Menjelajah Alam Semesta Nezar Patria


[Pengarah gaya: Freddy Martin, Fotografer: Iyok Manggabarani]
Linda Christanty
Rubrik “Dunia Pria”, Majalah Dewi, Mei 2015

Ia tak kenal lelah memperjuangkan demokrasi hingga kebebasan pers dan kini ikut memimpin CNN Indonesia.

UCAPAN CARL SAGAN DALAM PALE BLUE DOT, buku yang ditulis kosmolog Amerika itu, membuatnya terkesan. “Bumi kita kalau ditatap dari luar angkasa hanya titik biru pucat di tengah alam semesta, tapi di sana segala dendam, cemburu, dengki, sakit hati, perang, dusta berlangsung dengan gilanya.” Nezar Patria, wakil pemimpin redaksi CNN Indonesia, mengulangi kembali ucapan tersebut dalam perbincangan kami akhir tahun lalu di kantornya di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Penampilannya rapi, meski santai. Kemeja hitam, celana jins, sepatu kulit. Selain gemar membaca buku-buku sejarah, politik, dan sastra, ia peduli terhadap hal-ikhwal alam semesta dan masa depan ras manusia. Kehidupannya di bumi telah membuktikan kata-kata Sagan. Beberapa kali ia berada di tengah pusaran konflik atau kegilaan perang.

Sebelas tahun lalu, ia dan empat rekan wartawan terperangkap perseteruan dua institusi bersenjata,Tentara Nasional Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, di kala Aceh berstatus darurat militer. Demi kelancaran proses pembebasan seorang juru kamera televisi nasional yang disandera GAM, mereka rela menjadi jaminan untuk dibawa ke markas para gerilyawan. Di puncak bukit Peudawa, Aceh Timur, ia baru menyadari betapa besar risiko dari keputusan mereka saat menyaksikan ribuan prajurit TNI bergerak melingkari lereng bukit, berlapis-lapis, membentuk formasi pengepungan. Sementara kekuatan GAM hampir setara. Namun, para wartawan 75 media tidak putus asa mendesak militer memperpanjang gencatan senjata. Solidaritas ini berpengaruh. Pertempuran tidak terjadi. Kesepakatan pun tercapai. Trauma? “Tidak. Tapi khawatir terjadi apa- apa, karena istri waktu itu sedang mengandung anak kedua kami,” katanya. Putri sulungnya baru berusia tiga tahun.

Peristiwa Peudawa bukan pengalaman pertama Nezar dengan bahaya. Pada 13 Maret 1998 ia ditangkap melalui sebuah operasi Komando Pasukan Khusus dan disekap dalam penjara rahasia sebagai musuh Orde Baru. Suatu hari ia mendengar suara pistol dikokang. Waktunya sudah dekat. Tapi keadaan tiba-tiba berubah. Para penculik memperoleh instruksi lain. Soeharto ternyata mengundurkan diri sebagai presiden di bulan Mei 1998. Sebulan kemudian ia dibebaskan.

Pasca Soeharto, ia menekuni jurnalisme, mewujudkan cita-citanya waktu kecil. Ayahnya juga wartawan, sehingga dunia itu terasa akrab. Salah satu elemen jurnalisme bahkan sejalan dengan praktik para aktivis, yaitu memantau kekuasaan dan menjadi penyambung lidah mereka yang tertindas.

Kehadirannya di bumi 44 tahun silam sebuah karunia. Ia menikmati masa kecil di antara keriuhan pasar dan ketenangan kampung dalam kota Banda Aceh. Ia hanya menyendiri untuk membaca buku. Perpustakaan adalah tempat yang paling diingatnya. Rasa ingin tahu telah menggiring Nezar pada sejarah untuk pertama kali saat ia membuka sebuah lemari besar di sekolah. Kertas-kertas kuning bertuliskan aksara kanji ada di lemari itu. “Guruku akhirnya bercerita dulu SMP kami milik perkumpulan Tionghoa. Mereka terlibat partai komunis, sehingga pemerintah mengambil alih sekolah,” kisahnya.

Pada pertengahan 1980-an, ladang gas ditemukan di Lhokseumawe, Aceh Utara. Perusahaan multinasional gencar mengeksplorasi, tapi hasil dari gas tidak memperbaiki taraf hidup mayoritas orang Aceh. Konflik GAM, kelompok perlawanan bersenjata, dan pemerintah Indonesia mulai memanas. Ia mengenang, “Waktu SD aku melihat poster orang-orang yang dicari, dipasang di balai desa, kantor-kantor, dan dinding sekolah. Tapi membicarakannya tabu.”

Kegemarannya membaca seiring dengan kesenangan menulis. Ketika SMA, ia meraih juara pertama lomba menulis tingkat nasional yang diselenggarakan suratkabar Suara Karya. Tulisannya Tapak Tuan Padamu Negeri menyisihkan 3.200-an tulisan lain. Ia bangga, “Hadiahnya dari tiga menteri. Menteri pendidikan, menteri pemuda dan olah raga, dan menteri pariwisata. Fuad Hassan, Akbar Tanjung dan Joop Ave. Aku bertemu mereka.” Kemenangan itu menerbangkannya ke Jakarta untuk pertama kali. SMA seluruh Aceh gempar.

Novel-novel Iwan Simatupang telah mempertemukan Nezar dengan filsafat, “Ceritanya membuat kita berpikir. Ada yang bilang dia tertarik pada eksistensialisme. Ternyata itu filsafat. Aku jadi ingin tahu apa itu filsafat.” Dari ujung barat Sumatra, ia hijrah ke Pulau Jawa untuk kuliah di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia lantas aktif dalam pers mahasiswa dan kelompok diskusi, yang memberi akses untuk mengetahui fakta di balik bermacam peristiwa sejarah yang tabu dibicarakan.

Pemerintah di masa itu menghalangi kebebasan berpendapat. Media disensor. Demonstrasi massa dihadapi dengan senjata. Orang-orang kritis ditahan. Awalnya ia ikut aksi-aksi kampus, seperti memprotes kenaikan uang kuliah. Lama-kelamaan, ia berjuang untuk rakyat. Pada 1993, mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Indonesia melakukan aksi bersama petani di Blangguan, Jawa Timur. Marinir menembak ladang-ladang jagung dengan mortir, karena menganggap itu lahan mereka. Banyak temannya tertangkap pasca aksi tersebut, tapi ia lolos dan mengirim kronologi peristiwa itu ke media massa. Suratkabar Kompas berani memuat. “Dampaknya besar. IGGI langsung menangguhkan dana untuk militer Indonesia,” kenangnya. IGGI (Intergovernmental Group on Indonesia) digagas Amerika Serikat dan berdiri pada 1967 untuk mengatur dana multilateral kepada Indonesia.

Menyadari fungsi organisasi sebagai wadah pendidikan serta penggalangan solidaritas, ia turut mendirikan Persatuan Rakyat Demokratik pada 2 Mei 1994. Dua tahun kemudian, pada 15 April 1996, organisasi ini berubah menjadi Partai Rakyat Demokratik, oposisi terpenting dan radikal di masa puncak Orde Baru. Baginya, masa itu tak kunjung pergi, tapi menghantui. Empat temannya masih hilang. Padahal Tim Mawar yang dulu menculiknya sudah dihukum. Lima tahun setelah reformasi, ia bahkan mewawancarai Prabowo Subianto, bekas komandan jenderal Kopassus, tentang peristiwa Mei 1998, “Tapi tentang penculikan, dia tidak mau bicara dan katanya, dia tidak boleh lagi bicara.”

Setelah bekerja setahun di majalah DR, Nezar direkrut majalah Tempo. Pada 2003 ia menerima Journalism for Tolerance Prize dari International Federation of Journalist di Manila, Filipina, untuk liputan investigasi kerusuhan Mei 1998 yang dimuat Tempo. Tujuh tahun ia bekerja di situ, lalu cuti untuk menyelesaikan master di bidang sejarah internasional di London School of Economics and Political Science. Selama kuliah di London, ia takjub menyaksikan kemajuan media digital, “Indonesia jauh tertinggal.” Bersama beberapa teman, Nezar meninggalkan Tempo pada 2008. Mereka mendirikan Vivanews, sebuah portal berita. Ia menjabat redaktur pelaksana. Dalam empat tahun, Vivanews menjadi tiga portal berita terbesar di Indonesia. Ia malah hengkang dari media tersebut, “Pemiliknya ingin mengarahkan berita untuk kepentingan salah satu kandidat presiden tahun lalu.” Tak berapa lama ia bergabung dengan CNN Indonesia, juga portal berita. “Internet merupakan basis dari revolusi teknologi dan komunikasi, membuat peradaban bergerak lebih cepat. Interaksi antar individu, warga, dan bangsa, kian luas, tanpa batas,” kata lelaki, yang pernah menjabat ketua umum Aliansi Jurnalis Independen dan sekarang anggota Dewan Pers. Bagaimana nasib media cetak? Jawabannya realistis, “Berita koran akan makin indepth, majalah akan menukik lebih dalam untuk memberikan latar belakang satu peristiwa. Sirkulasinya akan terus turun, tapi tetap beredar di lingkaran pembaca yang menginginkan informasi khas.”

Media sangat memengaruhi pendapat umum dan kebijakan, sehingga tanggung jawab jurnalisme tidak ringan. Kebebasan berekspresi harus dibedakan dari provokasi. Ia mengkritik tabloid Charlie Hebdo yang memuat kartun Nabi Muhammad, meski mengutuk penembakan brutal di kantor tabloid itu di Paris awal Januari lalu, “Charlie Hebdo mencampur fakta dengan opini. Ini kebebasan yang keji, yang merendahkan kaum minoritas dengan mengolok-olok kepercayaan dan simbol agama mereka, bahkan bisa tergelincir ke arah rasisme, karena memproyeksikan Islam sebagai stereotip agama teroris.“ Dua belas orang meninggal dunia dalam insiden itu, termasuk dua penembaknya, yaitu orang- orang Perancis keturunan Aljazair.

Meski ancaman asteroid terhadap bumi meresahkannya bila teringat masa dinosaurus punah, ia menyaksikan kebanyakan nasib manusia justru ditentukan ulah mereka sendiri. Ia telah membuktikan bahwa tiap upaya mengatasi masalah dan bahaya adalah karena hidup ini berharga.

(LINDA CHRISTANTY)
https://www.facebook.com/notes/linda-christanty/menjelajah-alam-semesta-nezar-patria-oleh-linda-christanty/10152727380096496/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *