Baca Kumcer “Belajar Mencintai Kambing”

Fatah Anshori *

Pada dasarnya manusia memang memiliki perasaan tidak pernah puas. Kerap melupakan apa yang telah dimilikinya: motor butut, televisi tabung 14 inch, ibu yang cerewet, ayah yang super galak, lingkungan yang kumuh, rumah kecil di pinggir kali dan segala hal yang kita anggap receh, inferior juga kerap tidak pernah kita syukuri telah memilikinya. Malah selalu berharap atau mendambakan sesuatu yang belum kita miliki: motor keluaran terbaru dan sedang trend, televisi LED, ibu yang baik dan tidak cerewet, ayah yang sabar dan pengertian, lingkungan yang bersih, rumah besar di tengah-tengah kota dan segala perkara yang kita anggap mewah namun sama sekali belum menyentuhnya alih-alih memilikinya.

Beberapa hari sebelum selesai membaca buku kumpulan cerpen Belajar Mencintai Kambing, Mahfud Ikhwan. Saya menyimak sebuah wawancara yang dilakukan seorang perempuan—saya lupa namanya—dengan Cak Mahfud di Youtube tentang banyak hal yang Cak Mahfud alami selama ia menulis. Tidak banyak memang yang bisa saya ingat, namun salah satu ucapannya yang tidak bisa saya lupakan, kurang lebih seperti ini, “Saya pernah menulis tentang kota, tentang orang-orang kota, namun ketika saya menggali diri sendiri, mencoba mencari apa yang saya miliki, saya menemukan kambing, orang-orang desa dan lingkungannya.” Kurang lebih seperti itu kata Cak Mahfud. Dan tentu saja itu membuat saya berhenti sejenak memikirkan perkara-perkara yang berada di dekat saya. Mungkin selama ini saya kurang peka terhadap lingkungan sekitar, atau barangkali saya kurang menceburkan diri di riuh masyarakat, guyonan juga beberapa persoalan pelik yang kerap saya menganggap masa bodoh dengan semua itu.

Saya kembali mengingat-ingat beberapa buku yang saya anggap bagus dan sempat saya baca, dalam 24 Jam Bersama Gaspar, novel Sabda Armandio. Dalamm novel itu saya bisa melihat suasana kota, komplek, dengan toko Emas dan kehidupan kontemporer anak-anak muda. Meskipun saya mungkin yakin tentang kebohongan cerita tersebut namun dengan kepekaan pada setting, Dio seolah bisa membangun keyakinan bahwa kisah itu benar-benar berlangsung, masuk akal dan membuat saya seakan terbius oleh kebohongan-kebohongan menyenangkan yang telah ia buat. Mungkin kehidupan perkotaan itulah yang Dio alami, sehingga kepekaan-kepekaan terhadap kehidupan perkotaan muncul, seperti kejahatan, atau muslihat-muslihat licik orang-orang kota.

Dalam Belajar Mencintai Kambing, kurang lebih juga sama. Kebetulan saya sendiri juga orang Lamongan, orang desa dan entah mengapa hampir seluruh cerita dalam Kumpulan Cerpen Belajar Mencintai Kambing, sangat dekat dengan keseharian saya sebagai orang desa. Baiklah kali ini saya akan berbaik hati memberikan cuplikan dari cerpen-cerpen Cak Mahfud seingat dan semampu saya.

Moh. Anas Abdullah dan Mesin Ketiknya, Dalam cerpen ini Cak Mahfud menceritakan kisah hidup seorang penulis yang seolah sedan mengalami tekanan psikis, ia dihantui idealismenya sendiri, dihantui kesalahan-kesalahannya selama menjadi penulis. Moh. Anas Abdullah tokoh cerpen kita ini seakan-akan sedang berbicara dengan dirinya sendiri, dengan tekanan-tekanan yang ia alami selama menjadi penulis. Saya rasa puncak konflik dari cerpen ini adalah adegan di mana Moh. Anas merasa jengkel dengan mesin ketiknya sendiri. Menurut saya dalam cerita ini yang paling menarik adalah adegan bagaimana Moh. Anas mengalami tekanan mental merasa jengkel dengan mesin ketiknya dan puncaknya, tokoh kita ini membanting mesin ketiknya. Satu-satunya alat yang ia gunakan untuk menulis dan membuat cerita. Entah mengapa cerita-cerita tentang seorang penulis entah itu cerita pendek atau novel kerap sekali diangkat. Untuk masalah ini Eka Kurniawan memberikan rekomendasi bacaan The Hunger, Knut Hamsun. Dan yang pernah saya baca Tempat Paling Sunyi, Arafat Nur. Dan sebagai penulis Cak Mahfud menurut saya sangat afdol atau maklum dan tidak heran lagi jika ia menulis tentang seorang penulis yang sudah tentu sangat dekat dengan dirinya sendiri, melankolinya.

Jeritan Tengah Malam, Bercerita tentang sebuah kejadian yang akrab dialami petani. Kerusakan ladang Jagung yang disebabkan oleh serangan hewan. Dari keseluruhan cerita bagi saya Jeritan Tengah Malam adalah salah dua yang paling saya ingat dan suka. Cerita ini mengingatkan saya pada cerita-cerita yang dulu kerap saya baca di Koran, ketika pertama kali mengenal cerpen. Saya tidak ingat atau berangkali merasa kurang penting mengingat-ingat tentang judul cerita dan penulisnya. Dalam cerpen ini mungkin yang perlu saya pelajari adalah bagaimana Cak Mahfud membuat cerpen ini mengalami lonjakan alur, yang semula naratornya adalah anak-anak dan masa kecilnya berubah drastis ketika dibagian selanjutnya atau endingnya merupakan narator yang telah menjadi dewasa. Selain itu cerpen ini juga akrab dengan ironi yang kerap orang-orang desa di Lamongan alami, yakni tentang teror hama. Namun agak janggal hama yang menyerang dalam cerpen ini adalah monyet. Satu lagi yang tidak mungkin saya lupa dari cerpen ini adalah cara penggunaan kata dancuk, yang sepertinya sangat macho dan efektif.

Melati, lagi-lagi Cak Mahfud dengan apik menggarap ironi sebuah kampung. Tentang sebuah keluarga kecil miskin yang tak dikaruniai seorang anak. Dan Melati, seekor kucing belang telon perempuan hadir sebagai pusat sorotan yang seolah telah menggerakkan cerita dari awal hingga akhir. Saya suka cara Cak Mahfud menuliskan psikologi seluruh tokoh yang ia bangun. Entah mengapa saya merasa narasi-narasi yang ia pakai sangat pas dan seakan-akan kita merasa itu sebuah realisme dari perasaan yang dialami orang-orang desa, minoritas dan mungkin perasaan para inferior.

Mufsidin Dimakan Kucing, mengangkat sebuah kisah tentang orang gila yang hidup di desa, yang pada kemudian hari ketika ia dewasa harus merantau untuk bekerja, namun ia tidak pernah pulang-pulang. Seseorang mengatakan ia dimakan macan ketika berlabuh di sebuah pulau untuk singgah sebentar. Menurut saya yang menarik dari cerita ini adalah kelincahan Cak Mahfud untuk memberikan hukuman pada si tokoh alias Musidin, yang telah melakukan semacam kesalahan di awal-awal cerita atau masa mudanya. Mungkin ini sama seperti bagaimana kita melihat sebuah karma bekerja. Dan tidak lupa untuk menyinggung humor dalam cerita ini, tidak terlalu banyak tapi entah kenapa sulit dilupakan, arti nama Mufsidin.

Jin-jin Itu Tak Lagi Sekolah, di sebuah sekolah pelosok, terdapat kejadian ganjil. Lima anak jin itu kini ikut bersekolah. Bukankah ini juga cerita yang sangat dekat dengan kehidupan di pedesaan. Cerita tentang setan, tentang demit, jin, jerangkong, atau kejadian-kejadian ganjil lain seperti suara yang memanggil padahal di tempat itu tidak ada orang lain hanya kita sendirian, penghapus papan tulis yang tiba-tiba melayang tanpa ada yang melempar, rok-rok perempuan yang tiba-tiba tersingkap. Hal semacam itulah yang coba Cak Mahfud suguhkan pada kita.

Belajar Mencintai Kambing, bocah angon, begitu istilah orang Lamongan menyebut seorang anak penggembala. Seorang anak laki-laki yang diberi tanggung jawab untuk merawat hewan ternak, dalam hal ini kita membicarakan kambing. Seorang anak yang dibelikan kambing oleh ayahnya sementara ia ingin sebuah sepeda. Dari awal hingga akhir cerita kita akan menyaksikan pertentangan-pertentangan batin yang dialami si anak. Sebenarnya tidak hanya itu dalam cerita ini saya seperti merasa disuguhi suasana kearifan desa berkali-kali. Bagaiaman seorang ayah si anak selalu memberikan tutur yang baik kepada si anak, selalu memberikan jawaban-jawaban yang mampu meredam apa yang dirisaukan si anak penggembala. Dalam cerpen ini saya merasa realitas yang digarap Cak Mahfud sangat kental sekali dan benar-benar apik.

Wadi, cerpen ini memiliki setting yang diciptakan oleh mitologi, gaya bercerita yang membuat saya penasaran apa yang sebenet twlah terjad, Cak Mahfud berhasil membuat sebuah adegan seolah memiliki tanda tanya yang kuat dan menimbulkan rasa penasaran yang berlebihan. Mungkin dari sekian cerpen di buku Belajar Mencintai Kambing, cerpen Wadi ini bisa dikatakan cerpen paling gelap, namun entah mengapa sebagai narator Cak Mahfud tetap tampak santun. Ia melakukan pemotongan-pemotongan adegan yang sekiranya kurang baik untuk dipaparkan ke pembaca, namun tak mengurangi dugaan pembaca akan adegan apa yang telah terjadi, mungkin ini bisa dikatakan sebagai teknik sensor yang santun.

Kambing yang Sempurna untuk Idhul Adha, tentang Naryo seorang penggembala yang mafhum betul dengan kambing-kambingnya. Hingga pada suatu hari kambing yang paling sempurna yang rencananya akan digunakan Naryo untuk berkurban pada hari raya idul adha itu mengalami suatu kecacatan. Tentu saja itu membuat Naryo sangat kecewa dan terpukul. Lalu ambiguitas yang ditawarkan Cak Mahfud sangat kentara sekali, bagaimana Naryo menyikapi rencana berkurban yang gagal itu.

Mata, Bola, menurut saya cerpen terakhir di Belajar Mencintai Kambing ini merupakan cerita yang sangat kompleks dan lengkap, dan sialnya cerpen ini berhasil membuat saya tampak seperti bocah cengeng dan membuat mata saya berair. Cerita yang mungkin akan sulit dilupakan, cerpen ini mungkin hampir serupa dengan novel yang sangat panjang namun dengan kepiawaiannya, Cak Mahfud lagi-lagi berhasil menjadikannya sebagai cerpen, yang pada umumnya memiliki ruang yang terbatas. Namun di cerpen ini benar-benar lengkap menggambarkan kehidupan yang kerap terjadi dan mungkin pernah dialami beberapa orang di negeri ini. Entah bagaimana saya merasa alur yang dibuat, juga beberapa adegan terasa pas, tidak kurang apalagi berlebihan. Ibarat pemahat Cak Mahfud mungkin sudah begitu akrab dengan alat-alatnya dan bagaimana memahat yang tidak sia-sia dan buang-buang waktu namun tetap sempurna di mata para penonton.

Bukankah dari keseluruhan cerita atau cuplikan-cuplikan tadi kita bisa merasakan kedekatan cerita dengan lingkungan di sekitar kita jika kita orang desa.

_____________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya termuat di Sastra-Indonesia.com sedang blog pribadinya fatahanshori.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *