PEREMPUAN CANTIK

Taufiq Wr. Hidayat *

Siapakah perempuan cantik itu? Menurut Gus Dur, perempuan cantik itu ciri utamanya adalah tolol. Meski tak harus begitu, katanya. Tapi sepertinya kebanyakan begitu.

Tentu saja pendapat Gus Dur tersebut tak dapat dibenarkan. Meski tak mutlak dapat disalahkan. Namanya saja pendapat. Boleh disanggah dengan pendapat lain yang lebih meyakinkan. Memang tak semua perempuan cantik itu tolol. Buktinya Asia Carrera, mantan bintang porno berwajah eksotis tahun 90-an. Dia perempuan cerdas dengan prestasi akademik mengagumkan. Ia telah berhenti di dunia film porno, hidup wajar, dan menikmati keluarga. Tetapi ia mengaku tetap tidak percaya kepada Tuhan. Barangkali ia merasa Tuhan tidak pernah meraihnya tatkala dirinya ditindas habis-habisan dalam industri pornografi. Juga Sasha Grey, bintang porno tahun 2006, dengan wajah dan tubuh licin yang menggiurkan laki-laki segala bangsa. Kepintarannya luar biasa. Bukan perempuan sembarangan. Tubuh empuk yang agung dan mengagumkan dengan kepintaran yang bikin iri perempuan lain. Siapa laki-laki—di lubuk hati yang terdalam, tak ingin memilikinya? Ia menulis novel yang seakan memang mengisahkan perjalanan hidupnya. Dalam novelnya itu, ia menceritakan seorang perempuan yang berhubungan seksual dengan orang-orang besar. Namun bukan itu yang diharapkan dalam hidupnya. Ia tetap ingin hidup wajar sebagaimana banyak perempuan lain. Ingin menjadi “orang biasa” saja. Kisah hidup yang memilukan, bukan? Barangkali benar, di balik segala kelam, manusia merindukan kewajaran. Kewajaran menurut jati diri pada tempatnya hidup. Orang biasa yang bahagia.

Lantaran kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan selalu dipandang dengan penafsiran tunggal dari sudut laki-laki. Laki-laki kaya membeli tubuh dan kecantikan perempuan pakai uang, meniduri tubuh kenyal perempuan cantik sambil melupakan anak-istri yang keberadaannya telah memujurkan hidupnya, kemudian memelihara tubuh yang dibeli itu dengan sejuta janji, kata-kata gombal, dan rasa iba. Kecantikan pun terpenjara. Oh sayang disayang, kata lagu. Barangkali yang dimaksud “tolol” di situ, bukan berarti bodoh. Tolol belum tentu bodoh atau tidak pintar. Atau bodoh belum tentu tolol. Konon Abu Nawas itu, saking tololnya menjadi cerdik. Dan Nazrudin Hoja, saking jeniusnya sampai tolol. Keduanya terkadang mujur dalam segala situasi yang menghimpit dan menindasnya. Tetapi miskin. Dan tragis.

Lalu perempuan cantik itu? Ia tak dapat disederhanakan hanya pada fisik belaka, jawab seorang kawan. Semua setuju itu. Tapi tak semua mengakuinya. Buktinya iklan dan film-film porno, tetap saja menjual tubuh dan kecantikan perempuan. Bahkan iklan kondom seolah hanya kepuasan bagi laki-laki. Konon ada seorang laki-laki bertanya kepada Tuhannya.

“Wahai Tuhanku, kenapa Engkau menciptakan perempuan sangat cantik, menggoda, dan membangkitkan keinginan untuk memilikinya?”

“Itu agar kau jatuh hati, kemudian kau dapat mencintainya,” jawab Tuhan.
“Tapi Tuhan, kenapa Engkau ciptakan dia dalam kondisi yang sangat tolol?”
“Oh soal itu. Tak lain agar dia mau dan bisa mencintaimu.”

Entah siapa yang telah membuat anekdot konyol di atas. Tampak bahwa penindasan selalu diawali oleh kehendak untuk menguasai dengan penguasaan yang melampaui batas, sehingga tak menghargai kebebasan liyan. Tafsir tunggal terhadap tubuh, hanya akan membuat manusia tersesat dalam belantara tubuh itu sendiri. Setelah tubuh kau beli dan kau kuasai, kau gagahi sepuas-puasnya, apa yang kau dapatkan selain kepuasan atas keberkuasaan pada belaka tubuh itu? Tak ada satu jejak pun yang dapat dihikmatkan sebagai wujud perkenan jiwa dari tubuh yang dikuasai. Selain penyesalan yang disembunyikan di antara tawa dan kecongkakan-kecongkakan.

Sahdan, Majenun dan Laela—dalam kisah “Laela dan Majenun”, ditanya. Kenapa kamu mencintainya? Ia menjawab: “tidak tahu”. Tak ada uang di situ, tak ada kekuasaan memengaruhinya, tak ada siapa pun. Hanya “aku” dan “dia” dalam ketidaktahuan. Laela menjadi perempuan tercantik bagi Mejenun, dan sebaliknya. Kecantikan dalam ketidaktahuan tak lain adalah batas terjauh dari ketaksunggupan pikiran manusia menguraikan kecantikan yang berlalu di hadapannya. Tapi yang lalai, tak sempat mereguknya, lantaran tak ia sadari kapan berlalunya kecantikan yang menakjubkan. Itulah kecantikan yang tak terjangkau hanya oleh tatapan mata, ia melampaui tatapan mata, dan tak pernah tertangkap tatapan setajam mikroskop sekalipun. Ia bukan kecantikan yang dibeli, ditebus belaka dalam perikatan tradsi, digagahi, kemudian dilupakan atau ditinggalkan dengan ketegaan. Habis manis sepah dibuang, kata pameo yang hendak menggambarkan kekejian. Lalu buat apa penguasaan, jika ia hanya berlalu sejenak sahaja? Tak ada gunanya, jawab Majenun. Dan apakah kecantikan bisa dikuasai dan digagahi? Tidak pernah! Jawab Laela.

Sitinggil, 2020

_______________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *