Membaca The Adventure of Tom Sawyer, Karya Mark Twain


Fatah Anshori *

Sungai Mississippi adalah setting tempat yang pertama kali saya bayangkan sebelum membaca kisah ini. Merupakan tempat yang menarik, mungkin Mark Twain kerap ke sana, mengail ikan sambil melihat kapal uap berlayar. Saya sendiri belum pernah kesana, tapi setelah searching di Google saya mendapatkan gambar Sungai Mississippi yang diambil dari atas. Indah sekali, sungai yang biru, diapit oleh daratan yang hijau dan pepohonan tumbuh di sepanjang kiri kanan sungai. Sebuah kapal atau mungkin semacam Kapal Uap yang kerap dilihat Twain, sedang berlayar di tengah-tengah Sungai Mississippi.

Mark Twain sendiri adalah nama pena dari Samuel Langhorne Clemens. Ia lahir pada 30 November 1835 dan meninggal pada 21 April 1910. Dia dibesarkan di Hannibal, Missouri sebuah kota kecil di tepi sungai Mississippi, Amerika Serikat. Disebutkan dalam biografi singkatnya di Wikipedia, dia memang seorang yang tertarik dengan kapal uap yang lalu lalang di Sungai Mississippi, saat ia masih remaja.

Baiklah mari kita usik sedikit novel ini. Di awal pembukaan novel ini, saya tidak menemukan jawaban dari pertanyaan itu. Kenapa orang-orang mengelu-elukan novel ini? Apa yang menarik dari novel ini? Awalnya saya merasa novel ini biasa-biasa saja, tidak lebih bagus dari penulis tanah air kita. Begitu asumsi saya. Tidak jauh berbeda dengan bentuk-bentuk novel membosankan lainnya. Novel ini dituturkan oleh seorang narator yang sok tahu, ia mengerti segalanya, ia seperti Tuhan yang tahu segalanya. Ia bebas keluar masuk menceritakan isi kepala tokoh-tokohnya dan tahu kejadian di setiap tempat dalam waktu yang sama. Teknik semacam ini mungkin telah banyak digunakan oleh beberapa penulis. Namun rasanya dari Twain lah saya baru mengerti bagaimana cara menggunakannya dengan tepat.

Sebagai Tuhan Yang Maha Tahu segalanya. Ia tahu kejadian yang terjadi di tempat yang berbeda dalam saat yang bersamaan. Hal semacam ini kerap kita lihat penggunaannya di film-film anime, semisal One Piece atau Naruto, seorang narator mengisahkan satu kejadian di tempat A lebih dulu, baru kemudian di halaman selanjutnya ia mengisahkan kejadian di tempat B yang mana keduanya saling mempengaruhi.

Mungkin dari sudut pandang itulah rasanya paling tepat untuk menceritakan kisah ini, yang mana menurut saya novel ini menceritakan kejadian-kejadian menarik dari kota St. Petersburg. Tentu saja dengan kamera yang lebih banyak mengarah pada Thomas Sawyer, atau biasa dipanggil Tom. Ia seorang anak nakal yang tinggal dengan soerang bibi dan dua anak yang lain. Karena kenakalannya itu ia kerap mendapat hukuman dari bibinya. Ia kerap bolos sekolah untuk mengail ikan dan berenang di sungai.

Tom sendiri adalah bocah yang nakal, lincah, cerdas, pemberani, dan baik hati. Memang secara keseluruhan ini adalah cerita anak-anak sebagaimana Twain telah katakan di Kata Pengantar. Namun di balik semua itu beberapa adegan di dalam novel ini patut menjadi renungan. Membaca The Adventure of Tom Sawyer seperti menyelami lagi masa anak-anak yang telah kita tinggalkan. Kita akan di ajak mengambil lagi imajinasi-imajinasi polos kita selama menjadi anak-anak. Kembali ke sungai, merasakan debar mencintai seorang perempuan ketika masih kecil, melakukan kenakalan-kenalakalan yang kita anggap keren, dan seperti biasanya tidak ingin banyak diatur. Juga tak lupa berpetualang ke tempat-tempat jauh, terlarang, berhantu, dan menemukan jalan baru. Kita akan diajak berjalan-jalan di Kota St. Petersburg, hingga ke gang-gang tersembunyi, pergi ke hutan, berenang di Sungai Mississippi, dan kita akan merasakan kembali bagaimana debar sebuah petualangan.
***
____________________
*) Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Novel pertamanya “Ilalang di Kemarau Panjang” (2015), dan buku kumpulan puisinya “Hujan yang Hendak Menyalakan Api” (2018). Salah satu cerpennya terpilih sebagai Cerpen Unggulan Litera.co.id 2018, dan tulisanya termuat di Sastra-Indonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *