TERTAWA-TAWA


(Lukisan: Ndix Endik, Judul: Bebrayan, kanvas 50 x 180)
Taufiq Wr. Hidayat *

Tetapi apakah tertawa itu dosa?

Doktrin agama-agama melarang tawa di tempat-tempat peribadatan. Lantaran tawa menjadi tanda sikap lalai, tak serius, dan tak perlu. Iman yang dianut sambil tertawa seolah mengejek Tuhan. Maka keimanan harus dipegang kokoh dan dianut dengan sepenuh penderitaan. Tanpa penderitaan, iman itu omong kosong.

Dengan tertawa, seorang pendendam merasakan kenikmatan ganjil setelah menghabisi musuhnya. Dendam selalu meminta waktu yang tak sebentar untuk terkubur di dalam dada. Tatkala dendam itu berhasil dilampiaskan, orang pun puas. Kemudian tertawa! Para utusan harus melewati begitu pedih dan sengsaranya derita demi iman dalam dada. Musa harus terlunta-lunta melawan kekuasaan Fir’aun. Yesus mengalami puncak penyiksaan di tiang salib. Nabi Muhammad menjalani penderitaan yang dahsyat dengan pengusiran, penekanan, penindasan.

Atas alasan itu kiranya, agama—terutama agama-agama samawi, melarang tawa terbahak-bahak. Bahkan diancamkan padanya neraka yang menyala-nyala. Tapi seringkali larangan itu kontraproduktif. Lantaran tanpa tertawa, selalu saja iman menjadi sekeras baja.

Apakah yang terkutuk adalah tawa atau sikap saat tertawa?

Nabokov agaknya tak begitu suka tatkala Carventes memojokkan Don Quixote dengan kekonyolan dan mengajak orang terbahak-bahak mengejeknya. Berabad-abad lamanya, Don Quixote merambah belantara pikiran sejarah dengan baju kesatria gagah perkasa. Tapi orang tahu, ia hanya lelucon. Di sini pun kita bertanya; apakah tawa harus bermakna lelucon dan apakah lelucon harus tawa? Barangkali sosok Don Quixote—si majenun atau si joker itu, menyampaikan pengertian, bahwa tertawa dan lelucon agaknya dua hal berbeda yang pada suatu keadaan tertentu keduanya dapat bersua. Dapat tersimpul secara sempurna. Lelucon—kemudian tertawa, menjadi bukti humanisme. Tetapi juga gejala, betapa ada idam-idaman dan keinginan—pun harapan, yang tak mungkin. Tak masuk akal. Atau ketakberdayaan mewujudkan impian. Bahkan hanya kepercumaan. Tatkala hidup dilanda kebosanan. Kemandegan bukan karena tak bergerak, melainkan hanya bergerak pada satu gerak, tanpa peluang dan kemungkinan pada gerak yang lain. Kelucuan agaknya menjadi pilihan. Pelawak perlu dihadirkan guna menolong dan membereskan situasi. Namun sesungguhnya, orang tak memerlukan kelucuan. Dunia tak sangat membutuhkan seorang pelawak. Kebutuhan pada pelawak tak pernah segenting kebutuhan orang pada bos, resepsionis hotel, atau petugas bank. Tapi dunia tak selalu menyadari, bahwa kelucuan dan para pelawak sungguhan itu sudah ada sebelum kelucuan diciptakan dan para pelawak dihadirkan. Tepat ketika itu, sebuah lelucon terkadang menjadi bukti muram. Dan tertawa menandai adanya kesedihan dari ketakberdayaan. Alangkah renta, daif, dan rapuhnya manusia. Namun ia tetap ingin tampak gagah, kuat, dan terhormat. Dengan kesadaran dan kebebasan tertawa, setidaknya orang menghalangi kesombongan dan kecongkakan. Pada kerapuhan dan ketakberdayaan itulah, lelucon tercipta. Setidaknya ada kekalahan yang terasa indah dan menyenangkan. Atau patah hati yang dirayakan dengan tertawa. Bukan tawa yang mengejek kekalahan orang lain, melainkan kekalahan diri sendiri. Menyadari betapa konyol nasib ini, orang tak perlu menepuk diri sebagai yang paling perkasa, paling kuat, paling kaya. Ia tak perlu jadi pahlawan yang dilegendakan. Atau orang suci yang menikmati pujaan bahkan pada caranya batuk sekalipun. Orang tak perlu menjadi Batman yang tak pernah tampak tertawa terbahak-bahak dalam hidupnya, yang menumpas kejahatan dan menegakkan kebenaran di tengah alangkah muram kehidupan maju di belantara gedung-gedung. Pun orang tak perlu jadi Joker, yang tertawa terbahak setiap detik hidupnya, yang betapa menderita korban kemajuan itu, ketertinggalan dan ketersisihan, keterhinaan, dan rasa minder oleh kekalahan demi kekalahan, yang dengan dendam kesumat membangun pemberontakan atas kemapanan.

Tapi doktrin agama dengan segenap formalitasnya yang baku, mengutuk tertawa. Tertawa dapat merusak yang takzim, memorak-morandakan yang hikmat dan rasa penyesalan terhadap dosa. Di sini pula tampak, rupa-rupanya iman yang selalu ditegakkan atau dianut dengan larangan-larangan tak pernah sanggup memandang kehidupan beserta segala perubahannya dengan pandangan lentur penuh permakluman, atau dengan sudut yang paling wajar dan manusiawi. Sehingga pada suatu keadaan, manusia justru berbondong-bondong tak gandrung pada formalitas agama. Agaknya dunia akan aman tanpa agama atau doktrin keimanan yang selalu menciptakan perang dan keributan.

Sejatinya pengertian yang arif suatu keimanan, tak pernah mengutuk tawa. Ia hanya menjaga agar segalanya tak berlebihan. Tak menjebol batas wajar dalam diri manusia itu sendiri. Tertawa tak boleh melalaikan pada air mata derita. Supaya ia tak berdiri di atas derita sesamanya. Bukankah itu sejatinya sikap kebaktian suatu keimanan? Jika kebahagiaan di dunia akan ditebus derita pada kehidupan di alam baka, maka penderitaan akan diganti kebahagiaan di sana. Lalu bisakah para manusia berbahagia di dunia tanpa harus celaka di alam sana? Itulah karenanya, agama yang sejati selalu menjadikan nilai kemanusiaan sebagai inti keimanan. Siapa yang berbahagia di dunia, tapi ingin selamat dan tetap berbahagia di alam baka, ia wajib berhikmat pada derita dan kesengsaraan. Mengentaskan atau meringankan, atau berturut serta dalam derita. Agar kebahagiaan itu kekal.

Akan tetapi, kenapa justru para pemeluk iman seringkali memandang penderitaan belaka “ujian Tuhan”? Bukankah sesungguhnya penderitaan terjadi lantaran orang-orang mujur-bahagia menjadi bakhil dan tak sudi berhikmat pada penderitaan sesamanya?

Tembokrejo, 2019

*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *