FENOMENOLOGI KEMATIAN


Malkan Junaidi

BAGIAN PERTAMA: ISI

Kematian selalu universal. Seperti tidur
Coca-Cola, bahasa Inggris dan bercinta.
(Kuburan Imperium, Abu Mayat John Lennon)

Tiada tempat bagi keabadian di bumi.
Mimpi tiba dan pergi sebelum terjaga.
(Kuburan Imperium, Masa Depan Semua Orang)

Pernyataan-pernyataan di atas kiranya mewakili mayoritas puisi dalam buku yang akan kita bicarakan. Bukan pemikiran yang sama sekali baru tentu. 14 abad  silam di jazirah Arab seorang lelaki dari suku Quraisy berseru, “Kullu nafsin dzaiqatul maut” (setiap yang bernyawa akan mencecap kematian), juga, “Kullu syaiin halikun illa wajhah” (segala sesuatu rusak kecuali zat-Nya). Yang berbeda kali ini, tanpa menafikan kemungkinan kesimpulan berbeda, adalah signifikasinya? penandaan atau pemaknaannya. Binhad Nurrohmat, dalam antologi puisi kelimanya, melakukan signifikasi fenomenologis, hal yang tak seringkita temukan dalam khazanah puisi kontemporer.

Adalah Edmund Husserl, filsuf Jerman kelahiran Ceko, yang di awal abad ke-20 memantik gerakan pemikiran bernama Fenomenologi, yang dapat didefinisikan sebagai telaah filosofis (dari sudut pandang orang pertama) mengenai struktur pengalaman dan kesadaran (berikut kondisi yang relevan dengannya). Fenomenologi, meminjam penjabaran Terry Eagleton dalam Teori Sastra-nya, meneliti bukan saja apa yang kebetulan saya persepsikan saat saya melihat seekor kelinci, melainkan esensi universal dari semua kelinci dan esensi universal dari tindakan memersepsi mereka.

Terdapat 38 puisi di buku Kuburan Imperium, 21 di antaranya berhasil meyakinkan saya bahwa Binhad, melalui tema dan pola pencitraan yang berulang-ulang, adalah seorang fenomenologis. Binhad memborbardir kesadaran saya dengan data-data sensorik, dalam wujud kalimat-kalimat datar tanpa pretensi menyulut emosi apa pun? marah, sedih, gembira.

Simak misalnya baris-baris dari Abu Mayat John Lennon berikut.

John ditembak mati penggemarnya.
(….)
Setelah ditembak mati, tubuh John dibakar.
(….)
Seguci abu mayat John disimpan Yoko di apartemen.

Tepat seperti pandangan Husserl, saya tak perlu melakukan kerja penafsiran atas rangkaian fenomena ini. Saya tinggal menerimanya sebagai suatu fakta yang validitasnya bisa dikonfirmasi melalui Wikipedia dan buku-buku biografi John Lennon. Yang perlu saya lakukan hanyalah mengikutinya dengan penuh kewaspadaan sembari merenungkan monumen-monumen kesadaran intensional yang aktif membangun atau memaksudkan dunia yang dihadapinya, sebab dalam wacana Fenomenologi, dunia ini di satu sisi entah bagaimana selalu menyediakan pintu masuk bagi manusia untuk menyelaminya, sementara di sisi lain manusia selalu merupakan pusat keberadaan? sumber dan asal makna.

Abu mayat John di dalam guci
Adalah sungkawa bayangan lagu
Yang tak pergi
Dan tak lenyap

Dari Central Park

Akhirnya saya ikut meresapi juga: ada yang hilang, yaitu sosok biologis suami Yoko, juga ada yang mengekal, yaitu lagu-lagu John berikut pesan-pesan yang disampaikan melaluinya.

Melakukan signifikasi fenomenologis atas kematian berarti mempelajari segala yang bisa dikaitkan dengannya. Macam-macam pengalaman (antara lain melihat, mendengar, membayangkan, memikirkan, merasakan, menginginkan, melakukan), pun objek-objek yang relevan (kuburan, nisan, inskripsi, surat wasiat, situs, petilasan, candi, prasasti, reruntuhan bangunan) semua dilibatkan. Adapun segala yang tak bisa dipastikan tentangnya, noumena Kantian, dipinggirkan, tak dibicarakan sama sekali atau diajukan dalam bentuk pertanyaan yang tak ngotot menuntut jawaban.

Kematian, sekali lagi, adalah hal universal. Nyaris semua orang pernah menyaksikan orang meninggal, paling tidak mengikuti prosesi pengurusan jenazah, dari dimandikan hingga dikubur atau dikremasi. Demikian familiarnya hingga kesadaran mereka tentangnya umumnya terbatas hanya pada bahwa ia penanda akhir sejarah kehidupan seseorang, bahwa kita tak bisa lagi bicara dengannya atau dibikin sebal oleh sikap tengilnya.

Binhad berusaha merengkuh esensi kematian. Untuk tujuan itu ia menanggalkan sikap otomatisnya, menaruh dalam tanda kurung (bracketing) makna dan asumsi umum dari dan terhadap kematian, dan memperluas cakrawala telaahnya. Jika kehidupan bisa ditandai misalnya dengan gerak, maka bukan saja makhluk bernyawa yang bergerak, traktor dengan cara tertentu juga bergerak. Demikian pula kematian, terdapat berbagai atribut atau penanda universalnya. Studi Binhad pada gilirannya terentang dari kematian manusia? khususnya sosok historis yang berpotensi besar untuk dimitoskan? hingga kematian lembu, bahasa, dan kekuasaan..

Kita kemudian melihat keserupaan tema dan pola pencitraan yang digunakan Binhad di tiap puisinya. Puisi-puisi di Kuburan Imperium bergerak secara tak linear dari qualia (objek sebagaimana yang tampak) ke noema (objek sebagaimana dimaksudkan oleh kesadaran) dan atau dari noema ke qualia. Pada level tertentu ini mirip proses defamiliarisasi atau deotomisasi melalui teknik foregrounding, tindakan membuat suatu citraan lebih menonjol dibanding citraan di sekitarnya. Menemukan dan mengajukan noema, singkatnya, adalah tujuan esensial dari suatu signifikasi fenomenologis.

Perhatikan beberapa noema dari fenomena kematian yang saya tampilkan dalam format daftar kutipan di bawah ini.

* Ayah dan Ibu bertahan dalam diri anak sejauh apa pun langkahnya dan sebelum tubuhnya mati diresap bumi. (hal. 15)
* Puisi tak sungguh pergi dari bumi dan hanya berlari ke perbatasan. (hal. 25)
* Maut bukan jalan muram kehancuran sia-sia. seusai lembu mati merayap di kerongkong, lambung dan usus halus, kehidupan yang lain lekas bertumbuh seusai pemangsaan. (hal. 36)
* Permulaan dan penghabisan seperti bulatan cincin melingkupi seluruh ruang dan waktu. (hal. 43)
* Cerita adalah peristiwa yang telah tidur yang terjaga lagi di masa kemudian. (hal. 53)
* Tegak nisan-nisan kelabu menjadi riwayat yang teguh bertahan dari perih reruntuhan. (hal. 70)
* Nama-nama gang dan jalan dibuat dari sisa kematian. (hal. 82)
* Bayangan kemarin telah pergi dan bergiliran bayang lainnya datang kemudian di cerah hari. (hal. 96)

BAGIAN KEDUA : BENTUK

Hasil telaah bentuk, oleh sebab keterbatasan waktu yang saya miliki, saya sampaikan tidak dalam elaborasi komprehensif, melainkan dalam komentar-komentar singkat.

Pertama, ihwal tampilan rata kanan. Saya tak tahu kapan tepatnya Binhad mulai memakai tipografi ini. Yang jelas trademark ini sudah lebih dari 10 tahun terakhir. Mungkin terdapat penjelasan filosofis mengenainya, namun biarlah Binhad sendiri yang mendedahkan. Saya pribadi cenderung melihat pilihan ini sebagai bagian dari politik identitas, upaya menjadi berbeda agar mudah diidentifikasi. Makna kata kurang lebih tetap dengan penyajian rata apapun. Ditambah lagi efek visualnya tak bisa dirasakan saat puisi dipresentasikan dalam bentuk deklamasi atau nyanyian.

Kedua, ihwal konsistensi menjaga ketertiban tanda baca dan kapitalisasi huruf. Binhad agaknya enggan bereksperimen dengan keduanya, enggan menyiksa pembaca dengan pekerjaan tambahan menemukan di mana jeda sebuah ujaran atau di mana awal suatu kalimat. Ada banyak aspek yang lebih penting untuk dipikirkan dan bonus kerumitan malah bisa membuat mereka terbengkalai. Bagaimanapun di dua puisi, Macapat Asmaragama dan Selusin Kwatrin, tanda titik absen. Ini mungkin karena titik dianggap tak diperlukan. Masing-masing baris selesai sempurna entah sebagai kalimat, anak kalimat, atau induk kalimat. Dengan kata lain, akhir baris selalu merupakan koma atau titik gaib.

Ketiga, ihwal pengelompokan konten buku ke dalam 5 subjudul. Pengelompokan ini tentu bukan tanpa maksud.

  • Subjudul Situs Pertama berisi 9 puisi yang disatukan oleh lingkup kreatif. John Lennon, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Soebagio Sastrowardoyo, WS Rendra, dan Wiji Thukul adalah beberapa tokoh yang agaknya memberi pengaruh signifikan terhadap proses kreatif Binhad Nurrohmat dan karenanya mereka tak saja diberi tempat khusus, tetapi bahkan hasil signifikasi fenomenologis atas riwayat dan karya mereka dijelmakan kerangka untuk memaknai kematian itu sendiri. Nama-nama penyair ini tak dimunculkan secara eksplisit dalam puisi Petilasan Kecil Para Penyair, namun Binhad memberikan idiom dan informasi tertentu yang bisa pembaca gunakan untuk mengidentifikasi siapa sesungguhnya yang dibicarakan. Sosok orang tua, juga entitas waktu dan bahasa tak ketinggalan, ketiganya punya andil yang mustahil dinafikan, sebab tanpa ketiganya tak mungkin ada dan dikenal. Ketiganya ditelaah secara cukup memadai.
  • Subjudul Situs Kedua memuat 6 puisi yang diikat oleh lingkup geografis dan kultural. Esensi kematian ditelisik dalam fenomena kikil Jombang, topeng Jatiduwur, pertunjukan ludruk, dan jalan layang Peterongan. Ungkapan wajah-wajah di balik cekungan topeng tak sama dan telah sekian kali berganti (hal. 39) mengisyaratkan bahwa selalu ada yang berjuang melawan kefanaan.
  • Subjudul Situs Ketiga berisi 9 puisi yang diketengahkan dalam lingkup spiritual. Sejak kecil Binhad Nurrohmat dekat dengan dunia pesantren. Bahkan sekarang dia tinggal di sebuah lingkungan pesantren dan ikut mengasuh para santri. Fenomena-fenomena kepesantrenan dengan demikian tak elok jika sampai luput dari telaahnya. Beberapa nama kiai menjadi judul puisi; Budaya ziarah makam wali yang lestari di kalangan nahdliyin tak luput dari perhatian; acara haul dan kitab pegon ikut menjadi jembatan menuju pemahaman mengenai kematian.
  • Subjudul Situs Keempat memuat 5 puisi ber-lingkup historis. Imperium Majapahit di Trowulan dan sekitarnya menjadi sentral telaah. Kemegahannya di masa lalu yang bisa dibayangkan melalui pembacaan Negarakertagama karya mpu Prapanca dikontraskan dengan kondisi jejak peninggalan dan reruntuhan di masa kini. Hasilnya adalah berbagai ironi di balik denotasi kefanaan: Kekuasaan adalah jerami yang mudah terbakar dan Raja-raja menjelma plang nama gang dan jalan.
  • Subjudul Situs Kelima memuat 9 puisi dalam lingkup kehidupan privat dan lingkungan sehari-hari. Perjalanan telaah Binhad dalam usaha menyigi realitas kematian akhirnya tiba dari Central Park New York ke ruang tamu, meja makan, dan persetubuhan. Dengan demikian bisa dikatakan Binhad tak hanya sibuk mengamati berbagai fenomena di kejauhan sana. Yang berlangsung di sekitarnya, bahkan yang dialami langsung tubuhnya sendiri di ruang privat dijadikannya objek pengamatan juga, dengan tak kurang sungguh-sungguh.

Keempat, ihwal nama-nama tokoh dan tahun pembuatan. Peniadaan pencantuman informasi waktu penciptaan kiranya, seperti juga right alignment teks, merupakan salah satu ciri khas puisi Binhad. Bisa dirunut ke belakang hingga ke bukunya yang lain, Kuda Ranjang (2004). Peniadaan ini berikut penghindaran penyebutan nama tokoh bisa dipandang sebagai gejala anti-historis, yang notabene selaras dengan sifat Fenomenologi.

Kelima, ihwal jumlah kata dan suku kata. Mayoritas puisi di Kuburan Imperium per baris terdiri dari 5 hingga 7 kata dan per kata terdiri dari 2 hingga 3 suku kata. Ini tak saja membuat tipografi puisi menjadi tampak sangat teratur, tetapi juga membawa kesan tradisional, semangat kembali ke bentuk konvensional puisi, di samping pada level tertentu menghadirkan suasana kaku. Pilihan bentuk demikian dan hubungannya dengan dengan nadzaman yang identik dengan sastra pesantren perlu penelitian lebih lanjut.

Keenam, ihwal peniadaan aku lirik. Ini tampaknya paradoks dalam wacana fenomenologis. Bagaimanapun menurut saya tindakan ini sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip sentralitas subjek pengamat dalam fenomenologi, sebaliknya justru menunjukkan keintensifan proses resepsi terhadap objek. Proses inilah yang sesungguhnya esensial, bukan penonjolan aku.

BAGIAN KETIGA: PENUTUP

Ulasan sangat singkat dan tak memadai ini saya batasi pada wacana Fenomenologi Edmund Husserl. Tidak tertutup kemungkinan Kuburan Imperium dibaca menurut prinsip-prinsip Fenomenologi Martin Heidegger. Haidegger adalah murid Husserl yang menggeser pusat tindakan mengamati fenomena dari kesadaran manusia menuju Dasein? Ada atau Keberadaan. Husserl berusaha keluar dari sikap skeptis Emmanuel Kant, yang percaya bahwa ada realitas objek yang mustahil dijangkau pemahaman, yang disebutnya noumena. Sebagai ganti Haidegger menawarkan reduksi fenomenologis dan kesadaran intensional, suatu cara untuk merengkuh hakikat fenomena, mungkin tidak seutuhnya, namun cukup untuk dijadikan kebenaran universal, kebenaran yang diterima semua orang. Heidegger pada giliranya membuat subjek lebih pasif, membiarkan objek membuka jati dirinya. Bahwa pada kenyataannya bukan hanya subjek pengamat yang punya potensi menentukan esensi objek. Objek pun memiliki kemampuan untuk mengubah kesadaran subjek pengamat. Keberadaan atau eksistensi, singkatnya, adalah keberadaan subjek dan objek secara serentak, yang satu tak mendominasi yang lain. Menimbang Fenomenologi Heideggerian ini relevan dengan konsep NUMiring yang pernah digagas Binhad Nurrohmat, saya pikir akan relevan pula untuk menelaah Kuburan Imperium. Semoga ada kesempatan lain.

Blitar, 11 September 2019


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *