Sastra, Humor, dan Realita

Endang Indri Astuti *
Radar Mojokerto, 4 Des 2016

“Menulis adalah cara saya menghibur diri sendiri. Seseorang tidak bisa menghibur orang lain jika tidak bisa menghibur dirinya sendiri.” (Gunawan Tri Atmodjo).

1. Sastra dan Humor

Seringkali kita membaca cerpen di koran dan menemukan banyak cerpen yang berakhir dengan kesedihan maupun bahagia, namun kita akan jarang menemukan cerpen-cerpen dengan humor yang mampu memancing tawa, bahkan menghibur para pembacanya. Terlebih menjadi hiburan akhir pekan bagi para pembacanya. Kejenuhan itu yang dirasakan oleh Gunawan Tri Atmodjo, penulis buku Sundari Keranjingan Puisi, yang kemudian memutuskan untuk menyisipkan humor dalam cerpen-cerpennya.

Dalam sebuah diskusi yang digelar di Balai Sudjatmoko, Gunawan membeberkan proses kreatif menulis cerpen maupun puisinya. “Hiburan terbaik bagi diri saya adalah membaca cerpen-cerpen saya sendiri,” gumam Gunawan sambil tertawa menceritakan proses kreatifnya. Diskusi yang dipimpin oleh Kalis Mardiasih, dan dipandu Udji Kayang Aditya Supriyanto membedah empat buku terbaru Penerbit Divapress dan Penerbit Basabasi. Diskusi ini dihadiri pula oleh Pak Edi Mulyono, Triyanto Triwikromo, Joni Ariadinata, Tia Setiadi, Eko Triono, Karisma Fahmi dan beberapa penulis asal Solo sepeti Indah Darmastuti, Yuditeha dan banyak lainnya.

Gunawan Tri Atmodjo atau GTA yang dikenal mengangkat kata-kata humor dan kadang dibilang tabu dalam cerpen maupun statusnya juga sempat melontarkan humor terkait beberapa kata seperti, Ngeloco, Slimicinguk, dan kata-kata lainnya yang pernah dia gunakan dalam cerpennya. “Di satu sisi saya ingin menyelamatkan diksi tersebut yang sudah hampir punah, dan di sisi lain saya ingin menjadi wakil dari kalian yang tidak berani mengucapkannya,” tukas Gunawan sambil tertawa. Kata-kata seperti Ngeloco sering dianggap tabu dan saru. Banyak orang cenderung menggunakan kata Onani maupun Masturbasi, padahal memiliki arti yang sama. Dalam hal ini saya memandang Gunawan tidak sedang mempertontonkan kata-kata tabu yang pantas ditiru, tapi beliau hanya mencoba berkarya dengan jujur menggunakan diksi yang ada. Dapat kita lihat cerpen-cerpen dengan bahasa yang nyastra terkadang sulit diterima oleh pembaca umum, justru cerpen dengan diksi sederhana sering kali mudah dipahami membaca. Sastra butuh ruang lebar untuk berkarya, seperti menerima kejujuran dan kebebasan berkarya seperti yang dilakukan Gunawan. Sekali pun sastra di era ini masih tersekat aturan tabu, sara dan keterbatasan lainnya. Karya-karya yang bagus dan mengangkat tema-tema yang kontroversial seringkali tidak mendapat tempat di media. Justru karya-karya yang dianggap biasa, atau bahkan buruk mendapat tempat seluas-luasnya. Sastra juga butuh humor sebagai penyegaran agar pembaca tidak bosan.

2. Sastra dan Ruang Sempit

Seperti yang kita tahu, ruang lingkup sastra di media cetak semakin sempit dengan tutupnya Majalah horison dalam bentuk cetak. Juga menyusul tutupnya beberapa koran atau media lain. Sementara itu perhatian pemerintah juga tidaklah luas untuk para pegiat sastra di negeri ini. Hingga sering kali para sastrawan menempuh jalur independen untuk memperjuangkannya. Seperti langkah yang dilakukan oleh Pak Edi Mulyono, Joni Ariadinata, Tia Setiadi, Dan beberapa orang lainnya yang bergelut memperjuangkan sastra di jalur sastra perjuangan. Sastra perjuangan sendiri mulai dikenal dengan munculnya buku-buku sastra yang diterbitkan oleh penerbit Divapress dan Penerbit Basabasi. Buku-buku seperti Tuhan Tidak Makan Ikan, Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu, Saleh Ritual Saleh Sosial (Gus Mus), Ketika Lampu Berwarna Merah (Hamsad Rangkuti) dan buku-buku lainnya menjadi tombak awal munculnya sastra perjuangan. Disusul oleh lini baru Divapress, Penerbit Basa-basi yang mengusung buku-buku sastra penulis muda seperti, Lidah Mertua (Benny Arnas), Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (Risda Nur Widia), Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Karisma Fahmi), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Ken Hanggara) yang siap meramaikan dunia sastra.

“Tidak mudah memperjuangkan sastra di jalur ini. Terlebih karena minimnya ruang untuk buku-buku sastra di negeri ini. Saya mendirikan Basabasi dan basabasi.co bukan semata-mata untuk uang. Tapi untuk menjaga sastra tetap ada di negeri ini,” ungkap Pak Edi Mulyono di sela-sela diskusi. Negeri ini butuh ruang untuk para penulis berekspresi, salah satunya lewat penerbit dan koran yang mau menerbitkan karya-karya mereka, meskipun ruang tersebut sudah semakin sempit.

3. Sastra dan Realita

Di satu sisi jika kita mau melihat lebih dekat, Indonesia tidak kekurangan para penulis yang siap memajukan dunia literasi. Tapi di sisi lain, minimnya media dan ruang sempit menjadi tantangan pertama para penulis. Persaingan, seleksi, tentunya menjadi proses yang harus dihadapi antar penulis. Dalam hal ini akan muncul dua kemungkinan lahirnya penulis yang pantang menyerah dan penulis yang anti mainstream. Penulis yang pantang menyerah, tidak gampang putus asa ketika naskah ditolak, juga mau belajar untuk memperbaiki tulisannya mempunyai peluang besar untuk bertahan di dunia literasi yang keras ini. Yang kedua adalah penulis anti mainstream.

“Dunia tak butuh dua Tere Liye. Dunia cuma butuh satu Tere Liye. Tere Liye yang asli. Dunia tak butuh dua J.K. Rowling. Dunia cuma butuh satu J.K. Rowling. J.K. Rowling yang asli. Maka jadilah dirimu sendiri. Dirimu yang seasli-aslinya. Karena orang lain, atau hal-hal lain yang ingin kau tiru itu, sudah ditemukan.” Seperti apa yang dituliskan oleh Gari Rakai Sambu dalam statusnya, saya sepakat bahwa mengekor atau mengikuti jejak penulis lain, belum tentu berakhir baik. Seperti yang kita tahu, Tere Liye bisa dibilang merajai dunia perbukuan saat ini. Buku-bukunya best seller, fansnya yang berjibun, tentunya para penulis menginginkan kesuksesan yang sama seperti yang didapatkan tere liye. Tapi, sekeras apa pun kau menjadi Tere Liye, Indonesia tetap hanya akan mengenal satu Tere Liye. Ini realitanya.

Penulis butuh identitas dan identitas tercipta dari ciri khas yang diciptakan oleh penulis itu sendiri, melewati proses yang panjang hingga ciri khas tesebut muncul ke permukaan. Istilah lainnyan penulis antimainstream. Di satu sisi, sastra kadang membutuhkan humor-humor yang baru sebagai sarana hiburan, tapi di sisi lain terkadang seleksi media yang menetapkan aturan baku sastra menjadi realita yang sulit dipungkiri penulis. Memilih menjadi anti mainstream atau mengikuti jalur media, merupakan pilihan yang terbuka untuk saat ini. Memperjuangkan sastra di jalur ini saja sudah begitu sulit, ditambah lagi dengan aturan baku yang terkadang mengungkung penulis tidak menjadi dirinya sendiri. Tetapi keluar dari kungkungan aturan juga menjadi risiko besar yang harus ditempuh penulis. Penulis harus memilih menjadi penulis seperti apa.

*) Endang Indri Astuti, pecinta romance, penulis tinggal di Klaten.
http://indriaworld.blogspot.co.id/2016/12/esai-sastra-humor-dan-realita-dimuat-di.html

Istilah pencarian yang masuk:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*