Mbah Moen dalam Antologi Puisi

Candra Malik *

Wahai jiwa yang tenang,
selamat pulang
ke haribaan Tuhanmu
Yang Maha Penyayang.

Bergabung bersama
hamba-hamba-Nya yang disayang
masuk ke surga-Nya yang lapang.

(A. Mustofa Bisri)

EMPAT puluh hari telah berlalu sejak KH Maimoen Zubair wafat, tapi sang hadratus syekh masih terasa hidup di hati kita. Pun niscaya akan demikian hingga waktu yang teramat lama. Jika pun selama-lamanya, ia takkan lekang oleh zaman, terus-menerus dibacakan dalam manaqib tiap haul. Apalagi, Mbah Moen juga telah meninggalkan jejak di sajak-sajak yang dihadirkan para penyair.

Selasa di Pekuburan Ma’la, judul buku ini. Sebuah buku antologi puisi bersama enam puluh dua penyair dari seantero Indonesia; Sumatera, Jawa, Madura, Bali, Kalimantan, dan daerah-daerah lain. Lebih dari tujuh puluh puisi dikumpulkan dalam sepekan setelah tiga hari kabar sedih tersiar dari Makkah di pagi yang masih muda Selasa itu, 6 Agustus 2019. Tepat 5 Zulhijah 1440 Hijriah.

Penerbit Mata Air yang dikelola Gus Rizal Wijaya, menantu KH Ahmad Mustofa, di Leteh, Rembang, Jawa Tengah, langsung menyambut manuskrip kumpulan puisi itu. Sesudah dikurasi Gus Binhad Nurrohmat dari Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang, Jawa Timur, Gus Ricky Mahardika dari Surabaya lekas mengatur penataan halaman dan sampul.

Atas rida dan doa Gus Mus, kiai sepuh dan mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, buku puisi setebal 176 halaman itu diluncurkan pada Kamis malam, 12 September 2019, di depan ndalem sastrawan dan pelukis tersebut, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang. Itu sekaligus menandai peringatan 40 hari wafatnya Mbah Moen. Sederhana dan syahdu. Ribuan orang menghadiri perhelatan tersebut.

KH Zawawi Imron datang dari Madura demi Mbah Moen dan buku puisi itu. Juga Acep Zamzam Noor, Warih Wisatsana, Timur Suprabana, Isbedy Stiawan ZS, dan Evi Idawati. Sastro Adi, seniman Lesbumi PB NU, memainkan piano dan menyanyikan lagu Kekasih Telah Kembali, berkolaborasi dengan Abdullah Wong yang membacakan puisinya, Mencari Mbah Moen di Sini.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang menjadi amirulhaj pada musim haji tahun ini juga hadir bersama istri. Dia saksi hidup peristiwa duka besar di Tanah Suci itu. Pengalaman memandikan, mengafani, menyalati, dan memakamkan Mbah Moen dia abadikan dalam puisi berjudul Suatu Selasa di Ma’la dan dibacakan di majelis sastra itu. Hadirin pun tertegun.

KH Dr Abdul Ghofur Maimoen Lc, putra Mbah Moen, mengaku gemetar dan amat terharu atas penghormatan kepada ayahnya. ”Tidak pernah habis tamu-tamu Mbah Moen. Tak pernah beliau menolak siapa pun. Cinta Mbah Moen kepada Indonesia dan rakyatnya sangat kuat,” ujar Gus Ghofur. Gelombang petakziah juga tak putus-putus mengalir ke Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang.

Hayat Mbah Moen memang telah berakhir, tapi dia tetap hidup dalam syair. Dikebumikan di liang lahad urutan 4 dalam barisan 151 di kompleks 7, dekat dengan Sayyidah Khadijah RA, Mbah Moen suka melantunkan kasidah Sa’duna Fid-dunya yang memuji istri Nabi Muhammad SAW itu. Gus Idror, adik Gus Ghofur, mengatakan, Mbah Moen menerima syair kasidah secara imla’ dari alam rohani.

Mbah Moen juga menulis kitab-kitab rujukan bagi dunia Islam, misalnya yang berjudul Al-Ulama Al-Mujaddidun. Syubbanul Wathon, lagu penggugah semangat hubbul wathon minal iman karya KH Wahab Hasbullah, juga Mbah Moen wasiatkan kepada generasi muda NU. Kini lagu itu semakin lekat dalam keseharian kita, terutama di kalangan nahdliyin, sejak terus-menerus dikumandangkan.

Karena itulah, menurut Gus Mus, kematian Mbah Moen tak hanya menyedihkan. Namun juga menggetarkan. Sebab, kematian seorang alim ialah pertanda kematian alam semesta seiring meredupnya benderang ilmu. ”Jika Allah mengambil ilmu, tidak hanya ilmu itu yang diambil. Namun, Dia ambil orang alim itu beserta semua ilmunya,” tutur Gus Mus. Akankah kita kembali ke zaman kegelapan?

Tak banyak yang bisa kita ambil dan warisi dari ilmu Mbah Moen. Terlebih, spiritualitas Kiai Bangsa yang oleh putranya sendiri, Gus Ghofur, disebut selalu setia berzikir seusai salat Subuh dan disempurnakan dengan salat Duha sepanjang hayat. Mbah Moen pun selalu berangkat haji setiap tahun sejak berusia 20 tahun hingga wafat di Makkah pada Selasa dan dikuburkan di Ma’la.

Tapi, dari yang sedikit itu, syukurlah Mbah Moen telah memiliki puluhan ribu santri dan murid yang telah dan pernah mengaji dan menerima warisan ilmu darinya. Mendapat teladan pula dari akhlaknya yang luhur. Pun muncul kesaksian-kesaksian atas kewalian kiai yang wafat pada usia 90 tahun tersebut. Lebih mengejutkan lagi, para penyair juga punya kisah lahiriah maupun batiniah dengannya.

”Tak mudah menggerakkan penyair untuk menerbitkan sebuah buku puisi, apalagi ini sebuah antologi bersama. Biasanya butuh tiga bulan. Ini hanya seminggu. Luar biasa,” kata Gus Binhad. Ketika turut meluncurkan dan menyerahkan buku puisi itu kepada Gus Ghofur, perwakilan keluarga Mbah Moen, saya memberanikan diri untuk menyatakan,” Mbah Moen adalah seorang sastrawan.” (*)

*) Candra Malik, sufi yang bergiat dalam kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan kerohanian.
Editor : Dhimas Ginanjar https://www.jawapos.com/minggu/saujana/15/09/2019/mbah-moen-dalam-antologi-puisi/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *