Puisi-Puisi Ahmad Yulden Erwin


[Photo: Cover buku puisi “Cinta Ikarus” (berisi 43 puisi) karya Devin Nodestyo]
ODE TIGA WAKTU

1/
Menatap arus sungai Mississippi, menatap
bayangmu memetik cahaya pagi, juga kilau embun
di daun-daun ceri, sebelum awan melepas rintik hujan,
merelakan arusmu yang mungkin tak akan pernah kembali.

2/
Berulang aku melihatmu bergegas mengejar
trem di DC, aku melihatmu tersenyum di Portland,
aku melihat perih yang lain berlari ke kafe, ke halte,
ke Fifth Avenue hanya untuk sia-sia mencoba melupakanmu.

3/
Di sini, di negeri cemas yang lain, duduk
sendiri di sudut beranda, mengutuki cuaca yang dingin,
mati-matian melupakanmu, mencatat tiga stanza
hanya untuk mengekalkan senja yang lembut di matamu.

HIKADISHI SHRO *)

Ini adalah cawan
Untuk menyimpan hatimu.

Misalkan haru adalah sepasang labu,
Misalkan kita tinggal segumpal debu:

Mereka bisa menyimpannya
Di dalam laci sedih itu.

Tiga puluh tahun kemudian
Kau kembali akan melihat dunia baru:

Hatimu telah tumbuh
Di dasar cawan itu.

Misalkan kita adalah sepasang haru.

CINTA IKARUS **)

1
Dalam rindu ini biarkan neraka perlahan membiru,
lalu lamur dan hancur berganti ranum delima bibirmu,
biarkan surga sulfur itu gugur menjelma butiran embun

di belantara mimpiku, betapa kubenci bentang jarak ini,
betapa letih napas merindukanmu, telaga yang tenang
atau gugus awanku, hanya dalam kebeningan matamu

seluruh kegelapan kini menyala, kau tahu, Kekasihku,
seluruh rasa sakit ini merentangkan kedua sayapku,
sebab di sini kaulah lengkung langit dan galaksiku.

2
Telah kubaca laut dalam kedua bola matamu, pada kurva
senyummu kupandang ombak berulang menderu, dan cahaya
senja itu tak lain mimpiku, yang tak henti menyebut namamu.

Saat kusentuh bibirmu seluruh rahasia hidup pun luruh
menjelma butiran hujan, maka segala duka kita pun runtuh
tumbuh menjelma pepohonan cahaya di tepi hutan puisiku.

Kekasih, andai kematian tiba lebih dulu memetik napasku,
izinkan kusemai namamu pada segugus bintang utara
dan rinduku akan mekar pada setiap mata yang memandangnya.

2004–2014

CATATAN:

*) Hikidashi Shiro: dalam bahasa jepang berarti “laci putih” atau “kotak putih”.

**) Ikarus: Ikaros (bahasa Yunani), atau Icarus (bahasa Inggris), adalah putra Daidalos. Ayah Ikarus, Daidalos, adalah seorang penemu yang handal dari Kota Athena. Atas perintah Raja Minos di Kreta, dia membuatkan labirin untuk mengurung Minotaur. Namun, Daidalos malah memberikan gulungan benang pada Ariadne, putri Raja Minos, yang kemudian berujung pada keberhasilan Theseus (satu korban yang akan dipersembahkan kepada Minatour) dalam membunuh Minatour dengan tangan kosong. Akibatnya, Daidalos bersama putranya Ikaros kemudian dihukum dengan cara dikurung di menara yang tinggi di Kreta. Agar bisa kabur dari penahanannya, Daidalos pun membuat dua pasang sayap dari bulu-bulu unggas yang dilekatkan dengan lelehan lilin. Sebelum terbang, Daidalos memperingatkan Ikarus untuk tidak terbang terlalu dekat dengan matahari. Namun, ketika telah terbang, Ikarus justru merasakan euforia dan dia malah terbang mendekati matahari. Akibatnya lilin yang melekati bulu-bulu di sayapnya pun meleleh. Ikarus terjatuh ke laut dan mati tenggelam. Pada abad pertengahan dan modern di Eropa, Ikarus menjadi simbol dari keberanian dalam berinovasi—baik dalam bidang sain, filsafat, maupun seni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *