KISAH KECIL PERIHAL KEMARAU

Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan tersebutlah seorang penjual obat keliling berkepala botak. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang tak asing tahun 80 dan 90-an. Penjual obat keliling yang tak lain penipu kelas teri namun pembual kelas dewa itu, membawa sepeda bututnya ke mana-mana, berhenti di sebuah pasar, memainkan sulap, lalu menjual obat palsu. Ia mengembara dari kota ke kota, dari satu pasar ke pasar lainnya, tempat-tempat asing yang jauh dari rumah. Itu dilakukan demi menghindari orang-orang yang pernah dibohongi di sebuah tempat yang tak mungkin dibohonginya untuk yang kedua kali. Sungguh pembohong dan pembual yang baik hati. Ia orang asing. Orang asing yang kita tak tahu siapa keluarganya, di mana tempat tinggalnya, dan asal-usulnya. Ia seolah jatuh begitu saja dari langit, lalu menghampiri orang-orang ramai yang sibuk, yang terhimpit keadaan, atau yang bersusah payah bertahan hidup di tengah segala keterbatasan, dengan sejuta bualan dan kebohongan yang menghibur dan menggoda. Ia termashur dengan bualannya. Tapi agaknya sebagian orang memakluminya demi suatu keadaan, menyukai bualan dan kebohongannya sambil menertawakan kekonyolan sendiri yang bisa dan mau juga ditipu. Alangkah pengampunnya manusia Indonesia itu. Suatu kelebihan. Juga kekurangan. Tetapi bukankah tak ada bangsa yang sempurna di dunia ini?

Orang asing yang sederhana itu tiba-tiba datang, dapat dipercaya bualannya, janji dustanya karena keramahannya. Bukankah kadangkala—pada suatu keadaan yang entah seperti apa, sang pembual demi bertahan hidup atau demi agar keadaan tetap baik-baik saja itu adalah diri kita sendiri? Sang penjual obat itu diterima lantaran telah menjanjikan harapan: sebuah hujan. Meski semua tahu, itu hanyalah dusta. Tapi ia orang asing yang baik hati, yang tiba sebagai sosok yang selalu bertahan apa adanya dari kemelaratan dan tempaan keadaan. Wajah dan benda-benda yang dimilikinya menunjukkan hidup yang babak-belur dikeroyok kenyataan, meski selalu tampak gagah dan menjaga wibawa. Tapi justru tertawanya lebar, selalu menghibur. Agaknya keinginan menghibur lebih tinggi daripada keinginan menipu. Apa boleh buat?

Tibalah ia di sebuah kampung. Kemarau panjang. Kekeringan melanda. Pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi dalam keluarga dan pergaulan hidup sehari-hari. Orang kehilangan harapan. Putus asa berharap hujan. Tibalah si penjual obat tersebut pada sebuah keluarga. Ia mengaku sebagai sang penjual hujan. Ia menawarkan hujan. Sebuah hujan! Ya hujan! Siapa mau membeli hujan di tengah kemarau yang panjang? Semua mau. Tapi tak semua mampu. Juga tak semua orang percaya pada bualan perihal hujan di tengah kemarau yang entah sampai kapan. Siapa mau beli hujan, sang penjual hujan sanggup menurunkan hujan pesanan dalam satu minggu buat si pemesan.

Film lama garapan Chaerul Umam yang naskahnya ditulis oleh Asrul Sani ini, menggambarkan kehidupan masyarakat bawah Indonesia dengan segala suka-dukanya, yang gemar menjaga kemesraan yang selalu tampak tak sempurna, toleran, dinamis dalam perbedaan etnis dan agama, memiliki mutiara berharga bernama kedamaian meski selalu berupaya tampil dengan segenap kecompang-campingannya. Dan kita pun merdeka, katanya. Tersebutlah nama sang penjual hujan itu: Bintang Kejora. Diperankan dengan sangat memukau oleh Elmanik. Kejenakaan yang menggeser marah dan pertengkaran-pertengkaran kecil yang tak penting, daya upaya hidup yang sederhana. Juga harapan. Tak ada alasan untuk berhenti berharap akan turunnya hujan di tengah kemarau panjang yang kerontang meski dengan cara yang paling tak masuk akal sekalipun. Dan ajaibnya, hujan yang mustahil itu turun tepat pada waktu yang telah dijanjikan. Bintang Kejora pun tak menyangka bualannya menjadi kenyataan. Bukankah tak ada yang seajaib hati manusia? Tetapi sesungguhnya hujan itu telah turun lebih dulu sebelum hujan menderas dari langit. Itulah hujan yang telah dengan manis turun di dalam hati manusia. Hati manusia yang tak pernah berhenti berharap dan berupaya dengan segala potensi kemanusiaan yang dimilikinya dalam segala keadaan. Maka basahlah hati yang kemarau itu, jiwa yang kehausan itu. “Hilangkan kemarau di hatimu,” ujar lagu pembuka dan penutup film.

Kata orang, dunia ini lebih mirip panggung para pelawak. Pelawak yang baik itu tertawa. Ia menertawakan dirinya. Dan orang lain pun tertawa. Tapi dalam sunyi, diam-diam ia merahasiakan duka. Ia menangis tatkala tak ada siapa-siapa. Amat jarang orang lain memergokinya menangis. Sebab barangkali air mata seorang pelawak akan membuat perannya sebagai pelawak tak sempurna. Dan itu kegagalan. Pelawak yang gagal membuat orang lain tertawa adalah manusia yang terkena penderitaan, merasakan sedih yang tiada tara, “kecelek” malu. Lalu kapankah ia dapat menghibur dirinya sendiri di tengah peran melawak yang padat dan niscaya dalam hidupnya? Kadangkala setiap peran hidup sehari-hari begitu sukar sekadar dimengerti. Apakah ia adalah aku, kamu? Atau diakah kita? Tetapi bersyukurlah yang dapat tertawa dan menertawakan dirinya sendiri, hingga yang lain pun turut tertawa. Setidaknya, ia telah memendam luka derita duka-lara dan kesulitan hidup jauh ke lubuk hatinya yang paling tersembunyi, hingga tak seorang pun dapat menjangkaunya, agar dunia tak selalu berduka oleh perang, kepalsuan, dan kebencian. Toh segalanya memang akan berlalu. “Bahagia itu sejenak. Menderita pun sejenak. Lekas berlalu,” tutur Ibn Athaillah dalam “al-Hikam”-nya yang mashur. Untuk itu, setidaknya manusia baik akan selalu berada dalam kewarasan dan tetap bertahan sebagai seorang manusia dengan akal sehatnya.

Tetapi siapakah orang asing yang baik hati menawarkan sebuah hujan di tengah kemarau yang panjang itu? Ia datang bagaikan dalam sebuah dongeng menjelang tidur. Ada lampu kecil yang menyala dengan teduh dan rindu. Dalam film “Bintang Kejora” (1986) itu, Asrul Sani seolah hendak menyelipkan sesuatu, bahwa dalam hidup hari ini, segala upaya melewati waktu tak boleh melemahkan semangat membentuk atau mengolah suatu keadaan sebaik-baiknya. Barangkali kita harus memercayai hari ini, dan tak perlu terlalu percaya pada masa depan. Dan semangat sejati hanya mungkin dinyalakan dengan sebuah harapan. Selama harapan tak berhenti diharapkan dan diupayakan, masih mungkin hidup ini disyukuri, lebih baik lagi, indah, dan saling menyayangi dengan penerimaan yang tulus, apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Kebersamaan—kata orang yang entah siapa, adalah anugerah, ia hanya perlu ditemukan. Lantaran ia telah ada. Integral dalam kehidupan. Asrul Sani menuliskannya sebagai naskah film yang apik.

Dalam fiksinya yang mengherankan, Luis Borges mengisahkan perihal dua orang pemimpi. Kisah ini difiksi-sejarahkan Borges dari 1001 Malam dalam sastranya yang jenius. Kisah tersebut ditulis “secara menyejarah” dalam Jorge Luis Borges, “Historia de los dos que sonaron” (2 Que Sonaron), Critica, 23 Juni 1934.

Sahdan, sejarawan Arab al-Ishaqi mengisahkan kisah ganjil itu terjadi pada masa Khalifah al-Ma’un (786-833 Masehi). Seorang laki-laki bernama Mohamed al-Maghribi yang miskin di kota Kairo mengalami sebuah mimpi. Dalam mimpinya, al-Maghribi mendapat petunjuk, agar segera menjemput keberuntungan hidup yang telah menantinya di Persia, di kota Isfahan. Dengan keyakinan yang tanpa alasan kuat terhadap mimpinya, berangkatlah al-Maghribi ke Persia. Tibalah ia di Kota Isfahan, di mana keberuntungan hidup dan kekayaan telah menunggunya secara ajaib.

Namun malang! Saat al-Maghribi bermalam di sebuah masjid, terjadi penjarahan pada rumah warga di sekitar masjid itu. Polisi tak berhasil menangkap para penjarah. Entah bagaimana, al-Maghribi dituduh sebagai penjarah karena hanya dia yang berada di sekitar kejadian kriminal tersebut. Al-Maghribi dipukuli orang hingga babak-belur dan nyaris sekarat. Polisi lalu membawanya.

Di kantor polisi, kepala polisi melakukan interogasi. Kurang-lebih percakapan antara Kepala Polisi dan al-Maghribi itu sebagai berikut.

“Apa yang Anda cari di Isfahan? Kenapa Anda melakukan perbuatan kriminal?” tanya Kepala Polisi.

“Saya tidak menjarah. Saya tidak kriminal, Tuan. Saya ke sini hanya dalam rangka meyakini mimpi saya yang memberikan petunjuk, bahwa keberuntungan hidup dan kemelimpahan saya telah menanti di kota Isfahan. Namun ternyata yang saya dapat justru celaka, dan babak-belur,” jawab al-Maghribi jujur.

Mendengar pengakuan al-Maghribi, Kepala Polisi tertawa kepingkel-pingkel.

“Hahaha! Saya telah 3 kali bermimpi tentang sebuah rumah di Kairo dengan kebunnya. Di ceruk ujung ada jam matahari, di seberang jam matahari terdapat pohon ara. Di seberang pohon ara ada air mancur. Dan di bawah air mancur itulah tersimpan harta yang melimpah. Saya tidak percaya! Tapi kamu memang manusia jahanam keturunan keledai! Mimpi kok dipercaya!” ujar Kepala Polisi.

Kepala Polisi itu mengusir al-Maghribi dari Isfahan. Pulanglah al-Maghribi. Ia tetap meyakini kebenaran mimpinya tanpa alasan yang masuk akal. Kini ia kembali ke Kairo bukan untuk membuktikan mimpinya. Melainkan ia membuktikan mimpi sang kepala polisi tadi. Al-Maghribi mendatangi tempat yang diimpikan sang kepala polisi itu, dan ia menemukan harta melimpah di bawah air mancur.

Kisah ini, oleh Borges, dikaitkan dengan kemahamurahan Allah. Kemahamurahan Allah yang tak mungkin diduga manusia. Pada sejauh juga sedalam-dalam pengertian dan ingatan, Allah tidak terduga, maha-tak-terduga. Bukan Dia mempermainkan manusia ciptaan-Nya, barangkali lantaran manusia pasti memiliki batas pada pengertian (pikiran) dan ingatan sebagai perangkatnya mempersepsi, mengingat, dan memikirkan dunia, bahkan hidup dan dirinya sendiri.

Sebagaimana iman. Ia tak pernah terduga. Sebagaimana pula realitas, ia tak selalu berhasil diringkus ringkas dan tepat dalam dugaan-dugaan. Terlalu picik menduga-duga ciptaan-Nya dengan sikap merendahkan. Rasionalitas kepala polisi Isfahan dalam fiksi Borges lumpuh menduga mimpi al-Maghribi yang irasional. Tetapi tak semua orang bernasib sama. Rasionalitas pun sejatinya persepsi sebagaimana irasionalitas, dunia mengada lantaran ia ditegakkan dalam rangkaian ingatan. Selebihnya, ia adalah kegelapan. Sesuatu yang tak pernah dapat dipastikan oleh pengertian-pengertian lantaran pengertian-pengertian itu harus menyerah pada batas dirinya sendiri. Lalu siapa yang tolol, al-Maghribi atau si kepala polisi? Barangkali keduanya hanyalah makhluk fana yang tak sadar terjebak dalam persepsinya sendiri terhadap peristiwa.

Dan di padang rindu, bisik seorang penyair. Ada pohon yang masih hidup dalam kemarau yang panjang. Ia menyimpan air pada batangnya. Menyimpan kisah anak-cucu manusia, dan menyimpan rapi sebuah janji indah yang pernah diucapkan di bawah daun-daunnya ketika senja. Pohon yang tumbuh di padang rindu. Kemarau tak menghalanginya hidup. Tetapi berabad-abad lamanya ia merindukan hujan. Mengimpikan anak-anak kecil yang riang berhujan-hujan di jalanan gang sebuah kota ketika matahari pulang. Kota yang tak pernah mengerti rindu dan penantian—juga pencarian, pada lubuk segala waktu. Orang-orang berdatangan. Berjubal. Seperti kemarin-kemarin juga, kemarau menyanyikan lagu-lagu parau. Udara panas. Dan mimpi siang yang melayang. Dalam malam, orang-orang menduga. Membayangkan esok adalah pergulatan dengan hari, mencari nafkah, melayani hidup yang terlampau berharga dalam nasib manusia. Meyakini segalanya baik-baik saja, seraya berharap pada yang mustahil. Harapan tak akan hidup tanpa keyakinan terhadap yang mustahil, yang dianggap dongeng dan khayalan. Dalam kepastiannya, manusia memerlukan ketakpastian. Kecemasan dan keresahan. Lantaran itulah, harapan masih tumbuh bagai sebatang pohon agung yang terus tumbuh di tengah padang kemarau yang memanggang dunia.

Tembokrejo, 2019

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *