LAUT MUNCAR


Taufiq Wr. Hidayat

Bulan pun datang, nelayan pulang. Lalu berangkat lagi dalam puisi ini. Tapi hujan belum membawa kabar menepi. Perahu-perahu mengambang, tiang-tiangnya menanti sandar tiap pertanyaan nelayan yang tersangkut pada angin Sembulungan.

Alangkah gemar, jutaan lemuru bermain di situ, dan udara dingin senja yang amis. Melambai bagai tarian yang menggerakkan jari-jari lautan. Menggerayang alis pelabuhan Muncar, melentik di atap-atap rumah, ternak kambing. Di akhir kali mati.

Sebentar lagi. Juga hujan, tegur angin selatan
yang berpusar sejenak di ujung menara surau tua. Bersetia meniup lumut bulan-bulan berlepasan. Kemudian seseorang memungut sehelai daun akasia. Lalu berlari ke bawah atap warung kopi. Perlahan menghitung sisa hujan pada penjelang petang. Dan pandangan yang berawan.

Laut dipayungi mendung. Gerimis luruh di mata para pencari ikan. Sebentar lagi. Laut menerima cahaya lampu. Dan entah siapa akan mengantarkan kepak elang ke atas samudera. Kemudian duduk menyaksikan orang-orang kekar yang bergairah mendekap bahu-bahu gelombang.

Kerlip lampu yang jauh itu. Perlahan mendekati pelabuhan. Pada musim-musim samar. Pergantian antara kelam dan ratapan, di antara batu-batu yang ditata bagai jembatan. Dan sebuah rumah perahu yang kelabu.

Kulit ungu seorang kemudi. Menyatu angin senjakala. Para pendatang singgah. Meyakini mimpi, yang bertabur dari mata mendung. Menggulung waktu.

Pada tatapan seekor elang yang sunyi. Dan ampas-ampas buih menepi. Pada pasir hitam
dan muara yang membawa bangkai-bangkai ikan. Hujan menyerbuk pelan. Oh kenangan.

Seseorang yang asing, mematung di pintu sebuah rumah tua. Topi hitam, berselimut sarung yang kelabu. Tatapan petang, dan tembakau.

Mulut radio di warung mendendangkan dangdutan. Menyelinap di rimbun waktu, mendesak ke dalam keyakinan, tentang kaki pantai dari balik daun pintu-pintu yang gaduh.

Tangis bayi yang menggairah. Seorang bapak
mengurai hidup dari simpang cuaca. Seperti menakdirkan cemas pada jejak napas. Telah lama laut dijaring. Orang-orang dari tempat yang jauh. Bahkan dari negeri lain. Melayarkan perahu diam-diam.

Namun tarian para nelayan begitu terang menjaring riang. Menghitung hujan. Memungut butiran-butiran. Sebuntal untuk makan malam.

Pelan-pelan sebingkis angin Desember meniupkan syair “Layar-layar kumendung”. Tiap kapal bergoyang. Tatapan-tatapan mendung. Kaki pantai. Tersering murung. Tapi
tak henti senandung. Pada amis udara, ia mengendap di pasar ikan yang meneteskan liur para pendatang. Dari pulau-pulau jauh yang tak tampak. Terbenam pada jalanan basah, keranjang ikan, peti-peti pendinginan.

“Ada yang tertinggal, Tuan.”
Sebatang dahan pohon waru jatuh di tepi alis lautmu, Muncar!

Kali mati yang menggenang. Dan siang tadi masih merayapi matahari. Petang merebah dalam lubukmu. Angin Desember membawa pada sebentuk percakapan ramai pada ruang pelelangan yang menghangat. Tapi. Entah siapa, diam-diam menyembunyikan sebutir hujan pada jaketnya yang hitam, lalu menyelinap di tikungan.

Jembatan tua di wajah muara. Bila laut pasang,air menyentuh tepian. Perahu-perahu tak menampak lelah, pelan mengarung muara.

Pada batas lautan, senja yang gamang itu, seseorang melempar mata kail dari atas jembatan. Seperti telah menegaskan angan pada tiap pemberangkatan segenap perjalanan.

Lantaran sebutir mimpi tak tersia dari semesta.

Mengenakan baju cinta di tengah pandangan segala bangsa. Suku kecil. Suku yang tak pasti dalam peta; rumah-rumah tradisional, masakan yang ganjil. Juga siul yang kelabu.

Laut selatan. Kulit ungu melepuh. Desah mimpi yang sembunyi di balik hujan Desember.

Entah siapa, menghitung singgah angin yang telah melintas di atas kuburan para pelaut. Menyanyikan irama dari dunia yang lain. Memungut sehelai sepi yang terjatuh di halaman. Ada sunyi tak sepenuhnya jadi.

Jari-jari gelombang terus menggerayang jembatan tua yang tak tersentuh air lautan. Seperti telah menegaskan lagu pada sebuntal daging rindu.

Di tengah abad-abad yang berlalu. Hingga ke ujung keluh. Aku telah memfosil dalam rindu. Dalam gugup. Dan takjub.

Belum sampai dipikirkan biografi laut. Belum sudah pelayaran. Sebab tak pernah menghitung pencapaian dari segala kewajaran.

Musim sudah berganti. Waktu berenang. Mengabar kembali segenap pelayaran yang tak pernah menunda diri. Lewat udara siang yang membakar atap-atap rumah di alis pantai.

Pasar ikan.Orang-orang menunggu pembeli. Para pendatang memungut embun yang jatuh
di jalan becek yang amis.

Pabrik melahirkan asap dan limbah dari perutnya. Ikan-ikan busuk didaur menjadi tepung. Para pekerja bergerombol pada istirahat siang. Kemantapan hari akan tempat tinggal, mengendap pada dinding pabrik tua
dan perahu-perahu yang lenyap ke dalam kabut.

Langit kelabu. Pasir hitam yang basah. Mata waktu yang berawan. Kecemasanmu, wahai Muncar! Menghunjam ke dalam dadaku. Lobang karang, kulit legam, keresahan. Mengendap di wajah. Wajah nelayan. Mengurai hujan pada nasib pelayaran.

Muncar, 2014-2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *