LOCKDOWN KETIGABELAS: CERITA TENTANG KESIALAN DAN TEROR MAGIS BINGKISAN NISAN ANNEMARIE


Anton Wahyudi *

1.
SINGKAT CERITA, sudah terhitung tiga belas hari, saya menjadi lelaki rumahan. Menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) yang baik sembari menikmati kecup hangat buku-buku bacaan yang menuntut minta sesegera mungkin dikhatamkan. Termasuk, menikmati tingkah polah dan celoteh si kecil dan si besar –penuh varian rasa. Barulah tadi pagi menjelang siang hari, saya memantapkan hati, berolah pikir: –keluar rumah sejenak mengantar si kecil dan si besar melepas segenggam penat dari serangan virus kejenuhan.

Entah mengapa, tak ada gerimis dan hujan, tiba-tiba si kecil merengek-rengek tak karuan. Ia ngambek kepalang ajar, menuntut minta masuk sekolah dan dibelikan cokelat silverqueen favoritnya. Di waktu yang bersamaan, si besar tiba-tiba ikut-ikutan ‘ngoyeng’, wajahnya muram, minta diantar ke apotik membeli obat-obatan. Terpaksa, dengan mengucap bismillahi tawakkaltu alallah saya turutilah tiga kemauan si kecil dan si besar itu. Kemauan pergi melihat sekolah, ke alfamart, dan ke apotik langganan keluarga di desa tetangga.

Awal memulai perjalanan jantung tiba-tiba deg-degan, penuh was-was, dan kekhawatiran mendalam. Saya mencoba tetap tenang, tenang, dan tenang. “Saya harus tenang,” batin saya. Saya ajaklah si kecil dan si besar itu menelusuri jalan desa penuh bebatuan, mengitari sekolah si kecil sembari menunjukkan: –meyakinkan si kecil –bahwasanya sekolah masih libur panjang. Alhamdulillah, misi pertama berjalan lancar. Aman.

Misi kedua pun saya lanjutkan. Motor melaju kencang keluar jalan desa bebatuan, menuju jalan besar. Suasana hati mulai mencekam tak karuan. Pasalnya, jalan yang biasanya ramai tak karuan tiba-tiba terlihat begitu amat lenggang. Sungguh menyeramkan.

Volume pengendara motor turun begitu drastis. Sepanjang jalan terlihat sunyi dan sepi. Hanya terlihat satu dua tiga pengendara motor melintas berpapasan. Hampir secara keseluruhan pengendara motor yang saya lihat berpapasan itu memakai masker hijau, berjaket, dan sarung tangan. Walaupun hati menjerit tak karuan misi kedua tetap harus dijalankan. Bajigur. Sesampai di Alfamart: –ternyata tutup. Apes plesss. Akhirnya, bergegas putar balik menjalankan misi terakhir. Mengantar si besar ke apotik membeli obat-obatan untuk persediaan kotak obat. Sesampainya di apotik hati senang tak kepalang. Buka.

Saya tunggulah di luar. Sengaja tak turun dari kendaraan. Saya lihat dari luar terlihat di dalam apotik ada ibu-ibu yang tengah asyik memborong obat-obatan. Terlihat begitu jelas dari sepasang sayap pintu besar dari dari kaca. Tak jauh darinya terlihat jelas bapak-bapak berwajah cemas tengah sabar menunggu di dalam. Bapak berwajah penuh kecemasan itu duduk-duduk di kursi antrean, menunggu giliran. Si kecil dan si besar asyik duduk di emperan. Tak berani masuk ke dalam biar tak terkesan gerombolan.

Hampir setengah jam menunggu tak kunjung jua ibu-ibu itu memborong obat-obatannya. Hingga pada akhirnya hati tak sabar pun datang menghampiri. Hati tak sabar yang datang menerjang, lalu menuntun saya bersama si kecil dan si besar beranjak pulang dengan kemerindingan. Misi kedua dan ketiga gagal. Sungguh apes. Maka saya ajaklah si kecil dan si besar itu pulang ke rumah dengan raut wajah berantakan, penuh kekecewaan dan kecemasan. Seketika, tubuh menjadi mati gaya. Angka-angka 13 tentang mitos-mitos kesialan mulai datang mengambang, memproteksi pikiran saya. Selaras dengan tulisan lockdown ketigabelas yang saya buat dengan tumakninah dan bergairah ini.

2.
Tak lama sesampainya di rumah, ada seorang gadis berjilbab dan bermasker mengantar bingkisan. Bingkisan warna cokelat berisi buku kumpulan puisi berjudul “Nisan Annemarie”. Sebuah buku terbaru Binhad Nurrohmat, penyair pemuja kuburan, sang penyuka frasa ‘so sweet’ dari pondok pesantren desa seberang.

“Biyuh. Edan. Tebal sekali buku puisinya. Menyeramkan!” batin saya, sambil sesekali dua kali membolak-balik sampul depan dan belakang buku.

Berbeda dengan buku-buku bingkisan yang pernah saya terima dari sang penulis sebelum-sebelumnya, tampaknya ada yang berbeda dengan buku kumpulan puisi “Nisan Annemarie” yang baru saya terima ini. Saya katakan berbeda lantaran si penyair secara tumben sekali tidak menggoreskan tanda tangan di bukunya. Entah lantaran si penyair lupa, si penyair tidak punya waktu, si penyair minta saweran, atau barangkali memang karena penyair sudah bosan membubuh-bubuhkan tanda tangan erotisnya itu. “Mungkin si penyair lupa atau banyak yang dipikir. Mikir persoalan pelik virus korona yang lagi menyerang jagad raya. Atau, barangkali sedang klangenan ingin sesegera bisa beravontur ria lagi ke kuburan-kuburan di desa-desa seberang kota,” dugaan saya, tiba-tiba muncul seketika. “Ah, masa bodoh!”

Seperti tradisi-tradisi biasanya, satu hal yang sering saya lakukan kala sebelum membaca buku baru adalah mencium aroma kertas isi buku. Sebuah ritual pembuka yang barangkali sering juga dilakukan penyair kota seberang Nurel Javissyarqi. Tak perlu ditanya tentang apa motif dan alasannya. Biarlah saya dan dia yang tahu jawabnya. Hahaha. Setelah itu, barulah saya akan anteng melakukan pembacaan. Saya akan membaca tulisan pendek di sampul belakang bukunya, membaca biodata pendek penulis bukunya, membaca prakata pengantar apresiasi pembuka bukunya, membaca seluruh judul-judul buku di daftar isi, lalu pada puncaknya saya terbiasa membaca puisi secara acak sesuai dengan pilihan judul-judul puisi yang memiliki aura berbeda dibanding judul yang lainnya. Judul-judul puisi yang saya anggap misterius, yang mampu memikat erat mata dan hati saya secara tiba-tiba.

3.
Melalui cara pandang slengek, saya katakan buku Kumpulan Puisi “Nisan Annemarie” ini sungguh edan dan mengejutkan dibandingkan dengan buku-buku puisi yang sudah diciptakan oleh sang penyair Garis Miring sebelumnya. Kalau buku puisi “Kwatrin Ringin Conthong” karya sebelumnya hanya berisi 42 judul, buku puisi “Kuburan Imperium” berisi 39 judul, tidak dengan buku terbarunya ini. Buku puisi terbarunya ini berisi empat kali lipatnya. Tidak tanggung-tanggung, penyair memasukkan 171 judul hanya dalam sebuah buku. Lebih edan dan mengejutkan lagi, 171 puisi itu dibaginya lagi menjadi tiga sub bab atau sub judul: Sekian Singkapan 60 judul, Liang Mendiang 80, Warisan Peruntuhan 31 judul. Tiga sub bab yang bisa dijadikan menjadi tiga buku kumpulan puisi.

Setiap larik di dalam puisi-puisinya masih tetap kaya makna, lebih makulat, dan bisa dipastikan akan menyayat-nyayat hati serta menguras pikiran setiap pembacanya. Dalam menelaah 171 judul puisinya ini pembaca disuguhi tentang makna-makna filosofis. Makna yang erat kaitannya dengan istilah-istilah yang berkaitan dengan masalah dan ‘tetek bengek’nya kuburan, nisan, makam, petilasan, pusara, rumah peristirahatan terakhir, atau akrab digaungkannya sebagai rumah masa depan. Pembaca seolah-olah diajak untuk mendedah setiap tabir cerita-cerita yang dianggapnya menarik untuk disingkap atau ditelanjangi. Seperti yang terpatri pada judul dan puisi-puisi di Bab Pertama (Sekian Singkapan).

Di bab pertama inilah setiap pembaca seolah-olah diajak merefleksi diri sendiri. Pembaca seolah-olah langsung diajak penyair untuk mengungkap atau membongkar puisi-puisi yang erat kaitannya dengan makna-makna makulat. Makna makulat tentang persoalan terdekat mengenai kuburan, nisan, makam, petilasan, pusara, rumah peristirahatan terakhir, atau rumah masa depan. Seperti yang terdapat dalam puisi-puisinya yang berjudul Kuburan Terakhir, Di Ujung Kuburan Tahun, Kuburan Kita Di Masa Silam, Terompet Malaikat Di Mulut Gang, Berjalan Ke Kuburan, Kuburan Hujan, Kuburan Pikiran, Kamboja Tanpa Duka, Orang-Orang Dalam Bis Ke Kuburan, Jemuran Di Kuburan, Tugur Penggali Kubur, Kosmologi Diri, Setelah Terkubur Tanah, Terbujur Kaku Sebelum Berlalu, Risalah Muasal, Yasin dan Tahlil Di Bawah Beringin, Kepada Nisan Kita, Kepada Kuburan Anonim, Firman Kuburan, Berjalan Keranda Ke Masa Depan, dan Kuburan Sepotong Lengan.

Manusia terakhir menghuni bumi
kelak mengubur mayatnya sendiri.
Laksana sepi tak berjumpa bahasa
semenjak berpusara seluruh kata.
(Puisi Kuburan Terakhir, Hlm. 3)

Puisi “Kuburan Terakhir” ini merupakan puisi pertama dalam buku. Puisi pamungkas yang dijadikannya sebagai pembuka Sub Bab bernama Sekian Singkapan yang penuh lanskap pemikiran. Sebuah bab tentang makulat sederhana yang harus diterjemahkan setiap pembaca mengenai hakikat manusia penghuni bumi atau semesta raya ciptaan Sang Khalik. Manusia adalah makhluk penghuni bumi. Manusia-manusia di bumi pada hakikatnya adalah calon-calon mayat, yang akan terkubur sendiri-sendiri, yang tak akan dipertemukan lagi dengan bahasa dan kata-kata alam semesta, terkecuali kata mati itu sendiri. Pada larik kedua yang berbunyi “kelak mengubur mayatnya sendiri” ini adalah pesan makulat tentang kontemplasi diri. Sebuah otokritik, bahwasannya setiap manusia pasti akan mati. Akan tetapi, setiap manusia yang telah mati tidak akan pernah bisa mengubur dirinya sendiri. Dan, manusia penghuni bumi yang telah mati itulah pada akhirnya akan menemukan kuburan terakhirnya sendiri-sendiri.

Pesan makulat yang menarik untuk disikap secara individu melalui mata hati dan nurani juga bisa dilihat pada puisinya yang berjudul “Berjalan Ke Kuburan”.

Setelah hayat hayat terbernihkan percintaan
kuburan di luar kamar sabar menanti.
Di hamparan planet manusia berjalan
menuju ujung kisah batu nisan diri.
(Berjalan Ke Kuburan, Hlm. 37)

Puisi empat baris seuntai (satu kuatrain) di atas menyajikan suasana magis, menghibur, tapi tetap sarat pesan atau maklumat ideologis yang menarik untuk didedah maupun ditelanjangi dengan sepenuh hati. “Setelah hayat terbernihkan percintaan//kuburan di luar kamar sabar menanti.” Sejatinya, setiap kehidupan, –utamanya manusia-manusia bernyawa, pastilah ia terlahir di dunia tidak serta-merta, tentulah melalui proses atau perjalanan berliku. Dan asal mula manusia sejatinya bermula dari hasil pertemuan benih-benih cinta.

Sebuah hasil nyata dari proses percintaan atau perjalanan tentang pergumulan syahwat sepasang hayat manusia. Akan tetapi, di antara pergumulan cinta (percintaan) itulah setiap hayat akan tetap bermuara menuju perjalanan akhir. Perjalanan akhir itu bernama kuburan. Jika dianalogikan dengan pikiran yang agak slengek, bisa dimaknai lugas bahwa antara kelahiran dan kematian sangat berdekapan erat. Seperti layaknya dua sisi keping uang recehan atau oposisi biner yang harus dipahami secara mendalam oleh pembacanya. Proses mendedah dan menyingkap inilah yang pada intinya dijadikan sebagai proses merefleksi diri sendiri. Proses untuk bercermin. Mencari secara hakiki tentang makna sisi diri dalam ruang waktu bernama kehidupan duniawi.

Puisi tersebut barangkali saya katakan senada dan seirama dengan makulat puisinya yang ke-52 dengan judul “Risalah Muasal”.

Manusia lahir dari manusia sebelumnya.
Dari sorga bermuasal manusia pertama.

Yang mati sekujurnya terkubur di dunia.
Di mana ruh rebah sejak raga di pusara?
(Risalah Muasal, Hlm. 59)

Berbeda dengan puisi sebelumnya yang menekankan konsep larik kuatrain, maka pada puisi “Risalah Muasal” ini walaupun hanya terdiri atas empat larik, akan tetapi keempat lariknya tetap dikonsep seperti karmina. Puisi yang menekankan konsep dua larik dalam satu kesatuan yang terdiri atas dua bait dalam satu judul puisi.

“Manusia lahir dari manusia sebelumnya.// Dari sorga bermuasal manusia pertama.” Dua larik yang merepresentasikan tentang pesan makulat tentang cerita sang Adam dan Hawa. Sepasang manusia yang dipercayai oleh seluruh umat Islam sebagai cikal-bakal manusia pertama di dunia. Manusia yang diturunkan Tuhan dari sorga ke dunia. Manusia yang menyadarkan pada pembaca mengenai pesan-pesan makulat tentang makna kelahiran, makna pengorbanan, makna kepatuhan, dan lain sebagainya. “Yang mati sekujurnya terkubur di dunia.// Di mana ruh rebah sejak raga di pusara?” Dua larik lanjutan yang merepresentasikan tentang hakikat kematian. Sejatinya dunia adalah tempat bagi raga-raga untuk merebah (mati/ dikubur) dan ruh-ruhnya akan bermuara atau kembali lagi ke sorga. Sungguh, pesan makulat menarik yang dimunculkan penyair untuk dibongkar (disingkap) dan pahami dengan sepenuh hati. Juga, tentunya dengan nyali pemberani.

Dalam penutup sub bab pertamanya, penyair menyuguhkan makulat magis sebagai jembatan atau transisi komunikasi sufistik untuk puisi-puisi di bab selanjutnya. Makulat itu tertuang dalam puisinya yang berjudul “Kuburan Sepotong Lengan”.

Yang pernah bersama lebih dulu pergi
setelah sepotong lengan kiri terputus.
Yang tersisa menggendong ke pusara
tanpa nelangsa kepada yang terkubur.
(Kuburan Sepotong Lengan, Hlm. 70)

Sungguh, sebagai pembaca melankolis saya takjub dan merinding dengan keempat larik puisi terakhir di bab pertamanya itu. Puisi yang pada akhirnya membuat saya berpikir ulang, berpikir secara terus-menerus, dan berpikir secara mendalam tentang persoalan penyair dalam menjaga keutuhan ekspresi puitik saat melakukan penjelajahan proses kreatif. Saya katakan Binhad Nurrohmat telah berhasil dalam menjaga keutuhan ekspresi puitiknya di dalam tiap karya-karya puisinya. Keutuhan ekspresi puitik yang saya maksud di sini adalah keutuhan tentang penciptaan suasana kosmik dalam puisi-puisi pendeknya. Puisi yang merupa seperti hanya seperti puisi-puisi karmina dan kuatrain.

Melalui puisi-puisinya Binhad Nurrohmat telah berhasil mencitrakan dirinya sebagai penyair magis melalui kebersahajaan bentuk puisi, ketepatan diksi-diksi di setiap larik-larik puisinya, termasuk dalam hal keringkasan ekspresi. Melalui puisi-puisinya Binhad Nurrohmat seolah-olah mengajak pembaca berpikir kritis. Termasuk mengajari setiap pembaca dalam membongkar atau mendedah makna. Makna-makna makulat yang seolah-olah terasa tanpa beban gagasan yang berat, akan tetapi pesan isi mampu menghidupkan saklar imajinasi (gagasan mudah dicerna dan sampai ke hadapan sidang pembaca).

4.
Lain halnya dengan 80 puisi yang termaktub pada bab kedua bernama Liang Mendiang. Pada puisi-puisinya ini Binhad Nurrohmat lebih banyak menyuguhkan puisi-puisi yang bercerita tentang makulat kisah misterius di balik sosok-sosok. Puisi-puisi yang menyuguhkan kepada pembaca tentang sosok-sosok yang telah meninggal dunia. Akan tetapi, sosok-sosok itu meninggalkan cerita tutur dan tulis, kisah-kisah yang menarik untuk didedah bersama. Puisi-puisi kisah itu merupa seperti Pulang Dari Kuburan Abdurrahman, Wajah Teduh Kiai Amin Sepuh, Raib Kuburan Wahib, Pagar Jeruji Kuburan Kiai Asyari, Pusara Putih Nyai Ageng Pinatih, Ziarah Trah Shoichah, Kuburan Panjang Asing Sendirian, Kuburan Di Kedung Macan, Kuburan Buruh Yang Terbunuh, Nisan Fatimah Di Leran, Kuburan Munir Di Desa Sisir, Kuburan Immanuel Kant, Kusni Kasdut Tak Lagi Berlari, Wiski Di Kuburan Hemingway, Kuburan Mesin Walter Benjamin, Pusara Rendra, Nisan Annemarie, Pusara Nikolai Gogol Tertawa, hingga yang terakhir berjudul Lutpulla Mutellip.

Pada puisi-puisinya di bab kedua inilah Binhad Nurrohmat seolah-olah menyuguhkan, mengajari, memberi stimulus kepada setiap pembaca tentang makulat di balik kisah sosok. Sosok yang banyak merepresentasikan tentang waktu lampau, hingga waktu modern saat ini. Sosok-sosok berpengaruh atau yang dianggapnya menarik, baik yang ada dalam tataran wilayah lokal, regional, nasional, hingga Internasional. Sosok-sosok yang mengabadikan jejak-jejak, potongan kisah-kisah atau cerita, yang selalu abadi (kanon) di sepanjang zaman.

Dari kedelapan puluh puisi di bab kedua (Liang Mendiang) ini saya sangat tertarik untuk mendedah beberapa judul puisi yang saya anggap misterius. Puisi-puisi itu berjudul “Kuburan Ayam Sang Pangeran” dan “Kuburan Penaklukan”.

Nasib ayam tak berakhir di meja makan
setelah menemani perjalanan anak raja.
Tonggak kelabu menjadi tanda kuburan
dan hanya sendiri di luar tembok istana.

Bata merah pada gapura di Bajang Ratu
tak terkenang suara kokok ayam jantan.
Pangeran yang menyamar di sela waktu
diperabukan dan tak lagi bersama ayam.
(Kuburan Ayam Sang Pangeran, Hlm. 122)

Satu hal yang saya anggap misterius adalah tentang ikonisitas dari ayam sang pangeran. Pikiran saya langsung tertuju dan menelisik maksud dari ayam dan pangeran itu sendiri. Terlebih-lebih pada larik kelima “Bata merah pada gapura di Bajang Ratu// tak terkenang suara kokok ayam jantan.// Pangeran yang menyamar di sela waktu// diperabukan dan tak lagi bersama ayam.” Sebagai pembaca melankolis saya langsung beranalogi tentang beberapa frasa atau kata-kata kunci seperti ‘anak ayam’, ‘tanda kuburan’, ‘batu merah’, ‘gapura Bajang Ratu’, ‘pangeran’, dan ‘diperabukan’.

Dalam sekejap pikiran saya pun tertuju pada cerita masa keemasan Majapahit. Saya teringat lagi tentang cerita sejarah lama. Cerita tentang matinya sang pangeran di gapura depan atau pintu masuk kerajaan. Saya teringat tentang puing-puing cerita sejarah tentang bangunan besar kerajaan yang dibangun sekitar Abad ke-14.

Saya teringat tentang sosok Raja Jayanegara, sang pangeran kecil yang tertuang dalam naskah Negarakertagama. Termasuk, teringat puing-puing cerita yang termaktub pada Serat Pararaton. Puing-puing cerita tentang penobatan sang pangeran muda (pangeran bujang) menjadi sang raja kedua. Saya juga teringat tentang kepercayaan warga (mitos-mitos) tak berujung, tentang cerita sang pangeran (sang raja kecil) terjatuh di gapura hingga membuat cacat pada tubuhnya. Sungguh, ingatan-ingatan pendek inilah yang menjadikan puisi itu menjadi hidup dan merasuk di hati para pembacanya. Lain halnya dengan pembacaan puisinya yang berjudul “Kuburan Penaklukan”.

Kuda menginjak-injak tanah, pasir dan salju
selincah angan bocah meraup seutuh dunia.
Gurun Gobi adalah lubuk badai bagi penjuru
serta ringkik berpanah melesat dari pelana.

Kembali ke gunung sepi kampung halaman
serta sembunyi di kedalaman liang rahasia.
Kembara panjang memikul peti penaklukan
terperan bersama kuburan darah pertama.

Merengkuh negeri jauh untuk meraih kabut
dan pulang tanpa cerita indah meneduhkan.
Tanah-tanah berdarah mengucur dari maut
menjadi bayangan seusai kuda berderap.
(Kuburan Penaklukan, Hlm. 152)

Butuh imajinasi dan analogi yang luar biasa dalam mendedah puisi kedua pada sub bab Liang Mendiang ini. Puisi ini saya katakan sangat menarik lantaran sarat makulat dan kongkretisasi dalam setiap larik-lariknya. Bahkan, untuk menafsirkan dua belas larik ini saja bisa dipastikan sang pembaca harus menjelajahi sejarah yang sudah terkubur lama. Pada judul termaktub jelas sebuah peruntukan nama :Jengis Khan. Sosok ketua militer yang dianggap paling berpengaruh dan ditakuti di seluruh belahan Asia. Sosok yang diagung-agungkan hingga diabadikan bangsa Mongolia menjadi patung sosok berkuda bersejarah. Sosok yang mampu menguasai Mongolia, Dinasti Jin, dan menguasai wilayah-wilayah Timur Tengah.

“Kuda menginjak-injak tanah, pasir, dan salju// selincah angan bocah meraup seutuh dunia.// Gurun Gobi adalah lubuk badai bagi penjuru// serta ringkik berpanah melesat dari pelana.” Dua bait ini merepresentasikan tentang kekuatan dan kekuasaan. Pasukan Mongolia yang identik dengan tunggangan kuda-kuda telah berhasil menginjak-injak atau menguasai beberapa wilayah. Wilayah-wilayah kekuasan lain, baik yang bertanah tandus, bergurun pasir, maupun tanah bersalju. Kekuatan dan kekuasaannya bisa diibaratkan seperti layaknya sang bocah yang luas dalam berangan-angan. Bocah kaya angan yang mampu meraup atau menguasai dunia. Sebuah representasi dari negeri Cina saat ini sebagai poros negara maju di dunia. Bisa kita bayangkan bagaimana sosok Jengis Khan itu dalam memimpin bala tentara berpanah melesat ke penjuru dunia. Sebagai misi penaklukan.

5.
Berbeda halnya pada sub bab puisinya yang ketiga Warisan Reruntuhan. Tiga puluh satu puisi yang memotret jelas tentang sisa-sisa kelam atau puing-puing sejarah tentang kekuasaan. Puisi-puisi yang merepresentasikan jejak-jejak reruntuhan (masa keemasan, masa kejayaan) yang masih terabadikan dalam cerita-cerita tutur dan tulisan. Puisi-puisi itu merupa menjadi puisi-puisi berjudul Gaung Wasiat Gunung Sembung, Lawang Siblawong, Dinasti Muarajati, Kuta Kosod Berpuing Bata, Melankoli Sumberbeji, Panarukan, Sumur Medelek, Pusara Dermaga Di Lobu Tua, Retak Batu Punden Berundak, Sugih Waras Berbata Lawas, Tubir Bata Di Kumitir, Arca Jelek Di Trenggalek, hingga Candi Terkubur Di Belakang Dapur.

Puisi-puisi penutup yang hadir sebagai refleksi segala dimensi mistik di segala lingkung atau sekitar. Segala dimensi mistik yang tampak kasat mata, maupun yang tidak tampak kasat mata. Segala dimensi-dimensi itu tentunya masih membingkai mata dan pikiran, melewati batas-batas waktu dan zaman, serta mampu menghadirkan buih-buih imaji bagi manusia ciptaan Tuhan.

6.
Saya bisa sedikit menyimpulkan –bahwasanya dalam usaha mencipta dan menuliskan puisi-puisinya itu Binhad Nurrohmat telah berhasil membangun sebentuk komunikasi dialogis. Komunikasi dialogis sang penyair yang merupa sebagai ‘seseorang yang sedang asyik berbicara’, –atau lebih tepatnya mencoba berbicara, tentang ‘sesuatu hal maupun banyak hal’ kepada pembacanya. Penyair yang berbicara kepada orang lain, atau berbicara kepada dirinya sendiri saat sedang suntuk dengan banyak hal yang sudah ditemui. Melalui puisi-puisinya itu ia telah berhasil mengombinasikan antara dasar ekspresi-pengalaman jiwa, teknik berekspresi, dan ketepatan membangun kekuatan ekspresi bahasa. Kombinasi yang mengandung kekuatan besar untuk menularkan suasana-suasa batin dan pengalaman-pengalaman inderawi agar bisa menciptakan daya khayal –termasuk daya berpikir kritis, bagi para pembacanya.

Dan, buku kumpulan puisi “Nisan Annemarie” ini tak ubahnya seperti upaya strategis untuk menemukan sementara. Seperti layaknya bus yang melintas di terminal atau kereta yang berhenti di stasiun secara tiba-tiba, yang pada akhirnya akan beranjak atau bergegas mengayuh perjalanan berikutnya. Ia adalah dimensi mistik yang merupa seperti layaknya suatu proses yang tak henti-henti. Proses yang akan berjalan terus menerus dan tak berujung. Seperti halnya penyair misterius yang nantinya juga akan berhenti pada dua sisi batu nisan di akhir kepenyairannya.

Pada akhirnya saya pun harus mengakhiri tulisan ini dengan tumakninah disertai ucap syukur alhamdulilah wa syukurillah. Walaupun, pada dasarnya, masih teramat banyak potongan cerita dari hasil pembacaan kaca mata dan daya tangkap di kepala, yang masih luput belum saya tulis secara runtut dan nyata.

Omah Jambu, 26/3/2020 Jombang, Jawa Timur.
____________________
*) Anton Wahyudi, Pengampu Sastra Indonesia di Kampus STKIP PGRI Jombang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *