Puisi-Puisi Indra Intisa

PENDEKAR PUISI

cacing kremi berpesta
di anusku: kepala goyang,
kiri-kanan, membunuh
malam yang gelap
mabok tusuk konde
berputar-putar dengan jurus maut
eyang shinto gendeng.
dan kau-kau, wiro sableng
pendekar kapak maut
yang membunuh dunia
perpuisian. di anusku.

maaf, aku berak.

2018

PUPUK CABE

tiga rumpun cabai
yang tumbuh di belakang
kehilangan pedas.
daunnya rontok
batangnya encok.
“mau kuurutkan pinggangmu?” tanyaku.
mereka menggeleng.
“tanah kami kering.
kasih pupuk saja.”
aku teringat tentang puisi-puisi
di lemari buku. laptop.
dinding toilet. lantai.
“ini saja,” bisikku.

kusiram puluhan puisi
ke batang-batang cabai.
“aih, kurang mapan!”
teriak mereka.
aku terkejut.
ini puisi terbaikku.
salah?

“o ya. aku tahu.”
buru-buru kuambil
beberapa potongan puisi
dari tong sampah.

“ini puisimu?” selidik mereka.
“bukan! milik senior!”

2017

PASAR PUISI, 2

ada seorang penjual madu
rambut panjang baju kumal
berjalan dengan riang.
“puisi madu! puisi madu!”

anak muda mata belia
datang mencegat,
“itu puisi asli, ga, bang?”

“iya, anak muda.
saya ambil sendiri dari hutan.”

“asli puisi atau asli madu?”

“mau beli atau tidak?”

“baik. saya pesan sebotol.”

“tunggu dulu, nanti kalau
mau tes asli atau tidak bagaimana?”

“aku garansinya.
kau bisa ambil namaku.”

anak muda mata belia
tersenyum. manisnya puisi
menetes di bibirnya.

2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *