NAMA LAUT

A. Syauqi Sumbawi *

Di pasir pantai, seseorang berjalan seraya terus merapal: “laut, laut, laut…” Redudansinya terdengar seperti dzikir. Mereka yang kebetulan memperhatikannya, memberikan tatapan aneh. Lalu mengonfirmasi hal itu kepada teman-temannya. Melalui isyarat di wajah, mereka saling menyatakan pandangan yang sama. Sebuah pemandangan yang tak wajar.

Kenapa terus merapal namanya ketika di hadapan adalah laut?! Keisengan, tanda ketidakpahaman, atau ketidakwarasan?! Jika laut bisa bicara, barangkali dia akan marah seperti manusia. Kalau tiga kali seperti dalam lagu “Bento”-nya Iwan Fals, ya asyik, asyik saja. Akan tetapi, dirapal berulang-ulang seperti dzikir, bisa mengarah pada tindak pencemaran dan ketidaksopanan. Sebagai makhluk yang ber-Tuhan, tak ada orang yang mau terang-terangan dipertuhankan.

Kenapa tidak mencebur saja ke lautan?! Berenang dan bermain air di pinggiran seperti orang-orang yang menemani anak-anaknya. Kalau tidak, ya berenang ke tengah agar paham luasnya laut dan mencecap airnya. Agar ketika kembali, bisa berkabar tentang batas diri sendiri. Juga diri manusia yang menampung segala rasa.

Penyataan retoris di atas muncul ketika membaca puisi berjudul “Memanggil Nama Laut” karya Herry Lamongan. Pada buku antologi sajak tunggalnya, “Surat Hening” terbitan Dewan Kesenian Lamongan bekerjasama dengan Pustaka Ilalang, tahun 2008, hlm. 26, secara lengkap dituliskan:

MEMANGGIL NAMA LAUT

memanggil nama laut tanpa paham luasan laut
kedalaman apakah yang bisa diingat
mengabarkan asin garam tanpa merasai asin garam
pemahaman macam apakah yang sempat dicatat

nama tinggallah nama; bila itu laut
masih pantaskah keras-keras memanggil nama laut
tatkala menyelam diri sekujur pada bentangan luas laut

o, lisan-lisan yang memanggil
takaran lantang suara belum sepasti bening penyaksian
kerna siapa yang fasih bersaksi ia telah mengenali

o, sekian hati yang bersaksi
kesungguhan mengenali belum pula seterang diri menyelam
kerna siapa tiba di kedalaman ia tidak lagi berkata-kata
kerna sahabat paling karib cukup disapa tanpa aba-aba
bahkan tanpa perlu banyak suara

1995

Laut, dalam puisi ini merupakan diksi kunci —sekaligus umum— untuk mengungkapkan tentang keberadaan yang maha penting dalam kehidupan manusia, yakni Tuhan, dimana pengetahuan dan kemampuan manusia di hadapan-Nya, ibarat setetes air di lautan. Puisi ini juga mengkonfirmasi bahwa nama laut, bukan laut itu sendiri, yang menunjukkan dua tataran, yakni kabar dan hakikat yang Ada.

Kisah eskatologis menjelaskan bahwa setelah menciptakan manusia—Adam—, Tuhan mengajarkan nama-nama segala. Tentunya, tak berhenti pada nama —kata— semata, melainkan mencakup juga pemahaman dan kesadaran. Juga hakikatnya. Karena itu, mengabarkan asin garam tanpa pernah merasai sendiri, hanya akan berhenti pada wilayah ragu-ragu. Belum sampai pada level ilmu, apalagi ma’rifat yang dipahami sebagai pengetahuan yang tidak menerima lagi keraguan. Pengetahuan setelah hakikat.

Pada tataran hakikat, maka: /nama tinggallah nama, bila itu laut/, sebab hakikat tidak lain adalah /…bening penyaksian/. Tak ada ruang bagi nama untuk mewujud.. Apalagi, /…keras-keras memanggil nama laut/. Bagi manusia, mungkin hanya cukup berenang dan merasakan. dengan tersenyum dan mengiya-iyakan kepala saja.

Di bagian akhir, puisi ini menyatakan bahwa pengenalan kepada Tuhan, tidak cukup hanya dengan mengetahui dan menyebut nama. Tak cukup hanya tataran syariat, tetapi juga harus sampai pada hakikat. Hal ini bukan berarti nama tidak penting. Nama penting untuk pengenalan awal. Menyebut nama, penting dalam menjalankan ketaatan. Tuhan memperkenalkan nama-Nya serta diperdengarkan di antara manusia. Terus-menerus. Tidak lain adalah untuk mengingatkan manusia kembali pada penyaksian hakikat. Dzat. Karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Bahkan, men-Tuhan-kan yang lain juga.
***

_______________________
*) Ahmad Syauqi Sumbawi, sastrawan kelahiran Lamongan 28 April 1980. Menulis cerpen, puisi, novel, esai, kritik, dll. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa. Puisi-puisinya terkumpul dalam antologi: Dian Sastro For President; End of Trilogy (Insist, 2005), Malam Sastra Surabaya; MALSASA 2005 (FSB, 2005), Absurditas Rindu (2006), Khianat Waktu (DKL, 2006), Laki-Laki Tanpa Nama (DKL, 2007), Gemuruh Ruh (2007), Kabar Debu (DKL, 2008), Tabir Hujan (DKL, 2010), Darah di Bumi Syuhada (2013), Pesan Damai di Hari Jumat (2019), Menenun Rinai Hujan (2019). Dan beberapa cerpennya dapat dibaca pada kumpulan: Sepasang Bekicot Muda (Buku Laela, 2006), Bukit Kalam (DKL, 2015), Di Bawah Naungan Cahaya (Kemenag RI, 2016).
Sementara antologi tunggalnya: Tanpa Syahwat (Cerpen, 2006), Interlude di Remang Malam (Puisi, 2006), dan #2 (SastraNesia, Cerpen 2007). Novel-novelnya yang telah terbit: Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong (2007), Waktu; Di Pesisir Utara (2008), dan “9” (2020). Sedangkan bukunya dalam proses cetak ulang “#2,” dan Limapuluh (kumpulan puisi) segera hadir. Selain menulis, juga berkebun, dan mengelola Rumah Semesta Hikmah, dengan kajian dibidang sastra, agama dan budaya, di dusun Juwet, Doyomulyo, Kembangbahu, Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *