Sosialisme dalam Mukadimah Lekra dan Manifes Kebudayaan

Dwi Pranoto

“Perlu diingat, Manifes Kebudayaan disusun di tahun 1963 – setelah kami melihat bahwa sosialisme dapat diperjuangkan tanpa doktrin “realisme sosialis”
(Goenawan Mohamad; wawancara dengan A. Kurnia dalam http://mediacare.blogspot.com)

Sepanjang sejarah modern Indonesia, setelah Polemik Kebudayaan tahun 1930-an, perselisihan seni paling sengit adalah pertikaian antara kubu Lekra dengan, katakanlah, kubu humanisme universil  di paruh awal 1960-an. Perdebatan yang berakhir dengan brutal pada tataran politik itu melahirkan Manifes Kebudayaan yang dinyatakan oleh kelompok humanisme universil yang sering dikaitkan dengan prinsip seni l’art pour art, meski tidak demikian adanya.

Pada dasarnya basis pandangan kubu Lekra dan kelompok Manifes mengenai seni hampir sama: bagaimana fungsi dan peran seni dalam masyarakat yang tengah berjuang serta menempatkan posisi seni diantara gagasan-gagasan estetik dan ilmu pengetahuan. Baik Kubu Lekra maupun kelompok Manifes menolak seni yang anti-sosial dan anti-kemanusiaan, menganjurkan untuk menyerap inspirasi dari bermacam gagasan seni dan ilmu pengetahuan dengan batasan tertentu yang tidak bertentangan dengan ide seni keberpihakan. Jika dalam Mukadimahnya Lekra berseru “…menolak sifat anti-kemanusiaan dan anti-sosial dari kebudajaan bukan rakjat…”, maka penjelasan Manifes menyeru “…perdjoangan dari budinurani universil dalam memerdekakan manusia dari rantai-rantai belenggunja, perdjoangan jang memperdjoangkan tuntutan-tuntutan Rakjat Indonesia, karena rakjat dimana-mana dibawah kolong langit itu tidak mau ditindas oleh bangsa-bangsa lain, tidak mau dieksploitir oleh golongan-golongan apapun…”.

Namun, jika Lekra dalam Mukadimahnya, secara tersirat, hanya menyasar ideologi l’art pour art dan mental yang diwariskan oleh praktik kolonial, maka Manifes menganggap selain ideologi l’art pour art dan praktik imperialisme-kolonialisme pun membidik realisme sosialis (bersyarat) dan watak chauvinis sebagai musuhnya. Dengan sikap seperti itu Manifes seolah menggemakan kembali Manifesto of an Independent Revolutionary Art (MIRA) yang ditulis oleh Leon Trotsky dan André Breton di Mexico pada 1930-an akhir dengan menipiskan latar belakang cekaman kekuatan fasisme yang menghantui dunia. Dengan menyatakan menolak chauvinisme, Manifes menganggap ancaman fasisme itu masih ada.

Sebagaimana MIRA, Manifes beberapa kali menggunakan kata perdjoangan dan revolusioner untuk menegaskan watak sosialisme yang disandangnya. Dengan begitu, kecuali menolak ancaman subordinasi seni dibawah politik yang dianggap menjadi landasan berkesenian Lekra, Manifes memiliki pandangan yang sama dengan Lekra mengenai peran dan fungsi seni di dalam masyarakat. Rakyat menjadi pusat acuan seni bagi kubu Manifes maupun Lekra. Namun, hal ini sering tak disadari oleh sejumlah pihak hingga hari ini. Usainya pertarungan politik praktis, setelah kekacauan, teror, dan kebrutalan yang menahtakan Orde Baru, pertikaian antara kubu Lekra dan Manifes kemudian tak dilihat sebagai perselisihan yang terjadi dalam konteks sosialisme. Hampir seluruh gagasan seni yang mengacu pada rakyat setelah itu lantas hanya dialamatkan pada Lekra. Misalnya soal sastra kontekstual yang digagas oleh Ariel Haryanto dan Arief Budiman tahun 1980-an.

Gagasan (realisme) sosialis(me) dalam seni kemudian hampir-hampir hilang dalam percakapan-percakapan. Pebincangan persoalan seni lebih banyak menyoal moralitas, memposisikan dan memperlakukan rakyat jika tak sebagai sejarah maka sebagai entitas yang pasif. Rakyat tak dirujuk sebagai kondisi-kondisi dinamis yang dinyatakan dalam Mukadimah Lekra sebagai “…pertentangan-pertentangan jang berlaku di dalam masjarakat maupun di dalam hati manusia, …gerak perkembangannja serta hari depannja”. Sedangkan oleh Manifes dinyatakan sebagai “ …mengakui kenjataan-kenjataan bahwa lingkungan sosial kami senantiasa mengandung masalah-masalah, dan setiap tantangan jang kami djawab akan menimbulkan tantangan-tantangan baru”.

Namun, Manifes juga lebih melihat rakyat sebagai kumpulan individu-individu yang masing-masing mempunyai hak individualnya. Hal ini tak secara tegas dinyatakan dalam Mukadimah Lekra yang lebih memandang rakyat sebagai suatu homogenitas. Pandangan yang lebih individual ini mendorong Manifes juga menuntut kebebasan, “…jaitu menuntut hak-hak jang lazimnja dinamakan demokrasi. Sementara Mukadimah tak sekalipun menggunakan kata individu. Selain menggunakan kata manusia – sebagaimana juga Manifes – untuk merujuk pada sisi homogen individu, Mukadimah juga menggunakan putera-putera yang bersamanya membayang perikatan yang kuat antara individu dengan sejarah.

Tak seperti Mukadimah yang dengan mudah mengidentifikasikan dirinya sendiri. Manifes sangat hati-hati menempatkan diri diantara gagasan-gagasan dan ide-ide yang ada pada masa itu; menggunakan sejumlah penyangkalan untuk merumuskan identitasnya dengan lebih tajam dan tepat. Manifes tak menolak realisme sosialis dengan serta merta dan menerimanya dengan syarat. Bagimanapun, operasi tekstual Manifes boleh dikatakan semirip MIRA yang menolak dan menerima komunisme dengan syarat.

Secara politik pertikaian kubu Lekra dengan kelompok Manifes boleh jadi telah lama selesai. Unsur-unsur perselisihan semacam realisme sosialis ala Stalin dan prinsip l’art pour art yang menjadi kecurigaan telah lama mengalami senjakala. Sementara itu kapitalisme tumbuh makin menggergasi dan melingkup hampir seluruh permukaan bola bumi. Kapitalisme lanjut yang melahirkan kondisi-kondisi yang sering disebut sebagai post-modern atau post-struktural atau post-industri telah menciptakan pertentangan-pertentangan dalam relasi produksi dengan lebih rumit dengan memperluas dan memperdalam mekanisme eksploitasi. Jika dalam kapitalisme klasik eksploitasi lebih banyak terjadi dalam sistem pengupahan kini eksploitasi telah makin psikologikal: mendorong hasrat konsumerisme dengan mengkreasi nilai dan fungsi ilusif dari komoditas yang ditawarkan.

Estetika sosialisme kini menghadapi tantatangan dari kapitalisme lanjut yang kata Fredrick Jameson telah mengintegrasikan produk estetik ke dalam produk komoditas. Suatu kondisi yang seolah menyoraki pernyataan Marx muda yang menjadi salah satu basis argumentasi MIRA: “Pengarang lazimnya harus menghasilkan uang untuk hidup dan menulis, tapi ia tidak dalam kondisi hidup dan menulis demi menghasilkan uang …”.

* Pernah dipublikasi di Lembar Kebudayaan.
http://lepasparagraf1.blogspot.com/2011/02/sosialisme-dalam-mukadimah-lekra-dan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *