Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia di Kelas GSB Sabena Jogja

MEMBONGKAR MITOS KESUSASTRAAN INDONESIA DI GSB
Awalludin GD Mualif

Gerakan Surah Buku (GSB) bersama Nurel Javissyarqi
Tanggal 27-28 April 2018, Pukul 21.00-03.00 WIB
Kelas GSB Sabena Jl. Taman Siswa
No: 13 a, Wirogunan, Yogyakarta.


Susastera, sebagai jagat dari tumbuh kembangnya kata-kata; dia selalu meruangi setiap pikir dan rasa manusia. Kata-kata, bisa berfungsi sebagai media komunikasi antar sesama, dapat pula bagi penyampai ideologi, dakwah, kritik, dan sebagainya. Baca selengkapnya “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia di Kelas GSB Sabena Jogja”

MENGGIRING KE WILAYAH TANDA TANYA

Monolog untuk Buku MMKI – Nurel Javissyarqi
Iskandar Noe

Ya, awalnya catatan saya untuk MMKI bersifat teknis. Yang saya kritisi itu fisiknya kerna yang saya lihat dan pahami lebih dulu kan sosok fisiknya. Itu mulai dari Cover, Sub-titles, Pengantar dan Bagian- Bagian. Dan simpulan saya pada catatan waktu itu ya lebih bersifat umum. Saya juga berpesan pada penulisnya bahwa saya belum selesai membacanya. Baca selengkapnya “MENGGIRING KE WILAYAH TANDA TANYA”

Lamunan ke Brunel University, ataukah di UI?

Menjawab Siwi Dwi Saputro dan Iskandar Noe
Nurel Javissyarqi *

“Jadi, kawinlah dengan kenyataan, bukan dengan kritik.”
(“Kritik,” Jakob Sumardjo, Kumpulan Esai “Orang Baik Sulit Dicari,” Penerbit ITB: 1997).

I. Ke Brunel University, ataukah di Universitas Indonesia?

Mulanya saya baca di bagian muakhir yang ditaruh JS sendirian serupa paragraf terpencil; saya sangka kalimat dalam tanda petik tersebut semacam menyindir, namun terlambat terketahui oleh baru melihatnya di malam 17 Januari tahun ini. Baca selengkapnya “Lamunan ke Brunel University, ataukah di UI?”

Dari Diskusi Buku Dua Penyair Lekra di FIBUI Depok

Asep Sambodja
asepsambodja.blogspot.co.id

Buku Puisi-puisi dari Penjara karya S. Anantaguna dan Nyanyian dalam Kelam karya Sutikno W.S. merupakan wakil dari sastra Indonesia yang hilang. Demikian pendapat Hilmar Farid dalam Diskusi Buku Dua Penyair Lekra yang diselenggarakan oleh Departemen Susastra FIB UI bekerja sama dengan IKSI FIBUI dan Penerbit Ultimus Bandung di Auditorium Gd. IV FIBUI pada Kamis, 25 Februari 2010. Lebih lanjut Hilmar Farid mengatakan, minimal dari dua buku puisi ini bisa dijadikan skripsi oleh mahasiswa. “Kalau bisa menjadi tesis akan lebih baik,” katanya. Sebab, “kehadiran sastra Lekra sekarang ini menjadi keping-keping sastra Indonesia yang hilang.” Baca selengkapnya “Dari Diskusi Buku Dua Penyair Lekra di FIBUI Depok”

Sandiwara itu Propaganda!

(Resensi Buku Sandiwara dan Perang Anggitan Fandy Hutari)
Bandung Mawardi
Lampung Post, 14 Juni 2009

Fragmen sejarah sandiwara pada masa Jepang terkuak dan memiliki arti dalam buku ini. Studi Fandy Hutari seperti menggenapi kerja H.B. Jassin dalam studi Kesusastraan di Masa Jepang (1969). Masa pendudukan Jepang (1942-1945) kerap diklaim sebagai masa menentukan untuk perubahan nasib kesusastraan dan sandiwara. A. Teeuw, Ajip Rosidi, Jakob Sumardjo, dan H.B. Jassin mengakui bahwa masa pendek itu telah memberi ruh lain dalam pembentukan sastra Indonesia modern. Bagaimana dengan nasib sandiwara? Baca selengkapnya “Sandiwara itu Propaganda!”