MENGENAL KAJIAN SEJARAH DAN BUDAYA LOKAL


: Desa Cangaan, UjungPangkah, Gresik, Jawa Timur
Rakai Lukman

Desa berasal dari bahasa sansekerta, yang berarti tanah asal, juga berarti nagari. Desa ialah kesatuan hukum, dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahannya sendiri. Desa terdiri dari sekumpulan “tanah pekarangan”, yang biasa diberi tanda berupa pagar keliling, baik pagar hidup maupun pagar batu, kayu atau bambu. Di pekarangan terdapat beberapa rumah beserta lumbung padi, kandang sapi, kuda, kambing, kerbau atau ayam.

Pekarangan satu dengan yang lain disambung dengan jalan desa. Di tepian desa jalan-jalan ditutup dengan kunci (portal) dari kayu atau bambu. Ketika malam hari dikunci dari dalam. Di pintu desa bagian dalam terdiri dari gardu penjagaan desa. Pintunya diberi atap dari genteng atau daun. Kanan kiri jalan dibuat geladak lantai di atas tiang, yang merupakan panggung pada kedua tepi jalan) sebagai tempat menaruh gamelan, untuk menghormat tamu agung yang datang.

Di sekitar jalan tepi desa ditanami pohon bambu yang padat. Sehingga ruang masuk melalui gerbang. Lazimnya setiap desa mempunyai langgar. Desa yang besar mempunyai masjid, kuburan desa, yang biasanya ditanami pohon kamboja. Desa juga terdapat balai desa, sebagai tempat rapat dan musyawarah, kantor pemerintahan. Perkumpulan resmi, seperti penyuluhan, pembukaan bank rakyat, dan juga terdapat lumbung desa serta sekolah dan pasar desa. Ada juga seorang kepala desa di rumahnya ada pendopo, sebagai ruang administrasi.

Riwayat terjadinya desa, adalah insting manusia untuk hidup berkumpul, tinggal bersama turun-temurun. Sehingga lebih ringan dalam memelihara, mengusahakan, dan mempertahankan kepentingan bersama. Di samping itu juga sebagai pelindung bahaya alam dan binatang buas. Sehingga butuh kerjasama dalam hubungan erat dan teratur. Alasan masyarakat desa terbentuk, adalah untuk hidup bersama (pangan, sandang, dan papan), mempertahankan ancaman dari luar, dan mencapai kemajuan hidup bersama.

Desa pertanian adalah sekumpulan masyarakat pertanian, bersama-sama membuka hutan belukar, bersama mengolah tanah kosong, untuk ditanami tumbuhan yang dapat menghasilkan bahan makanan. Di Daerah yang subur terdapat jalinan masyarakat yang memiliki ikatan yang kuat. Masyarakat desa juga memiliki dasar tinggal bersama, peraturannya berdasarkan kelumrahan, memiliki tatakrama tersendiri, sebagai kesadaran masyarakat menghormati orang lain. Tata susila terbentuk atas dasar kesadaran masyarakat dalam hubungan sosial kemasyarakatan.

Desa canga’an kiranya memiliki riwayat desa sebagaimana tersebut. Nampak pada kondisi geografis setempat, yang mayoritas adalah masyarakat pertanian. Di samping itu ada yang bekerja di sektor perdagangan, jasa, penambang batu kapur, peternak kambing-sapi-ayam, ada juga yang jadi TKI. Topografi desa ini berupa dataran sedang kira-kira 25 meter di atas permukaan laut, di baratnya kaki bukit kapur. Curah hujan rata-rata mencapai 2.400 mm. Desa Cangaan berbukit dengan total luas 5,0000 Ha, sedang luas datarannya 375,8000 Ha. Jarak tempuh ke kota kecamatan kira-kira 6 km, jarak ke kota kabupaten kira-kira 40 km.

Desa ini dibatasi oleh wilayah tetangga desa. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Gosari, sebelah utara Desa Ngemboh, selatan Desa Wotan, barat berbatasan dengan Dalegan. Di timur desa terdapat bukit kapur, selatan desa hamparan sawah, sebelah barat hutan dan utara perkampungan penduduk Ngemboh. Ada dua jalan masuk ke desa ini dari arah utara dan arah timur desa. Desa berkecamatan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik, berkode pos 61154. Desa ini dihuni penduduk kira-kira 2.742 jiwa. Luasnya kira-kira 380,8000 Ha, dengan rincian tanah basah (persawahan) 121,3660, tanah kering (tegalan) 246,0880 Ha, dan fasilitas umum 12,9741 Ha.

Mengaji dan menelaah sejarah, babad atau kisah suatu desa tidaklah mudah. Butuh waktu dan curahan tenaga yang cukup menguras energi, juga akses data dari sumber pelaku sejarah. Akan tetapi, kearifan masa lalu itu sangat dibutuhkan oleh generasi saat ini (generasi milenial dan gadget). Bagaimanapun juga desa tidak tiba-tiba ada begitu saja, pemuda hari ini harus tahu itu, merekalah yang kelak yang menjadi pemimpin di masa yang akan datang.

Ruang yang akan dimasuki adalah imajinasi kesejarahan, kemungkinan memasuki kelampauan untuk mengerti dan memunculkannya lagi. Yang mana merekontruksi peristiwa sejarah diwarnai kadar yang dimiliki dan dihayati. Situasi sejarah dijadikan pembenaran konsep teoritis yang dinamik dan perkembangan masyarakat. Penulisan sejarah didorog oleh keingin tahuan filosofis yang mempertanyakan asal dan arah tujuan manusia atau cita kemanusiaan. Sebagai usaha untuk menempatkan diri di tengah alam semesta dalam untaian waktu. Secara definitif sejarah lokal adalah kisah di kelampauan dari kelompok atau kelompok-kelompok masyarakat yang berada pada geografis yang terbatas.

Dalam menulis sejarah lokal diperlukan, penyelidikan bahan dan bentuk. Penyelidikan tentang isi dan perbandingan dengan sumber yang lain. Juga cerita yang berkembang di masyarakat (foklor) sastra tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Demikian juga fakta dan cerita yang menghubungkan fakta-fakta, sehingga terdapat keseluruhan atau kesatuan. Mitos atau cerita kepercayaan mengandung anasir sejarah, seperti sangkuriang, roro jongrang, dan di desa Cang’an terdapat kisah Joko Slining dan Puteri kabunan.

Demikian juga kisah penamaan Desa Canga’an, dinisbatkan burung Cangak (sejenis bangau). Menurut cerita masyarakat setempat. jadi teringat dengan kisah burung cangak dari bali, sejenis burung yang hidup di sawah-sawah yang bulunya berwarna putih, berkaki dan berleher panjang. Sejenis kuntul yang kira-kira besarnya sebesar ayam. Cangak sangat ingin makan ikan yang ada di kolam. Pada suatu hari burung cangak di sebuah kolam yang jernih ditumbuhi bunga tunjung dan banyak ikannya. Kemudian ia memikirkan daya upaya bagaimana cara mendapatkan ikan. Setelah mendapatkan akal, cangak berdiri di tepian kolam. Ia berpakaian serba putih dan bermahkotakan pendeta. Tenang dan begitu kalem penampilannya, ikan-ikan pun datang menerumuninya. Tapi ia tidak memakannya, sehingga makin banyak yang mendekatinya…

Dari sini dapat diambil tentang filosofi burung cangak, bahwa ketika menginginkan sesuatu harus dengan akal, siasat, tenang dan sabar. Jika dilanjukan cerita tentang burung cangak ini, maka akan ketahuan bahwa siapa yang berlebihan, tamak dan loba akan kena batunya. Juga bisa dilihat dari nama Desa Canga’an berdasarkan penamaan ibu kota kuno dari 10 Dinasti di tiongkok, Chang’an yang berarti kedamaian abadi (wikipedia). He he, otak-atek gatok.

Di samping itu juga ada cerita yang disusun untuk tujuan tertentu, seperti legenda yang berkembang di masyarakat Desa Canga’an dan sekitarnya. Pada kisah rakyat Ujungpangkah terdapat kisah tentang Jaka karangwesi dan putri Kabunan. Adapun di desa Canga’an ada kisah yang hampir mirip, yakni kisah Jaka Slining dan putri Kabunan, yang mana muatan ceritanya hampir sama. Tentang putri Kabunan yang mengajukan syarat dibuatkannya 41 sumur, bila ingin memperoleh cinta darinya dan ia bersedia menjadi suami orang yang bisa memenuhi syarat tersebut.

Mitos, saga, legenda betapun banyaknya mengandung anasir sejarah, bukanlah cerita sejarah. Yang nampak dari sejarah adalah cerita-cerita sifat-sifat kemanusian sejati. Kemanusian sejati tidak beralaskan kesaktian, kedewaan, keajaiban, kemukjizatan. Manusia dilukiskan sebagai manusia biasa, yang bergembira, bersedih, senang, lapar, beranak, mengejar cinta dan sebagainya. Sejarah adalah medan perjuangan manusia, dan cerita epos perjuangan mencapai kemajuan. Gerak sejarah ditentukan hukum alam yang disebut nasib. Kehidupan kebudayaan dalam segala-galanya sama dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan, kehidupan hewan, sama pula dengan perikemanusiaan. Sama-sama dalam hukum siklus, baik makrokosmos (alam) maupun mikrokosmos (Manusia).

Demikian juga sejarah lokal desa, perlu mengenal tentang alam kebudayaan yang terbagi dalam; pertama, ideational (kerohaniawan, ketuhanan, keagamaan dan kepercayaan. Kedua, sensate (jasmaniah, keduniawiyan, yang berpusat pada panca indera). Ketiga; perpaduan dari ideational-sensate, yang nanti menghasilkan kompromi (idealistic). Inilah akan menjadi pertimbangan, bahwa material kebendaan tidaklah cukup sebelum dibarengi dengan spritualitas. Desa memiliki gerak sejarah yang demikian, siklusnya dalam lahirnya kebudayaan (genesis of civization), perkembangan kebudayaan (growth civilization) dan keruntuhan kebudayaan (civilization).

Sistem pembentuk kebudayaan adalah bahasa, sistem teknologi, mata pencaharian hidup, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi dan kesenian. Yang mana akan mewujud dalam tiga aspek kebudayaan: pertama, kompleks gagasan, konsep dan pikiran manusia (sistem budaya). Kedua kompleks aktivitas (sistem sosial), ketiga, wujud benda (kebudayaan fisik). Dalam memahami budaya pedesaan diperlukan tujuh pokok tersebut dan tiga wujud kebudayaan. Sistem budaya religi memiliki ajaran-ajaran, norma, aturan upacara keagamaan, hukum agama. Sistem sosial religi memiliki aktivitas dakwa, upacara keagamaan (sembahyang, perkawinan, kematian, dan sebagainya). Kebudayaan fisik, seperti langgar, masjid, dan sebagainya.

Desa canga’an tidak berbeda dengan desa-desa di jawa timur pada umumnya. Dalam sistem bahasa mewujud dalam penggunaan basa krama dan ngoko, sistem teknologi, mengalamami perkembangan dari sarana sederhana hingga mesin (modern). Mata pencaharian hidup, mayoritas petani. Di samping itu juga jadi pegawai, tukang, penambang batu kapur. Dalam pengerjaan tani ada yang di sawah dan tegalan. Tanah sawah digarap dan diolah satu orang atau lebih, dan tanahnya ada yang dibuat beringkat-tingkat atau datar saja dan diberi pematang penahan air. Lalu tanah dibajak (luku), gunanya membalik tanah, memudahkan ditugali (pekerjaan menghancurkan tanah dengan cangkul. Kemudian tanah didiamkan satu minggu, lalu diolah dengan garu. Selesai digaru diberi pupuk kandang lalu dibajak lagi supaya semua lapisan digenangi air dan terkena pupuk, digaru lagi, barulah tanah siap ditanami.

Pembibitan dimulai dari pawinihan (persemaian padi), melalui nglingori (memilih bakal bibit), kemudian dipotong sedang dan diikat dalam beberapa ikatan (untingan), untingan itu dijemur satu hari, dimasukan ke tenggok, padi direndam satu hari satu malam, setelah itu dipep, ditutup daun pisang dua atau tiga hari. Ketika sudah tumbuh akar bibir disebar ke persemaian selama 15 samapai 30 hari baru dipindah kepersawahan. Pemindahannya dinamai nguriti (ndaut). Selama pertumbuhan dijaga dari tumbuhan perusak dengan mematun pakai gosrok, kalau padi sudah masak dituai dengan ani-ani, lantas dimasukan lumbung, yang setelah 40 hari baru boleh ditumbuk. Di tegalan, di tanami palawija, jagung, kacang, brol, singkong dan sebagainya.

Sistem kekerabatan jawa adalah bilateral. Juga sebagaimana aturan dalam perkawinan, seperti pancer lanang, ngarang wuluh atau wayuh. Sistem kemasarakatan, ada wong baku (lapisan tertinggi) keturunan orang yang pertama menetap di desa. lapisan kedua kuli gandok, lapisan ketiga joko (bujangan). Lurah dipilih oleh penduduk desa sendiri dengan ketentuan yang berlaku. Lurah memiliki pembantu-pembantu: 1) Carik (pembantu umum dan penulis), 2) Sosial (kesejahteraan penduduk baik jasmani maupun rohani, 3) kemakmuran (memperbesar produksi pertanian), 4) keamanan (bertanggung jawab keamanan dan ketentraman desa), 5) kaum (nikah, keagamaan, kematian dan lain-lain).

Dalam usaha memilihara dan membangun masyarakat desa para pamong mengerahkan bantuan penduduk desa dengan gugur gunung (gotong royong). Untuk bekerjasama membuat, memperbaiki atau memelihara jalan, jembatan, bangunan masjid, sekolah, menggali saluran air, memelihara bendungan, merawat makam desa dan upacara bersih desa. untuk mengatasi kesulitan ekonomi desa, di desa juga ada koperasi pertanian, koperasi konsumsi, dan bank desa. semoga desa Canga’an sudah ada semua.

Sistem religi, kebanyakan orang jawa percaya, kehidupan di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta. Sehingga kebanyakan trimo ing pandum. Sabar, ngalah, nrriman, loman, akas lan temen. Bersama-sama dengan alam pikiran partisipatif, orang jawa percaya kekuatan yang melebihi segala kekuatan, yang dikenal kasakten. Percaya dengan arwah leluhur (danyang), memedi, lelembut yang menempati disekitar mereka tinggal. Juga ada upacara selamatan bersama, yang beri doa bersama yang dipimpin modin, kemudian dibagikan. Macam-macam selamatan, pertama; selamatan lingkaran hidup (tujuh bulan, kelahiran, kematian dan sebagainya, kedua; selamatan bertalian dengan bersih desa, penggarapan tanah, dan setelah panen padi, ketiga; selamatan hari-hari besar islam (riyoyo, muludan dan sebagainya). Keempat; selamatan saat-saat tertentu seperti talak balak (ngruwat), pindah rumah, mau bepergian dan sebagainya. Kiranya di atas, slametan yang masih ada di desa Canga’an?

Di era modern mentalitas orang jawa, khususnya dea canga’an harus bangkit. Mengaktifkan sistem gotong royong digerakan untuk pembangunan di segala bidang, melalu kepemimpinan yang aktif bukan hanya memiliki pengetahuan dan pendidikan yang mumpuni, tetapi juga harus memiliki daya kreativitas dan inisiatif membuat inovasi-inovasi tanpa meninggalkan kearifan lokal. Di desa juga harus hadir tokoh-tokoh yang aktif dan kreatif, seperti putera-putera desa yang telah mengenyam pendidikan luar desa dan bersedia tinggal di desanya.

Begitu banyak yang hilang dari desa, mulai tak kenal dengan tata krama dan tatasusila, lenyapnya permainan tradisional dan tembang dolanan diganti gadget. Tak kenal situs-situs di desa seperti sumur gayam, sumur kembang, jublang cethek, jublang gedhe, taman sari, juga kisah-kisah yang berkembang di masyarakat seperti joko slining dan putri kabunan. Akan tetapi usaha teman-teman karang taruna desa Canga’an mulai menjawab kegelisahannya dengan mengadakan peringatan hari pahlawan 10 November, dengan bertajuk “langkah awal mengenal Sejarah Lokal”, yang berisi pawai dan pameran sepeda onthel klasik, performent art acustic, pencak silat dan malamnya dengan diskusi budaya. Selamat atas terselenggaranya acara ini.

Masih banyak yang ingin disampaikan, tapi cukup sekian dulu ya. Kami tutup perkenalan tentang diskusi budaya dengan semboyan “desa makmur desa sejahtera, penuh daya cipta dan suka cita” desa adalah pondasi nusantara, desa penuh warna-warni gemah ripah, desa penopang kota-kota, desa adalah pohon rindang peneduh kota-kota, sumber pokok kesederhanaan. Silir angin desa penuh sahaja. Desa adalah keringat yang wangi, semerbak ke penjuru negeri. Bangkitlah kaum muda desa, kalian pemimpin esok hari, jadilah pelopor jangan jadi pendengkur.

Gresik, 03.23 WIB, 10/11/19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *