra tersebut? Kalau Hari Sastra hanya melulu merayakan nilai-nilai sastra bagi kelompok mahasiswa sastra itu, bukankah ini berarti kita telah melakukan otorisasi? Kita menginginkan, pada Hari Sastra Nasional, agar semua orang membaca sajak-sajak Chairil sampai Goenawan, agar novel-novel Iwan Simatupang dan Saman dibaca oleh sebanyak mungkin orang. Itulah maksud kita dengan Hari Sastra ini? Apakah kita bermaksud agar pencetakan novel-novel terjemahan semacam Agatha Cristie atau S Mara Gd semakin berkurang? Apakah peneribitan murahan seperti Wiro Sableng itu dihapuskan saja? Apakah Hari Sastra Nasional ini hanya untuk kelompok mahasiswa fakultas sastra tersebut?

Sastra, seperti halnya juga seni pada umumnya, bukanlah nilai-nilai yang homogen. Kalau di lingkungan mahasiswa sastra saja masih terjadi perdebatan apa yang seharusnya disebut “sastra” itu, mengapa kita memaksakan nilai-nilai sastra kita kepada kelompok-kelompok nilai lain? Memang, apa yang kita nilai sebagai sastra di Indonesia, ternyata dinilai sebagai sastra juga di negeri Belanda. Apa yang dinilai “bukan sastra” di Belanda, kita juga sepakat bahwa itu bukan sastra, tetapi hanya karya picisan saja. Lantas kita percaya bahwa ada nilai-nilai universal dalam sastra. Keuniversalan nilai-nilai seni atau sastra itu memang ada, karena manusia di mana pun dan kapan pun itu struktur mental dan spiritualnya memang sama. Kadang juga terjadi, bahwa apa yang dibaca oleh sekretaris bank itu menarik juga untuk mahasiswa sastra, dan apa yang digemari oleh para petani di desa ternyata juga punya nilai buat kita. Apa yang dibaca oleh mahasiswa sastra itu dapat digemari pula oleh penjaga kios rokok tadi. Tetapi tidak semua yang digemari oleh mahasiswa sastra tadi digemari pula oleh setiap ibu rumah tangga. Mungkin satu dua sajak Chairil Anwar, Goenawan Mohammad, digemari oleh anggota DPR, tetapi tidak semua yang kita baca dibaca juga oleh mereka. Selalu ada beberapa karya sastra dari berbagai kelompok nilai yang lolos dari nilai-nilai kelompoknya dan menjadi bagian dari kelompok-kelompok nilai lain. Biasanya karya-karya lintas nilai semacam itu memang mengandung nilai-nilai orisinalitas, spontanitas, organik yang mengendap dalam struktur mental manusia di mana saja.

Tetapi yang lebih penting dicatat dari hal-hal yang bersifat genetik atau bawaan semacam itu, bahwa nilai-nilai hidup ini sebagian besar dimiliki seseorang melalui proses pendidikan. Kita menghargai nilai-nilai yang sama dengan orang Belanda, karena kita dididik oleh nilai-nilai sastra yang sama. Orang Belanda membaca Shakespeare, mahasiswa kita itu juga membacanya. Mahasiswa sastra Amerika membaca buku Rene Wellek, mahasiswa Indonesia juga membacanya. Tetapi sajak-sajak TS Eliot tidak dibaca oleh para pelajar Indonesia, meskipun dibaca oleh para penyair Indonesia. Inilah sebabnya, sajak-sajak penyair Indonesia diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Prancis atau Jerman, tetapi tidak dibaca oleh anak-anak SMU kita.

Nilai-nilai estetika universal tentu ada, tetapi bersifat personal. Kalau kita berbicara tentang Hari Sastra Nasional, tentu kita akan menghubungkan nilai-nilai universal ini dengan masyarakat luas yang heterogen nilai-nilai hidupnya ini. Dalam praktek hidup, kita menyaksikan adanya wacana-wacana nilai yang berbeda-beda. Apa yang dibaca oleh penjaga kios dari penyewaan buku di kampungnya itu sama sekali tidak dilirik oleh mahasiswa sastra. Sebaliknya juga demikian, apa yang dibaca oleh mahasiswa sastra tidak dilirik oleh penjaga kios. Seorang pelukis marah-marah kepada istrinya karena ia menggemari telenovela yang ditayangkan pada jam-jam masak. Sebaliknya, sang istri juga tak peduli tentang lukisan-lukisan suaminya, kecuali lukisan itu mendatangkan uang buat keluarga.
***

Nilai adalah sesuatu yang kita hargai, kita junjung tinggi, karena sesuatu itu kita butuhkan, kita impikan dan ingin kita wujudkan dalam hidup ini. Nilai adalah sesuatu yang kita menyatakan ya kepadanya. Dan karena nilai itu sesuatu yang kita butuhkan dan kita inginkan, maka sesuatu itu tentu berada di luar diri kita masing-masing. Dengan demikian nilai itu bersifat sosial juga. Sesuatu yang kita junjung tinggi, tetapi tak ada seorang pun yang bersepakat dengan kita, maka berarti sesuatu itu sama saja tidak bernilai. Semakin banyak orang lain yang menyetujui nilai-nilai kita semakin kuatlah nilai kebenarannya. Semain berhargalah sesuatu yang mengandung nilai tersebut. Akibatnya terdapatlah kelompok-kelompok nilai. Dan kelompok nilai tersebut selalu merupakan suatu sistem, suatu unsur kelompok nilai berhubungan kepentingan dengan unsur kelompok nilai yang lain.

Kalau nilai-nilai sastra pada seseorang saja berbeda dengan nilai-nilai sastra seseorang yang lain, mengapa tidak mungkin terjadi adanya kelompok nilai yang kecil maupun yang besar? Bacaan sastra penjaga kios rokok tadi mungkin saja dibaca oleh tukang-tukang ojek yang sedang menunggu penumpang, atau digemari juga oleh para pembantu rumah tangga, atau oleh seorang pelajar sekolah menengah, atau bahkan diam-diam dibaca oleh seorang bos perusahaan yang menunggu negosiasi dengan rekan bisnisnya. Dengan demikian, kelompok nilai sastra tidak tergantung dari pembagian sosial menurut pendidikan dan tingkat ekonominya. Semua itu tergantung dari sikap hidup seseorang dalam menghargai nilai-nilai sastra melalui pendidikannya, atau apa yang diperolehnya dari orang-orang sekitarnya. Pendidikan dan pengalaman nilai-nilai sastra inilah yang menentukan ia masuk kelompok nilai yang mana.

Karena nilai-nilai seni atau sastra itu berhubungan dalam satu sistem dengan nilai-nilai hidup yang lain, maka faktor pendidikan dan ekonomi ada pengaruhnya juga dalam menanamkan nilai-nilai seni pada seseorang. Juga lingkungan sosial hdiup seseorang berpengaruh dalam menanamkan nilai-nilai sastra. Lalu sistem sosial, ekonomi dan pendidikan yang mana yang melahirkan sistem nilai sastra yang kita anut dan kembangkan sekarang ini?

Sastra modern Indonesia seperti tercermin dalam karya-karya novel, cerpen, puisi, esei, drama tidak berasal dari masyarakat Indonesia sendiri sejak dahulu kala. Nilai-nilai sastra modern semacam itu baru menjadi sistem nilai kelompok di Indonesia, ketika sebagian masyarakat Indonesia mengenal pendidikan formal dan non-formal Barat (Belanda dan Inggris). Karena berkembangnya pendidikan semacam itu dimulai dalam pertengahan abad 19, maka nilai-nilai baru dari Barat mulai dimiliki oleh kelompok-kelompok bangsa ini. Hasilnya, mulai akhir abad 19 tersebut telah muncul “sajak” modern, cerpen, novel, drama dan artikel-artikel secara baru tersebut. Siapakah pendudkung nilai-nilai sastra yang baru ini? Mereka adalah para guru, murid, pamong praja, pekerja kesehatan, pegawai-pegawai jurnalis yang bermunculan sebagai golongan baru berdasarkan pendidikan, tingkat ekonomi dan pergaulan sosialnya. Kebanyakan mereka ini tinggal di kota-kota, sehingga sastra baru ini juga berbasis di kota-kota pemerintahan, perdagangan, pergaulan internasional.

Nilai-nilai sastra baru ini mereka peroleh melalui pendidikan formal di sekolah maupun non-formal di media massa cetak. Pertumbuhan nilai-nilai sastra baru ini dimulai dengan penceritaan kembali kisah-kisah tradisi lama etnik dalam cara penulisan baru, kemudian terjemahan-terjemahan atau saduran, dan akhirnya melahirkan sendiri karya-karya modern yang asli, berupa cerpen, drama, novel dan esei. Sementara puisi masih berdasarkan “pantun” dan “syair”. Persajakan Indonesia baru berkembang tahun 1920-an. Gejala nilai-nilai sastra baru ini bermunculan dalam bahasa daerah, Melayu rendah, Belanda dan Indonesia. Karena kaum terdidik Indonesia memang menempati lintas budaya demikian itu.

Orientasi nilai sastra mereka adalah Barat. Gejala ini tampak dari usaha mereka untuk menterjemahkan karya-karya sastra Barat di dunia pendidikan dan jurnalisme, atau banyak membaca dan mempelajari karya-karya sastra Barat itu sendiri dalam bahasa Belanda atau aslinya, bagi yang berpendidikan menengah dan tinggi. Pendidikan formal zaman Belanda ini, dengan sendirinya memberikan pelajaran sastra menurut penilaian sastra masyarakat Belanda sendiri. Apa yang dinilai sastra di Belanda, diajarkan di Indonesia. Jadi, sejak semula orientasi nilai-nilai sastra kita adalah nilai-nilai sastra Barat. Dan nilai-nilai sastra Barat yang kita anut adalah nilai-nilai sastra elit budaya mereka, meskipun hal ini sering terlambat tiba di Indonesia. Tetapi, terlambat atau tidak, nilai-nilai sastra baru kita itu merujuk pada perkembangan nilai-nilai sastra di Barat, Amerika, Eropa, Rusia, dan Asia modern.

Pendidikan menengah zaman Belanda di Indonesia adalah pendidikan kelas elit terpelajar baru, sehingga pendidikan seni musik Barat, seni rupa Barat dan seni sastra Barat, merupakan bagian pembentukan budaya elit Indonesia. Tidak mengherankan apabila musik Barat (piano), seni rupa Barat (lukisan dinding), sastra Barat (dalam bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Jerman) menjadi simbol golongan elit terpelajar ini. Dasar hidup kaum terpelajar ini adalah pendidikan dan ilmu pengetahuan. Semakin tinggi pendidikannya, semakin luas dan dalam ilmunya, semakin tinggi kedudukannya dalam masyarakat. Dengan demikian, fungsi seni bagi golongan ini adalah sejalan dengan perkembangan intelektual mereka. Objek seni, seperti objek ilmu pengetahuan, adalah diskusi serius tentang masalah-masalah hidup. Seni, seperti ilmu, harus terus berkembang dan maju sesuai dengan tuntutan hidup intelektual mereka yang terus menerus berjuang untuk memberi makna kepada realitas. Fungsi seni adalah pengembangan budaya. Berkesenian, bersastra adalah bagian dari kegiatan membina dan mengembangkan kebudayaan kelompoknya. Inilah sastra untuk kelompok elit budaya yang terpelajar itu.

Namun, setelah kemerdekaan, penggolongan tegas antara mereka yang terpelajar dan tidak terpelajar menjadi cair. Sistem pendidikan Belanda tetap dilanjutkan, dengan berbagai modifikasi, tetapi intensitas pendidikan seninya tidak dijalankan seperti zaman penjajahan. Ini dapat dimaklumi, karena jumlah peserta didik meledak secara tiba-tiba, sehingga sarana dan prasarana pendidikan formal juga kurang disiapkan. Pendidikan seni dan sastra secara elit budaya di zaman penjajahan tidak dapat diselenggarakan sebagaimana zaman dahulu. Hal ini meliputi, tenaga pendidiknya yang kurang terlatih dan terdidik secara profesional, buku-buku ajar yang belum tersusun langkanya penyediaan karya sastra di sekolah-sekolah.

Kondisi yang demikian itulah yang menyebabkan pendidikan nilai-nilai elit budaya kurang tergarap baik sejak kemerdekaan. Bukan hanya pendidikan kesenian dan sastranya yang dikeluhkan sebagai merosot dibanding zaman kolonial, tetapi juga pendidikan ilmu pengetahuan pada umumnya. Merosotnya pendidikan sastra adalah bagian dari merosotnya mutu pendidikan elit budaya umumnya. Kalau ilmu pengetahuan saja sudah bukan merupakan diskusi serius terhadap realitas dalam usaha memberi makna terus menerus kehidupan ini, bagaimana sastra dapat diangkat menjadi bagian dari wacana budaya. Akhirnya pendidikan sastra dalam kelompok elit budaya ini jatuh ke tangan kelompok nilai sastra populer dan sastra massa yang ditawarkan secara empirik (pengalaman) oleh keadaan.

Sastra populer tidak berpretensi berdialog dengan realitas, bahkan meninggalkan realitas menuju impian-impian (eskapisme). Kalau pun jenis sastra ini masih berurusan dengan realitas, maka tugasnya adalah memantapkan nilai-nilai realitas yang ada. Ia tidak mempertanyakan realitas seperti sastra kaum elit budaya. Apalagi tugas menawarkan alternatif-alternatif nilai baru dalam menghadapi realitas. Fungsi sastra lantas hanya tertuju pada aspek estetika seni populernya, yakni kesenangan atau hiburan. Dilihat dari tugasnya yang meneguhkan nilai-nilai masyarakatnya yang ada, maka sastra populer sering cenderung menjadi didaktis. Inilah sebabnya, sastra populer di lingkungan kaum terpelajar masih kuat apresiasinya terhadap nilai-nilai ilmu pengetahuan. Tidak mengherankan apabila jenis novel detektif dihargai di sini, karena mutu logikanya yang sering hadir. Jenis fiksi ilmiah juga masuk kategori ini. Dan terjemahan novel-novel techno-thriller dari Amerika dan Eropa, sebenarnya memenuhi kebutuhan nilai-nilai sastra populer di lingkungan kaum terdidik. Sastra populer semacam ini mengandung nilai-nilai yang dicari oleh kaum terpelajar kota yang kurang kuat orientasi budayanya.

Sastra bagi mereka adalah bagian dari kesenangan seperti tamasya, dan tidak perlu menyangkut pertanyaan-pertanyaan psikologi, politik, sosial, antropologi yang lebih baik dicari di buku-buku ilmu pengetahuan untuk itu. Mengapa agama harus dipermasalahkan lewat sastra? Ini disebabkan nilai-nilai hidup mereka adalah pragmatis. Mereka terpelajar secara profesional, tetapi tidak secara budaya. Meskipun nilai-nilai estetik mereka dekat dengan nilai-nilai sastra elit-budaya, tetapi minat budayanya tak ada.

Jenis sastra populer yang lain adalah sastra-massa, atau sering disebut kitsch. Jenis sastra ini tidak mengenal tingkat pendidikan. Estetikanya juga tidak merujuk kepada estetika sastra elit-budaya atau sastra populer biasa. Mereka membangun estetikanya sendiri berdasarkan kebutuhan aktual zamannya. Mereka bermain di dunianya sendiri yang massal, melewati batas-batas pendidikan, ekonomi dan sosial. Orientasi pada realitas juga tidak penting seperti dalam novel populer kaum terpelajar. Nilai eskapisme dipentingkan. Kalau dalam estetika sastra populer yang biasa, nilai ilmu pengetahuan masih penting, maka dalam jenis sastra-massa ini tak begitu penting. Logika empirik juga sering dilanggar, dalam arti bebas memasukkan berbagai macam kategori dalam karya mereka. Nilai-nilai yang dikotomis amat digemari.

Sesuai dengan kondisi dan perkembangan masyarakat kota di Indonesia, maka muncul gejala sastra populer Indonesia yang bersifat kitsch ini. Ada golongan kitsch yang berorientasi kepada nilai-nilai budaya populer dan elit kota, ada yang orientasinya kepada budaya rakyat urbanis. Jenis novel-novel Lupus dapat dimasukkan dalam kategori pertama, sedang Wiro Sableng dan cerita-cerita silat Indonesia masuk kategori kedua.

Begitulah panorama jenis-jenis sastra yang berkembang di Indonesia. Semua jenis tersebut memiliki masyarakat pembacanya sendiri yang menganut sistem nilai-nilai sendiri pula. Boleh saja lingkungan sastra elit-budaya menilai rendah sastra lingkungan nilai lain, tetapi ini tidak akan mengubah situasi. Mengubah selera sastra mereka, berarti mengubah sistem tata nilai mereka. Jadikanlah mereka berpendidikan cukup tinggi dengan orientasi budaya yang memadai, maka nilai-nilai dalam sastra yang mereka cari akan sesuai dengan sistem nilai budaya elit mereka.

Jadi, Hari Sastra Nasional harus memikirkan pula keberadaan kelompok-kelompok nilai sastra lain tersebut, yang mungkin daya hidupnya lebih kuat dan mandiri. Memang, bagaimanapun kita semua menginginkan terbentuknya masyarakat dengan orientasi nilai-nilai tinggi. Dan itu tidak dapat dilakukan dengan jalan “memusuhi”, tetapi dengan jalan “memahami”. Dan dengan memahami, kita dapat menjalankan visi dan misi kita secara strategis.
***

https://gudangperpus.wordpress.com/2014/10/10/hari-sastra-nasional-dilihat-secara-sosiologis/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*