Posisi Kesenian Modern Indonesia

Gunoto Saparie
Pikiran Rakyat, 27 Jul 1995

Setelah merdeka selama 50 tahun, di manakah posisi kesenian modern Indonesia? Para seniman Indonesia modern agaknya harus mengakui, bahwa posisi kesenian modern kita tetap bagaikan berada di menara gading. Seni modern kita adalah seni minoritas, elite, yang terasing dari masyarakat. Kesenian kita, seperti pernah dikatakan Emha Ainun Nadjib, adalah gerak yang meyakini sikap tanpa pamrih. Artinya, berkesinan tanpa tujuan apa-apa, kecuali untuk kebahagian individual. Tujuan kulturasi dianggap sebagai pretensi moral yang muluk. Kesenian kita adalah satu bidang kehidupan yang menelan bermiliar rupiah tetapi dengan ekslusivisme nilai-nilai.

Perumpamaan yang diberikan Darmanto Jatman tentang posisi para penyair Indonesia kini juga tepat untuk menggambarkan wajah kesenian modern kita. Masa ini, kata Darmanto, adalah masa Gethsemane untuk penyair-penyair Indonesia. Ingat masa itu? Tengah malam, ketika Jesus berlutut dengan peluh darah, mohon supaya ia tidak usah minum cawan itu. Supaya ia terhindari penyaliban! Tetapi tengah hari kemudian, di atas salibnya, ia berteriak keras: Elio, Elio, lama sabachtani! Bapa, Bapa, kenapa Kautinggalkan daku! Begitulah penyair-penyair Indonesia, sebelum mereka berteriak memanggil kebudayaan dan masyarakatnya dari atas salib mereka.

Goenawan Mohamad pernah menulis esei ‘Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang’. Malin Kundang adalah pemuda durhaka yang dikutuk oleh ibunya menjadi batu. Esei ini sangat menarik, karena posisi Malin Kundang itu bukan hanya potret Goenawan atau potret para penyair Indonesia modern saja, namun juga potret para seniman modern. Para penyair Indonesia, sebagaimana tokoh penyair yang berasal dari desa dalam esei Goenawan itu,”telah terlanjur berpangkal pada puisi modern”.

Demikianlah, “keheningan di tengah chaos” yang memang merupakan satu hal esensial bagi proses kreatif kesenian –tidak harus membuat para seniman justru terasing dengan kebudayaan atau masyarakatnya. Apalagi kalau sampai bersikap apriori terhadap persoalan-persoalan sekitar. Seniman yang bersikap demikian bisa saja dituduh telah melepaskan diri dari tanggung jawab kultural. Kerja kreatifnya tidak total dan hanya berputar-putar pada masalah teknis. Karena itu tak mengherankan kalau Emha pernah mengecam drama-drama Putu Wijaya –yang konon merupakan pola baru teater Indonesia—sekaligus juga merupakan tontonan eksklusif yang menambah jumlah kebingungan penonton di tengah kebingungannya oleh masalah-masalah politik – ekonomi – sosial – budaya yang mencekamnya.

Dalam kaitan ini, Franki Raden pernah menunjukkan posisi seni modern dengan sangat kena. Persona seni modern, kata Franki, memang cenderung esoteris dan tidak sedikit yang idiosinkretis. Sebagai konsekuensi, dirinya, dunianya maupun karya-karyanya menjadi sulit untuk diikuti dan dipahami oleh orang kebanyakan, sehingga terasinglah dunia mereka di tengah-tengah kehidupan masyarakat sehari-hari.

Alam pemikiran serta karya-karya seni modern Indonesia merupakan produk tokoh-tokoh Pujangga Baru, Angkatan 45, Persagi, ATNI dan AMI Yogya, jelas memperlihatkan kekaguman, kepesonaan, dan orientasi kepada alam seni modern. Mereka dewasa dalam radius kekaguman dan kepesonaan terhadap kebesaran individu seniman Barat beserta karya-karya mereka yang monumental. Karena itu, demikian Franki, tak mengherankan, kalau alam kehidupan seni modern Indonesia yang berkembang dan dikukuhkan melalui tangan dan kepala mereka adalah alam kehidupan seni yang esoteris dan sangat asing bagi tradisi kehidupan budaya yang menjadi landasan nilai hampir seluruh masyarakat Indonesia –tidak terkecuali mereka yang sudah menetap di kota-kota besar seperti Jakarta.

Tidak Wajar

Apakah perkembangan seni modern Indonesia wajar? Atas pertanyaan ini, Subagio Sastrowardojo pernah menjawab “ya”, puisi yang berbicara tidak atas nama institusi apa pun, tapi atas nama seorang yang bersendiri kepada seorang pembaca yang bersendiri. Goenawan mengatakan, bahwa pada ketika seorang anak desa jatuh cinta pada kesusastraan seperti yang dikenalnya dari buku dan majalah, pada ketika ia sampai bercita-cita untuk menjadi seorang penyair –satu profesi yang ganjil buat lingkungannya di desa itu—pada saat itu sebenarnya ia telah berangkat mengembara.

Makhluk Ganjil

Mengembara untuk tidak kembali? Sebuah pertanyaan yang membuat kita tertegun. Karena kalau benar demikian, maka para seniman modern ternyata hanyalah “makhluk-makhluk ganjil” yang terasing di tengah mekanisme kebudayaan sekelilingnya. Para seniman modern ini cenderung untuk diam dan membutakan diri terhadap kegalauan peradaban dan masalah-masalah sosial, sehingga sering digugat dan diperdebatkan. Gugatan itu muncul, karena karya-karya seni modern kita dianggap tidak memiliki konsistensi dengan permasalahan lingkungan sekitar.

Para penyair, misalnya –demikian antara lain gugatan itu—sibuk berpuisi tentang gerimis, bunga, angin, daun, dan sunyi, sementara di sekitarnya terjadi kesewenang-wenangan dan ketidakadilan, korupsi, kemiskinan, manipulasi tanah, pelacuran intelektual, dan sebagainya. Seakan-akan para penggugat itu bertanya: Hai para seniman, apakah yang telah kalian kerjakan untuk masyarakat? Dan polemik antara Sutan Takdir Alisyahbana dengan Goenawan tahun 1980-an lalu –kemudian dilanjutkan dalam suatu diskusi yang melibatkan beberapa cendekiawan, seperti Wiratmo Soekito, Mochtar Lubis, Arief Budiman, Emha, dan sebagainya –sesungguhnya mempersoalkan posisi Malin Kundang tersebut.

Dalam posisi demikian, tak mengherankan kalau wilayah apresiasi kesenian modern kita tidak pernah begitu luas. Teater modern tidak pernah mampu menarik banyak penonton. Begitu juga sastra modern –dengan nilai-nilainya yang eksklusif itu—tidak pernah memiliki khalayak luas. Kesusastraan modern kita, kata Goenawan, sejak awal sejarahnya dan karena sifat dasarnya sendiri, adalah kesusastraan minoritas. Hanya ilusi keinginan agar sastra dibaca siapa saja dan di mana saja bagaikan Coca-Cola. Dan WH Auden memang mengejek ketika berkata,”Audiens ideal yang dibayangkan penyair terdiri dari wanita-wanita cantik yang pergi tidur bersamanya, para pengusaha yang mengundang makan malam serta menceritakan rahasia-rahasia negaranya kepadanya, dan kawan-kawannya sesama penyair”.

Adalah Rendra yang pernah menganjurkan, agar para cendekiawan (dan juga seniman) berumah di angin. Namun Rendra –meskipun menganjurkan agar para seniman memurnikan daya tangkapnya, sehingga harus melakukan perjalanan di luar kebudayaan lalu masuk ke kebudayaan lagi. Karena sikap seniman yang bagaikan Wisanggeni, di mana memilih lenyap ke cahaya mata dewa, agar dengan demikian bisa menghindari Perang Bharatayudha yang dahsyat itu, patut untuk diperdebatkan.

Memang, para seniman modern tidak perlu harus terlibat dalam lintang pukang dunia fisik. Dan untuk membuktikan, bahwa seniman memiliki konsistensi integritas terhadap gerak permasalahan lingkungannya, seniman juga tidak perlu harus mengungkap secara langsung dan eksplisit masalah-masalah politik – ekonomi – sosial – budaya. Di samping itu, para seniman juga harus mampu menemukan “keheningan di tengah chaos” –untuk meminjam kalimat Saul Below. Ini berarti, seniman harus mampu memasuki kehidupan “metafisis” – kehidupan arus dalam.

Dua Irama

Dengan demikian, para seniman harus berada dalam dua irama. Suatu saat ia harus ke luar dari dirinya sendiri, bergaul dengan dunia dan masyarakat manusia. Namun di saat lain ia harus kembali pada dirinya sendiri. Seperti dikatakan Dick Hartoko, bahwa sifat-sifat kodrat manusia ditentukan oleh kedua irama ini: dengan akal budi dan cinta kasih manusia berusaha untuk merangkul baik dirinya sendiri maupun yang bukan diri sendiri. Kedua irama ini saling mempengaruhi, saling menentukan.

Menurut Subagio –yang belum lama ini meninggalkan kita—seni modern menemukan kewajaran pada situasi hidup kita dewasa ini. Dalam hal ini, Subagio tidak sepenuhnya salah. Namun agaknya ia melupakan masyarakat pedesaan yang konon meliputi 80 persen penduduk Indonesia. Kesenian modern bagi masyarakat pedesaan –bahkan sebagian masyarakat perkotaan yang konon modern itu—merupakan “barang” asing dan dengan demikian tidak wajar.

Di samping itu, keterbatasan wilayah apresiasi seni modern agaknya juga disebabkan sifatnya yang individualis, sementara masyarakat Indonesia mau tidak mau harus diakui masih memiliki semangat kedusun-dusunan. Bahkan ternyata, seperti pernah ditunjukkan Goenawan, meskipun seni modern kita menuntut ukuran-ukuran yang elitis, namun ia tidak merupakan bagian kehidupan senggang dari lapisan-lapisan sosial yang cukup mempunyai prestise dan kesempatan: lingkungan akademis, aristokrat-aristokrat, para pejabat tinggi, pemimpin agama atau politik.

Barangkali memang sudah waktunya para seniman modern kita menyadari akan kesombongan estetik dan intelektualnya selama ini. Estetisme eksklusif yang banyak dianut oleh para seniman modern memang menghasilkan karya-karya indah. Namun komitmen sosial dalam kesenian pun bukannya harus kita hindari. Atau mungkin minimnya komitmen sosial kesenian modern kita karena para seniman takut dicurigai penguasa atau dicekal? Saya tidak tahu.
***

https://gudangperpus.wordpress.com/2014/10/10/posisi-kesenian-modern-indonesia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *