Menulislah untuk Mengubah Diri

Sutejo

“Tulisan itu cermin hati. Kata-kata adalah telaga. Karya itu mahkota rasa” (Sutejo)
Perahu kepenulisan tak pernah akan melawan samudera kehidupan tetapi hanyut lembut untuk menyadarkannya. (Kang Supi)
***

Usai presentasi Rabu lalu (19/2) di Mojokerto (tepatnya di XOA Resto), ada sejumlah pertanyaan dari peserta workshop begini: (i) Kala berlatih bersama para guru untuk menuliskan pengalaman, dia mampu menyelesaikan, tetapi saat di rumah mengapa kemudian macet; (ii) Apakah menulis itu membutuhkan reseach; (iii) Bagaimana cara menulis yang “kuat”; (iv) Bagaimana menulis karya yang “awet”; (v) Adakah tip-tip untuk mendampingkan pembelajaran menulis bagi anak SD; (vi) Saat menulis “materi bebas” rasanya ada penetrasi dari luar macam budaya dan nilai-nilai tertentu yang mengancam; (vii) Adakah karya bapak yang monumental, berkesan; dan mengapa itu dipercaya demikian; (viii) Adakah inspirator yang menjadi model penulis Anda, (ix) Menulis yang baik berangkat dari mana; (x) Seberapa penting tulisan orang lain berpengaruh kepada kita, dan (xi) tugas penulis itu yang menulis bukan menjual. Dan, beberapa pertanyaan lain, yang luput dari penginderaan saya, karena keterbatasan ingatan –meskipun sudah dicoba untuk mengingat para peserta dalam bentuk U yang mengingatkan pada pentingnya komunikasi interaktif dalam sebuah sharing pengalaman berkomunitas dan berkepenulisan.
***

Sebelumnya, perkenankan imajinasi saya untuk bercerita begini.
Pertama, jika seseorang ingin lancar berkomunikasi logikanya kita diminta untuk begitu banyak membuka pendengaran, menyimak yang cermat, menggunakan pikiran, dan menangkap pesan secara brilian. Tetapi, itu tidaklah dilakukan oleh umumnya manusia sekarang, –yang rata-rata—ingin minta didengarkan, lemah untuk meresepsi sari komunikasi. Menyedihkan? Pasti, dan itulah yang sering terjadi dalam komunikasi plastik politik yang hiruk pikuk di tahun politik dewasa ini. Dengan kata lain, penulis –bukanlah politikus, apalagi politik kata-kata—sehingga begitu gampang bercuriga dan meragukan makna.

Karena itu, di otak saya: mari menulis bernas, renyah, tetapi kreatif yang bermakna. Selalu, banyak godaan di balik pilihan yang begini. Khususnya, mereka yang idealis (apalagi sok idealis), kaum pemuja scopus (para korban mendelay) sehingga buku baginya wajib pdf (haha saya harus tertawa keras menghadapi kawan yang begini).

Sebab, menulis itu memiliki tugas suci (kata imajinasi saya): mengubah diri dan orang lain. Termasuk semua eksesnya, baik tampak maupun tak tampak, langsung maupun tak langsung. Ini logika kehidupan menarik –menurut saya—yang penting disadari sejak dini. Menulis bukan sekadar merangkai kata, jika begini apa bedanya dengan penjahit?

Sebab, penulis itu Sais Kata, ia wajib menebarkan inspirasi dalam 4 dimensi (pikiran, jiwa, rasa, dan hati). Banyak kawan yang protes atas logika ini, tetapi saya terus tetap mengalir dalam prinsip. Begitu banyak korban kata-kata di dalam kehidupan ini, maka kita harus melawannya dengan kata-kata pula. Tersebab, pencemaran kata-kata itu sudah di mana-mana, ke mana-mana, kapan saja.

Media sosial penuh dengan sampah kata dan gambar, tugas penulis menyisir merenungi makna dan menyuguhkannya dengan cara yang mengena. Apapun bentuk tulisan, semata-mata itu soal pilihan. Yang mulia: filosofi pesan di dalamnya.

Kedua, belajar menjadi penulis itu –sungguh tidak enak–. Ketika berbincang di luar ruang pelatihan, ada seorang peserta bercerita tentang mimpinya menjadi penulis: terkenal, enak, dan banyak penghasilan. Saya tersenyum, sebab begitu banyak yang saya temukan keadaan itu berkeadaan sebaliknya. Mengerikan? Ya!

Nah, di manakah kira-kira posisi kawan-kawan komunitas ini? Saya, tentu –sama sekali—tak mengerti posisi alasan yang mengendap-ngendap di kedalaman jiwa mereka. Apalagi menduga, pasti tidak bisa. Yang jelas alasan menulis itu sangat beragam, bisa karena: (i) hobi, (ii) panggilan hidup (jiwa), (iii) terpaksa, (iv) ingin ekspresikan diri, (v) mencari identitas, (vi) mencari uang, (vii) mencari nama, (viii) ingin terkenal, (ix) banyak kawan, (x) menyampaikan gagasan dan pikiran, (xi) untuk terapi, (xii) untuk kelangenan, (xiii) sekadar melaksanakan tugas (kewajiban) profesi, (xiv) kemiskinan, (xv) terinspirasi orang lain, (xvi) karena teman atau orang lain, dan seterusnya. Posisi kita di mana? Tak usah, dijawab, cukup direnungkan, sebab alasan kita akan mewarnai gerak detak kepenulisan itu.

Pun alasan berkomunitas munculah banyak akuan –yang samar-samar bersenandung di balik rumah remah jiwa kita: (i) ingin menasbihkan diri sebagai penguasa suku, (ii) bersosialitas, (iii) berbagi dekat, (iv) bertukar pengalaman, (v) saling memotivasi, (vi) menciptakan tangga-tangga karya pendakian, (vii) membangun branding karya, dan seterusnya. Silakan dinikmati, diyakini, dan –tentu diperjuangkan—keras dengan “berdarah-darah”.

Di sinilah, kejujuran menjadi perisai bagi penulis di satu sisi dan menjadi jangkar di sisi lain untuk membangun komunitas yang bernas dan berkualitas. Komunitas itu indah jika dibangun dengan kejujuran. Ia akan menjadi mutiara berkilau untuk menyinari kebersamaan. Motivasi dan inspirasi menjadi obat kuat yang mengenyalkan komunitas. Sebab, komunitas wajib kenyal agar berdaya gerak.

Komunitas butuh energi, karena itu, kita wajib menjadi percikan energinya. Teori fisika mengingatkan tak ada perubahan energi, karena energi itu tetap; kadang yang berbeda hanyalah bentuknya. Komunitas, bentuknya atau formatnya, boleh berbeda-beda; tetapi –hemat saya—energy tentu diharapkan sama. Penggerak kehidupan, pengubah peradaban, dan nyala bagi kegelapan kebudayaan!
***

Ingatlah pokok-pokok materi saya, dan barangkali berguna untuk pembaca. Sebagai ilustrasi pemikiran di status ini, dituliskan ulang sari pemikirannya.

Sukses berkomunitas mestinya elegannya dilandasi oleh; (i) adanya hobi yang sama, (ii) pentingnya inspirasi, sehingga bisa saling menginspirasi; (iii) di situlah bisa menjadi modeling bagi kawan komunitasnya; (iv) perlunya jiwa bisnis berindustri kreatif; dan (v) perlunya menjadikan komunitas sebagai “rumah lebah”.

Sukses berkomunitas sangat ditentukan –meski tidaklah formal—oleh: (i) visi yang sama; (ii) adanya satu misi; (iii) satunya gerak, (iv) tunggalnya semangat; (vi) menyatunya rasa; dan (vii) berpadunya jiwa sesama.

Sementara itu menulis butuh: (i) inspirasi dan motivasi, (ii) kerja keras/eksplorasi (preparation), (iii) komunitas dan vitalitas, (iv) budaya baca dan “berkaca”, (v) pengorbanan dan kelembutan, (vi) seperangkat kemampuan jitu dalam berpikir (jenis kemampuan berpikir), (vii) seperangkat mental positif dan –bisa jadi juga negatif– , (viii) modal dan model, (ix) keberanian dan kenakalan, (x) kreativitas dan inovitas, (xi) nyali dan hati, dan (xii) jiwa gelisah dan berbenah.

Perubahan itu penting. Sebab, di jagad ini yang abadi hanyalah perubahan. Kita bisa tergilas jika tak mengikuti filosofi perubahan. Terlebih, era digital, seperti samudera dengan gelombang cepat dan tinggi. Kekuatan perahu kehidupan kita wajib berkekuatan besar untuk menghadapi dan memanfaatkannya. Perahu kepenulisan tak pernah akan melawan samudera kehidupan tetapi hanyut lembut untuk menyadarkannya. Mengarus untuk mengusung makna dan sari dari kehidupan nyata!

Eh, kembali ke sebelas pertanyaan di awal akan saya refleksikan dalam kesepian ke depan, di kepenatan hari-hari ke depan; untuk merangsang pikiran biar tak tertidur pulas. Sebenarnya, sudah saya ceritakan di momen pendampingan komunitas dan kepenulisan di Mojokerto itu. Salah satunya sudah direfleksikan dalam status sebelumnya: “Penulis Penjual Buku?” kemarin.
Salam renung, salam berubah untuk generasi kebudayaan yang indah! (*)

22/2/2019 Ponorogo, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *