MUJICA

Fahmi Faqih *

Jika di kepala anda kata ‘miskin’ berarti kurangnya materi, maka itu tidak berlaku bagi Jose Mujica. Miskin dalam pengertian mantan presiden Uruguay ini bukanlah perkara materi—sesuatu yang superfisial. Ia nyaris tidak punya harta. Pada tahun 2010 kekayaan pribadinya tak lebih dari 1800 dollar AS atau sekitar Rp 18 Juta. Dan ketika menjadi presiden, gajinya yang berjumlah 12.500 dollar AS ia sumbangkan setiap bulan sebanyak 90% untuk program sosial. Ia tidak pindah ke Istana Kepresidenan, namun memilih tetap tinggal di rumah milik istrinya di pinggiran kota Montevideo yang jalannya belum beraspal. Di rumah itu, pengawalnya hanya dua orang polisi dan seekor anjing berkaki tiga bernama Manuela. Kemana-mana bepergian dengan penerbangan klas ekonomi, dan memilih sebuah Volkswagen Beetle keluaran 1987 sebagai kendaraan pribadi.

Ketika BBC menyebutnya sebagai ‘presiden termiskin di dunia,’ ia menolak keras sebutan itu. Ia kembalikan kata ‘miskin’ kepada pengertian sebenarnya dengan mengutip filsuf Yunani, Seneca; “Orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk menjaga gaya hidup mewahnya dan selalu menginginkan lebih.” Dalam sebuah wawancara dengan Aljazeera ia pun mengatakan, “definisiku mengenai miskin adalah mereka yang kebutuhannya selalu berlebih. Karena kebutuhannya terlalu berlebih, maka ia tidak pernah puas.

Bagi seorang marxis seperti Mujica, penyakit ‘kebutuhan tanpa batas’ itu ditularkan oleh kapitalisme. Kapitalisme-lah yang memaksa orang menjadi penyembah logika profit, menumpuk keuntungan tanpa batas. Dan kapitalisme pula yang menjerumuskan masyarakat menjadi konsumen di luar kebutuhan dan kemampuannya.

Dilahirkan di Montevideo, Uruguay pada 20 Mei 1935 dengan nama José Alberto Mujica Cordano, sejak muda Mujica memang bercita-cita menghapuskan kapitalisme. Tahun 1960-an ia bergabung dengan Gerakan Pembebasan Nasioanal Tupamaros (MLN-Tupamaros) yang didirikan oleh mantan aktivis partai sosialis Raúl Sendic dan terlibat dalam berbagai aksi organisasi itu.

Tupamaros terkenal dengan propaganda politik dan taktik gerilyanya. Mereka tak segan membegal truk pengangkut makanan untuk dibagi-bagikan kepada rakyat miskin., merampok bank yang menyimpan uang penggelapan dana publik, menculik bos-bos perusahaan agar memenuhi tuntutan buruh, dan menyandera politisi korup dan pengusaha asing untuk mendesakkan tuntutan politik mereka. Dan tak jarang, untuk kepentingan penyiaran propaganda, mereka membajak kantor radio. Tahun 1970-an, dalam sebuah penyergapan, Mujica tertangkap. Enam peluru bersarang ditubuhnya.

Hukuman penjara isolasi selama 14 tahun ternyata tidak menyurutkan semangat perlawanan Mujica. Setelah dibebaskan tahun 1985, ia dirikan Gerakan Partisipasi Kerakyatan (MPP). Organisasi itu kemudian bergabung dalam Frente Amplio—sebuah koalisi lebar antara partai-partai marxis, kristen demokrat, dan sosial-demokrat. Sejak berdiri tahun 1971, Frente Amplio sudah menegaskan komitmen untuk membentuk pemerintahan demokratis-kerakyatan.

Kendati banyak bertempur di arena elektoral, Frente Amplio tidak menafikan pembangunan gerakan rakyat. Partai ini mendirikan Komite Basis dan mempraktikkan demokrasi partisipatoris. Frente Amplio juga berhasil merebut kekuasaan di tingkat kotamadya, dan menerapkan model anggaran partisipatif dalam menjalankan pemerintahannya.

Tahun 1994, Mujica terpilih sebagai anggota parlemen dan benar-benar menjadi ‘pengeras suara’ bagi kepentingan masyarakat miskin. Ketika Frente Amplio berhasil merebut kekuasaan melalui pemilu di tahun 2005 dan menjadikan Tabare’ Va’squez, seorang bekas dokter sebagai presiden, Mujica dipercaya menduduki jabatan Menteri Pertanian, Peternakan, dan Perikanan. Ini sesuai dengan keahliannya. Sampai tahun 2008, setelah tak lagi menjadi menteri, ia kembali terpilih sebagai senator.

Setelah kepemimpinan Tabare’ Va’squez berakhir (undang-undang Uruguay membatasi masa jabatan presiden hanya satu periode), Mujica akhirnya terpilih menjadi Presiden Uruguay dengan memenangkan 52% suara dalam pemilu 2009. Dalam pidato pelantikannya, Mujica berjanji untuk melanjutkan kebijakan Tabare Va’squez, yakni membangun Uruguay yang lebih demokratis dan berkeadilan sosial. Dan itu, terbukti selama masa kepemimpinannya. []

*) Fahmi Faqih, penyair, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *