BUKIT SANGGO INAI

Indra Intisa

Selama ratusan tahun, aku kalian percaya sebagai bukit keramat tanpa pernah bisa kubantah. Selama itulah, aku sering dipuja-puji, diberikan sesajen bagi yang minta-minta, dikirimi doa-harap supaya kaya dan sembuh dari penyakit, dan dihormati layaknya Tuhan. Kalian sering menyebutku sebagai bukit keramat pelindung kampung. Katanya, jika ada orang-orang daerah lain yang berbuat jahat di kampung ini, maka aku akan segera melindungi kampung. Mengusir orang-orang yang berniat buruk. Bahkan kalian percaya jika aku memiliki hunian para dewa-dewi, makhluk halus, Datuk (sebutan untuk harimau siluman; para hunian), dan sebagainya yang setiap saat bisa melindungi kampung.

Di bukitku, berdiri dua buah kuburan yang kalian anggap keramat. Kuburan pertama adalah kuburan Datuk Temenggung Paku, yang katanya memiliki tuah yang sangat hebat pula. Kuburan ini sering berpindah-pindah. Kata kalian, setiap orang akan menemuinya di tempat yang berbeda. Kadang di puncak bukit sebelah Utara, kadang lagi di sebelah Barat, begitu seterusnya, selalu berubah-ubah. Kuburan yang memiliki ukuran panjang melebihi normal ini, tidak bisa ditemui oleh setiap orang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menemuinya, jika beruntung. Kuburan yang kedua adalah kuburan Datuk Kopiah Perak. Sekalipun kuburannya tidak sekeramat dan sesakti kuburan Datuk Temenggung Paku, tetapi nama datuk ini paling sering disebut dalam doa-doa—pinta dari orang-orang tua sekitar. Kata orang tua kalian, “Berdoalah. Mintalah melalui Datuk Kopiah Perak. Beliau akan meneruskan doa kita ke Yang Maha Kuasa.”

Bagaimana caranya membantah jika aku tak bisa menyanggah? Setiap waktu-waktu tertentu, aku sering kalian kirimi dengan ayam-ayam segar-hidup sebagai upah karena doa telah terkabul. Ayam-ayam cantik, bulu-bulunya indah menawan, suaranya merdu, tubuhnya paling sehat, terus-menerus kalian suguhi. Ayam-ayam tersebut sering tak betah tinggal dibukitkku. Ayam-ayam itu kembali turun dan menyusuri kampung-kampung untuk hidup dan cari makan. Apa yang bisa kuberi pada ayam-ayam itu selain makanan alam? Ayam-ayam yang terbiasa kalian pelihara tentu tidak terbiasa hidup di hutan. Ah, kalian masih saja berkata bahwa, “Ayam yang kembali ke masyarakat jangan diambil. Itu adalah ujian dari orang-orang bukit. Jika dimakan, maka kita akan terserang penyakit—sebagai kutukan.”

Aku ingat, ketika ada seorang anak kecil yang polos dan lugu bertanya kepada tetua kalian, “Nek, kenapa kita harus berdoa ke bukit itu. Apa hebatnya bukit itu?”

Dan tetua kalian menjawab, “Bukit itu keramat, cucuku. Bukit itu adalah pelindung kampung.”

“Bagaimana caranya melindungi kampung, Nek? Bukankah bukit itu berdiri diam?”

“Hus! Tidak baik bilang begitu. Datuk di sana bisa mendengar ucapanmu. Hati-hati kalau berbicara. Ingatlah ini Cucuku. Dahulu, ada orang yang pernah berbuat jahat di kampung ini. Kemudian orang tersebut lari ke bukit itu. Tidak lama kemudian, penjahat tersebut mati. Kabarnya tersesat, tidak makan, masuk ke lubang, dipatuk ular.”

“Namun, Nek, bukankah itu karena ia tidak makan? Mana ada orang yang bisa hidup di semak berhari-hari? Belum lagi binatang hutan yang liar dan buas. Berarti, ia mati bukan karena kesaktian bukit itu, Nek.”

“Cucuku, kau masih kecil. Tak mengerti apa-apa. Lihatlah, banyak orang sembuh dari penyakit setelah berdoa ke bukit itu. Bukit Sanggo Inai bukan sekadar bukit biasa. Ia dihuni banyak dewa-dewi, datuk harimau, dan segala macam makhluk.”

“Jadi yang lebih sakti itu siapa, Nek? Bukit Sanggo Inai, dewa-dewi, datuk harimau, atau makhluk-makhluk lainnya? Sakti mana dari Tuhan?”

“Hus! Jangan banyak tanya. Cepatlah tidur! Nanti kau dimarahi orang-orang bukit.”

Di lain waktu, kalian dan para tetua menangis-nangis meminta kebaikan melalui arwah kuburan keramat yang ada di bukitku, “Ya Datuk Kopiah Perak. Sampaikanlah doa kami kepada-Nya. Hanya dirimulah yang sanggup menyampaikannya.”

Dengan polos dan lugunya, anak kalian bertanya, “Nek, kenapa kita berdoa melalui Datuk Kopiah Perak?”

“Karena dulu, Datuk Kopiah Perak sangat saleh dan alim. Beliau itu hafal Alquran.”

“Lalu kenapa kalau beliau saleh, Nek?”

“Orang saleh doanya akan sampai, cucuku.”

“Kenapa kita tidak berdoa langsung kepada Tuhan? Kenapa harus melalui perantara?”

“Karena kita tidak sesaleh Datuk itu. Beliau akan menyampaikannya langsung.”

“Namun, Nek. Bukankah Datuk itu sudah mati? Bagaimana cara—ia menyampaikannya?”

“Hus! Jangan banyak tanya. Cepat tidur! Nanti kau dimarahi orang-orang bukit itu.”
***

Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, ramai-ramai orang menebang kayu dan pohon yang ada di bukitku. Beberapa dari mereka melakukannya untuk membuat huma, menanam padi (sawah tadah hujan), membuat lahan perkebunan sawit dan karet, dan bahkan menegakkan rumah. Sebuah kejadian luar biasa—melawan tradisi lama yang kalian cemaskan. Sebagian dari tetua harap-cemas, tetapi sebagian yang lain tidak peduli. Keadaan memang bisa mengubah segalanya. Demi kelangsungan hidup—lahan pertanian semakin berkurang. Kenapa kalian tidak minta saja kepadaku akan rezeki dan lahan baru? Bukankah aku bisa mengabulkannya?

“Begitulah, Bang. Mau bagaimana lagi, kami butuh lahan pertanian. Belahan bukit itu satu-satunya harta kami yang tertinggal,” kata Pakwo Jono yang kurus itu.

“Benar, Pakwo. Aku juga butuh tempat tinggal. Tidak ada salahnya kami tinggal di lereng bukit ini. Datuk di sini tidak akan marah,” sambung Romi tidak kalah seriusnya. Pemuda yang sudah menikah delapan tahun ini, baru sempat menegakkan rumah di lereng bukitku. Sebelumnya masih menumpang di rumah mertua.

“Pakde Joni sudah menanam sawit. Pakbusu Ajis sudah menanam karet. Tidak terjadi apa-apa. Barangkali datuk-datuk di sini mengizinkan kita semua,” sambung Pakwo Jono.

“Aku pikir, datuk-datuk di sini sudah pindah ke bukit sebelah. Sebab, tetua Nek Rima bilang, ‘Datuk-datuk sudah pindah ke bukit sebelah. Yaitu bukit berbaris di antara bukit Tambun Tulang.’ Jika benar begitu, apa tidak akan jadi masalah?”

“Entahlah, zaman terus berubah. Sekarang, kita pilih hidup atau mati saja.”

“Kemarin, aku bermimpi bahwa di bukit Sanggo Inai itu ramai seperti perkampungan. Ada rumah penduduk, ada masjid, ada sekolah, dan sebagainya. Aku ingat, di sebelah lereng itu ada rumah penting Datuk Besar. Makanya, aku hati-hati dalam mendirikan rumah.”

“Benar, benar. Artinya, kita tetap waspada. Jangan sampai mengganggu mereka di sana. Mendirikan rumah, jangan sampai tepat di rumah mereka. Arah pintu dan sebagainya harus di atur.”

“Ah, Pakwo Jono tak konsisten. Tadi bilang, pilih mati atau hidup. Sekarang cemas pula. Tuh, apa bedanya ketika menjadikannya lahan pertanian? Tidak takut mengenai rumah-rumah datuk di sana?”
***

Beberapa tahun ini, era digital benar-benar membunuh keangkeranku. Bukitku berdiri tanpa dipandang hebat. Tubuhku tidak semenjulang dahulu lagi. Anak-anak muda berpecicilan berdiri dan menaiki bukit untuk melihat keindahan alam. Melihat putaran sungai Batanghari yang mengalir di bawah bukit. Mereka tertawa tanpa ada rasa cemas. Bahkan ada beberapa anak-anak muda tertangkap ketika berpacaran di atas puncak bukitku. Tidak cemaskah, mereka? Bagaimana jika kukutuk jadi penyakit? Ah, aku jadi bingung. Bukankah dahulu aku ingin dianggap sebagai bukit biasa saja—bukan di-Tuhan-kan. Yang dianggap keramat—pengabul doa? Lalu kenapa—aku tiba-tiba menjadi marah dan ingin dianggap angker lagi?

Kecemasanku semakin menjadi-jadi, ketika banyak anak-anak muda tidak pergi ke sekolah dengan baik. Banyak dari mereka menghabiskan waktu untuk bercinta, bermain dan menghabiskan waktu di bukitku ini. Ada yang sengaja ke sini untuk merokok, minuman keras, dan bahkan narkoba. Apa yang ada dalam pikirannya? Bagaimana dengan ibu-bapak mereka yang ingin menyekolahkan anaknya menjadi tinggi? Menjadi generasi emas yang berhasil? Menjadi calon penerus dan pemimpin masyarakat? Ah, kalian sama saja. Generasi tua dan muda sama buruknya.

“Nek, kenapa bukit Sanggo Inai tidak angker lagi?” salah seorang anak lugu dan polos bertanya ke tetua kalian.

“Itu karena datuk-datuk di sana sudah pergi. Mereka sudah meningalkan kita. Kita sudah tidak menghormati mereka lagi. Lihatlah, kenapa doa-doa kita tidak terkabulkan lagi. Anak-anak menjadi nakal—susah diatur. Dan kau, jangan ikuti kenakalan kakak-kakak kau, ya?!”

“Kenapa tidak boleh, Nek? Kenapa harus takut? Bukankah bukit Sanggo Inai tidak angker lagi? Ia tidak akan mengutuk kita kalau kita salah. Datuk-datuk di sana sudah pindah.”

“Hus! Jangan banyak tanya. Cepat tidur!”

Begitulah kisahku yang kalian anggap terbuang. Angker atau tidak, kalian tetap saja sama.
***

Keterangan:
Bukit Sanggo Inai terletak di desa Sungai Abang, Kabupaten Tebo, Jambi. Bukit yang bersebelahan dengan sungai Batanghari ini memiliki mitos yang kuat pada masyarakat sekitar.

Sumber tulisan:
Indra Intisa. Sungai yang Dikencingi Emas. Penerbit: Rosebook. 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *