Puisi-Puisi Indra Intisa

PESTA LALAT

buntut menungging
deru sayap berpusing
di antara onggokan bangkai
lingkaran sampah

“iha!”
ulat-ulat puisi jatuh
melubangi daging busuk
bau mengalun ke angkasa

cret sana
cret sini
belatung puisi terkekeh
bersorak dalam bangkai

tak lama
induk puisi nyembul

2020

LALAT IJO

lalat ijo terbang
di antara bangkai puisi gemuk
“ada makanan, nih!”

lidah menjelajah pada bulu-bulu
membasahi kulit siap santap
“puisi gemuk! puisi gemuk!”

seekor anjing lewat
“daging segar, oy!”

lidah anjing menjulur
di sela-sela bulu
bekas lalat ijo.

bangkai puisi semakin laku.

dua ekor penyair lewat
“ini puisi hasil buruan kemarin!
udah bau.”

hidungnya berubah menjadi baling-baling
terbang ke panggung-panggung sastra.

2020

PASAR PUISI

di pasar orang ramai
menjual kata-kata

ada tukang ikan
yang menawarkan sirip puisi
matanya merah
kulit kaku dipenuhi formalin.
“puisi segar! puisi segar!”
seorang anak muda
kepincut ekor puisi yang gemulai
“berapa seekor?”
“mau beli siripnya, dik?”
“tidak! berapa seekor?”
“aku ga jual utuh, dik.”
“bukan! bukan!
berapa seekor?”
“apa kau tuli?
aku tak jual utuh!”
“aduh! bukan! bukan!
berapa ekor?”
“aku jual semuanya.”
“aduh! bukan! aduh!
ekornya berapa sirip?”
“sirip bukan ekor, dik!”
“bukan! aduh! bukan!
siripnya berapa ekor?”
“ini sisa sepuluh saja.
kau bisa borong semua.”
“harga?”
“bisa diatur.”
“baik. aku pesan semua.”

semenit berlalu:
“bang, aku bukan pesan sirip.
tapi pesan ekor!”

2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *