Puisi-Puisi A. Rego S. Ilalang

DIALOG PETANG UNTUK NIEK

1.
ketika matahari sombong menggantang ubun-ubun, ikutlah pula mendakinya. walau sebentar lagi lembayung menyelimuti mimpi matahari, istirah sejenak untuk esok merakit kembali. belum usai perjalanan.

niek, cakar-cakar itu terselip disela-sela gigi, seringainya telah merontokkan karang. yang tertinggal di catatan kemaren sore ketika kau gamit do’a yang mengumpat di debur pantai. lihatlah niek, pohon besar di pulau itu daunnya sudah rontok hampir lunas. bukan salah matahari atau musim yang mengangsu air dari juntai akar-akarnya.

esok ada lagi sungai yang mengalirkan harapan mengering. perjalanan belum usai, langkah kaki melarungkan nafas berpacu dengan detak jarum jam, menjadi kompas menuju cadas. merangkai pertanyaan diantara desir dekil mengupas rahasia. memaknai senyum, tangis, keringat dan tawa.

niek, mengapa gelombang tak selalu besar dan tak pernah mau berhenti menggulung diri memutar baling-baling noktahnya. apakah ia tak lelah mendayung buih? perjalanan masih tetap terkayuh, belum usai karena lunasnya tidak datang tiba-tiba.

niek, belik di belakang rumah tetap jernih airnya walau ikan-ikan tak pernah berhenti mengaduknya. tak ada mantra tak ada dupa yang terbakar atau janji-janji yang menelikung di sudut bukit.

niek, sebentar lagi kawanan pawana akan menyanyikan kidung-kidungnya, menidurkan mimpi, meriuh ritual mengutas malam. tapi pohon besar itu akan tetap tegak terpekur di sana. menunggui biji-biji pecah menyetubuhi bumi.

2.
jejak merajah mengukir kesendirian mengisi pertanyaanmu kemaren telah membatu menggelandang laut lepas. mengantar nelayan menjala mimpi. niek, kesendirian tak akan ada jika nelayan-nelayan itu esok bisa tersenyum kembali menyapa pantai.

3.
niek, garis merah di tatap matamu menugal menagas makna lirih. mencukili mata langit yang terkurung tempurung stratosfer menjilati api. biarkan ia tetap bara membakar air mata. tentenglah langkah kakimu seringan memanjai tagas hari kemaren. mengelus melukis jejak di lembut pasir pantai yang sepi.

niek, ku ingin memelukmu tiap kali, menangkis kesendirian yang kau takuti, menjalani kealpaan malam. memaknai kebohongan yang terlantunkan. memaknai perca lukisan airmata. hingga tandas.

Kavling 10 Malang, 18 Juli 2005

? besar

inginku memahat puisi wajahmu di bebatuan terjal
bersanding dengan ilalang liarku melawat dingin malam
mesra meneguk aroma pagi samasama

puisi
wajahmu
meliar ilalangku

Malang, 07 Juni 2005

SUNYI INI MILIKKU

sunyi ini milikku sendiri, kemana ia
demikian tawa memeluk aku
langkah-langkah mengulum aroma, jejak
meretas ia

sunyi ini milikku sendiri, menggelincir
menguntum berkelopak tanpa layu
mengutas tangkai mata
demikian panjang sunyi, lentik melenggang
symponi daundaun merumah aku

sunyi ini milikku sendiri
melarik hampa
sunyi ini
sendiri

Malang, 07 Juni 2005

JELANG SUBUH

aku bercinta disisa waktu menjelang subuh
mengalir air mata memakna seribu bulan
tanpa setubuhan jasadjasad mengitar percintaan panjang
sampai subuh berkumandang

Malang, 07 Juni 2005

MENANGKUP ATAPATAP

ngeh itu memintal menjadi
merambah menangkup atapatap
matapun tak kuasa menatap
pintalnya menali nurani

demikian hati mengingini
sepuing rahasia mengungkap
tanpa suara lirih meratap
menjadi tetestetes embun pagi

menggumam tunggui datang siang
mengiring matahari melaras kidungan
dan ngeh itu menari melanglang

hati tak ingini hilang
ngeh itu terlalu menawan
hingga nyata bayang-bayang hilang

Malang, 07 Juni 2005

PADA SETANGKUP DAUN

pada setangkup daun
menangkup tangan-tangan anak kecil
menari tak mencicil
menggiring nada mengalun

pada setangkup daun
lembut bergoyang memanggil
menyebar aroma terasa memanggil
ikut bergoyang teralun

mata terikat pikat
terlenguh tak kuasa
menjumputi daun seikat

gerahnya merapatrapat
merapatkan berani meleluasa
hingga terhenti lambatlambat

Malang, 07 Juni 2005

SENGAU

Sebentar lagi malam ia masih memandangi bulir bulir
Meleleh, hening memutar langit dengan jejak jejak tersamarkan
Mengarungi malam di perjalanan, pengembaraan kelam

Surabaya, 6 Maret 2005

LEMBAYUNG

Aku namai kau dengan puisi
Nada-nada yang tak terhenti
Gambar-gambar itu
Gambar itu, tersenyum
Indah seperti pagi teteskan embun di dedaun
Panggilan ini untukmu puisi
Untukmu nada-nada tak terhenti
Syair-syair yang tegak mengalir di udara rindu
Petikannya iringi mekar bunga hingga senja tak beranjak malam
Inilah rindu yang memayung
Telanjangi hati tak terperi
Adalah lembayung di puisi

Mojokerto-Jombang, 25-07-2004

IKHLASLAH

/1/
Tersenyumlah pada pagi dan matahari
Jadilah bunga, sambutlah embun dan teteskan ke bumi
Biarkan bumi merekah tawa tanpa tanya

Tersenyumlah pada pagi dan matahari
Jadilah bunga, sambutlah embun dan teteskan ke bumi
Biarkan bumi merekah tawa tanpa air mata

/2/
Tersenyumlah pada pagi dan matahari
Seperti daun-daun kering dihembus angin
Bersetubuh dengan bumi tanpa ragu

Tersenyumlah pada pagi dan matahari
Seperti daun-daun kering dihembus angin
Bersetubuh dengan bumi tanpa malu

Nganjuk 10-09-2004

DISTORSI

Layar-layar telah digelar dipancang dipincang tiang
Di tengah jalan buntu
Lakon pun jadi waton sedang wayang masuk peti mati
Tinggal layar kosong memelintir makna dan isi

Widyaloka Malang, 07-08-2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *